
Keenan membujuk Alin agar mau mendengarkan penjelasan darinya. Namun sia-sia nampaknya Alin sudah tidak perduli. Andai saja Keenan lebih peka terhadap perasaannya saat ini. Tak banyak yang Alin minta ia hanya ingin Keenan menjaga jarak dan tidak terlalu bersikap baik pada Julia.
"Ya sudah Alin pulang dulu, maaf sudah mengganggu," Alin mengambil tas kemudian hendak berdiri meski kepalanya terasa pusing dan berat yang jelas ia hanya ingin meninggalkan tempat itu secepatnya.
Keenan mengambil kunci mobil yang terletak di atas meja kerjanya. "Mas antar kamu pulang,"
"Enggak usah.. Mas pasti sibuk, Alin bisa pulang sendiri kok," Tolak Alin.
"Pokoknya Mas antar," Keenan tidak menerima penolakan.
"Terserah," ujar Alin segera meninggalkan ruangan kerja Keenan.
"Alin mau pulang ke rumah ayah aja," Pinta Alin saat memasuki mobil.
"Kenapa?"
"Memangnya harus ada alasan? Kalau mas enggak mau antar Alin bisa sendiri kok," Alin hendak membuka kembali pintu mobil.
Keenan segera menahannya. "Baik... kita ke rumah ayah sekarang," Keenan hanya menurut ia tak ingin membuat suasana hati Alin semakin kacau lagi.
Baru setengah perjalanan Alin sudah tertidur pulas. Sesekali Keenan melirik ke arah Alin yang nampak gelisah walau sedang tidur.
Mereka telah sampai di rumah Pak Adi namun, Keenan tak tega untuk membangunkan Alin ia memperhatikan Alin dengan seksama. Wajahnya terlihat sangat pucat bahkan tubuhnya terlihat semakin kurus. terbersit pertanyaan dalam benaknya "Apa dia tidak bahagia?" Sosok Alin saat ini memang sangat berbeda dengan yang dulu. Alin yang dulu selalu ceria kini terlihat lebih banyak murung, Alin yang selalu tertawa lepas bahkan kini lebih sering menangis. Alin yang selalu bertingkah konyol dan kekanak-kanakan bahkan harus di paksa dewasa oleh keadaan.
Hingga tak terasa Keenan menitikkan air matanya sungguh ia merasa menjadi pria yang paling jahat dan tak berguna. Ia bahkan belum bisa membahagiakan istrinya yang ada selalu membuatnya menangis di sepanjang usia pernikahannya.
Alin membuka matanya, ia melihat Keenan menatapnya dengan tatapan sendu dan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. "Mas nangis?" pertanyaan itu lolos dari bibir Alin. Melihat Keenan yang menangis untuk pertama kalinya membuat hatinya semakin lemah. Alin sekuat hati ingin mengabaikan tapi rasa cinta mampu mematahkan semua egonya.
Keenan membelai pipi Alin lembut "Maafkan Mas ya sayang,"
Tak ada jawaban dari Alin. Dia memang kecewa tapi tidak pernah benar-benar benci kepada Keenan walau pria itu telah mematahkan hatinya berulang kali. Alin hanya ingin Keenan merasakan apa yang ia rasakan. bagaimana rasanya di abaikan dan tak mendapat kepercayaan.
"Alin masuk dulu.. Mas balik ke kantor aja," ujar Alin keluar dari mobil.
"Mas antar sampe dalam ya," Keenan hendak turun dari mobil.
"Enggak usah," jawab Alin ketus kemudian segera masuk ke dalam.
Alin berdiri di balik pintu memastikan Keenan benar-benar pergi. Seketika tubuhnya terkulai lemas. Alin mencoba bangun dengan berpegangan pada handle pintu.
"Astaga Alin! kamu kenapa? " Nenek yang panik segera berlari menghampiri Alin.
"Enggak apa-apa kok Nek,"
"Enggak apa-apa gimana?" Nenek membantu Alin bangun. "Kita ke rumah sakit ya," Bujuknya kemudian.
"Enggak usah Nek, Alin mau tidur aja nanti juga sembuh," tolak Alin yang keras kepala.
***
Hari sudah hampir gelap tapi Keenan masih berada di kantor, ia nampak sedang menatap layar ponselnya menunggu balasan pesan dari Alin. sedari tadi ia sudah menelpon dan mengirim pesan beberapa kali namun tak ada satupun balasan dari Alin. Kemudian ia memutuskan untuk menyusul ke rumah mertuanya.
Tiba-tiba ponselnya berdering Keenan segera melihatnya berharap itu dari Alin namun, ternyata dari Pak Wira.
"Kamu di mana?" Tanya Pak Wira terdengar tak ramah.
"Di Kantor Pa.. Ini baru mau pulang,"
"Bodoh! jadi kamu enggak tahu istrimu masuk rumah sakit?" Bentak Pak Wira.
"Alin masuk rumah sakit? Rumah sakit mana Pa?" tanya Keenan panik
Keenan segera pergi ke rumah sakit yang di sebutkan Pak Wira.
Terlihat Pak Wira dan Pak Adi sedang menunggu di luar ruang IGD. Sedangkan Nenek menunggu di dalam.
Keenan segera menghampiri keduanya "Pa, Ayah... bagai mana keadaan Alin? Alin enggak apa-apa kan?" Tanyanya panik dengan nafas yang tersengal karena berlari.
"Tenang dulu Nak, Alin masih di tangani dokter mudah-mudahan tidak apa-apa," Pak Adi menenangkan Keenan.
"Kemana saja kamu?" Tanya Pak Wira yang masih kesal terhadap putranya.
"Maaf Pa, Ayah... " Hanya kata itu yang keluar dari mulut Keenan.
***
"Alin sudah sore Nak, kamu enggak mandi? Pindah ke kamar saja tidurnya." Nenek Ida mengguncang pelan tubuh Alin yang masih tertidur di sofa ruang TV.
Tidak ada sautan dari cucunya, Nenek Ida kemudian menepuk pipi Alin pelan. "Ya ampun tubuhnya panas sekali," Nenek memegang kening, leher juga lengan Alin.
Nenek Ida segera memanggil Pak Adi yang kebetulan baru pulang dari rumah makannya. Pak Adi memang sengaja pulang lebih awal karena ada janji bertemu dengan Pak Wira.
"Sejak kapan Alin demam Bu?" Tanya Pak Adi menyentuh kening Alin.
"Dari semenjak pulang dia tertidur, Ibu tidak tega mau bangunin Alin kelihatan capek banget,"
"Lebih baik kita bawa ke rumah sakit saja," Pak Adi segera menggendong putrinya.
Di perjalanan menuju rumah sakit Pak Adi menelpon Pak Wira dengan maksud membatalkan janji temu mereka karena harus membawa Alin ke rumah sakit. Namun, tak di sangka Pak Wira malah ikut menyusul ke Rumah sakit.
Pak Adi segera membawa Alin ke IGD. "Mohon maaf, Kami hanya memperbolehkan satu orang saja yang menunggu pasien di dalam," jelas seorang perawat dengan sopan.
"Ibu aja yang temani," Pinta Nenek Ida. Pak Adi mengangguk.
Doker memeriksa Alin secara detail sebelum akhirnya memerintahkan perawat memasang infus.
"Apa mbaknya sudah telat datang bulan?" Tanya Dokter itu tiba-tiba.
Alin tak menjawab ia merasa sangat lemas bahkan hanya untuk berbicara.
"Sepertinya mbaknya hamil. Ini baru dugaan saya saja. Untuk memastikan alangkah lebih baiknya periksa ke dokter spesialis kandungan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut juga USG." Jelas dokter tersebut.
"Baik... Terimakasih Dok," Jawab Nenek Ida yang tadinya cemas kini berubah menjadi haru. "Nenek kasih tau dulu Ayahmu ya Nak," Nenek kemudian keluar ruangan.
Alin hanya mengangguk.
krek.. Pintu terbuka Nenek Ida melihat 3 orang pria sedang berdiri dengan raut wajah yang cemas.
"Bagaimana keadaan Alin? tanya mereka serempak.
" Alin.... "
-
-
-
Pasti pada penasaran kan sama jawaban Nenek? Kira-kira gimana ya reaksi Keenan saat tau kalau dia mau jadi seorang Ayah? Ikuti terus cerita MY LITTLE BRIDE.
Jangan lupa like dan komen....