
Keenan meminta Mama Vero untuk duduk terlebih dahulu. "Keenan salah apa Ma?" Keenan memegangi telinganya yang memerah.
Mama Vero menatap tajam ke arah Keenan. "Masih tanya salah apa?" .
"Mana Keenan tahu kalau Mama nggak kasih tau,"
"Masih nggak ngerasa bersalah sudah mengacaukan bulan madu?" ucap Mama Vero kesal.
"Ya ampun Ma... Itu semua nggak seperti yang Mama pikirkan. Mama jangan mendengar cerita hanya dari satu pihak" ucap Keenan sedikit takut.
"Jadi kamu nuduh Alin bohong?"
"Nggak kok... Bukan begitu," Keenan jadi serba salah. "Astaga! Iya Ma.. Keenan salah. Keenan udah minta maaf dan menyesal," jawab Keenan frustasi.
"Awas aja kalau sekali lagi Mama dengar kamu begitu," Ancam Mama Vero.
"Iya.. Iya.." Jawab Keenan lemas.
"Alin itu terlalu baik. Coba aja Mama jadi Alin, mungkin Mama sudah pergi ke luar negeri selama satu bulan," Mama Vero masih terlihat emosi.
"Jangan ngajarin yang enggak-enggak sama Alin Ma," Protes Keenan, karena ia sudah hapal betul sikap ibunya jika sedang marah.
***
Pagi hari Alin terbangun lebih dulu di banding sang suami. Ia melirik kalender yang terletak di atas meja. "Suah tanggal segini aku belum dapet." Kemudian ia mengambil sesuatu dari laci. "Mudah-mudahan hasilnya positif," gumamnya penuh harap, kemudian segera berjalan ke arah kamar mandi dengan membawa alat test kehamilan.
Meskipun tidak ada tanda-tanda kehamilan yang ia rasakan namun, setiap telat datang bulan Alin selalu berharap kalau ia benar-benar hamil.
Keenan terbangun karena suara alarm. Ia melihat ke sebelahnya ternyata Alin sudah tidak ada di tempat.
Alin berjalan lesu keluar dari kamar mandi, raut wajahnya penuh dengan kecewa. Keenan sudah bisa menebak pasti Alin sudah melakukan test kehamilan. Bukan sekali dua kali bahkan setiap bulan Alin memang sering melakukan test.
Keenan segera menghampiri Alin. "Sayang kenapa? Kamu sakit?" tanya Keenan khawatir melihat Alin.
Alin menggeleng. "Enggak kok Mas... Aku nggak apa-apa. Hanya saja aku harus kecewa lagi, hasil test nya selalu saja negatif," Alin memberikan sebuah testpack pada Keenan.
Keenan segera memeluk Alin perlahan tangannya mengelus lembut kepala istrinya. "Enggak usah terlalu di pikirkan... Mas nggak pernah menuntut kamu agar segera hamil. Perihal anak itu sudah menjadi kehendak Tuhan kita tak bisa memaksakan. Mas bahagia hidup sama kamu, dan jangan lupa kita sudah merasakan bahagianya menjadi orang tua dan mempunyai seorang anak. Itu sudah lebih dari cukup... Walau kenyataan nya Tuhan lebih sayang sama anak kita dan mengambil nya lebih cepat,"
"Iya Mas... Maaf aku sering kali mengeluh, Aku selalu mencoba menerima kenyataan tapi tetap saja dalam hati kecilku aku belum bisa sepenuhnya menerima takdir," Alin memeluk erat Keenan dan menangis sejadi-jadinya.
"Jangan jadikan hal itu sebagai beban.. Lebih baik kita jalanin dan nikmati kebersamaan kita saat ini," Keenan mengecup kening sang istri.
***
Hari ini Keenan terlambat berangkat ke kantor karena drama Alin tadi pagi. Kegiatannya nya hari ini lumayan padat karena dia harus meng-handle semua pekerjaan sendiri. Dan belum mendapatkan sekertaris pengganti Rissa.
Keenan menelpon HR Manager untuk menanyakan apakah sudah ada calon kandidat pengganti Rissa. Tidak butuh lama beberapa kandidat telah terpilih dan telah lolos seleksi tahap awal.
Seorang staf memberikan map berisi berkas data calon karyawan. Keenan perlahan membuka satu persatu map tersebut kemudian membacanya. Rencananya dia akan meng interview secara langsung calon sekertaris nya. Bagaimanapun juga dia mempunyai kriteria khusus agar mempermudah pekerjaannya.
Dan Keenan hampir lupa memberitahu Alin perihal pemilihan sekertaris baru. Biarpun sebenarnya ini masalah pekerjaan ia ingin Alin tahu agar tak menjadi salah faham di kemudian hari. Keenan memutuskan untuk berbicara langsung pada Alin nanti malam.
***
Seperti biasa setelah selesai makan malam Alin dan Keenan selalu menyempatkan untuk mengobrol terlebih dahulu sebelum tidur. Ini momen yang tepat untuk mengajak Alin berbicara.
Keenan menarik Alin dalam pelukannya. "Sayang..." panggil Keenan lembut. Sebenarnya dia bingung harus memulai percakapan darimana, salah-salah bicara istrinya pasti akan ngambek.
"Beberapa hari yang lalu Rissa mengundurkan diri..."
"Ya bagus dong!" potong Alin.
"Iya tapi masalah nya... Mas butuh sekertaris untuk memudahkan semua pekerjaan. Jadi rencananya Mas mau rekrut sekertaris baru,"
Alin tertawa, " Ya ampun... Ijin mau cari sekertaris aja udah kaya ijin cari istri muda," celetuk Alin.
Keenan menempel kan telunjuk di bibir Alin "Ssstt nggak boleh ngomong begitu," ucapnya kemudian menasehati.
"Iya becanda ih Mas!... Selama itu untuk kelancaran pekerjaan aku nggak akan larang.. Lagian Mas juga tahu batasan sampai di mana sewajarnya berhubungan hanya untuk kepentingan pekerjaan," ucap Alin bijak.
Keenan mencubit kedua pipi Alin. "Istri Mas sudah dewasa sekarang," Entah itu pujian atau sindiran.
"Tapi ingat ya! Jangan macam-macam, jangan genit, jangan tersenyum kalau depan dia, jangan terlalu baik, jangan terlalu banyak bicara, jangan berhubungan di luar jam kerja, jangan satu mobil kalau ada pekerjaan di luar kantor, ... " dan masih banyak lagi larangan-larangan Alin pada suaminya.
Sementara Keenan hanya mendengarkan dengan seksama ocehan Alin yang tidak aja jeda tersebut. "Sudah itu saja?" tanya Keenan tertawa saat Alin mulai berhenti berbicara.
"Masih banyak lagi pokoknya.. Aku capek kalau ngomong semua sekarang," jawab Alin tampak ngos-ngosan.
"Ya sudah besok di lanjut.. sekarang mending kita tidur,"Keenan merebahkan tubun Alin.
" Oh iya Mas.. Emm. Aku boleh lanjut kuliah?" tanya Alin ragu-ragu.
"Tentu saja boleh.. Mau kuliah di tempat lama?" tanya Keenan.
Alin memainkan jarinya di atas dada Keenan. Ia tak berani menatap suaminya. "Kalau Mas mengijinkan itu juga... Teman-teman aku ada di sana. ya walaupun aku ketinggalan dua tahun dari mereka" Jawab Alin lemas.
"Ya sudah.. Kamu persiapkan diri kamu, Tahun ajaran baru nggak lama lagi. Mas bakal atur semuanya, Kamu tenang aja" Keenan mendukung keputusan Alin. Dia lebih senang Alin punya kesibukan agar bisa bangkit dari keterpurukan.
"Makasih ya Mas," Alin memeluk erat suaminya. Dia begitu lega telah mendapatkan ijin sari suaminya. Tidak ada kata terlambat baginya untuk mengejar cita-cita walaupun sudah tertinggal jauh oleh teman-temannya.
"Oh iya Mas satu lagi... Boleh belajar nyetir?" bujuk Alin Mengelus pipi Keenan.
"Kalau yang itu nggak boleh," tolak Keenan tegas.
"Mas.. Kenapa sih? kan biar gak ngerepotin terus," rengek Alin.
"Mas nggak ngerasa di repotin, Lagian udah ada mang Didi. kasihan kalau mang Didi kehilangan pekerjaan gara-gara kamu bisa nyetir," Keenan terkekeh.
Alin cemberut, semenjak dulu Ayahnya selalu tak mengijinkan dirinya belajar menyetir dan ternyata sekarang suaminya pun sama saja.
"Aku harus minta bantuan Mama kalau gini," gumam Alin dalam hati, Ia yakin mertuanya bisa membujuk Keenan.
-
-
-
Jangan lupa like dan komen...
Mohon maaf atas keterlambatan update...