My Little Bride

My Little Bride
Bukan pengagum rahasia



"Lo masih pake karet gelang buat ikat rambut?" tanya seseorang ketika Alin tengah sibuk mengelap meja.


Alin menoleh. "Ternyata benar dia orangnya," Setelah memastikan orang itu benar-benar Devan, lantas Alin kembali dengan pekerjaannya.


Devan terlihat kesal karena merasa diabaikan. "Hey! gue lagi ngomong sama lo," Pria itu kemudian mengambil lap yang tengah di pegang Alin.


"Maaf saya sedang bekerja," Alin mengambil kembali lap nya kemudian hendak pergi.


"Jadi begini pelayanan di cafe ini? Sama sekali tidak ramah. Gue bisa aja kasih ratting jelek tentang cafe ini biar yang lain juga tahu," Ucap Devan dengan nada mengancam.


Alin mengatur nafas. Sebisa mungkin mengatur emosi dan jangan sampai ancaman itu menjadi nyata ia tak ingin mengecewakan ayahnya yang telah bersusah payah membangun usaha ini. "Silahkan mau pesan apa?" tanya Alin dengan nada seramah mungkin dan senyuman yang di paksakan.


"Gak jadi, selera makan gue tiba-tiba hilang," ucap Devan kemudian pergi begitu saja.


"Awas aja kalau datang lagi! gue sumpahin sendawa gak berhenti-berhenti," umpat Alin kesal. Dan di saat suasana hatinya sedang kacau tiba-tiba Keenan dan Pak Adi datang dari arah pintu masuk berpapasan dengan Devan yang hendak keluar.


"Mas Keenan, Ayah," Alin langsung menghampiri Ayah dan suaminya. Suasana hatinya langsung berubah ketika melihat dua sosok laki-laki yang ia cintai.


Kemudian Alin mencium tangan kedua laki-laki itu. Dan ternyata Devan mengamati interaksi tiga orang itu di balik kaca.


"Ya ampun nak... kamu bekerja seperti ini setiap hari?" tanya Pak Adi tak habis pikir.


Alin tertunduk malu, Hari itu memang penampilan nya cukup kacau ia tak menyangka jika mereka berdua akan datang. "Kita bicara di dalam aja ya," Alin menggandeng tangan Pak Adi juga Keenan.


Saat akan memasuki ruangan Pak Adi berpapasan dengan Dinda kemudian berbincang-bincang terlebih dahulu sedangkan Alin dan Keenan langsung masuk ke dalam ruangan.


"Jangan capek-capek ya sayang," Keenan merapihkan helai rambut Alin yang menutupi wajahnya.


"Enggak kok mas.. Aku malah senang daripada hanya duduk manis di ruangan ini."


"Tapi dari wajah kamu kelihatan banget," Keenan mengelus pipi Alin yang terlihat sangat kelelahan.


"Aku nggak capek.. Cuma kangen sama mas aja," Alin tersenyum mengalihkan pembicaraan takut Keenan melarangnya untuk bekerja lagi. Sebenernya dia memang benar-benar lelah karena begitu sibuk dari sore. Ia selalu menyuruh karyawannya untuk beristirahat namun dirinya sendiri tak sempat untuk beristirahat.


"Mas juga kangen banget sama kamu," ucap Keenan kemudian mencium bibir Alin.


"Ehem.. Setidaknya tutup pintu dulu," Pak Adi yang hendak masuk membatalkan niatnya dan segera menutup pintu.


"Astaga!" Keenan benar-benar malu dengan mertuanya, bisa-bisanya dia lupa di mana dirinya sekarang. "Kamu sudah makan?" tanya Keenan kemudian.


Alin melepas apron yang di pakai nya kemudian mengambil baju yang tadi di pakai nya. "Mas sudah makan? Alin balik bertanya.


"Mas butuh jawaban bukan pertanyaan."


"Sudah," Jawab Alin kemudian hendak pergi ke toilet untuk berganti pakaian.


"Ganti di sini saja," Keenan refleks menahan tangan Alin. "Mas lihat kamu semakin kurus sekarang," Keenan memperhatikan Alin yang sedang membuka satu persatu kancing seragam nya.


Alin tersipu. "Perasaan mas aja.. ini namanya langsing bukan kurus," bantahnya.


Keenan menghampiri Alin yang tengah membuka baju dan hanya mengenakan kaos dalam. "Apa bedanya?"


"Eh... Mas mau ngapain? tanya Alin penuh curiga.


"Kelihatannya mau apa?" Keenan malah balik bertanya.


Alin menoleh ke arah pintu takut tiba-tiba ada yang masuk.


Keenan menahan tawa melihat wajah Alin. "Tenang saja Mas gak akan minta jatah di sini."


Setelah selesai berganti pakaian Alin dan Keenan pamit pulang pada Pak Adi yang masih tampak serius mengobrol dengan Dinda.


"Mas... kok nggak kabarin dulu kalau pulang langsung ke cafe?" tanya Alin saat perjalanan pulang.


"Ponsel Mas mati," jawab Keenan singkat.


Alin hanya diam setelah mendengar jawaban Keenan yang menurutnya menyebalkan.


Keenan melirik Alin yang terdiam setelah mendengar jawabnya. "Sengaja mau lihat istri mas kalau sedang bekerja seperti apa," ucapnya kemudian meraih tangan Alin kemudian menciumnya.


"Dari tadi diem aja. Mas ada salah sama kamu?" tanya Keenan yang tak tahan melihat Alin diam saja tak seperti biasanya.


"Enggak kok mas.. Aku cuman lagi capek aja," Alin mengulas senyum.


"Ya sudah besok istirahat, nggak usah ke cafe dulu."


"Iya Mas," jawab Alin patuh.


Setelah sampai rumah Alin langsung merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. "Ternyata cari uang itu capek ya. Pantas saja nenek suka ngomel nyuruh hemat terus," ucap Alin.


"Makanya jangan terlalu memaksakan, semua pekerjaan ada porsinya masing-masing," Nasihat Keenan sambil membongkar koper dan mengeluarkan barang-barang di dalamnya.


"Iya.. Besok nggak kaya gitu lagi. Aku mau mandi dulu," Alin kemudian segera bangun.


***


"Kalau masih nggak enak badan jangan masuk kuliah dulu,"


"Udah enakan kok mas.. Lagian hari ini cuma 2 mata kuliah saja, nanti langsung pulang kok gak ke cafe," Alin meyakinkan suaminya.


"Nanti mas jemput, kalau ada apa-apa langsung telpon."


"Iya," jawab Alin singkat.


Jika biasanya Alin selalu ke kantin dulu menemui para sahabatnya kali ini ia langsung ke kelas.


Saat melewati pintu masuk Alin menjadi pusat perhatian orang sekelas. "Pada kenapa sih?" gumam Alin yang tak nyaman dengan tatapan orang di sekitarnya.


"Alin... Sini lihat," Tania teman sekelas Alin menarik tangannya.


Alin kaget melihat se buket bunga yang terletak di atas meja nya. "Dari siapa?" tanya Alin pada Nia.


"Dari kak Devan.. cowok paling ganteng di ampus,. Kaya nya dia pengagum rahasia lo" Nia terlihat bersemangat.


"Hah?! Kalau rahasia dia gak bakalan nunjukin indentitas kali. Ini buat lo aja deh," Alin mengambil buket bunga tersebut dan memberikannya pada Nia.


"Eh kok gue?" Nia tidak mau menerima bunga tersebut.


"Ya sudah buang aja," Alin kemudian hendak membuangnya ke tempat sampah.


"Kok di buang? Aduh sayang banget bagus gini kok di buang," Akhirnya Nia mengambil bunga dari tangan Alin. "Emangnya kenapa lo gak mau terima? Kak Devan ganteng, banyak cewek yang ngejar-ngejar dia loh, siapa tau kalian jodoh" Nia memang tidak tahu perihal status Alin karena selama ini mereka hanya mengobrol soal pelajaran saja.


"Gue udah punya suami," jawab Alin kemudian.


Nia tertawa ia sama sekali tak percaya dengan ucapan Alin. "Jangan becanda lo."


Alin menunjukkan foto dirinya saat bersama Keenan. "Ini suami gue,"


Dan setelah melihat fotonya Nia semakin tak percaya. "Itu om lo? Apa sugar daddy lo?" Canda Nia sambil tertawa.


"Om-om peliharaan gue," jawab Alin asal.


Seperti yang Alin bilang, hari ini ia pulang lebih awal karena tidak ada kelas lagi. Dan menepati janjinya pada Keenan hari ini Alin akan langsung pulang ke rumah. Alin mengirim pesan agar Keenan segera menjemputnya.


Pesan sudah terbaca tapi belum ada balasan dari Keenan. "Kemana sih mas Keenan?" gumam Alin kesal. Langit sudah mulai gelap sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.


Satu jam sudah Alin menunggu tanpa kepastian. Benar saja rintik hujan mulai membasahi bumi. Alin masih setia menunggu walaupun tak ada balasan dari Keenan.


Tiba-tiba motor Devan berhenti di hadapannya. "Ayo gue anterin lo."


"Nggak usah.. Terimakasih," Tolak Alin.


"Oh iya mana mau cewek kaya lo naik motor. Apalagi hujan begini," Devan tertawa.


Alin terpancing emosi mendengar ucapan Devan yang menganggap dirinya perempuan manja yang tak mau naik motor. "Siapa bilang!" ucap Alin kesal kemudian naik ke atas motor.