My Little Bride

My Little Bride
Ciuman Pertama



Pagi hari Alin terbangun dari tidur nyenyak semalaman entah karena kangen dengan kamar lama atau terlalu lelah. Namun, ada sesuatu yang melingkar di pinggangnya.


"Nenek kebiasaan deh kalau malem suka main pindah-pindah aja ke kamar Alin," Alin menepis tangan itu namun, terasa berbeda. "Nenek suntik botoks di mana sih bisa kenceng lagi kulitnya, Nenek nge-gym juga apa sekarang kok bisa kekar begini?" Rancau Alin kemudian dia membalikan badannya dan ternyata bukan sang nenek melainkan Keenan yang sedang tertidur pulas memeluknya.


Alin membulatkan matanya segera dia menutup mulutnya yang menganga karena terlalu kaget. "Kok bisa ada di sini sih? bukannya semalam dia jagain si tante girang di Rumah Sakit ya? Ah sial kenapa bisa setampan ini sih walau lagi tidur," gerutu Alin ingin rasanya dia menyentuh wajah Keenan namun, takut akan membangunkannya dia hanya tersenyum memandangi wajah Keenan yang sedang terlelap. "Kenapa gue gak bisa benci sama dia ya," tangannya sudah gemas ingin menyentuh wajah Keenan tapi Alin tidak punya keberanian.



Tiba-tiba Keenan membuka matanya dan membuat Alin kaget. Alin segera mundur dan menjauh tapi sayang dia sudah berada di tepi kasur dan tidak ada tempat kosong lagi di belakangnya.



Bruk! Alin terjatuh.


"Kamu tidak apa-apa? apa ada yang sakit? " tanya Keenan khawatir.


Alin menggeleng, "Sakitnya gak seberapa tapi malu nya itu sampai ke ubun-ubun," batin Alin. "Alin mau mandi dulu, " lalu dia segera berlari ke kamar mandi.


Karena terburu-buru masuk kamar mandi Alin lupa membawa baju ganti beruntung dia tidak lupa membawa handuk. "Duh gimana ini? kok bisa lupa bawa baju ganti sih," dia berdiri di depan pintu kamar mandi hanya dengan balutan handuk yang menutupi dada sampai paha tangannya sudah memegang handle pintu tapi dia ragu untuk membukanya. Alin membuka sedikit pintu kamar mandi untuk mengintip dan di lihatnya Keenan kembali tidur.


Dengan ragu Alin melangkahkan kakinya keluar "Beneran tidur gak sih?" maklum kamarnya tidak terlalu besar sehingga tidak ada tempat ganti khusus di dalamnya. Dengan berjalan mengendap-ngendap seperti seorang pencuri perlahan Alin berjalan menuju lemari dengan sangat hati-hati dia membuka pintu lemari sebisa mungkin agar tidak mengeluarkan suara sesekali dia melihat ke arah Keenan takut-takut dia terbangun.


Alin mengambil pakaian dan hendak kembali ke kamar mandi untuk memakainya namun, saat dia membalikan badannya dia di kagetkan dengan sosok Keenan yang sudah berdiri di belakangnya.


Spontan Alin berteriak "Kyaaaa," Keenan segera menutup mulut Alin.


"Jangan teriak,"


"Mas ngagetin aja sih," Alin merasa kesal sekaligus malu kemudian segera berlari ke kamar mandi.


Keenan menelan ludah saat melihat tubuh Alin yang hanya tertutup handuk. Bahu nya yang putih, lehernya yang jenjang serta paha yang mulus betapa indah pemandangan pagi ini. Keenan telat menyadari kalau gadis kecil yang selama ini menjadi istrinya ternyata sangat seksi dan menggoda.


***


"Mas kok bisa ada di sini?" tanya Alin menyajikan secangkir teh hangat untuk Keenan.


"Kenapa memangnya?"


"Bukannya tante Laura lagi sakit ya?"


"Sebenarnya kami... "


"Alin... " panggil Nenek memotong pembicaraan Keenan. "Ayo bantu nenek siapkan sarapan, "


"Iya Nek," jawab Alin malas. "Alin ke dapur dulu ya mas," pamitnya.


Setelah selesai sarapan nenek dan ayah pamit untuk melihat lokasi usaha baru yang akan di jalankan nya. setelah Adi resign dia memutuskan untuk membuka usaha kuliner sesuai impian almarhumah istrinya.


"Kapan kita pulang?" tanya Keenan.


"Pulang kemana?," jawab Alin namun, matanya fokus pada layar televisi di hadapannya.


"Rumah kita."


Keenan menatap mata Alin "Hubungan saya dengan Laura telah berakhir, Jujur saya memang belum sepenuhnya membuka hati buat kamu tapi tolong kasih saya kesempatan,"


"Tidak usah memaksakan kalau memang tidak bisa," Alin memalingkan wajahnya.


"Mari kita mulai semua dari awal," Keenan menggenggam erat tangan Alin.


Tidak ada jawaban dari gadis itu. Dia tidak menjawab iya maupun menolak saat ini dia hanya takut merasakan kembali kecewa, takut merasakan kembali terluka. Alin takut dirinya hanya jadi pelarian setelah Keenan merasa kecewa dengan Laura.


"Maaf bukannya aku tidak memberi kesempatan aku hanya ingin lihat sebesar apa usaha dan pengorbanan mu, Jujur hatiku masih terluka dan aku tidak ingin merasakan kembali terluka di kemudian hari. Maaf aku memang egois tapi kalau bukan begini aku tidak bisa melihat seperti apa kesungguhan mu."


"Bagaimana kalau sekarang kita jalan, anggap saja sebagai pengganti acara nonton kemarin yang gagal," bujuk Keenan.


"Alin kemarin gagal nonton sama Kak Rey, itu artinya harus nonton lagi dengan kak Rey bukan sama mas Ken," tolak Alin.


"Bagaimana kalau kita kencan?" ralat Keenan.


"Alin gak mau."


Keenan nampak frustasi membujuk gadis itu. Padahal sebelumnya Alin orang yang mudah di bujuk kini Keenan mengerti sedalam apa rasa kecewa Alin terhadap dirinya.


"Maaf," Ucap Keenan Lirih seraya mengusap lembut pipi.


Alin hanya diam. Netra mereka bertemu satu seolah saling mengunci satu sama lain. Tanpa permisi Keenan mengecup Bibir mungil Alin.


Alin membulatkan matanya rasanya ia tak percaya apa yang tengah di lakukan Keenan saat ini. Alin berusaha menghindar namun, dengan cepat sepat Keenan memeluk pinggang gadis itu dan satu tangan menahan tengkuk Alin dan semakin memperdalam ciumannya.


Keenan melepaskan ciumannya setelah melihat Alin yang mulai kehabisan nafas. Alin memang payah dalam soal berciuman jangankan berciuman pacaran saja dia belum pernah.


"Mas mau bunuh Alin ya?" Protesnya dengan nafas yang masih tersengal-sengal. "Kenapa harus dadakan sih kan Alin gak persiapan," ucapnya keceplosan kemudian segera menutup mulutnya.


"Mau di ulang?" goda Keenan mendekatkan wajahnya kembali ke arah Alin membuat pipinya seketika merona.


Alin memegang bibirnya yang nampak kemerahan dan sedikit bengkak. "Bibir Alin ternoda, Mas udah curi ciuman pertama Alin," ucap Alin dengan wajah yang memelas.


"Kalau begitu biar saya kembalikan ciuman pertama kamu," Keenan kembali mengecup bibir Alin.


"Mas Ken!" Alin mendorong Keenan menjauh darinya.


Rasanya Keenan belum puas mencium bibir mungil itu. Walau tidak ada balasan ataupun respon dari Alin tapi Keenan sangat menyukainya. sepertinya mulai hari ini bibir gadis itu akan menjadi candu baru baginya.


.


.


.


Terimakasih untuk dukungan Reader sejauh ini...


Follow IG author @yess_jesskim untuk mengetahui info tentang Alin dan Ken lebih lanjut yaa...


Mohon maaf jika masih ada kesalahan penulisan atau typo di mana-mana dan juga cerita yang masih kurang sempurna....