
Beribu pertanyaan dalam benak Alin tapi sejauh ini dia masih bersikap tenang dan berfikir positif.
Keenan membuka kan pintu mobil untuk Alin. "Ayo turun sayang," Keenan mengulurkan tangannya.
Alim menyambut uluran tangan itu walaupun hal itu tak biasanya di lakukan oleh suaminya.
Perlahan Alin memasuki area rumah yang tengah ramai itu. Terdengar isak tangis di antara mereka yang datang. "Ada apa ini Mas?"
"Masuk dulu sayang," Keenan menggandeng Alin masuk ke dalam rumah.
Alin hanya terdiam saat melihat seseorang terbujur kaku yang telah di tutupi kain putih. Sementara ayah kini sedang menangis dan di tenangkan oleh pak Wira dan Mama Vero.
"Itu bukan nenek kan Mas?" tanya Alin dengan suara yang bergetar.
"Sabar ya sayang.. Maafkan Mas tidak memberi tahu lebih dulu," Keenan merasa bersalah.
Alin langsung berlari dan menghampiri jenazah nenek. Ia menangis histeris memanggil sang nenek agar bangun. Keenan dan Mama Vero berusaha menyenangkan Alin.
Prosesi pemakaian telah selesai. Dan Alin masih hendak beranjak dari tempat itu.
Ia mengelus nisan sang nenek sambil berderai airmata. "Nek.. Nenek kenapa gak tepati janji nenek. Nenek bilang mau lihat aku wisuda, Nenek pengen gendong cicit nenek. Tapi kenapa nenek pergi begitu cepat... Maaf selama ini aku belum bisa bahagia kan nenek. Dan terimakasih sudah merawatku dengan sangat baik," akhirnya Alin mencium nisan itu.
"Sayang.. Hujan sudah mulai turun sebaiknya kita pulang," Keenan membantu Alin berdiri dan memapahnya masuk ke dalam mobil.
Belum kering rasanya luka saat di tinggalkan anaknya dan kini sang nenek juga harus menyusul kembali pada Tuhan-Nya.
Keenan memeluk istrinya erat. Ia tahu Alin saat ini pasti sedang terpukul.
Tak hanya Alin yang merasa kehilangan atas kepergian nenek. Teman-teman Alin pun sangat merasa kehilangan karena mereka sangat dekat dengan nenek bahkan sudah menganggap nenek seperti nenek sendiri. Walau terkadang kelakuan menyebalkan
Sebulan setelah kepergian nenek Alin masih belum bisa melupakan kesedihannya. "Ayah.. Bagaimana kalau tinggal di rumah ini saja. Aku tahu ayah pasti kesepian sendirian di rumah," Alin mengajak Pak Adi untuk tinggal di rumahnya. bagai mana pun juga ia khawatir ayahnya tak ada yang mengurus.
"Tidak Nak.. biar ayah tinggal sendiri di sana. Ayah tidak bisa begitu saja meninggalkan rumah yang banyak sekali kenangan nya itu. Ayah harus terbiasa," Tolak Pak Adi halus.
Alin menggenggam tangan Ayahnya. "Kenapa ayah tidak menikah saja?" Tiba-tiba hal itu terlintas dalam benak Alin.
Pak Adi hanya tertawa mendengar ucapan putri nya itu.
"Dulu aku memang melarang ayah untuk menikah. Aku sadar aku ini egois. Dulu aku selalu di takuti oleh cerita ibu tiri yang selalu menyiksa anaknya," Alin tersenyum mengingat momen dia selalu melarang ayahnya dekat dengan wanita mana pun.
"Ayah memang tidak pernah berfikir untuk menikah lagi," ucap Pak Adi agar Alin tak merasa bersalah kepadanya.
"Sekarang aku sadar.. Sebenarnya kita tidak bisa benar-benar hidup sendiri. Kita butuh rumah untuk pulang, butuh pundak untuk bersandar, butuh seseorang untuk berbagai keluh kesah.
Carilah wanita yang tulus mencintai ayah," pinta Alin.
"Apa mau aku carikan?" goda Alin.
"Tidak usah.. Ayah tidak mau menikah lagi," tolak Pak Adi.
"Bagai mana kalau sama mbak Dinda?" Alin terus saja menggoda ayahnya sampai ayahnya itu terlihat salah tingkah.
"Sudah ayah mau pulang," Ujar Pak Adi berdiri.
"Ayah aku belum selesai," Alin menyusul ayahnya.
"Nak Keenan, Ayah pulang dulu," Pamit pak Adi ketika berpapasan dengan Keenan.
"Ayah kenapa kok buru-buru pulang?" Tanya Keenan pada Alin tak biasanya ia melihat Pak Adi begitu terburu-buru dan terkesan menghindari Alin.
Alin hanya tertawa sambil memandangi ayahnya yang setengah berlari. "Aku menyuruh ayah untuk menikah lagi,"
"Apa menikah lagi?" Keenan sedikit kaget.
"Kok kaget begitu? Aku nyuruh ayah bukannya Mas," celetuk Alin kemudian meninggalkan Keenan.
***
Meski sebenarnya hatinya masih sangat sedih namun kehidupan harus tetap berjalan. Alin menjalani hari-harinya sebaik mungkin. Bahkan dia kini sering menciptakan momen-momen berharga bersama dengan Keenan, Ayah maupun mertuanya.
Ia hanya ingin memiliki lebih banyak kenangan manis dalam hidupnya daripada harus terus merasakan sakit karena kehilangan.
Alin semakin sibuk dengan tugas kuliahnya sehingga terkadang tak sempat mampir ke cafe seperti dahulu. Tapi beruntung Dinda bisa di percaya untuk mengelola cafe.
Seperti biasa Keenan selalu mengantar jemput Alin sesibuk apapun pekerjaannya di kantor. "Sayang... Langsung pulang saja ya ke rumah, Mas lihat kamu sepertinya capek sekali," Keenan melihat Alin begitu lesu ketika masuk ke dalam mobil.
Alin membenarkan posisi duduknya dan berusaha terlihat baik-baik saja. "Aku udah lama gak ke cafe Mas.. Sebentar aja kok cuman lihat aja," ia masih bersikeras ingin pergi ke cafe.
Keenan tak bisa menolak keinginan Alin. Ia menuruti kemauan istrinya itu walaupun ada rasa khawatir dalam dirinya.
Setelah sampai di Cafe Alin segera menemui dinda dan membicarakan masalah pekerjaan.
"Lin kamu sedang sakit?" Dinda menanyakan kondisi Alin karena melihat wanita itu begitu lesu dan terlihat pucat.
"Aku nggak apa-apa kok mbak.. Mungkin karena kurang tidur saja. banyak banget tugas dari kampus," Keluh Alin.
"Padahal kamu nggak usah maksain ke sini. Aku kan bisa kasih laporan via email. Sebaiknya kamu ke rumah sakit. Bukannya kalian sedang menjalani program hamil?" Dinda memberi usul takut terjadi sesuatu pada Alin.
"Aku cuman butuh istirahat saja Mbak. Belum ada tanda-tanda kalau aku hamil. Entahlah aku gak mau terlalu berharap," ujar Alin optimis.
Dina menepuk-nepuk bahu Alin. "Kamu harus yakin, Tuhan akan memberikan sesuatu di saat yang tepat bukan di saat kau butuh,"
Alin mengangguk. "Begitu juga dengan Mbak Dinda. Semoga Tuhan memberikan jodoh terbaik buat Mbak,"
Dinda mengulas senyum. "Aamin," ucapnya tulus. Dinda memang sudah berusia matang. Namun, dia belum juga mau menikah karena trauma masa lalu.
Setelah selesai Alin pamit pulang pada Dinda dan juga karyawan lainnya.
Keenan memperhatikan wajah Alin kini terlihat pucat. "Kita ke rumah sakit dulu ya,"
"Nggak usah Mas.. Kita langsung pulang saja aku cuman butuh istirahat," Tolak Alin.
"Pokoknya ke rumah sakit," tegas Keenan kini ia tak mau lagi menuruti kemauan Alin.
"Terserah," Ujar Alin pasrah.
Alin hanya terdiam saat perjalanan pulang dari rumah sakit. Ia masih memikirkan perkataan dokter yang mengharuskan dirinya mengurangi kegiatan.
"Mas.. Apa aku berhenti kuliah saja?" tanya Alin tiba-tiba.
"Kenapa?" Keenan sedikit kaget mendengar ucapan Lain padahal istrinya itu sedang semangat-semangatnya belajar.
Alin tak menjawab, ia hanya tertunduk.
Kini Keenan mengerti apa yang di pikirkan Alin. "Fokus saja sama pendidikan. Jangan pikirkan yang lain-lain. Mas cuman mau kami cepat lulus nggak ada yang lain," ucap tulus.
"Tapi Mas.. "
"Lebih baik kita berhenti dulu progam hamil. kalau itu jadi beban pikiran buat kamu,"
Maksud dan tujuan Keenan baik tidak ingin membebankan Alin tapi entah menyapa Alin tak terima dengan ucapan suaminya itu.
Alin tak bicara sepatah katapun. Ia hanya menangis dalam diam.
Keenan menyadari istrinya sedang menangis. "Mas salah bicara ya?" Keenan merasa bersalah dengan ucapannya tadi.
Alin menggeleng kemudian segera menghapus air matanya.
Entah Keenan harus berbicara seperti apa lagi. Karena Alin selalu sensitif jika berbicara mengenai keturunan. Ia akan cepat sedih dan mudah tersinggung.