My Little Bride

My Little Bride
Semua baik-baik saja



Sore itu Keenan dan Alin pergi ke rumah sakit yang di rekomendasikan oleh salah seorang teman Keenan yang berhasil menjalankan promil di tempat itu.


Alin dan Keenan menjalani serangkaian tes sesuai prosedur dokter. Dokter menyatakan semua hasil tes bagus dan tidak ada masalah. Mungkin ini hanya masalah waktu mereka harus lebih sabar lagi menanti. Dan Dokter hanya meresepkan beberapa vitamin.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi sayang.. Semua baik-baik saja, mungkin ini hanya masalah waktu. Jadi gak usah berfikir yang tidak-tidak ya" Keenan menggenggam tangan Alin.


"Iya mas... Maaf ya," Alin menunduk merasa bersalah karena selalu berpikir negatif tentang dirinya sendiri.


"Maaf untuk apa?"


"Untuk semuanya," ucap Alin lirih.


Keenan segera memeluk istrinya. Ia tahu sebenarnya Alin masih sangat gelisah.


***


Hari itu Alin pulang lebih cepat dari kampus karena mendapat kabar kalau nenek masuk rumah sakit.


"Ayah.. Bagaimana kondisi nenek?" tanya Alin yang baru saja tiba di rumah sakit.


"Nenek masih di tangani dokter.. Kita berdo'a saja mudah-mudahan nenek cepat sehat," Pak Adi menenangkan putrinya.


Tiba-tiba Alin menangis.


"Sudah jangan menangis nak.. Nenek mungkin hanya kelelahan. Nenek pasti sembuh," Pak Adi memeluk Alin.


Alin tahu nenek punya riwayat penyakit yang serius sejak dulu. Ia sangat khawatir. Alin amat sangat menyayangi Nenek karena nenek yang merawatnya sejak bayi.


Kata doker kondisi nenek sudah mulai membaik dan bisa di pindahkan ke ruang rawat inap. Dengan setia Alin menunggu nenek di rumah sakit.


"Nenek makan dulu ya.. Sebentar lagi nenek harus minum obat," Alin meniup bubur yang masih mengepul itu dan hendak menyuapi nenek.


Nenek tersenyum melihat cucu semata wayangnya kini telah tumbuh dewasa. "Terimakasih ya Nak, " ucap Nenek terharu.


"Terimakasih untuk apa?" Alin menjadi bingung.


"Terimakasih telah tumbuh dengan baik, Nenek lihat sekarang kamu sudah semakin dewasa dan cantik. Kini nenek tidak berhutang lagi pada ibumu. Karena nenek telah berhasil menemanimu sampai kau tumbuh dewasa serta mempunyai suami yang sangat menyayangi kamu. Tidak ada yang nenek khawatirkan lagi sekarang, Nenek bisa pergi dengan tenang" Nenek tersenyum menatap Alin.


Seketika dada Alin sesak saat mendengar nenek berbicara seperti itu. "Nenek jangan bicara begitu. Perjalanan aku masih panjang Nek. Nenek harus tetap sehat. Bukannya Nenek mau melihat aku wisuda juga ingin melihat aku mempunyai seorang anak. Nenek menginginkan cicit kan?" Alin mulai terisak.


Nenek menggenggam tangan Alin. "Nenek tidak mau terlalu serakah sekarang. Melihatmu hidup bahagia sudah cukup bagi nenek sekarang,"


"Pokoknya nenek harus sembuh, harus sehat seperti biasa lagi.. Janji?" Alin mengusap airmata yang yang mulai mengalir di pipinya.


Nenek tersenyum ia tak bisa berjanji pada cucunya itu.


"Maaf mas baru datang.. Bagaimana kondisi nenek?" tanya Keenan yang baru bisa ke rumah sakit.


"Nenek sudah tidur, Kondisinya cukup stabil kata doker" jawab Alin sambil memandangi wajah nenek yang sedang tertidur.


"Sudah makan?"


Alin menggeleng.


"Ayo makan dulu, Mas juga sudah bawakan baju ganti buat kamu," Keenan memberikan sebuah paper bag yang berisi pakaian dan juga makanan dari mama Vero.


Alin hanya menurut pada suaminya.


"Ada apa sayang?" tanya Keenan yang melihat Alin sedari tadi hanya diam seperti sedang mencemaskan sesuatu.


"Aku takut mas... Nenek selalu berbicara seolah dia akan pergi,"


"Tidak perlu terlalu di pikirkan.. Mama dulu waktu sakit juga selalu berbicara seperti itu. Dan sampai sekarang beliau sehat malah kondisi kesehatan nya semakin baik," Keenan berusaha menenangkan Alin.


"Nak.. lebih baik kalian pulang dan beristirahat. Biar ayah yang jaga nenek malam ini," ucap pak Adi yang baru saja masuk ke ruangan.


"Biar kami yang jaga nenek malam ini. Ayah istirahatlah," Keenan tahu saat ini Alin hanya sedang ingin menemani nenek.


"Baiklah kalau begitu. kabari ayah kalau ada apa-apa," Akhirnya pak Adi mengalah.


Malam semakin larut dan Alin masih terjaga di depan nenek yang sudah tertidur pulas sejak tadi. Tak henti ia memandangi wajah nenek yang terlihat cantik malam itu meski wajahnya di penuhi keriput.


Sesekali Alin mengelus rambut nenek sambil berderai air mata.


"Sayang lebih baik kamu tidur juga. Biar Mas yang jaga nenek," Keenan mengusap air mata Alin yang sedari tadi menetes.


Alin tersenyum ke arah Keenan. "Aku belum ngantuk Mas.. Mas saja yang tidur. Besok kan mas harus kerja," tak dapat di pungkiri sebenar ia merasa lelah dan mengantuk.


"Besok Mas enggak kerja. Sekarang kamu tidur ya.. Biar mas yang jagain nenek," Keenan menuntun Alin ke arah sofa.


"Kalau ada apa-apa bangunin aku ya Mas," Alin membaringkan tubuhnya di atas sofa dan benar saja tak lama kemudian Alin mulai tertidur.


Keenan menyelimuti Alim dan tak lupa mencium keningnya.


"Uhuk.. uhuk," Nenek tiba-tiba bangun dan terbatuk.


Keenan segera menghampiri dan memberikan segelas air putih. "Minum dulu nek," Keenan membatu nenek untuk minum.


"Terimakasih nak Keenan," Nenek mengelus lengan Keenan. "Apa Alin sudah tidur?" Nenek melirik ke arah sofa.


"Sudah Nek, Alin baru saja tidur. Apa ada yang nenek butuhkan?" Tanya Keenan membantu lerak duduk nenek.


Nenek menggeleng. "Tidak ada nak,"


"Bagaimana kalau panggil perawat saja?" tanya Keenan kemudian.


"Tidak usah.. Nenek tidak apa-apa," tolak nenek.


"Terimakasih nak Keenan sudah menjaga dan menyayangi Alin selama ini. Nenek tahu pasti bukan hal mudah untuk menghadapi sikap Alin yang terkadang manja, suka membantah dan selalu berulah. Nenek sendiri pun terkadang selalu kewalahan mengurusi dia. Tapi semenjak menikah nenek lihat sikapnya semak dewasa, dan semakin bijak," nenek menangis terharu.


Keenan hanya terdiam. Alin pasti tidak pernah menceritakan hal yang buruk tentang dirinya. Seandainya nenek tahu kalau sebenarnya keenan sering membuat Alin menangis, sering membuat Alin kecewa pasti nenek akan sangat marah padanya.


"Itu memang sudah menjadi kewajiban saya nek. Justru saya mau minta maaf karena belum bisa membahagiakan Alin sejauh ini. Saya sering membuat nya kecewa," Jujur Keenan.


Dan malam itu Keenan banyak mengobrol dengan nenek tentang masa kecil Alin yang belum ia tahu sebelum nya.


***


Pagi itu Alin tetap pergi kampus meski sebenarnya perasaanya tak menentu. Ia terpaksa masuk karena ada ujian.


"Mas.. Kalau ada apa-apa di rumah sakit segera kabari aku ya," Pinta Alin saat sampai di gerbang kampus.


"Pasti," jawab Keenan cepat.


Sebenarnya Alin masih amat cemas memikirkan kesehatan nenek yang sempat menurun tadi pagi.


"Jangan nangis terus," Keenan mengusap air mata Alin kemudian mengecup bibirnya lembut. "Masuklah nanti kamu terlambat," Keenan melepaskan ciumannya.


"Aku masuk dulu mas," pamit Alin.


Alin tak dapat konsentrasi saat menjawab soal ujian. Pikirannya hanya tertuju pada nenek. Perasaanya tak enak sejak tadi. Waktu terasa lambat berjalan Alin begitu tak sabar menanti jam pulang tiba.


Akhirnya Alin bisa melewati ujian. Ia segera bergegas untuk pulang karena Keenan telah menunggu nya di gerbang.


"Loh kok lewat sini Mas? Aku mau ke rumah sakit jagain nenek" ujar Alin saat Keenan mengambil jalan berbeda untuk menuju rumah sakit.


"Kita pulang ke rumah ayah dulu ya sayang. Ada beberapa barang yang harus di ambil," ujar Keenan ragu, sepertinya ia sedang menyembunyikan sesuatu.


Alin memandangi wajah Keenan yang sedari terdiam. "Enggak ada apa-apa kan mas?" selidik Alin.


"Enggak ada sayang.. " Ucap Keenan setenang mungkin.


Sampailah mereka di gerbang rumah Alin.


"Kok tumben banyak orang Mas?" tanya Alin heran yang rumahnya mendadak ramai. Karena biasanya rumahnya selalu sepi.


Jangan lupa like dan komen...