
Setelah 4 tahun lamanya perjuangan, akhirnya hari ini tiba juga. Hari ini Alin menjalani wisuda. Alin sudah berdandan cantik mengenakan kebaya dan bersiap untuk pergi ke gedung tempat acara terlaksan.
Rangkaian acara demi acara telah selesai di laksanakan. Akhirnya satu-persatu keinginan Alin sudah tercapai, meskipun sebenarnya keinginan terbesarnya belum terwujud sampai saat ini.
"Selamat ya sayang," Mama Vero memberikan se buket bunga kemudian memeluk menantunya itu dengan erat.
Alin dengan senang hati membalas pelukan mama Vero. Kemudian setelah itu bergantian kini giliran pak Wira yang mengucapkan selamat untuk menantunya itu.
"Selamat ya Nak," Tak ingin kalah dengan istrinya Pak Wira membawa buket berupa uang.
"Terimakasih Ma, Pa," ucap Alin haru.
Sementara Pak Adi masih terdiam dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dia sangat bangga terhadap putrinya. Tiba-tiba ia teringat dengan Almarhumah istri serta ibunya, seandainya mereka berada di sini dan menyaksikan momen yang sangat berbahagia ini, bahkan baginya momen ini lebih membahagiakan dan mengharukan di banding hari pernikahannya Alin dulu. Saat pernikahan Alin pak Adi selalu merasa cemas dan takut. Tapi beruntung Keenan mampu menjadi suami yang baik bagi putrinya. Walau perjalanan rumah tangga tidak selalu mulus.
"Ayah," Tiba-tiba panggil Alin lirih.
Pak Adi megusap air mata yang sudah hampir jatuh dari pelupuk matanya, Kemudian membentangkan tangannya.
Alim segera menghambur dalam pelukan sang ayah. "Selamat ya Nak," Ucap Pak Adi bergetar.
"Terimakasih Ayah," hanya kata itu yang mampu terucap dari bibir Alin.
Tangis mereka pun pecah, Meski tak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka tapi pak Adi dan Alin merasakan perasaan yang sama.
"Selamat ya sayang," Tak lupa Keenan mengucapkan selamat dan memberikan sebuah hadiah untuk istrinya.
"Terimakasih Mas," Alin pun memeluk Keenan.
Tak lupa momen itu pun di abadikan bahkan Mama Vero sengaja memakai jasa fotografer terkenal agar hasil foto mereka terlihat bagus.
***
Alin memasang foto wisuda bersama keluarga di dinding ruang tamu di rumahnya.
"Ehmm yang sudah sarjana," ledek Keenan karena melihat Alin yang masih terpaku memandang foto tersebut dengan bangga.
"Makasih ya Mas, sudah banyak bantu aku nyusun skripsi," Ucap Alin tersenyum manis.
"Bukan bantu, lebih tepatnya Mas yang ngerjain," Bantah Keenan.
Alin tersenyum malu, karena memang benar sebagai besar memang Keenan lah yang mengerjakan skripsinya. "Iya pokoknya terimakasih banyak. Akhirnya aku bisa lulus tepat waktu," ucap Alin senang.
"Tidak cukup hanya dengan ucapan terimakasih sayang," Ujar Keenan mengedipkan matanya genit.
Alin tersipu, ia sudah tahu apa yang di maksud suaminya tersebut. "Sudah sana berangkat ke kantor mas, nanti telat katanya ada meeting pagi," Alin mengalihkan pembicaraan.
Keenan berjalan malas menuju ke garasi, Andai saja pagi ini tidak ada meeting penting ia pastikan tidak akan datang ke kantor hari ini.
"Ya sudah Mas berangkat ya," Keenan mencium kening Alin.
Tak lupa Alin pun mencium tangan Keenan sebelum suaminya itu benar-benar masuk ke dalam mobil.
Tak terasa sudah enam tahun sudah mereka mengarungi biduk rumah tangga. memang tak selalu berjalan mulus karena sejatinya mereka menghadapi ujian yang pelik dan berliku. Namun, mereka berhasil melewati bersama tanpa ada niat meninggalkan satu sama lain. Mereka terus memperbaiki diri dan saling menerima kekurangan.
Sebenarnya Alin meminta Keenan agar dia bisa bekerja di kantor milik suaminya itu, Tapi Keenan mengatakan untuk saat ini lebih baik Alin istirahat dulu di rumah. Mungkin suatu saat Keenan bisa saja mengijinkan istrinya itu bekerja.
Rumah besar itu terasa sepi saat Keenan tak ada di sana. "Andai saja anakku masih ada di sini," Alin berujar dengan tatapan kosong.
Tak ingin terus larut dalam kesedihan. Tiba-tiba Alin teringat jika sebentar lagi ulangtahun Keenan.
Alin berencana ingin membuat kejutan untuk suaminya.
"Ya Ampun ternyata suamiku sudah tua," Alin tertawa geli saat menghitung ulang tahun yang ke berapa Keenan tahun ini.
Sesaat kemudian ia terdiam. Ia sadar usia Keenan kini tak lagi muda. Bahkan teman-teman suaminya itu sudah hampir semua memiliki anak bahkan ada yang dua maupun tiga. Tak jarang jika ada acara tertentu Keenan dan Alin selalu menjadi bahan pembicaraan. Ada yang bersimpati namun ada juga yang mengolok-olok yang di bungkus dalam sebuah candaan.
Tiba-tiba kepalanya pusing dan pandangannya seketika menjadi gelap hampir saja dia terjatuh namun beruntung dia dapat menyeimbangkan tubuhnya. BI Inah yang melihatnya begitu panik dan segera menghampiri Alin.
"Ya Ampun Neng! Neng sakit ya? Bibi telpon Den Keenan ya," BI Inah membantu Alin duduk di sofa.
"Gak usah Bi, Mas Keenan pasti lagi meeting.. Buatkan aku teh hangat saja ya," pinta Alin kemudian.
"Baik kalau begitu Neng," Bi Inah segera berlalu menuju dapur.
***
Besok hari ulang tahun Keenan Alin begitu bersemangat menyiapkan kejutan untuk suaminya itu. Alin memasukan kado ke dalam sebuah kotak kemudian membungusnya rapi tak lupa ia hias dengan sebuah pita berwarna merah.
"Gak sabar deh pengen cepet kasih ke Mas Keenan," ujar Alin tersenyum memandangi kado yang ada di genggaman nya.
Hari ulang tahun Keenan pun tiba. Seperti biasa Alin mengucapkan ucapan ulang tahun untuk suaminya. Namun, Ia belum berniat memberikan kado itu sekarang. Karena dia telah merencanakan akan memberi kejutan saat dinner nanti malam.
"Mas nanti malam bisa pulang cepat kan?" tanya Alin memastikan.
"Iya sayang.. Begitu semua pekerjaan selesai Mas langsung pulang," Keenan mengelus kepala istrinya itu.
"Ya sudah nanti aku tunggu di rumah ya, jangan sampai pulang lebih dari jam delapan".
"Iya sayang... Mas janji," ucap Keenan pasti. Sebenarnya ia merasa penasaran dengan Alin karena bersikap tak seperti biasanya.
Keenan pun pamit dan berangkat ke kantor. Bekerja di hari ulang tahun sudah biasa baginya karena kebetulan memang ada pekerjaan penting yang tak bisa di tunda.
"Semua sudah selesai, Terimakasih ya bi sudah membantu," Alin tersenyum puas dengan hasil kerja samanya dengan Bi Inah.
"Sama-sama neng.. Bibi ikut senang, semoga semua lancar sesuai rencana," Bi Inah pun tak kalah berbahagia. "Kalau begitu bibi pamit dulu ya neng. Terimakasih untuk bonusnya,"
Alin memang sengaja memberi cuti untuk bi Inah dan memberi uang bonus. Alin benar-benar hanya ingin berdua bersama Keenan malam ini.
Pukul delapan tepat Alin sudah berdandan cantik menunggu suaminya pulang bekerja.
Lewat satu jam belum ada tanda-tanda Keenan pulang bahkan ponselnya kini tak aktif.
"Mas Keenan kemana sih?" Ujar Alin kesal.