
Malam semakin larut Alin terbangun setelah cukup lama terlelap. Keenan yang saat itu tak bisa tidur memilih untuk menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda.
Tenggorokan Alin terasa kering, ia mengambil botol minum yang berada di atas meja tapi ternyata botol itu kosong karena memang Alin belum mengsisinya lagi.
Melihat Alin terbangun Keenan segera menghampirinya. "Mas ambilin ya," dia berinisiatif mengambilkan air minum.
"Gak usah... Alin bisa sendiri," jawabnya ketus kemudian pergi ke dapur untuk mengambil air minum.
Saat melewati ruang keluarga Alin melihat Bi Inah yang tengah asyik menonton televisi seakan tak ingin melewatkan sinetron yang sedang viral di kalangan emak-emak tersebut. "Bi Inah belum tidur?" Alin kemudian duduk di samping Bi Inah.
"Eh.. belum Neng, lagi seru sinetronnya," jawab Bi Inah dengan mata yang masih fokus ke layar televisi.
"Apanya yang seru?" tanya Alin datar namun, matanya ikut fokus ke layar televisi.
Bi Inah memulai mode spoiler, "Itu Neng Kasihan si Entin suaminya mau di rebut sama pelakor. Heran ya sama si Esah padahal cantik, pinter, masih single tapi masih aja ngejar suami orang. Itu juga Mas Ali nya gk bisa tegas jadi suami, masa lebih percaya pelakor dari pada istrinya. Padahal kan si Esah cuman pura-pura baik," jelas Bi Inah panjang kali lebar.
"Iya di mana-mana pelakor emang kaya gitu Bi jahat, Udah kaya psikopat. Harusnya di santet aja biar mati kalo di ajak duel bahaya," ujar Alin berapi-api.
Bi Inah mengelus dada Alin "Sabar Neng jangan emosi ini kan cuman sinetron,"
"Di sinetron maupun di dunia nyata sama aja Bi, pelakor itu jahat," ucap Alin kemudian meninggalkan Bi Inah yang masih kebingungan.
"Neng Alin kenapa ya? Apa lagi ngigo dia?" Bi Inah memandang punggung Alin yang tengah menaiki tangga.
Alin hendak mengambil handuk karena sedari tadi belum mandi juga berganti pakaian.
Keenan menahan tangan Alin "Sudah malam, Gak usah mandi,"
"Badan Alin bisa gatal-gatal kalau gak mandi," kemudian melewati Keenan begitu saja.
***
Keenan menatap lekat Alin yang tengah tertidur dan membuat hatinya semakin sesak. Namun, apa yang kini ia rasa tak sebanding dengan sakit yang Alin rasakan. Keenan sudah gagal menjadi pelindung bagi istrinya.
Kini hanya penyesalan yang tersisa. Penyesalan yang tak berarti karena tak mampu mengubah apapun.
Keenan tak tega membangunkannya padahal hari sudah hampir siang. Begitupun dengannya yang enggan pergi ke kantor meski pekerjaan yang menumpuk sudah menunggunya.
Perlahan Alin membuka mata. "Jam berapa ini?" tanya Alin dengan suara parau.
"Baru jam 8," Keenan membenarkan rambut yang menutupi wajah Alin. "Sayang kamu sakit?" Punggung tangannya menyentuh kening Alin yang terasa hangat.
Alin menepis tangan Keenan dan segera bangun. "Enggak kok... udah siang Alin terlambat ke kampus,"
"Gak usah ke kampus, kita ke rumah sakit sekarang," Keenan menahannya.
"Enggak perlu," Alin benar-benar mengabaikan suaminya.
***
Sampailah di gerbang kampus. "Segera telpon Mas kalau ada apa-apa." pinta Keenan dengan raut wajah cemas.
"Hmmm," Kemudian Alin turun dari mobil. Bagi Alin diam adalah bahasa terbaik ketika ia kecewa dengan keadaan.
"Kalau lagi sakit harusnya gak usah maksain ngampus Lin," Della memijat sekitar tengkuk leher dan bahu Alin. Mereka sedang berada di kantin dan suasana kantin tidak terlalu ramai.
"Pijatan lu enak Dell, udah cocok buka pijat plus-plus," Alin terkekeh.
Della menekan bahu Alin kencang "Enak aja!"
"Aduh! sakit tau," protes Alin.
"Lin... Gue perhatiin nih ya semenjak nikah lu tuh banyak sedihnya ketimbang senengnya. Sebenarnya ini rumah tangga apa rumah duka sih?" ceplos Della.
Della mendelik, Ia sudah sangat serius mendengar curahan hati sahabatnya itu. "Iya bener Lin, dan satu pesan gue... Jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Karena masih banyak kesalahan- kesalahan lain yang harus di coba."
"Setuju! Tetaplah hidup walau tidak berguna," Ucap Alin penuh semangat. Setidaknya percakapan tidak berbobot itu sedikit dapat melupakan kesedihan nya.
"Gue ke toilet dulu Del," Alin segera berlari menutup mulutnya karena menahan mual.
Kemudian Della segera menyusulnya takut terjadi sesuatu pada Alin. "Gue telpon si Om deh ya biar lu di jemput," Della mengambil ponsel Alin yang berada di saku celananya.
Dengan cepat Alin mengambil ponselnya. "Jangan Dell, gue lagi kesel sama dia," Kemudian memasukan kembali ponselnya kedalam saku.
"Eh By the way... Tamu bulanan lu udah datang?" tanya Della curiga.
Alin menggeleng, " Belum.. Lagian dari dulu siklus menstruasi gue gak teratur. kadang sampe telat 3 bulan,"
"Pil kontrasepsi masih lu minum kan?"
"Gue gak pernah minum Dell, awalnya iya gue niat minum tapi gak jadi gue gak bisa nelan obat. Masa iya gue masukin lewat hidung"
"Jangan-jangan ada Alin junior," Ucap Della girang. "Ayo beli testpack Lin," Della menggandeng tangan Alin.
"Enggak usah Dell, lagian ini cuman masuk angin sama asam lambung lagi kumat," Alin menolak.
Della kesal karena Alin sangat keras kepala. "Ya di coba dulu gak ada salahnya Alin. Kalau bener ada gimana? Kasihan anak di perut lu butuh vitamin sama nutrisi," "Ayo! Kita cari minimarket yang dekat-dekat kampus,"
Alin hanya menurut. sampailah mereka di depan salah satu minimarket terdekat.
Della menghentikan langkahnya. "Tar dulu Lin," Kemudian ia mengambil sesuatu dari tas nya. "Di pake dulu maskernya. Tar yang ada kita di kira ayam kampus," Della terbahak.
Mereka kembali ke kampus. padahal sudah tidak ada jadwal dan lagi sedari tadi mereka membolos.
"Ayo cepat sana masuk," Della mendorong Alin masuk ke dalam toilet.
"Kok lu yang gak sabaran sih,"
"Rasa penasaran gue udah di ujung tanduk Alin, Eh ini gelasnya jangan lupa" Della memberikan sebuah gelas plastik.
"Iya bawel.. Udah kaya petugas razia narkoba aja lu Dell,"
Dengan ragu Alin memasukan test pack ke dalam gelas yang terisi urine. Namun ia enggan untuk melihat hasilnya. Alin memejamkan mata menghirup nafas dalam-dalam untuk mempersiapkan diri melihat apapun hasilnya. Perlahan ia membuka mata dan mengangkat test pack itu. Namun wajahnya terlihat datar-datar saja ketika melihat hasilnya.
"Gimana Lin?" Tanya Della yang seolah tak sabar.
Alin memperlihatkan hasilnya kepada Della. Setelah melihat hasilnya ekspresi wajah Della pun sulit untuk di tebak...
-
-
Beruntung ya Alin punya sahabat seperti Della..
Yuk kenalan sama Della...
.
Kalau di lihat dari ekspresi Della kira-kira hasilnya apa ya?