
"Alin tidak apa-apa... Kata Dokter kemungkinan Alin hamil. Tapi sebaiknya di periksa ke Dokter kandungan," jelas Nenek dengan raut wajah bahagia..
Rasa bahagia campur haru yang Keenan rasakan saat mendengar kabar bahwa istrinya hamil. Namun, juga rasa bersalah karena ia tak ada saat istrinya benar-benar membutuhkannya. Dengan segera Keenan menemui Alin yang masih di ruang IGD.
"Akhirnya kita akan jadi kakek," Pak Wira tersenyum bahagia menepuk pundak Pak Adi. "Sebaiknya kita bawa Alin ke Spesialis kandungan sekarang," Pak Wira nampak tak sabar.
"Iya Bapak benar," Pak Adi tak kalah bersemangat.
"Sayang," panggil Keenan mengelus rambut Alin yang sedang terbaring lemah.
"Iya Mas.. " jawab Alin lirih nyaris tak bersuara.
Keenan menghujani puncak kepala Alin dengan ciuman "Terimakasih... Maafin Mas," hanya kata itu
yang berhasil lolos dari bibirnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
***
Dokter Spesialis kandungan mengoleskan gel khusus untuk melakukan USG kemudian menempelkan alat Transducer di perut Alin yang masih nampak rata. Sang Dokter menggeser alat ke kanan dan ke kiri untuk mencari letak janin.
"Silahkan di lihat di monitor. Selamat Pak, Bu... Ini janinnya, masih sangat kecil kalau di lihat dari ukurannya usianya baru sekitar 5 minggu," Sang Dokter mengarahkan kursor tepat di gambar janin tersebut. "Mari kita dengar detak jantungnya... Belum terdengar jelas tapi tidak apa-apa, ini normal jika di lihat dari usia kehamilannya." penjelasan Dokter tersebut.
Keenan menggenggam erat tangan Alin. Mendengar detak jantung calon buah hati untuk yang pertama kalinya adalah hal yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Tak henti Keenan mengucap syukur pada Tuhan karena telah memberi kepercayaan kepadanya untuk menjadi calon ayah. Tak lupa ia juga berterimakasih kepada Alin. Keenan berjanji tidak akan pernah lagi mengecewakannya, membuatnya menangis, dan akan selalu ada untuknya.
"Saya akan meresepkan obat dan vitamin. Karena usia kehamilannya masih sangat muda dan usia ibunya juga masih sangat muda jadi janin masih sangat rawan keguguran. Saya sarankan harus banyak istirahat, jangan terlalu kecapean dan paling penting ibunya jangan sampai stress ya," jelas Dokter.
"Baik... Terimakasih Dokter," ucap Keenan.
"Apa saya boleh langsung pulang Dok?" tanya Alin kemudian.
"Kalau ibunya sudah kuat silahkan bisa langsung pulang. Tapi kalau belum kuat sebaiknya di rawat dulu di rumah sakit,"
"Saya mau pulang saja Dok, saya sudah merasa lebih baik,"
"Silahkan kalau begitu, jangan lupa obat sama vitaminnya di minum. kalau ada keluhan langsung datang ke rumah sakit ya Bu,"
"Terimakasih Dok," Alin kini bisa bernafas lega karena tidak harus menginap di rumah sakit.
"Sayang... Apa gak sebaiknya di rawat dulu saja?" Keenan masih merasa cemas dengan kondisi Alin.
"Enggak Mas.. Alin sudah baikan kok,"
"Kalau ada yang di rasa segera kasih tau Mas ya sayang,"
Alin mengangguk.
Terlihat Nenek Ida, Pak Adi dan Pak Wira sedari tadi duduk di ruang tunggu. Mereka harap-harap cemas menunggu Keenan dan Alin keluar dari ruang periksa.
"Bagaimana hasilnya? " Tanya Nenek begitu melihat Keenan dan Alin keluar dari ruangan.
Keenan memberikan sebuah amplop kepada Nenek Ida. Dengan Tak sabar Nenek Ida membukanya dan ternyata itu foto hasil USG calon anak Keenan dan Alin.
Nenek menangis haru sambil memeluk Alin. "Selamat ya Nak, Sebentar lagi kamu jadi seorang ibu. Sehat-sehat semua sampai waktu lahiran nanti," Nenek Ida tak mampu lagi menyembunyikan kebahagiaanya.
Begitu juga Pak Adi dan Pak Wira yang Tak terasa telah menitikkan air mata.
"Selamat ya sayang," Kini Pak Adi memeluk putri kesayangannya.
"Papa mau bicara sebentar sama kamu Ken," Pak Wira mengajak Keenan sedikit menjauh.
Keenan hanya menurut mengikuti Pak Wira.
"Kamu yakin bisa jaga Alin dengan baik?" tanya Pak Wira tiba-tiba.
"Tentu saja.. Kenapa Papa tanya begitu? "
"Kalau sekiranya kamu tidak mampu lebih baik Alin tinggal di rumah orang tuanya sementara waktu, Papa hanya takut kamu akan kembali mengulang kesalahan kamu,"
"Keenan janji tidak akan pernah lagi melakukan kesalahan Pa, Papa tolong percaya," Keenan tampak memohon.
"Keenan akan jaga Alin dan calon anak kami dengan sebaik mungkin Pa,"
"Baiklah kalau begitu, tapi semua keputusan ada di tangan Alin kalau dia mau tinggal di rumah orang tuanya kamu harus menurut." ucap Pak Wira.
"Baik Pa,"
Dan akhirnya Alin memutuskan untuk pulang ke rumah sendiri. Ia tidak mau merepotkan Neneknya yang memang sudah tua dan tak sekuat dulu. Alin lebih nyaman tinggal di rumah sendiri karena di sana juga ada Bi Inah yang selalu membantunya.
***
"Dari mana Pa? kok baru pulang malam-malam? Mama telpon juga enggak di angkat," ujar Mama Vero yang memang sedari tadi menunggui Pak Wira karena berangkat tanpa pamit.
Saking paniknya Pak Wira sampai lupa pamit pada istrinya "Ya ampun... Maaf Papa sampai lupa. Papa abis dari rumah sakit,"
"Siapa yang sakit?" tanya Mama Vero kemudian.
"Tidak ada yang sakit Ma," Pak Wira tersenyum.
"Lalu?"
"Selamat ya Mama sebentar lagi akan jadi Nenek," Pak Wira mengelus lengan Mama Vero.
"Jadi Nenek? Alin hamil?" tanya nya kemudian.
Pak Wira mengangguk. "Tidak terasa kita sudah semakin tua ya Ma, rasanya baru kemarin kita punya Keenan." Pak Wira memeluk Mama Vero.
Mama Vero hanya diam.
"Kenapa Mama engga seneng?" tanya Pak Wira yang melihat rekasi istrinya hanya diam.
"Mana mungkin Mama enggak senang Pa, Mama bahagia sekali sampai tak tahu harus ngomong apa," kemudian Mama Vero menangis tersedu-sedu. "Mama Malu Pa, Mama udah jahat sama Alin. Alin pasti benci kan sama Mama?" tangisnya semakin menjadi-jadi.
Pak Wira menggeleng. "Alin bukan anak yang seperti itu. Dia tidak pernah benci sama Mama, lebih baik besok Mama temuin Alin dan minta maaf,"
Mama Vero menggeleng. "Pasti Alin ngira Mama baik hanya karena dia hamil, Mama belum siap ketemu dia,"
"Yang terpenting Mama sudah benar-benar menyesali perbuatan Mama. Dan jadikan semua ini semua sebagai pelajaran. Jika anak kita sudah berumahtangga sebaiknya kita jangan terlalu ikut campur. Percayakan semua sama Keenan dia yang menjalani pernikahannya. Tugas kita hanya menasehati jika anak kita salah bukan malah menjerumuskan nya," tutur Pak Wira bijak.
Mama Vero kini merenungkan apa yang baru saja di katakan Pak Wira. Terlebih tadi siang ia di perlihatkan rekaman CCTV sekitar rumah saat insiden Alin dengan Julia tempo hari. Dirinya semakin merasa bersalah, mengapa Ia begitu membenci Alin meskipun gadis itu tidak pernah berbuat salah terhadapnya. Padahal dahulu Mama Vero cukup akrab dengan Alin.
***
"Sayang di minum dulu obat sama vitaminnya," bujuk Keenan.
Alin memang tidak menyukai obat-obatan sedari dulu. "Alin gak suka obat Mas,"
"Iya Mas tahu... Di biasakan pelan-pelan nanti juga terbiasa. Kasihan yang di dalam sini kalau Mami nya enggak mau minum vitamin," Keenan berbicara tepat di perut Alin sambil mengusapnya pelan.
"Minum yang sirup aja ya Mas," rengek Alin.
"Enggak boleh.. Harus di minum semua,"
Dengan terpaksa Alin meminum semua obat dan vitamin yang di berikan oleh dokter walau terasa pahit di tenggorokannya.
"Pahit?" tanya Keenan tersenyum meledek Alin.
Alin cemberut. "Udah tahu masih nanya,"
"Sini Mas kasih yang manis," tanpa babibu Keenan langsung mencium bibir Alin tangannya mengusap perut Alin hingga menelusup sampai ke pinggul wanita itu.
-
-
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ya...