
Akhirnya setelah dua tahun, Alin menginjakkan kembali kakinya di kampus ini. Para sahabat yang kini telah menjadi senior begitu bahagia menyambut Alin.
"Cie yang udah punya mobil baru," Ledek Della.
"Udah bisa nyetir lo?" timpal Reno.
"Pada nggak percayaan sama gue," Alin tertawa.
"Eh tapi kalau gue lihat aura lo udah beda Lin.. Lo kelihatan lebih kalem dan anggun sekarang," ucap Rizal memperhatikan Alin.
"Udah alih profesi lo jadi pembaca aura sekarang?" Ledek Alin. Ia merasa tak ada yang berbeda dari dirinya, meskipun sebenarnya memang kini Alin telah banyak berubah seiring berjalan waktu.
"Udah jadi istri Sultan ya beda lah.. iya gak Lin? emang lo sampo udah abis di tambahin air," celetuk Della.
"Bisa aja lo Dell... Lo juga sama aja lipstik abis lo korek-korek tusuk gigi ," Rizal membela diri.
"Ini malah pada ngerumpi.. sebentar lagi kelas mulai woy," Farrel kemudian menengahi mereka yang tak akan berhenti berdebat sebelum sun go kong menemukan kitab suci.
Kini Alin harus kembali beradaptasi dengan lingkungan barunya. Sebenarnya itu bukanlah hal yang sulit karena memang Alin orang yang cepat akrab dengan siapa saja.
Hari pertama kuliah cukup melelahkan bagi Alin.
"Kusut amat muka nya neng?" ledek Della yang melihat Alin terduduk lemas di kantin.
"Kepala gue kaya mau pecah Dell," Alin tertawa.
"Kalo gue jadi lo enggak mau gue kuliah lagi. Udah enak di rumah punya suami ganteng, duit banyak, mau apa aja tinggal nadah" ucap Della.
"Ini nih contoh orang yang gak akan sukses," Tiba-tiba Reno nimbrung.
"Sembarangan aja kalau ngomong," kisah Della.
"Eh iya.. Kalian main dong ke cafe gue," Ajak Alin.
"Gratis kan?" tanya Reno kemudian.
"Ini nih yang kaya begini mental pengemis gak akan sukses," Sindir Della balik.
"Pokoknya malam minggu nanti gue tunggu ya.. Alamatnya nanti gue share di grup. Gue balik dulu. bye!" Kemudian Alin pamit pulang karena suaminya telah menunggu di luar.
"Gimana hari pertama?" Tanya Keenan begitu Alin memasuki mobil.
"Pusing mas," jawab Alin jujur. "Nanti malam jadi berangkat ke luar kota?" Alin memastikan.
"Iya jadi sayang,"
"Sekretaris mas ikut?" tanya Alin lagi.
"Ikut.. Kamu tenang aja ada papa sama ayah juga nanti di sana," jawab Keenan tak mau Alin berfikir macam-macam.
"Hmmm iya,"
"Apa mau ikut aja?" goda Keenan.
"Enggak,"
Alin membantu Keenan mengemas pakaian dan barang yang akan di bawa. sebenarnya tidak terlalu banyak karena besok sore suaminya sudah kembali ke ibu kota.
"Kok aku kurang sreg ya sama sekretaris baru mas," ucap Alin sambil melipat pakaian kemudian memasukannya ke dalam koper.
Keenan tahu Alin tidak suka pada Lyra setelah kejadian telpon tempo hari. "Kenapa memang? dia kerja nya bagus kok,"
"Entah... Feeling aku udah nggak enak. Terkadang dia hubungi mas bukan karena pekerjaan saja tapi tanya-tanya hal yang enggak penting."
"Udah jangan mikir yang enggak-enggak. Mas gak akan bales pesan dia kalau bukan masalah pekerjaan. Lagian dia juga sudah menikah,"
"Iya sudah menikah tapi dalam proses perceraian. Justru yang sudah menikah itu pemain pro," kesal Alin.
"Kok kamu tahu?" Keenan heran kenapa Alin bisa tahu tentang kehidupan Lyra sedangkan dirinya saja tidak tahu lebih tepatnya tidak perduli.
"Aku minta Yuna cari tahu.. Aku pengen tahu aja latar belakangnya kaya gimana buat antisipasi,"
"Astaga!" Keenan tertawa mendengar penuturan Alin. "Pawangnya galak begini mana ada yang berani deketin," canda Keenan kemudian mencium bibir Alin.
"Buktinya Julia dulu berani tuh... Mas boleh ya besok aku bawa mobil sendiri?" ucap Alin penuh harap.
"Sama mang Didi dulu aja ya sayang," Keenan tetap menolak permintaan istrinya meski Alin kini sudah mahir menyetir dan mempunyai SIM.
Keenan menggeleng, ia tetap pada keputusannya.
Tak menyerah Alin terus merayu Keenan agar di beri ijin. "Boleh dong," Alin kini duduk di pangkuan Keenan dan mencium bibirnya bertubi-tubi.
Pertahanan Keenan runtuh juga dan pada akhirnya iya mengijinkan Alin untuk membawa mobil sendiri.
Alin begitu senang karena usahanya membujuk Keenan tidak sia-sia. "Makasih ya mas,"
"Hmmm ya tapi gak cukup kalau cuma makasih doang," Ujar Keenan berdiri kemudian menggendong Alin ke atas ranjang.
Keenan mencium bibir Alin lembut, sementara tangannya membuka satu persatu kancing dress yang di kenakan Alin.
Tiba-tiba ponsel Keenan berdering. Nama papa Wira tertera di layar. Walau kesal Keenan tetap menjawab panggilan tersebut.
"Iya kenapa Pa?" tanya Keenan begitu panggilan terhubung.
"Ken di mana? kamu enggak baca pesan Papa? Keberangkatan di percepat kita sudah kumpul di kantor" omel pak Wira.
"Iya ini mau berangkat.. Ya udah Ken tutup dulu," Keenan segera menutup panggilan nya. "Ganggu aja," kesal Keenan kemudian melempar ponsel ke sembarangan tempat.
"Ya udah mandi sana udah tunggu juga," ujar Alin menyuruh Keenan agar segera bersiap agar pak Wira dan yang lain tidak menunggu lama.
"Astaga! tanggung sayang, bentar aja ya," Raut wajah Keenan berubah kecewa ketika Alin malah menyuruhnya untuk bersiap.
"Ya enggak sebentar juga mas," ucap Alin malu-malu.
"Istriku sudah ketagihan ya sekarang.. Mas jadi males berangkat kalau begini," Keenan kemudian menuntaskan hasratnya.
***
Pagi-pagi sekali Keenan sudah melakukan panggilan video call pada Alin bahkan istrinya itu masih mengantuk.
"Sayang bangun nanti kesiangan," ujar Keenan saat melihat Alin kembali tertidur setelah menjawab panggilan.
"Lima menit lagi Mas.. Lagian ini masih pagi," jawab Alin masih dengan mata yang terpejam.
"Ya sudah Mas tutup dulu ya mau siap-siap," pamit Keenan.
Tiba-tiba terdengar suara perempuan yang tak lain adalah sekretaris Keenan. "Ini Pak.. Silahkan sarapannya," Lyra meletakan se nampan sarapan di hadapan Keenan.
Spontan Alin langsung terbangun dan langsung melihat ke layar ponselnya, benar saja dia melihat sosok Lyra di sana sedang meletakkan segelas air putih. "Mas lagi di mana? Ada siapa aja? ayah sama papa ada di sana juga kan?" Tanya Alin beruntun.
Keenan mengarahkan ponsel ke sekitarnya. Terlihat di sana Pak Adi dan Pak Wira melambaikan tangan ke arah ponsel karena mereka tahu Keenan sedang melakukan panggilan video dengan Alin. "Kita sedang sarapan," jawab Keenan kemudian.
Kini Alin bisa bernapas lega, dia pikir Keenan dan Lyra sarapan berduaan sepagi ini.
Setelah selesai dengan panggilannya kemudian Alin bersiap untuk berangkat ke kampus.
"Mobilnya sudah saya siapkan Non," ucap mang Didi memberikan kunci mobil.
"Makasih ya mang,"
"Hati-hati ya neng! Jangan kebut-kebutan," nasihat bi Inah.
"Ih bibi enggak percayaan sama aku.. Tenang aja bi aku pasti hati-hati kok," ucap Alin kemudian masuk ke dalam mobil.
Hari pertama menyetir berjalan lancar dan tidak ada kendala sedikitpun. Namun ketika memasuki parkiran tiba-tiba sebuah motor sport melaju kencang dan hampir menyenggol mobil Alin.
Spontan Alin langsung mengerem mobilnya. "Punya mata gak sih?" Alin membuka kaca mobil dan memarahi pengendara motor tersebut.
"Maaf! Aku lagi buru-buru," ucap pria pengendara motor meminta maaf.
"Tindakan lo itu membahayakan," Kesal Alin.
Pengendara motor itu kemudian turun dari motor dan membuka helmnya. "Sekali lagi aku minta maaf," Pria itu menghampiri Alin.
"Ya udah.. Lain kali lebih hati-hati," ucap Alin kemudian menaikan kaca mobilnya.
"Tunggu!" pria itu menahan kaca mobil Alin.
"Kayaknya kita pernah ketemu?" Pria itu memperhatikan wajah Alin.
"Maaf mungkin anda salah orang.. Saya permisi dulu," ucap Alin acuh kemudian menutup kaca mobilnya.
"Gue gak salah orang dia kan yang di Shabi cafe waktu itu, ternyata kuliah di sini juga. tapi kok gue baru lihat ya? " gumam pria itu tersenyum.