My Little Bride

My Little Bride
Kado Istimewa



Sudah pukul 7 malam, Keenan segera bergegas untuk pulang karena tak ingin istrinya terlalu lama menunggu. Jika jalanan tidak macet maka ia akan sampai ke rumah hanya dalam waktu 30 menit.


Segera ia mengambil ponsel dan berniat mengabarkan Alin jika ia akan segera pulang. Namun, tiba-tiba ada panggilan masuk dari nomor baru.


Keenan mematikan panggilan itu. Tapi lagi-lagi nomor itu memanggil dan membuatnya penasaran. Dan akhirnya ia menjawab panggilan tersebut.


Begitu panggilan tersambung terdengar suara seorang wanita yang menangis sepertinya ia sedang panik.


"Ken maaf aku mengganggu mu.. Tapi aku gak tahu harus minta tolong sama siapa lagi. Ini soal anakku. Mantan suamiku membawa anakku pergi entah kemana. Aku takut sekali Ken," Rancau Laura di sebrang telpon.


"Laura sebaiknya kamu lapor ke kepolisian, Maaf aku tidak bisa membantumu tapi aku usahakan meminta bantuan Randy untuk masalah yang seperti ini. Aku tutup telponnya aku harus segera pulang istriku sedang menunggu di rumah," tolak Keenan secara tegas. Kini Keenan tak ingin lagi berhubungan dengan masa lalu. Sebenarnya ada rasa iba dalam hatinya Tapi jika terus di turuti Laura pasti akan selalu bergantung padanya. Ia sudah hafal betul watak Laura.


Tak lupa Keenan menghubungi Randy meminta bantuan sahabatnya tersebut. Bgaimana pun Keenan masih punya hati nurani tak ingin terjadi sesuatu pada anak yang tak berdosa itu.


Sayangnya ponsel Keenan langsung mati ketika selesai menghubungi Randy, Hingga belum sempat menghubungi Alin. Ia segera melajukan mobilnya, pikirnya ia akan tepat waktu pulang ke rumah.


Jalanan yang biasanya lenggang mendadak macet, Keenan melirik jam tangannya sudah jam 8 tepat. Terlihat beberapa petugas polisi sedang mengatur lalu lintas.


Ternyata terjadi kecelakaan yang menyebabkan jalanan macet total. Keenan harus menunggu petugas mengevakuasi kecelakaan tersebut agar bisa lewat. Hanya itu jalan satu-satumya akses menuju rumah adapun jalan alternatif itu harus memutar balik dan itu sangat tidak memungkinkan karena kondisi jalan yang macet total.


Pukul 10 lewat Keenan baru sampai rumah. Dia melihat kedalam rumah dalam keadaan gelap sedangkan lampu luar menyala tidak seperti biasanya. Ia segera berlari masuk ke dalam rumah takut terjadi sesuatu pada istrinya.


Saat membuka pintu benar saja keadaan di dalam sangat gelap, beberapa lilin menyala bahkan sebagian sudah habis meleleh mungkin karena sudah terlalu lama. Keenan mengikuti kemana lilin itu mengarah. Dan tibalah dia di balkon lantai dua rumahnya. Ternyata Alin sudah menyiapkan makan malam romantis malam ini.


Tapi dimana Alin bahkan istrinya itu belum terlihat. Keenan menyusuri setiap sudut rumah untuk mencari istrinya tersebut.


Ternyata Alin sudah tertidur pulas di kamar bahkan belum sempat beganti pakaian dan masih dengan riasan di wajahnya.


Keenan mengelus lembut pipi Alin. Ia harus segera meminta maaf karena pulang terlambat. "Sayang," Panggil Keenan beberapa kali namun Alin belum juga bangun mungkin istrinya kelelahan menyiapkan kejutan untuknya.


"Mas sudah pulang?" Alin memicingkan matanya, ia segera bangun meski kesadaran nya belum penuh.


"Maaf mas pulang terlambat, Tadi jalanan macet karena terjadi kecelakan," ucap Keenan jujur apa adanya.


"Iya Mas tak apa," Alin tersenyum tipis, sejujurnya dia masih sedikit kesal karena suaminya itu terlambat.


"Terimakasih sudah menyiapkan semua ini untuk Mas," Keenan segera memeluk Alin jujur saja sebenarnya ia ingin menangis saat itu karena terharu.


"Mas sudah makan malam?" Tanya Alin melepaskan pelukan itu.


Keenan menggeleng.


kemudian Alin berjalan menuju balkon di ikuti oleh Keenan. "Tapi sepertinya makanannya sudah dingin," Alin melirik makanan di meja yang sudah dari tadi ia hidangkan.


"Tak masalah, kamu sudah bersusah payah memasaka ini sayang kalau tidak di makan,"


Keenan memakan masakan istrinya dengan lahap walau sudah dingin tapi tidak mengurangi rasa nikmat dari rasa makanan tersebut.


"Pelan-pelan Mas makannya," Tegur Alin sambil menuangkan segelas air putih untuk suaminya.


"Mas lapar sayang," jawab Keenan jujur. "Kamu tidak ikut makan?" tanya Keenan kemudian.


"Aku sudah kenyang Mas," Alin terpaksa mengatakan jika dirinya sudah kenyang padahal sejujurnya dia benar-benar sedang tidak berselera untuk makan. Alin hanya duduk menemani Keenan sampai selesai makan.


"Mas gak minta kado sama aku?" Tanya Alin berbasa-basi.


Keenan tersenyum. "Kamu adalah kado terindah dalam hidup Mas," ucap Keenan meraih tangan Alin kemudian mengecupnya.


Kemudian Alin mengeluarkan kado yang sedari tadi tak sabar ingin ia berikan. "Semoga Mas suka dengan kado dari ku ini,"


"Apa ini sayang?" Tanya Keenan penasaran.


"Buka aja Mas,"


Dengan cepat Keenan membuka pembungkus kado tersebut. Tapi ternyata ada kado di dalam kado entah apa yang di berikan Alin sepertinya ia sengaja ingin mengerjai suaminya itu.


Alin terkekeh melihat raut wajah Keenan yang cemberut karena lagi-lagi ia harus membuka bungkusan lain di dalamnya.


Tibalah tangannya meraih kotak terakhir, tidak ada lagi bungkus kado di sana. Dengan cekatan tangannya membuka kotak itu.


Tangan Keenan bergetar hebat, matanya membulat sempurna saat memegang benda yang menjadi kado istimewa dari istrinya tersebut. "Ini sungguhan?" tanya Keenan tak percaya matanya masih lekat memandagi benda yang di pegangnya. Sebuah testpack dengan dua garis merah di dalamnya.


Alin mengangguk, Keenan segera menghampiri Alin memeluknya erat dan menghujani nya dengan ciuman, "Terimakasih sayang," hanya kata itu yang mampu ia ucapkan airmata yang tak mampu tertahan mengalir begitu saja.


Setelah sekian lama menunggu akhirnya mereka kembali di beri kepercayaan oleh Tuhan. mungkin ini adalah buah kesabaran mereka selama ini.


"Sejak kapan kamu tahu sayang?" tanya Keenan kemudian.


"Tadi siang Mas.. sebenarnya sudah beberapa hari ini aku merasa tidak enak badan. Aku kira itu karena kelelahan setelah sibuk mempersiapkan wisuda. Entah kenapa tiba-tiba Bi Inah memberikan sebuah testpack dan meminta aku untuk melakukan test," jawab Alin jujur. Memang setelah kejadian kemarin saat dirinya hampir pingsan di ruang tamu Alin selalu mengeluh pusing dan mual dan itu membuat Bi inah curiga dan berinisiatif membelikan Alin testpack.


"Besok kita ke dokter ya sayang,"


"Iya Mas,"


***


Keesokan harinya


Hari ini Keenan sengaja mengambil cuti untuk menemani istrinya untuk periksa kehamilan.


Mereka telah melakukan reservasi terlebih dahulu dengan dokter yang membantu promil beberapa tahun terkahir ini.


Alin dan Keenan memasuki lobby rumah masih dengan perasaan haru.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya merka masuk ke dalam ruangan dokter.


Seperti biasa sebelum melakukan pemeriksaan dokter bertanya beberapa hal pada Alin dan juga Keenan. Dokter itu tersenyum seakan ikut senang mendengar apa yang Alin ucapkan. Sebab dokter itu tahu betul perjuangan mereka berdua.


Kini tibalah Alin melakukan pemeriksaan. Alin berbaring di atas kasur yang telah di sediakan. Dengan cekatan dokter mengoleskan kan Gel khusus ke perut Alin kemudian meletakan USG di atas sana.


Smentara matanya terfokus pada layar monitor di hadapannya.


"Selamat ya Pak, Bu kandungan nya saat ini menginjak Usia 7 minggu, dan sepertinya..." Ucapan dokter tersebut terjeda.


Keenan dan Alin dengan tak sabar mendengarkan kelanjutan ucapan dokter tersebut.


"Janin nya kembar, Bisa di lihat di monitor ada dua titik di sana," Dokter menunjuk ke arah monitor.


Kini Alin dan Keenan tak bisa menyembunyikan rasa haru dan bahagia itu, beberapa kali mereka mengucap syukur ternyata benar semua akan indah pada waktunya.


Rasanya tak sabar ingin segera mengabarkan kabar bahagia ini pada keluarga.