
Tri semester pertama kehamilan kali ini Alin menjadi lebih kalem tidak rewel seperti kehamilan pertama. Ia juga tak ngidam hal yang aneh-aneh.
Alin juga jarang meminta keluar rumah karena trauma kejadian dulu akan terulang walau kini sebenarnya Alin maupun Keenan tidak memiliki musuh. Meskipun begitu Alin dan Keenan mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Mereka tak pernah tahu mungkin ada saja ada orang yang berniat jahat.
Seperti biasa setiap pagi Alin menyiapkan baju kerja Keenan. "Sayang! Kamu tidak mau sesuatu?" Tiba-tiba Keenan memeluknya dari belakang.
"Enggak Mas... Kalau aku mau pasti aku bilang kok," pertanyaan itu hampir tiap waktu Keenan tanyakan.
Keenan sebenarnya hanya khawatir Alin menahan keinginannya. "Ya sudah ayo kita sarapan," ajaknya kemudian.
"Kenapa tidak di makan?" Keenan memperhatikan Alin yang hanya memandangi sarapannya.
"Hiks.. Hiks.. "Tiba-tiba Alin menangis.
"Sayang apa ada yang sakit?" Keenan nampak khawatir melihat Alin tiba-tiba menangis.
"Telur ini.. Seharusnya dia hidup dan menjadi anak ayam yang lucu. Kenapa Bi Inah tega sekali menjadikannya omlete begini.. Hiks.. Hiks.." Tangisan Alin semakin kencang
"Astaga!" Keenan menepuk jidatnya.
Hati Alin menjadi lebih sensitif sekarang. bahkan dia sering menangisi hal-hal yang konyol seperti omlete itu misalnya.
"Hari ini jangan pulang telat ya Mas," pinta Alin saat mengantarkan Keenan ke depan pintu.
"Baik Nyonya," Canda Keenan mengacak rambut Alin.
"Lihat Papi kalian nakal," Alin mengelus perutnya yang sudah mulai berisi itu seolah mengadukan perbuatan Keenan pada janin di dalam sana.
"Papi cuma bercanda," Keenan mengelus perut Alin kemudian menciumnya tak lupa ia berpamitan pada calon buah hati mereka.
***
Semakin hari perut Alin semakin terlihat membesar. Ia juga sering mengeluh sakit pinggang dan sesak nafas. Tubuh Alin yang semula mungil kini makin terlihat berisi. Hal itu sangat wajar karena kondisi Alin saat ini tengah hamil anak kembar.
Namun dengan kondisi badan yang berisi nyatanya membuat kepercayaan diri Alin menjadi semakin berkurang. "Mas gak gak akan ninggalin aku kan dengan kondisi aku yang seperti sekarang ini?"
"Justru Mas lihat kamu semakin cantik," Puji Keenan jujur, semenjak hamil memang wajah Alin terlihat semakin cantik di mata Keenan terlepas bagaimanapun bentuk badannya, Keenan sama sekali tak mempersalahkan hal itu.
"Mas bilang gitu cuman mau nyenengin aku doang kan?"
"Kapan jadwal periksa lagi?" Keenan mengalihkan pembicaraan agar Alin tak berfikir macam-macam.
"Mas tuh gimana sih?! Jadwal periksa anak aja selalu gak ingat, gak kaya jadwal meeting. Memang lebih penting pekerjaan ya di banding anak?" cerocos Alin kemudian meninggalkan Keenan.
Nyatanya pertanyaan Keenan bukan meredam suasana malah membuat suasana semakin rumit. Keenan mengusap wajah secara kasar, kini ia harus lebih berhati-hati lagi dalam setiap perkataannya.
Akhir-akhir ini Alin memang sering terlihat uring-uringan berbeda saat awal kehamilan yang lebih pendiam. "Mas Keenan kenapa sih selalu saja bikin kesal," Dalam hati kecilnya Alin juga selalu merasa bersalah jika telah marah pada suaminya.
Tiba-tiba perut Alin terasa keram, Alin menarik napas panjang kemudian menghembuskan nya perlahan menetralkan emosinya yang sedang memuncak. Tak seperti biasanya rasa sakit itu tak kunjung reda.
"Sayang kenapa?" Keenan panik saat melihat Alin kesakitan sambil memegang perutnya. "Kita ke rumah sakit sekarang," Tanpa menunggu jawaban dari Alin, Keenan segera memapah Alin menuju mobil.
"BI Inah kami ke rumah sakit dulu," pamit Keenan terburu-buru.
"Neng Alin kenapa Den?" tanya Bi Inah panik. Belum sempat menjawab Keenan langsung melajukan mobilnya. "Aduh Bibi harus gimana ini?"
Satu tangan Keenan menyetir sementara satunya lagi mengelus perut Alin. "Tunggu sebentar ya sayang, Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit"
Alin nampak masih menahan sakit dengan keringat yang bercucuran padahal AC mobil dalam keadaan menyala.
"Bagaimana kondisi istri dan calon anak kami Dok? Apa baik-baik saja?" tanya Keenan panik.
Sang Doker tersenyum ramah. "Sebentar ya Pak, Biar saya periksa dulu biar tahu bagaimana kondisinya,"
"Baik Dok," Keenan tersenyum malu. Bagaimana dokter bisa tahu keadaannya sementara Alin saja belum di periksa. Ternyata Keenan bisa sekonyol itu jika sedang panik.
***
Bi Inah yang panik tidak bisa hanya tinggal diam. Ia berinisiatif menelpon Mama Vero dan memberitahukan bahwa Alin masuk rumah sakit.
"Papa! Alin mau melahirkan," Teriak Mama Vero menggemparkan seluruh isi rumah.
"Kata siapa Ma? Keenan telpon?"
"Bi Inah yang telpon, ayo sekarang kita ke rumah sakit Pa," Mama Vero terlihat heboh.
Pak Wira mengeluarkan ponsel hendak menelpon Keenan dan memastikan. "Tenang dulu Ma, Sebaiknya kita telpon Keenan dulu,"
"Kelamaan Pa, Keenan pasti sedang sibuk di rumah sakit. Ayo sekarang kita susul sekalian bawa perlengkapan bayi nya. Kata Bi Inah mereka tidak bawa apa-apa tadi," Mama Vero terlihat tidak sabaran.
Pak Wira akhirnya hanya menuruti perkataan sangat istri.
"Pa, jangan lupa telpon pak Adi juga sekalian ya," pinta mama Vero lagi. Pak Wira hanya pasrah.
Mama Vero begitu bersemangat menuju ke rumah sakit. Tak lupa ia terlebih dahulu pergi kerumah Alin untuk mengambil perlengkapan bayi yang memang telah mereka siapkan beberapa hari lalu.
"Untung saja perlengkapan bayi nya sudah mama sama Alin siapkan," Mama Vero mengambil tas yang berisi perlengkapan bayi.
Di rumah sakit Dokter telah selesai memeriksa Alin.
"Apa rasa mulas terasa sering?" tanya dokter pada Alin.
Alin menggeleng. "Tidak dok, hanya sesekali tapi dengan waktu yang cukup lama,"
"Menurut pemeriksaan belum ada tanda-tanda melahirkan dan di lihat dari hasil USG usia janin masih berusia 38 minggu dan belum waktunya untuk melahirkan. Kondisi seperti ini memang sangat wajar bagi ibu hamil ini dinamakan kontraksi palsu," jelas dokter.
"Jadi istri saya belum mau melahirkan dok?" Tanya Keenan meyakinkan.
"Belum pak, mungkin 4 atau 5 minggu lagi,"
Alin dan Keenan pun memutuskan untuk pulang Karena kondisi Alin baik dan tidak perlu di rawat.
Saat di parkiran Mereka bertemu dengan Mama Vero dan Papa Wira lengkap dengan perlengkapan bayi yang di bawa nya.
"Loh Mama?" Keenan kaget ketika melihat kedua orangtuanya.
"Ken?! Bukannya Alin mau melahirkan?"
Alin dan Keenan pun saling pandang, seolah mereka bertanya siapa yang mengabari Mama Vero.
Keenan menggeleng. "Belum Ma, mama tahu dari siapa?"
"Bi Inah bilang Alin kesakitan lalu di bawa ke rumah sakit,"
"Bukan berarti mau melahirkan Ma, Keenan pasti kabarin kalau Alin mau lahiran," Keenan berusaha menahan tawa melihat wajah ibunya.
"Papa bilang juga apa. Sebaiknya kita pastikan dulu, Mama sih gak sabaran," Kini pak Wira ikut meledek istrinya.