
Setelah melakukan beberapa perjanjian dengan Alin akhirnya Keenan mulai menceritakan rentetan peristiwa mengenai kecelakaan itu.
Alin nampak kaget mendengar fakta bahwa pelakunya adalah Julia. Dan bahkan Julia memang sudah lama mengintai Alin menggunakan mobil putih di ujung jalan tempo hari.
"Kok ada orang sejahat itu?" tanya Alin matanya dipenuhi dengan emosi. Rasanya Alin masih tak percaya mendengar fakta mengenai Julia. Seorang perempuan yang harusnya punya perasaan dan hati yang lembut malah berbuat kejam seperti itu. Terbuat dari apa hatinya?
"Itulah manusia.. Kita tak pernah tau hatinya seperti apa," jawab Keenan memandang kosong langit-langit kamar.
"Padahal aku nggak pernah melakukan kesalahan sama dia.. Tapi kok dia jahat banget," kini matanya mulai berkaca-kaca.
"Katanya nggak akan nangis lagi?" Keenan mengingatkan soal perjanjian tadi kemudian ia mengusap air mata yang mulai menetes di pipi Alin.
"Sebenarnya aku masih sedih, kecewa dan marah tapi walaupun begitu aku nggak dendam sama Julia. Aku cuma kasihan.. Aku yakin selama hidupnya dia gak akan tenang dia akan selalu di hantui rasa bersalah," ucap Alin lirih.
"Biarkan dia hidup dalam sebuah penyesalan karena itu semua akibat dari perbuatannya sendiri," Keenan menenangkan Alin.
Alin mengangguk mengiyakan ucapan Keenan. Apapun yang ia tanam maka itulah yang akan ia tuai.
***
Setelah permasalahan Julia selesai dan perusahaan Keenan sudah dalam kondisi normal Randy memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak kerja. Padahal Keenan sudah meminta Randy untuk terus bekerja dengannya.
"Lo yakin mau berhenti?" tanya Keenan sekali lagi.
"Gue tuh nggak cocok kerja kantoran. Gue lebih nyaman freelance tidak terikat aturan. Kalau lo butuh bantuan lagi bilang aja" jawab Randy santai.
"Yasudah kalau lo nyaman begitu, Terimakasih atas bantuannya selama ini," Keenan menepuk pundak Randy.
"Jangan makasih doang.. Bonus gue jangan lupa," celetuk Randy.
Keenan mengangkat ponselnya mengisyaratkan agar Randy mengecek ponsel "Udah gue transfer... Oh iya lo masih simpan nomer Yuna kan?" tanya Keenan kemudian.
"Ngapain lo mau cari selingkuhan?" jawab Randy asal.
Keenan melotot "Sembarangan aja lo ngomong. Alin mau ketemu sama Yuna. Dia mau berterimakasih secara langsung," jelas Keenan. Alin semalam memang meminta bertemu dengan Yuna.
"Oh," hanya kata itu yang terucap dari bibir Randy.
"Ada apa nggak?" tanya Keenan memastikan.
"Nih!," Randy menunjukkan layar ponsel nya ke arah Keenan.
"Lo aja yang hubungin dia," pinta Keenan.
"Gue lagi?!" Randy menunjuk wajahnya frustasi.
Akhirnya Randy mengalah dan menghubungi Yuna untuk mengatur pertemuan dengan Alin.
Waktu yang telah di tentukan pun tiba. Alin dan Keenan telah duduk menunggu Yuna di sebuah Caffe yang sedang hits di kalangan anak muda.
"Maaf aku terlambat," Ucap seorang gadis yang baru saja datang dia menunduk dengan sopan.
"Enggak kok, kita juga baru sampai. Silahkan duduk," sambut Alin ramah mempersilahkan Yuna duduk.
"Terimakasih," ucap Yuna sedikit bingung celingukan seperti sedang mencari seseorang.
"Yuna.. Ini Alin istri saya," Keenan membuka percakapan.
Alin mengulurkan tangannya. "Alin," ucapnya ramah.
"Yuna," merekapun berjabat tangan. Yuna sedikit kaget ternyata istri Keenan terlihat masih muda bahkan terlihat seumuran dengannya. dipikirannya Istri Keenan sudah seusia Julia.
"Sayang.. Mas tinggal sebentar ya," pamit Keenan memberikan waktu pada mereka berdua untuk berkenalan lebih lanjut agar tak canggung jika sesama perempuan.
"Oh iya.. Maaf ya aku sudah ganggu waktu kamu," Alin memulai percakapan.
"Enggak kok mbak.. Gimana mbak sudah sehat?" Tanya Yuna sedikit canggung ia bingung harus memanggil Alin apa.
"Panggil nama aja, lagian usia kita nggak jauh beda. Aku sudah sehat kok" Alin tipe orang yang mudah akrab dengan orang baru berbeda dengan Yuna yang sedikit pendiam.
"Gak enak kalau panggil nama.. Aku panggil kaka aja ya," Usul Yuna kemudian.
Alin tersenyum melihat Yuna yang masih terlihat malu-malu "Senyamannya kamu aja. Mending pesen minum sama makan dulu deh sebelum lanjut ngobrolnya," usul Alin kemudian memberikan sebuah menu pada Yuna.
Setelah cukup lama ngobrol basa basi akhirnya mereka terlihat cukup akrab. Keenan dan Randy memperhatikan mereka berdua dari kejauhan.
"Kita belum sempat bertemu secara langsung ya waktu itu. Aku sebenarnya mau berterimakasih, kamu sudah banyak bantu saat penangkapan Julia. Dan Mas Keenan juga bilang kalau kamu pendonor darah buat aku waktu ," Alin mengutarakan maksud pertemuan mereka.
Tak terasa hari sudah hampir petang Alin yang tengah asyik mengobrol dengan Yuna tiba-tiba teringat Keenan yang entah kemana. Segera ia meraih ponsel dan meminta Keenan untuk segera menjemputnya.
"Terimakasih untuk hari ini Yuna," pamit Alin memeluk Yuna.
"Iya kak.. Sering-sering ya ketemu kaya gini," Yuna membalas pelukan Alin. Yuna terlihat nyaman dengan Alin padahal sebenarnya dia orang yang pendiam dan tak banyak teman.
"Oh iya kamu pulang sama siapa?" tanya Alin kemudian.
"Sendiri kak," jawab Yuna.
"Mau pulang bareng? Apa di anter Om Randy aja?" tawar Alin.
Yuna sedikit kaget saat Alin menyebut nama Randy. Karena sedari tadi ia tak melihat keberadaan Randy. "Nggak usah kak.. Aku sendiri aja soalnya aku mau mampir dulu ke toko buku," tolak Yuna halus.
Alin memberi kode pada Keenan agar ia memanggil Randy. "Di antar sama om Randy aja ya, Khawatir kalau pulang sendiri," usul Alin.
Akhirnya Alin dan Keenan benar-benar pamit dan hanya menyisakan Randy dan Yuna di sana.
"Lo mau kemana lagi?" tanya Randy dengan gaya cool yang di buat-buat.
"Langsung pulang," jawab Yuna singkat kemudian berjalan mendahului Randy.
Randy berlari kecil mengejar Yuna. "Katanya mau ke toko buku?"
"Nggak jadi," jawab Yuna ketus.
***
"Mas apa nggak apa-apa mereka pulang bareng?" ucap Alin begitu masuk kedalam mobil, dia merasa tak enak hati terhadap Yuna maupun Randy.
"Nggak apa-apa," Keenan memang yang memberi ide supaya Randy dan Yuna pulang bersama. Keenan melihat ada ketertarikan dari dalam diri Randy terhadap Yuna.
"Kalau Yuna di apa-apain sama Om Randy Mas tanggung jawab ya.. " ancam Alin.
"Tenang aja Randy orang yang tanggung jawab kok... dia nggak akan macam-macam kalau Yuna gak mau kecuali mereka sama-sama mau," jawab Keenan dengan candaan.
Spontan Alin mencubit lengan Keenan. "Mas... Yuna itu masih polos sedangkan Om Randy orangnya mesum sama kaya Mas,"
"Iya sama kaya Mas.. " Keenan langsung menyambar bibir Alin.
Alin segera menghentikan ciuman Keenan, Ia tahu suaminya akan meminta lebih jika tak di hentikan. "Mas.. nanti patroli lagi," ledek Alin.
"Di parkiran mana ada patroli," ucap Keenan cemberut.
"Patroli satpam Mas..." Alin tertawa menunjuk seorang satpam yang sedang berjaga di parkiran tersebut.
Keenan mendengus kesal kemudian segera melajukan mobilnya agar mereka bisa melanjutkannya di rumah.
***
Tidak ada percakapan di antara Yuna dan Randy selama perjalanan.
"Cowok lo nggak jemput?" Tanya Randy mencoba mencairkan suasana.
"Dia sedang sibuk kuliah," jawab Yuna.
"Jadi beneran itu cowok lo?" tanya Randy memastikan.
"Iya," jawab Yuna singkat.
Suasana kembali hening. Dan tak terasa mereka sudah sampai di halaman rumah Yuna.
"Terimakasih.. Maaf sudah merepotkan," ucap Yuna sopan kemudian keluar dari mobil.
Sementara Randy hanya menatap kepergian Yuna. Ia merasa ada yang berbeda dengan gadis itu hari ini. Berbeda dengan pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya.
-
-
-
Jangan lupa like dan komen....