My Little Bride

My Little Bride
Dia tak menyerah



Keenan baru saja terbangun namun, ia tak melihat Istrinya di dalam kamar. kemudian ia mencari ke kamar mandi tapi ternyata Alin juga tak berada di sana.


"Bi lihat Alin?" Tanya Keenan yang sudah lelah mencari Alin di sekeliling rumah.


"Neng Alin sudah berangkat ke cafe,"


"Sepagi ini?" Tanya Keenan melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul delapan pagi.


"Iya Den. Tadi Neng Alin bilang mau ke cafe" jawab Bi Inah kemudian pamit melanjutkan pekerjaan nya.


Keenan segera naik ke kamar, dengan cepat ia mandi dan berganti pakaian. Rasanya tak sabar ingin menyusul Alin yang pergi tanpa pamit terlebih dahulu.


Keenan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi hingga tak memakan waktu yang lama untuk sampai di cafe milik Pak Adi.


****


"Kamu yakin mau kerja di sini?" Tanya Alin tak percaya pada Devan yang saat itu melamar kerja part time di cafe nya.


"Tentu saja saya yakin.. Apa saya tidak memenuhi kriteria?" tanya Devan formal.


Sebenarnya tidak ada kriteria khusus untuk bekerja di sana asalkan rajin, sopan, ramah dan harus kerja sama tim itu yang menjadi poin penting. "Emm bukan begitu.. Tapi di sini kerja nya capek, gajinya juga tidak besar,"


"Di mana-mana namanya kerja capek tapi saya akan berusaha sebaik mungkin," Jawab Devan yakin.


Alin nampak berfikir sebenarnya ia tidak percaya kalau Devan sedang membutuhkan pekerjaan. Karena jika di lihat penampilan nya saja Devan adalah orang berada.


"Saya sedang butuh uang untuk bayar kuliah," mohon Devan dengan wajah yang memelas.


"Baiklah mulai siang ini kamu sudah boleh bekerja," ucap Alin datar.


"Terima kasih," Devan mengangguk.


Alin memang sedang membutuhkan beberapa karyawan part time karena pada saat weekend tiba cafe selalu ramai dan mereka selalu kewalahan.


Kemudian Alin membawa Devan ke bagian dapur untuk di perkenalkan pada karyawan lainnya dan meminta meli untuk membimbing nya. setelah itu Alin kembali ke ruangan nya.


"Sayang," panggil Keenan tiba-tiba memasuki ruangan Alin.


Alim sedikit kaget melihat Keenan tiba-tiba masuk ke dalam ruangan nya. "Mas kok ke sini?" tanya Alin kemudian.


Wajah Keenan terlihat kesal, "Kenapa pergi gak bilang?"


"Aku tadi bilang kok.. cuman Mas nya aja lagi tidur," jawab Alin polos.


"Astaga sayang kenapa gak bangunin aja?," Keenan malah terlihat semakin kesal.


Alin tertawa melihat wajah Keenan. "Mas nggak ngantor?" Sindirnya.


Keenan kemudian duduk di sofa "Weekend libur," jawab Keenan malas.


"Biasanya weekend berangkat terus," Alin semakin gencar menggoda Keenan.


"Hmmm,"


Kemudian Alin menghampiri Keenan dan duduk di sampingnya. "Paling sebentar lagi ada telpon," tebak Alin.


Tak berselang lama benar saja ponsel Keenan berdering. "Tuh kan benar tebakan ku," ucap Alin ikut melirik layar ponsel Keenan.


Namun Keenan tak menjawab panggilannya. Ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.


"Angkat dulu siapa tahu penting," saran Alin.


"Gak ada yang lebih penting selain kamu," jawab Keenan spontan.


"halah gombal," ucap Alin sebal tapi tak dapat di pungkiri pipinya merona.


"Tapi seneng kan di gombalin?" Keenan balik menggoda Alin.


Walaupun masih siang cafe milik Pak Adi sudah ramai pengunjung. tapi walaupun begitu Keenan tetap meminta Alin untuk pulang lebih awal. Ia tak ingin terlalu kelelahan bekerja apalagi turun langsung ke lapangan.


Kali ini Alin menurut. Karena sudah ada beberapa karyawan part time dan juga ia sudah mempercayakan semuanya pada Dinda.


"Loh kita mau kemana Mas?" tanya Alin yang asing dengan jalan yang di lewatinya dan ini bukan jalan menuju rumah.


"Nanti juga tahu kalau sudah sampai," Jawab Keenan santai.


Mobil Keenan memasuki gerbang salah satu perumahan elite di Ibu Kota.


"Sepertinya tempat ini gak asing," Gumam Alin seperti dejavu melihat tempat itu.


Keenan berhenti di sebuah rumah mewah. seatbel "Ayo turun!" Ajak Keenan membuka seatbelt.


"Rumah siapa ini Mas?" Tanya Alin melihat sekitar rumah.


"Rumah kamu," jawab Keenan santai kemudian membuka gerbang.


"Hah?! Rumah aku?" Tanya Alin tak percaya kemudian ia segera menyusul Keenan masuk.


Keenan membuka pintu utama rumah. "Ini hadiah dari Mas buat kamu,"


Alin terdiam masih tak percaya dan Kini matanya mulai berkaca-kaca. "Beneran Mas?"


Keenan mengangguk kemudian memeluk Alin yang mulai menangis terharu.


"Makasih ya Mas," Ucap Alin dalam tangis nya.


Belakang ini memang Keenan sibuk mengurus pembangunan rumah itu. Ia sengaja tidak melibatkan Alin dan ingin memberikan kejutan pada istrinya. Rumah yang mewah dan lebih besar dari rumah yang di tinggali mereka saat ini. Walaupun harus menguras cukup banyak tabungan tapi itu semua seolah terbayar oleh kebahagiaan yang di rasakan istrinya.


Keenan mengajak Alin untuk berkeliling rumah barunya.


"Sejak kapan mas mempersiapkan ini semua?" tanya Alin kagum dengan kemewahan rumah tersebut.


"Sejak satu tahun lalu,"


Keenan dulu memang pernah bilang telah menyiapkan hadiah besar untuk menyambut kelahiran putra mereka. Dan mungkin inilah hadiah yang di maksud. "Maaf ya aku belum bisa kasih yang Mas mau," Alin tiba-tiba berubah menjadi murung.


Mengelus kepala Alin, Keenan sudah tahu apa yang Alin pikirkan. "Semua yang Mas mau sudah ada dalam diri kamu, Gak usah mikirn yang lain,"


***


Entah bagaimana awalnya tapi hari senin merupakan hari yang sangat di benci sebagian orang begitu juga Alin yang tidak menyukai hari senin. Tapi ia harus tetap berangkat kuliah agar tak tertinggal pelajaran.


Alin berjalan malas memasuki gerbang. Sementara Keenan langsung berangkat ke kantor.


"Jadi rumor itu benar adanya?" Tanya seseorang yang sudah menunggu Alin di dalam gerbang.


Alin menoleh ke asal suara. "Rumor apa?" Alin tak mengerti dengan apa yang di ucapkan Devan.


"Rumor kalau lo itu simpanan om-om,"


Seketika Alin menjadi pusat perhatian para mahasiswa yang berlalu lalang di sekitar gerbang kampus. Kemudian mereka berbisik-bisik membicarakan tentang Alin.


"Kalau iya kenapa? Gak ada hubungannya dengan kamu kan?" jawab Alin santai.


"Aku bisa bantu kamu untuk berhenti," ucap Devan tulus. Setelah 2 Hari bekerja di caffe Alin Devan ternyata dia hanya ingin menyelidiki kehidupan Alin.


Alin tertawa mendengar apa yang di ucapkan Devan ternyata laki-laki itu tidak menyerah juga. "Kalau memang mau cari tahu tentang kehidupan aku jangan setengah-setengah. Nanti kamu malu sendiri," Kemudian ia pergi meninggalkan Devan.


Devan merasa dirinya benar-benar bodoh saat ini. Dia hanya mengamati Alin beberapa hari terakhir ini tapi tidak mencari tahu tentang kehidupan Alin.


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ya...