
"Gue mau minta maaf," Tiba-tiba Devan menghampiri Alin setelah sekian lama ia menghilang.
"Lupain aja, lagian masalahnya sudah selesai sekarang,"
"Gue janji gak akan ganggu ataupun deketin lo lagi.. Kecuali takdir yang menginginkannya," ucap Devan tulus namun dengan pengecualian yang tak terduga..
Alin hanya mengangguk. Ia masih belum mengerti mengenai takdir yang Devan ucapkan.
Devan mengulurkan tangannya. "Sekali lagi gue minta maaf,"
"Aku sudah maafkan,"
"Lo gak mau salaman untuk yang pertama dan terakhir kalinya sama gue?" canda Devan yang kini sudah merasa pegal karena tangan Alin tak juga menyambut tangannya.
Dengan ragu Alin menjabat tangan Devan. Kemudian Devan pun benar-benar pamit.
Devan ternyata selama ini benar-benar mencari latar belakang Alin. Dan bahkan dia juga datang saat seminar tempo hari. Walaupun tahu Alin sudah menjadi milik orang lain entah mengapa hatinya tidak bisa begitu saja menerima.
Devan terkenal playboy dan sering berganti pacar tapi dia tak pernah sekalipun melibatkan perasaannya. Berbeda pada Alin, jantungnya selalu berdebar setiap kali melihat wanita itu. Pikirannya selalu tertuju pada Alin.
Sampai akhirnya ia sadar perasaannya itu salah. Tapi dia selalu percaya takdir. Jika memang Alin di takdirkan untuknya. Maka ia akan menjemput takdir itu.
***
"Permisi.. Silahkan pak ini kopinya," Lyra meletakkan secangkir kopi di meja Keenan.
"Oh iya saya hampir lupa. Mulai hari ini kamu tidak usah membuat kan saya kopi lagi. Karena istri saya sudah membuatkannya," Keenan menaruh sebuah tumbler di atas mejanya.
"Apa kopinya tidak dingin? Bukannya bapak suka kopi yang masih panas. " Lyra melirik tumbler sambil menahan tawa.
"Tidak masalah. Apapun yang istri saya buatkan saya suka," Keenan tertawa mengingat ucapan Alin tadi pagi saat membekali nya kopi.
Flashback.
"Mas... Ini kopinya sudah aku buatkan dua gelas di dalam sini. Jadi nggak ada alasan lagi sekretaris mas itu modus bikinin kopi," Alin meletakkan tumbler di tangan Keenan.
"Tapi nanti kopinya dingin," Keenan beralasan.
Alin menatap sinis ke arah Keenan. "Jangan salahkan kopi yang dingin. Dia pernah hangat tapi kamu diamkan,"
Keenan susah payah menelan ludah saat mendengar ucapan Alin. "Astaga! Mas cuman becanda kok sayang.. Tapi ini, apa enggak ada tempat yang lain?" Keenan protes dengan dengan gambar dari tumbler tersebut.
Alin menggeleng, "Ada botol bekas air mineral, mau?" Kini Alin memberikan pilihan yang lebih tak masuk akal.
dan kini Keenan hanya pasrah membawa apa yang telah di siapkan oleh Alin.
Flashback off.
"Oh iya Lyra ada yang mau saya bicarakan. Duduklah dulu," Keenan mempersilahkan Lyra duduk.
Lyra pun duduk. "Ada apa ya pak?" Lyra sedikit gugup.
"Saya melihat kinerja kamu sangat bagus dan rapi. Kamu juga tegas dan punya jiwa pemimpin. Untuk itu jika tidak keberatan saya akan mutasi kamu ke hotel cabang. Dan menjadikan kamu manager di sana," ucap Keenan langsung pada inti.
"Maaf Pak sepertinya saya belum siap untuk hal itu," Lyra menolak secara halus.
"Tidak usah terburu-buru mengambil keputusan. Lebih baik kamu pikirkan terlebih dahulu.. Kesempatan ini cukup bagus untuk masa depan karirmu," jelas Keenan.
"Baik kalau begitu saya pikirkan lagi Pak," Lyra mengangguk sopan kemudian pamit kembali ke ruangannya.
Lyra sebenarnya enggan untuk pindah ke tempat lain. Ia sudah terlanjur nyaman dengan suasana di sini. Terlebih punya atasan yang baik dan pengertian membuatnya sedikit banyak menaruh hati pada Keenan. Apalagi di tengah permasalahan rumah tangga yang kini tengah ia hadapi.
Tapi dia cukup tahu diri tidak ingin merebut Keenan dari istrinya. cukuplah ia mengagumi dalam diam.
Hari ini berjalan cukup baik, satu persatu masalah selesai. namun bukan berarti tidak akan datang lagi masalah yang lain.
Devan yang dulu sangat gigih mengejar Alin kini telah menyerah. Keenan yang selalu bersikap baik pada orang kini bisa lebih tegas.
***
"Abis kerjain tugas Mas.. Terus tiba-tiba kepikiran searching rekomendasi doker yang bagus buat promil," Alin masih nampak serius menatap layar monitor.
"Udah nemu?" Tanya Keenan ikut menatap monitor.
"Belum," jawab Alin tertawa.
"Ya sudah.. Dari pada konsultasi sama dokter hanya mendengar teori-teori doang. Mending kita langsung praktek saja," Keenan tersenyum jahil.
"Aku lagi gak becanda mas," protes Alin.
"Mas juga gak becanda," ucap Keenan dengan raut wajah yang serius.
"Tapi kemarin-kemarin praktek nya gagal terus," celetuk Alin.
"Ya justru itu.. Karena gagal kita harus coba lagi, lagi dan lagi, " Keenan tertawa karena merasa geli dengan ucapannya sendiri.
"Mas!" Alin melotot ke arah Keenan sambil mencubit perut suaminya.
"Apa salahnya di coba dulu," Keenan terkekeh.
"Buat anak kok coba-coba," celetuk Alin menirukan gaya khas iklan legend.
"Tapi Mas serius," Keenan menggenggam tangan Alin kemudian menciumnya.
Alin hanya terdiam ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
***
Pagi itu mereka sama-sama bangun kesiangan karena kelelahan akibat olahraga semalam.
"Mas bangun! udah siang ini," Alin menepuk pipi Keenan yang masih tertidur pulas. Sementara dirinya telah bersiap walaupun terburu-buru.
"Hmmm.. Lima menit lagi ya sayang," jawab Keenan malas.
"Dari tadi lima menit terus. Ya sudah aku berangkat sendiri kalau begitu," Alin menenteng laptopnya.
"Jangan! Tunggu sebentar ya sayang," Keenan langsung bangun, tak lupa ia mengecup pipi istrinya kemudian segera berlari ke kamar mandi.
"Jangan lama-lama ya Mas!" teriak Alin yang sedari tadi memandangi jam tangannya.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke kampus, akhirnya Keenan dapat menyalurkan bakat terpendam nya menjadi seorang pembalap tanpa di sambut ceramah dari Istrinya. "Aku masuk dulu ya Mas," Pamit Alin mencium tangan Keenan dan buru-buru keluar dari mobil.
"Nanti sore jadi?" tanya Keenan memastikan.
"Jadi kok Mas.. Aku masuk ya," Alin melambaikan tangan pada Keenan.
Alin berlari menuju kelas. Lima menit lagi kelas akan segera di mulai. Alin berharap semoga Dosen belum datang atau lebih bagus lagi kalau tidak bisa datang.
Dan ternyata keberuntungan sedang berpihak padanya. Dosen mengabarkan telat masuk karena ada urusan mendadak.
"Syukurlah belum telat," Alin kini bisa bernafas lega.
"Habis lembur yah?" Tebak Tania cekikikan. Dirinya kini sering menjadi bahan ledekan Tania saat di kelas.
"Iya ngerjain tugas lo nih," Alin memberikan lembaran kertas pada Tania.
"Eh beneran di bikinin.. Makasih ya," Tania nampak kegirangan memeluk Alin.
Alin hanya geleng-geleng. Dengan begitu Tania bisa diam dan tak menggoda nya terus-terusan.
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen....
Oh iya buat yang penasaran seperti apa tumbler yang di bawa mas Keenan. ini otor kasih bonus gambarnya. Bagi yang mau couplean juga silahkan banyak ya di toko oren.. wkwkwkwk