
Malam hari tiba dan kini Alin harus menerima hukuman yang di berikan oleh Keenan.
Alin terlihat sangat kesal dengan hukuman yang Keenan berikan. Sedari tadi ia telah menekuk wajahnya.
Berbeda dengan Alin, Keenan malah tersenyum sendiri melihat ekspresi wajah Alin. "Gimana udah kapok?" Tanya Keenan meledek.
"Mas?! Kenapa di kasih hukuman kaya gini sih? Kenapa gk di kasih hukuman yang enak aja," protes Alin namun, dia tetap mengerjakan hukuman tersebut.
"Mana ada hukuman yang enak?"
"Ada kok.. Itu di novel tetangga sebelah pasti suami kasih hukuman yang enak buat istrinya,"
Keenan tertawa menanggapi protes dari Alin. "Makanya jangan kebanyakan baca novel, jadinya ekspetasi kamu terlalu tinggi,"
"Mas... udahan ya udah capek ini aku," rengek Alin sambil menyimpan sebuah onde-onde kedalam piring.
Hukuman dari Keenan ini memang cukup nyeleneh. Alin harus memisahkan onde-onde yang biji wijen nya genap dan ganjil.
"Ayo nanti kena razia kalau enggak ganjil genap," Ledek Keenan.
"Mas.. Boleh ganti aja gak hukumannya?" tanya Alin mengedipkan mata genit.
Keenan menggeleng "Enggak.. lagian gak banyak cuman 10 biji aja kok," Keenan tertawa lepas.
"Aku bilang Mama nanti," Ancam Alin.
"Bilang aja.. Mas gak takut," Keenan malah menantang.
"Ya udah kalau gitu aku gak mau kasih jatah selama dua minggu," Alin menyeringai.
"Eh gak bisa gitu dong.. Ini siapa yang salah siapa yang dapat hukuman sih?" Keenan mengacak rambutnya frustasi.
Sementara Alin tersenyum penuh kemenangan.
Hukuman Alin pun selesai tanpa syarat karena Keenan takut akan kehilangan jatah selama dua minggu.
***
Pagi hari tiba. Seperti biasa Keenan telah bersiap untuk pergi ke kantor sedangkan rencananya hari ini Alin akan pergi ke toko buku bersama Yuna mereka telah sepakat belajar bersama untuk ujian masuk universitas.
Alin sengaja tidak satu mobil dengan Keenan karena memang arah kantor dan toko buku berlawanan. Jadi Alin memilih di antar oleh Mang Didi.
Sebelum ke toko buku Alin sengaja datang ke rumah Yuna untuk menjemput gadis itu.
"Yuna?!" Alin melambaikan tangan saat melihat Yuna yang tengah berdiri di depan gerbang rumahnya.
Yuna menghampiri mobil Alin dan mereka berangkat bersama.
"Kamu nggak sekolah?" tanya Alin
Yuna tertawa. "Sudah ujian Kak.. Tinggal nunggu kelulusan," jawab Yuna.
"Astaga! berapa tahun aku nggak sekolah sampai lupa," Alin tersenyum malu.
"Kamu mau masuk Universitas mana?" tanya Alin lagi.
"Universitas Dharma Bakti,"
"Sayang banget ya kita nggak masuk universitas yang sama," ucap Alin.
***
Tidak biasa pagi itu Randy telah berada di kantor Keenan. "Ngapain kesini? Mau nyari lowongan pekerjaan?" ledek Keenan.
"Sembarangan.. ini gue mau kasih undangan," ucap Randy meletakan sebuah undangan di atas meja.
"Hah?! Serius lo? kok dadakan? nggak hamilin anak orang kan lo?" Keenan memberondong Randy dengan banyak pertanyaan.
"Enak aja kalau ngomong," Ketus Randy.
Keenan mengambil undangan tersebut, kemudian perlahan mulai membacanya.
Tiba-tiba ponsel Keenan berdering. "Hallo sayang? kenapa?" tanya Keenan begitu panggilan terhubung.
"Toko buku nya ternyata belum buka.. Aku boleh ke kantor mas dulu nggak?" tanya Alin di seberang telpon.
Keenan tertawa. "Kan Mas tadi sudah bilang pasti belum buka masih pagi begini.. Ya sudah sini Mas tunggu ya,"
"Ada siapa di kantor?"
"Seperti biasa hanya para karyawan,"
"Gue apaan?" celetuk Randy.
"Oh ini ada Randy lagi ngasih undangan pernikahan..."
"Hah?! Om Randy ngasih undangan? Mau nikah?" Alin sengaja mengeraskan suaranya agar di dengar Yuna.
"Kak Randy mau nikah?" tanya Yuna begitu Alin selesai menelpon.
"Kata Mas Keenan dia lagi di kantor Mas Keenan kasih undangan," jawab Alin.
"Kak... Aku boleh ikut gak?" pinta Yuna kemudian.
Pintu ruangan Keenan dalam keadaan terbuka. Tiba-tiba saja Alin masuk bersama Yuna. Sedangkan Randy tengah duduk santai menikmati secangkir kopi.
"Sayang sudah sampai?" Keenan segera menghampiri dan merangkul Alin.
"Iya Mas," Jawab Alin
"Hai Yuna apa kabar?" Sapa Keenan pada Yuna.
"Jangan mengada-ngada lo," Teriak Randy yang menang posisinya membelakangi pintu.
"Kabar baik Pak," Angguk Yuna sopan.
Randy segera menoleh ke arah sumber suara. Suara yang selama ini rindukan.
"Lo kok bisa di sini?" tanya Randy heran.
"Selamat atas pernikahan nya ya Kak," ucap Yuna Kemudian.
"Astaga! Keenan lo ya?" Randy menatap tajam ke arah Keenan dan Alin.
"Bukan Gue," Keenan mengangkat kedua tangannya.
"Gue mau bicara sebentar sama lo," Randy menarik tangan Yuna keluar dari ruangan Keenan.
Alin menertawakan Randy yang terlihat salah tingkah di hadapan Yuna.
"Iseng banget sih," Keenan mencubit hidung Alin gemas.
"Biarin aja," Alin tersenyum kemudian memeluk Keenan.
"Mau bicara apa sih?" Ucap Yuna kesal namun tetap mengikuti langkah Randy.
Randy menarik Yuna masuk ke dalam lift.
"Gak boleh kaya gini.. Kakak sudah mau menikah," Yuna melepaskan tangan Randy yang sedari tadi menggengam nya.
"Lo rela kalau gue married?" Tanya Randy mencondongkan wajahnya ke wajah Yuna.
"Kenapa enggak? lagian Kakak bukan siapa-siapa aku," Yuna memalingkan wajahnya agar tak bersitatap dengan Randy.
"Lo gak ada perasaan sedikitpun sama gue?" Tanya Randy lagi ia semakin mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu hingga hidung mereka nyaris bersentuhan.
Yuna menggeleng gadis itu terlalu gengsi untuk mengungkapkan perasaannya. Apalagi pria yang berada di hadapannya itu akan segera menikah. Ia lebih memilih mengubur rasa itu dalam-dalam. Yuna tak ingin pihak manapun tersakiti. "Enggak," Jawab Yuna lantang namun, gadis itu tak berani menatap mata Randy.
Randy semakin mendekatkan wajahnya dan nyaris saja menempelkan bibirnya di bibir Yuna. Tapi seketika...
Ting... Pintu lift terbuka beruntung tidak ada siapapun di luar sana.
Randy mendengus kesal, sekaligus lega karena hampir saja dia lepas kontrol mencium gadis itu.
Sementara hanya diam karena masih terkejut.
Randy membawa Yuna untuk berbicara di atas rooftop gedung hotel yang mempunyai 12 lantai tersebut.
"Cowok yang waktu itu pacar lo?" Tanya Randy begitu sampai rooftop.
"Bukan.. Dia sepupu aku," Jawab Yuna jujur karena memang pria yang yang waktu itu menjemputnya adalah sepupunya.
Randy merasa lega saat mendengar penuturan Yuna. "Kalau seandainya gue batalin pernikahan itu apa lo mau sama gue? tanya Randy tiba-tiba.
Dengan cepat Yuna menggeleng.
"Alasannya?"
"Apa pertanyaan konyol ini harus di jawab?"
"Tentu,"
"Aku ini seorang perempuan juga terlahir dari rahim perempuan. Tidak ada alasan bagiku untuk menyakiti perempuan hanya demi egoku sendiri. Apapun alasannya jadi orang ketiga tidak di benarkah sekalipun mereka saling mencintai,"
"Jadi lo cinta sama gue?"
Yuna hanya tertunduk ia merasa terjebak dengan jawabannya sendiri.
Randy mengangkat dagu Yuna, Kemudian ia mencium bibirnya. Sedangkan Yuna hanya terdiam memejamkan matanya, tak ada respon maupun penolakan dari gadis itu.
Randy melepaskan ciumnya. "Bukan gue yang married... Tapi adik perempuan gue," Randy menahan tawa.
Tangis Yuna pecah saat itu juga. Di satu sisi dia merasa lega namun juga merasa malu dengan pengakuannya yang tak di sengaja tadi.
"Udah jangan nangis," Randy memeluk tubuh mungil Yuna.
-
-
-
Maaf ya di chapter ini lebih banyak scene Yuna dan Randy di banding Alin dan Keenan. Sebenarnya Author udah stuck tapi tetap mengusahakan agar bisa up.. maaf kalau mengecewakan..
Jangan lupa like dan komen...