
Suasana sore itu begitu terasa begitu canggung bagi Indira. Lembur satu jam terasa satu tahun baginya, Itu karena ia harus menjadi obat nyamuk diantara Keenan dan Alin di dalam ruangan itu.
Sebenernya Alin bersikap biasa saja dia hanya duduk di sofa menunggu Keenan menyelesaikan pekerjaannya.
"Masih lama Mas?" Tanya Alin yang mulai bosan memainkan ponsel sejak tadi.
"Sebentar lagi ya sayang," Jawab Keenan namun tangannya sibuk masih dengan pekerjaan nya.
Alin melirik ke arah Indira yang sejak tadi hanya diam tertunduk sambil mengerjakan tugas yang ibu Ratna berikan.
Alin kemudian menghampiri Indira yang hendak mengangkat tumpukan berkas di mejanya. "Butuh bantuan?"
"Enggak usah, Aku bisa sendiri kok," tolak Indira.
"Oh yaudah," Ujar Alin kemudian kembali duduk di sofa.
Sebenarnya Indira tak sanggup mengangkat tumpukan berkas itu sendirian tapi ia terlalu gengsi untuk menerima bantuan dari Alin.
BRUK!
Tumpukan berkas itu terjatuh dari tangan Indira karena di susun terlalu tinggi. Keenan yang tengah bersiap untuk pulang spontan menghampiri Indira dan hendak membantunya.
"Dia gak butuh bantuan Mas... Tadi aku mau bantu tapi dia nolak," ujar Alin dengan nada tak ramah.
Keenan tahu kalau istrinya sedang kesal dan tak mau menambah kacau moodnya lagi, lebih tepatnya Keenan sedang mencari aman.
"Anto! kamu bantu Indira menyimpan tumpukan berkas ini," Panggil Keenan pada seorang office boy yang kebetulan lewat di depan ruangannya.
"Baik Pak,"
"Ayo pulang sayang," Keenan mengulurkan tangannya padan Alin.
Alin melirik ke arah Indira yang ternyata sedari tadi sedang memperhatikannya. "Ayo mas," ujar Alin kemudian menyambut uluran tangan Keenan. Merekapun berjalan keluar dari ruangan itu.
"Mas tunggu sebentar, ada yang ketinggalan," Alin menghentikan langkahnya.
"Apa?"
Alin berjalan cepat kembali kedalam ruang kerja Keenan. "Tunggu sebentar di sini gak lama kok,"
Indira dan Anto masih sibuk merapihkan berkas-berkas yang tadi terjatuh.
"Aku harap setelah aku kasih bukti nyata di depan matamu, kamu tidak lagi menyebar gosip yang tidak benar," Ucap Alin berbisik di telinga Indira.
Indira hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Alin.
****
Setelah kejadian hari itu kini Indira selalu menjaga jarak dan menghindari Alin. Seperti saat jam makan siang jika Alin ikut bergabung dengan Tasya dan Nayla maka Indira akan pergi dengan berbagai alasan.
Nayla merasa heran dengan sikap Indira belakangan ini karena dia memang tidak tahu permasalahan yang terjadi antara Alin dan Indira. "Indira kenapa ya kok dia kaya sering menghindar sekarang?" tanya Nayla heran.
"Mana aku tahu, kamu kan temannya. Ya kamu tanya aja langsung," usul Tasya. Ia pun tak ingin ikut campur terlalu jauh urusan Indira maupun Alin.
"Sekarang kami tidak sedekat dulu, Aku juga nggak tahu kenapa dia seperti menghindar. Apa aku ada salah ya sama dia?" Nayla menggaruk kepala tak gatal.
Tasya hanya mengangkat bahu. "Mungkin," jawabnya enteng.
***
Waktu terasa cepat berlalu, waktu magang selama tiga bulan sudah di lewati Alin tanpa kendala. Semua karyawan dengan suka rela membantu Alin dalam berbagai hal.
Sore itu Alin dan Keenan pergi ke rumah sakit untuk menemani Mama Vero yang tengah di rawat. Kondisi kesehatan Mama Vero akhir-akhir ini memang sedang menurun.
Meskipun ia sedang sibuk dengan skripsi yang tengah di susunnya tetapi Alin masih bisa merawat dan menjaga mama Vero dengan baik.
Sampailah mereka di parkiran rumah sakit. Alin pun turun dari mobil dan menunggu Keenan yang menurunkan beberapa barang dari bagasi.
Dari kejauhan Alin melihat seorang wanita hamil turun dari mobil seorang diri, wanita itu nampak sedang kesakitan sepertinya akan segera melahirkan. Alin mengamati wajah itu yang sepertinya tak asing.
"Mas!" Panggil Alin setelah yakin yang di lihat benar-benar wanita yang ia kenal.
"Iya sayang?" Keenan menutup bagasi kemudian berjalan menghampiri Alin.
"Bukannya itu Kak Laura?" Alin menunjuk wanita tadi. "Ayo kita tolong Mas," Kemudian Alin berjalan menghampiri Laura.
"Kak Laura kenapa?"
"Kalian?" Laura melihat Alin dan Keenan yang kebetulan ada di parkiran rumah sakit. "Sepertinya aku akan melahirkan" jawab Laura dengan wajah yang meringis menahan kontraksi.
"Cepat panggil perawat Mas," Titah Alin pada Keenan.
Tak banyak bicara Keenan pun langsung berlari ke dalam rumah sakit mencari perawat. Sedangkan Alin memapah Laura berjalan ke dalam.
Tak berselang lama Keenan kembali bersama dua orang perawat dan membawa Laura ke ruang bersalin.
"Suaminya silahkan menemani di dalam," pinta seorang perawat.
Keenan melirik Alin yang saat itu duduk di ruang tunggu. "Maaf Sus, saya bukan suaminya biarkan saya menunggu di luar saja," Tolak Keenan.
"Baiklah kalau begitu," perawat itu kemudian masuk dan menutup pintu.
Keenan dan Alin menunggu di luar ruangan. Meski sebenarnya mereka bukan siapa-siapa Laura tapi hati kecil Alin tak tega membiarkan Laura melahirkan seorang diri tanpa di temani suami maupun keluarganya.
Alin tahu betul bagaimana perjuangan melahirkan walau dengan cara yang berbeda. Bahkan saat itu itu sampai kritis dan yang lebih menyakitkan ia harus kehilangan bayi yang selama ini ia perjuangkan. Seperti membuka luka lama, Peristiwa itu terus berputar di otaknya.
"Sayang kenapa?" Tanya Keenan yang melihat Alin tiba-tiba murung.
Alin tersenyum menguatkan dirinya sendiri, "Nggak apa-apa kok Mas, Aku cuma cemas sama Kak Laura," jawab Alin bohong.
"Serahkan semua pada Tuhan, Laura pasti kuat," ujar Keenan.
Tak lama terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang bersalin.
"Mas sepertinya bayi nya sudah lahir," Alin ikut terharu mendengar tangisan bayi tersebut.
Keenan hanya mengangguk.
Lalu perawat datang dengan membawa seorang bayi mungil. "Selamat ya Pak, bayi nya lahir dengan sehat dan selamat begitu juga dengan ibunya. Saat Ibunya sedang di bersihkan sebelum di pindah ke ruang perawatan," Ujar seorang perawat sambil memberikan bayi mungil itu pada Keenan.
Keenan reflek menerima bayi itu, Senyum nya mengembangkan tatkala melihat wajah bayi yang masih merah itu.
"Lucu ya sayang," Ujar Keenan pada Alin seraya mengelus lembut pipi bayi tersebut.
"Oh iya saya hampir lupa, tolong selesaikan dulu administrasi sebelum di pindah kamar rawat inap ya Pak," tambah perawat tersebut.
"Baik sus," Jawab Keenan singkat.
"Mas... Aku ke kamar mama duluan ya, Ini sudah malam takut mama belum makan," Alin pamit.
"Tapi sayang.. Tunggu sebentar ya kita ke kamar mama sama-sama," Keenan menahan Alin agar tidak pergi. Ia pun tak ingin ada kesalahan pahaman nantinya.
"Enggak Mas.. aku percaya kok sama Mas, aku cuma khawatir sama mama." Alin pun kemudian pergi.
"Mas Keenan terlihat bahagia sekali menggendong bayi itu," gumam Alin.
Alin menarik nafas dalam sebelum masuk ke ruangan Mama Vero, "Mama.. Maaf Alin telat datang, Mama sudah makan?"
"Tidak apa-apa nak... Mama sudah makan, kamu tenang saja. Kamu juga pasti capek kan? harusnya beristirahat saja di rumah," Mama Vero mengelus lengan Alin.
"Enggak kok Ma, Alin malah senang bisa menemani Mama,"
Mama Vero melirik ke arah pintu, Tak biasanya Alin datang sendiri, "Oh iya Keenan dimana?"
"Mas Keenan ada urusan dulu, sebentar lagi pasti sampai," jawab Alin sekena nya.
***
Kini Laura telah di pindahkan ke ruang rawat inap. "Terimakasih banyak ya Ken... Aku gak tahu harus balas kebaikan kamu kaya gimana lagi," ujar Laura lirih.
"Maaf kalau aku lancang.. Tapi dimana suami sama keluarga kamu?" Hal yang ingin Keenan tanyakan saat pertama kali melihat wanita itu di parkiran rumah sakit.
"Setelah aku kabur dari pernikahan waktu aku di coret dari keluarga dan sampai sekarang aku gak pernah komunikasi, dan kalau suami... Dia sudah pergi dengan wanita lain," Ujar Laura tersenyum namun hatinya amatlah perih.
"Oh maaf," Keenan merasa tak enak menanyakan hal sangat pribadi seperti itu.
"Tidak apa Ken,"
"Kalau begitu aku permisi, Jaga diri kamu dan anak kamu baik-baik," Pamit Keenan. Sebenarnya hatinya begitu terenyuh mendengar kisah hidup Laura yang kini menyedihkan.