
Hari ini hari terakhir Alin di rawat di rumah sakit. Sebelum pulang Dokter melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.
Setelah melakukan pemeriksaan dan juga observasi selama beberapa hari di rawat Dokter mengatakan bahwa Alin mengalami robekan pada rahimnya atau di sebut ruptur uteri dalam bahasa medis akibat benturan keras saat kecelakaan.
Ada rasa sedih dan kecewa saat Alin mendengar penjelasan dokter. "Apa saya masih bisa hamil Dok?" Alin memeberanikan diri bertanya pada dokter walau sebenarnya ia takut mendengar jawaban yang tak di inginkan.
"Kehamilan setelah adanya robekan rahim mempunyai resiko yang lebih besar dibanding dengan kehamilan pada rahim yang normal, namun bukan berarti tidak boleh hamil setelah terjadinya robekan rahim. Sebaiknya Anda terus mengonsultasikannya dengan dokter kandungan mengenai kemungkinan Anda untuk hamil lagi. Dokter kandungan akan menilai kondisi rahim Anda," Jelas dokter tersebut.
Keenan sedari tadi tak henti menggenggam tangan istrinya. Kini Alin bisa bernafas lega setelah mendapat jawaban dari dokter setidaknya masih ada harapan untuk dia bisa memiliki anak kembali.
***
"Selamat datang kembali di rumah Neng Alin," Sambut Bi Inah dengan raut wajah bahagia.
"Makasih Bi," Alin tersenyum. Sama seperti bi Inah Alin pun bahagia bisa kembali ke rumah.
Mama Vero, Papa Wira, Pak Adi dan Nenek juga ikut mengantar Alin pulang.
Mereka makan siang bersama sambil berbincang-bincang momen yang sangat jarang terjadi karena biasanya mereka akan sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Setelah selesai makan siang Alin pamit ke kamar untuk istirahat.
Alin berhenti sejenak di kamar yang sudah di persiapkan untuk baby K.
"Sayang," Panggil Keenan lembut.
"Mas.. Boleh Alin masuk ke sini?" tanya Alin dengan tatapan sendu.
Keenan mengangguk "Tentu..."
Perlahan Alin membuka pintu berwarna biru itu. Kamar yang telah rapi dan siap untuk di tempati Keenan dan Alin memang telah menyiapkan kamar itu dengan sepenuh hati.
Alin menyentuh perlengkapan bayi yang sudah tertata rapi. "Mas... Kalau barang-barang ini di sumbangkan ke panti asuhan boleh?" tanya Alin menatap Keenan.
"Tentu saja sayang... Barang ini akan lebih bermanfaat jika di sumbangkan," Keenan memeluk erat Alin. Ia tahu Alin akan sedih setiap melihat barang-barang ini.
"Terimakasih Mas... " Alin tak kuat lagi menahan air matanya.
Alin memang masih sedih tapi ia tak ingin terys larut dalam kesedihan. Apa yang terjadi adalah takdir Tuhan. Alin harus belajar dan mengambil hikmah di balik kejadian ini, Ia yakin kalau Tuhan telah menyiapkan sesuatu yang indah untuknya.
***
Beberapa bulan kemudian...
Hari ini sidang vonis hukuman Julia akan di putuskan. Keenan telah bersiap-siap untuk menghadiri sidang.
Alin membantu memasangkan dasi dan merapihkan kemeja Keenan. "Mas... Sebenarnya siapa pelakunya? Kenapa tidak ada yang beritahu aku?" tanya Alin penasaran.
Keenan menangkup kedua pipi Alin. "Sabar ya sayang.. Setelah semua selesai Mas janji akan beritahu,"
Alin hanya mengangguk meskipun sebenarnya ia sangat penasaran.
"Mas pergi dulu," Keenan mencium bibir Alin sekilas kemudian segera pergi karena Randy sedari tadi telah telah menelponnya.
Sidang akhirnya di mulai dengan menghadirkan beberapa saksi dan Yuna hadir menjadi salah seorang saksi.
Akhirnya hakim memutuskan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup pada Julia karena terbukti melakukan pembunuhan berencana. Tidak hanya pada Alin Julia melakukan pembunuhan berencana pada Gani yang merupakan karyawannya sendiri. Dan juga denda uang dengan jumlah yang fantastis karena perusahaannya terbukti melakukan penggelapan pajak, pemalsuan perizinan dan juga kerusakan lingkungan. Tidak hanya Julia karena Ayahnya juga ikut di penjara.
Sedangkan ibunya kini sedang di rawat di rumah sakit karena shock. Mereka telah jatuh miskin karena semua aset yang di miliki telah di sita oleh pengadilan.
Mungkin keputusan hakim sudah cukup menghukum Julia saat ini. Semoga dengan kejadian ini nurainya tergerak dan mulai menyesali semua perbuatannya.
"Terimakasih sudah hadir sebagai saksi," Randy menjabat tangan Yuna mengucap terimakasih pada gadis itu. Beberapa bulan tidak bertemu dengan Yuna membuat Randy sedikit canggung.
Yuna mengangguk. "Sama-sama" jawabnya singkat.
"Oh iya udah malem.. Lo pulang sama siapa? Mau gue anter?" tanya Randy kemudian.
"Aku udah di jemput kok," Yuna menunjuk seorang pria muda berusia sekitar 20 tahun.
"Oh iya.. Hati-hati di jalan," Randy melambaikan tangan pada Yuna kemudian mengangguk pada pria yang menjemputnya.
"Mungkin jodoh lo belum lahir," Keenan menepuk pundak Randy sambil meledeknya.
"Kampret lo," umpat Randy kesal.
Sewaktu di parkiran Randy tak sengaja melihat Yuna dan pria tadi. Pria itu memasangkan helm di kepala Yuna sementara Yuna tersenyum hangat memandang wajah pria itu.
"Cih! Masih jadi beban keluarga juga sok-sok an pacaran," Randy nampak sedikit tak suka melihat kemesraan di depannya.
Dan ternyata ocehannya terdengar oleh Keenan yang juga sedang berada di parkiran. "Iri bilang boss," ledek Keenan segera memasuki mobil karena takut melihat Randy yang tengah melayangkan tinju ke arahnya.
***
Malam sudah semakin larut dan Keenan baru selesai dengan urusannya. Terlihat Alin sudah tertidur pulas di atas sofa ruang TV. Keenan yakin kalau Alin ketiduran saat menunggunya terlihat dari televisi yang masih menyala.
Keenan meraih remot kemudian mematikan televisi, Ia mengangkat tubuh Alin perlahan tak ingin membangunkan istrinya. Namun, ternyata Alin bangun karena guncangan kecil saat Keenan mengangkat tubuhnya.
"Mas sudah pulang?" tanya Alin dengan suara parau ia menyiptkan matanya melihat wajah Keenan memastikan kalau dirinya tidak sedang bermimpi.
"Sudah... Lanjut di kamar ya tidurnya," Keenan menggendong Alin menuju kamar.
Alin hanya melingkarkan lengannya di leher Keenan kemudian melanjutkan tidurnya.
Namun, setelah sampai kamar tiba-tiba rasa kantuknya hilang. Ia sangat penasaran dengan hasil sidang hari ini dan lebih penasaran lagi siapa pelakunya.
Alin nampak tak sabar menunggu Keenan keluar dari kamar mandi. "Mas!.." panggil Alin begitu melihat Keenan keluar kamar mandi.
"Iya sayang.. Kok bangun?" tanya Keenan kemudian.
"Gimana hasil sidang tadi Mas?" tanya Alin tanpa basa-basi.
"Besok saja ya kita bahas.. Sekarang sudah malam," Keenan membaringkan tubuhnya di samping Alin, dia sengaja pura-pura tertidur untuk menggoda Alin.
"Mas... " Alin mencubit hidung Keenan untuk membangunkannya.
"Hmmm," jawab Keenan dengan mata tertutup.
Melihat Keenan yang kelelahan membuat Alin tak tega untuk terus memaksa Keenan berbicara. "Selamat tidur," Alin mencium kening Keenan kemudian ikut tertidur memeluk tubuh Keenan.
"Segitu doang usahanya?" Keenan membuka matanya kemudiam memeluk erat tubuh Alin.
"Mas Alin gak bisa napas," protes Alin melepaskan pelukan Keenan.
-
-
-
Jangn lupa like dan komen...