
Jangan pernah menyia-nyiakan wanita yang saat ini berada di sampingmu sebab, di luar sana banyak laki-laki yang sedang memperjuangkannya.
Berhubung Weekend Siang hari Alin sudah janjian dengan Reynand menonton dan jalan-jalan untuk merayakan pertemuan mereka setelah sekian lama.
Alin sudah berdandan rapi dan bersiap-siap untuk berangkat.
"Mau kemana?" Tanya Keenan heran melihat Alin yang sudah rapi bahkan dia berdandan beda dengan biasanya dan terlihat sangat cantik di mata Keenan.
"Kebiasaan maen selonong aja, bisa gak ketuk pintu dulu apa?" Alin memutar bola malas.
"Saya tanya kamu mau kemana?"
"Mau nonton sama temen,"
"Cowok?"
"Iya lah, masa ngedate sama cewek," jawab Alin sambil mengusapkan Sedikit liptint di bibirnya.
"Dengan pakaian seperti ini?"
"Kenapa ada yang salah?" Alin memutar-mutar tubuhnya rasanya tidak ada yang salah dengan pakaian yang dia kenakan.
"Ganti,"
"Enggak mau,"
"Kamu mau pergi dengan pakaian seperti ini? Bagaimana kalau dia macam-macam,"
"Dia orang baik mas tenang aja, Alin sudah kenal sama dia."
"Kamu bahkan tidak pernah dandan untuk suamimu," Sindir Keenan.
"Suami Alin lebih suka melihat wanita lain," jawab Alin spontan. "Alin berangkat dulu nanti telat."
"Dia bahkan tidak mau jemput kamu kerumah, itu artinya dia bukan laki-laki yang bertanggung jawab."
"Alin memang sengaja tidak mau di jemput. Orang normal mana yang mau sama orang yang sudah menikah. Nanti yang ada dia kabur kalau tahu. Hmmm kecuali tante girang itu," ucap Alin seraya pergi. "Oh iya mas masih
ingat kan? 'Jangan saling mencampuri urusan pribadi kita ini hanya orang asing'.
ucap Alin penuh penegasan
"Anak itu," kesal Keenan kemudian dia pergi ke kamar untuk mengambil jaket dan kunci mobil. Entah kenapa dia sangat marah saat mendengar Alin berkata begitu padahal dia sendiri yang memintanya.
Alin sudah sampai di tempat yang di katakan Rey sebelumnya.
"Maaf gue telat ya," ucap Rey memberikan se buket bunga pada Alin.
Alin tersenyum menerimanya ini pertama kali dia menerima bunga dari seorang Pria. "Makasih kak," Alin mencium bunga tersebut.
"Lo inget gak dulu gue suka kasih bunga hasil nyolong di kebun Bu Wati?" Rey tertawa mengingat masa kecilnya yang begitu menyenangkan bersama Alin.
"Iya Alin ingat, dan waktu itu kita sampai di hukum sapu halaman rumah bu Wati yang luasnya kaya lapangan bola," Alin menambahkan.
Tanpa Alin sadari ternyata dari tadi Keenan membuntutinya, "Cih norak sekali, gak modal masa cuman kasih cewek bunga doang Alin juga mau-mau nya terima. Bahkan dia gak pernah tertawa seperti itu di depan gue," umpat Keenan kesal.
"Oh iya mau nonton Film apa?"
"Kita nonton Film action aja," usul Alin.
"Ok," Rey menyetujuinya.
Lalu mereka menuju Loket untuk membeli tiket dan tidak lupa membeli cemilan.
Keenan mengikuti dari belakang, "Yang benar saja masa kencan nonton film Action," ledek Keenan.
Semua penonton sangat menikmati jalannya film. terkecuali Keenan sedari tadi dia hanya memperhatikan Alin dan Rey.
"Aduh" pekik Alin saat matanya kemasukan sesuatu.
"Kenapa?" tanya Rey sedikit panik.
"Mata Alin kelilipan," Alin mengedipkan matanya yang terasa perih entah benda apa dan dari mana datangnya.
"Sini gue tiup," Rey mendekatkan wajahnya untuk membantu Alin meniup matanya.
Keenan kaget melihat Rey dengan jarak yang sangat dekat dengan Alin. "Sialan! berani-beraninya mereka berciuman," umpat Keenan kesal kemudian Keenan menghampiri Alin bahkan tanpa sadar dia melewati beberapa penonton dan menaiki kursi agar cepat sampai di tempat duduk Alin karena posisi Keenan berada di belakang.
"Hey!" panggil Keenan lantang bahkan sampai mencuri perhatian penonton lain. Keenan sedikit bernafas lega karena ternyata Alin bukan sedang berciuman.
"Mas Ken, ngapain di sini?" tanya Alin kesal sekaligus malu.
"Saya sedang menonton film," jawab Keenan tanpa merasa bersalah.
"Sebentar ya kak Rey," Alin pamit kemudian menarik Keenan keluar gedung.
"Mas ngikutin Alin ya?" selidik Alin.
"Kurang kerjaan ngikutin kamu, saya kesini untuk menonton film. lagian saya tidak tahu kalau kamu nonton di sini,"
"Jangan bohong?" selidik Alin.
Tiba-tiba Rey menghampiri mereka.
"Siapa dia Lin?" tanya Rey penasaran.
"Emmm dia Om nya Alin," Alin berbohong.
"Gue baru tahu lo punya Om, kenalin saya Rey teman masa kecil Alin," ucap Rey sopan mengulurkan tangannya kepada Keenan.
Namum Keenan tidak menaggapinya membuat Rey merasa canggung.
"Om udah mau pulang kan? yaudah Alin mau lanjut nonton ya," Alin mendorong Keenan pelan mengusirnya secara halus.
"Siapa bilang? saya di tugaskan ayahmu untuk menjagamu takut-takut kalian berbuat macam-macam,"
Alin menatap tajam Keenan. "Maaf Om Alin sudah besar om tidak usah khawatir,"
"Yaudah kita gabung aja Om, kita gak akan macam-macam kok hanya temu kangen setelah sekian lama gak ketemu iyakan Lin?" Ajak Rey.
"Enggak," tolak Alin.
"Om, Om kamu pikir saya Om kamu," ucap Keenan ketus dan mendapatkan cubitan dari Alin. sungguh Alin di buat kesal dengan tingkah Keenan.
"Ayo kita pulang," Keenan menarik tangan Alin.
"Ihh lepasin, Alin gak mau," tolaknya.
"Yaudah Lin gak apa-apa kita bisa jalan lagi lain kali, lagian kita bisa ketemu di kampus setiap hari," ucap Rey tersenyum dia pun merasa canggung jika harus bersama Keenan terlebih mereka tidak saling mengenal.
"Nanti Alin kabarin ya," Alin melambaikan tangannya ke arah Rey namun di tepis oleh Keenan.
"Mas apa-apaan sih, Mas lupa dengan ucapan sendiri? apa perlu Alin ulangi lagi?" Kesal Alin.
"Saya cuman mau jagain kamu, kalau ada apa-apa saya yang di salahin Papa sama Ayahmu,"
"Alin sudah besar bisa jaga diri sendiri, asal mas tahu Alin ini sudah sabuk hitam taekwondo," Alin mengerucutkan bibirnya.
Sepanjang perjalanan pulang Alin hanya diam.
"Masih ngambek?" goda Keenan.
"Udah tahu masih tanya," Alin cemberut dan membuat Keenan semakin gemas.
"Yaudah kamu mau kemana? saya turutin"
"Pulang," jawab Alin singkat.
"Yakin mau pulang?"
Tidak ada jawaban dari Alin.
Keenan membelokan mobilnya ke sebuah kedai es krim. "Ayo turun," Ajak Keenan.
Alin hanya diam masih sangat kesal dengan Keenan yang seenaknya.
"Mau turun sendiri apa saya gendong?" Keenan memberi penawaran.
Alin membuka pintu kasar kemudian turun dari mobil.
Alin memesan satu cup es krim berukuran jumbo dan memakannya cepat-cepat.
"Pelan-pelang makannya," tegur Keenan sambil mengusap bibir Alin lembut mengelap sisa es krim yang tertinggal.
Alin tertegun menatap Keenan dalam. Entah kenapa sikap pria itu sering berubah-rubah seperti bunglon, kadang dingin, cuek, galak kadang juga hangat dan lembut.
Setelah selesai makan es krim merekapun pulang. di perjalanan tiba-tiba ponsel Keenan berbunyi. namun dia tidak menjawabnya.
"Kenapa tidak di jawab?" tanya Alin penasaran.
"Enggak Penting," Keenan menolak panggilan tersebut.
"Angkat dulu siapa tau penting," Ucap Alin yang ponselnya kembali berdering.
Terpaksa Keenan menganggat panggilannya san menepikan mobilnya terlebih dahulu. "Hallo," jawan Keenan malas.
"Laura masuk rumah sakit?" tanya Keenan sedikit panik.
Alin hanya diam dadanya kembali merasa sesak mendengar nama Laura. dia tahu Keenan pasti sangat khawatir terhadap Laura. Lalu kenapa Keenan melarangnya dekat dengan pria lain sedangkan dirinya masih berhubungan dengan Laura sungguh itu tidak adil.
"Kenapa?" tanya Alin setelah Keenan selesai menerima panggilan.
"Laura masuk rumah sakit," tuturnya cemas.
"Mas pergi saja, Alin bisa pulang sendiri" ucap Alin seraya melepas sabuk pengaman.
Keeman menahan tangan Alin. "Enggak, saya antar kamu pulang dulu,"
"Alin belum mau pulang, lagian ini masih sore," Alin menepis tangan Keenan kemudian meraih handle pintu mobil.
"Lin," panggil Keenan.
"Alin gak apa-apa kok, Tante Laura mungkin lagi butuh mas di sana," ucapnya sebelum benar-benar turun dari mobil.
Keenan keluar dari mobil dan menyusul Alin. "Jalanan ini sepi, ayo saya antar kamu pulang dulu," Keenan menarik tangan Alin.
"Sudah Alin bilang Alin gak mau pulang," tolak Alin dengan mata berkaca-kaca.
Keenan menangkup kedua pipi Alin ada rasa bersalah saat menatap mata gadis itu, rasanya dia tidak tega apalagi melihat Alin yang sudah hampir menangis.
"Maaf saya egois"
Alin memalingkan wajahnya dan menepis tangan Keenan.
Jangan lupa like dan komen....