My Little Bride

My Little Bride
Ketakutan Alin



Keenan segera menjemput Alin begitu Meeting selesai. Ia khawatir Alin telah menunggu lama karena istrinya itu sudah mengirim pesan satu jam yang lalu dan bahkan ia belum sempat membalasnya. Meeting kali ini sangat penting sehingga Keenan tidak bisa meninggalkannya begitu saja.


Di tengah perjalanan menjemput istrinya, Keenan melihat Alin tengah berboncengan di motor dengan seorang pria. Lantas Keenan segera memutar balik dan mencoba mengejar motor itu.


Keenan membunyikan klakson saat mobilnya telah mendekati motor yang di tumpangi Alin. "Kenal sama mobil di belakang?! kaya nya lagi ngejar."


Alin melihat sekilas dari kaca spion. "Engga kenal. Jalan aja terus," jawab Alin setengah berteriak karena laju motor cukup kencang.


Tak menyerah Keenan terus mengejar dan pada akhirnya berhasil menghentikan motor yang di tumpangi Alin.


Keenan segera turun dari mobil dan menghampiri Alin. "Sayang," panggil nya sambil meminta istrinya turun dari motor.


Alin hanya menurut. Ia turun dari motor dan membuka helmnya. Keenan mengeluarkan sejumlah uang dan memberikannya pada pengemudi motor.


"Kenapa nggak nunggu Mas dulu?" Keenan mengajak Alin masuk ke dalam mobil.


"Satu jam lebih aku nungguin.. Mas nggak ada balas pesan aku. Ya sudah aku naik ojek online," jawab Alin cemberut. Karena lama menunggu Keenan akhirnya Alin memutuskan untuk memesan ojek online dan kebetulan saat itu ojek online yang di pesan Alin datang bersamaan dengan Devan.


Keenan merasa bersalah karena telah membuat Alin menunggu lama. "Maafin mas ya.. Tadi ada meeting dan mas terlalu fokus jadi nggak sempat balas pesan kamu." Keenan melaju kan mobilnya.


"Iya nggak apa-apa," jawab Alin datar.


Keenan sudah hafal betul di balik kata tidak apa-apa seorang Alin pastilah aslinya dia sedang marah. "Sayang mau makan apa?" tanya Keenan kemudian.


"Terserah!" jawab Alin dingin.


Dan satu kata horor lagi keluar dari mulut Alin membuat Keenan semakin kalang kabut. "Kita makan seafood kesukaan kamu ya?" bujuk Keenan.


"Aku lagi nggak pengen makan seafood,"


"Ya terus mau makan apa?"


"Terserah,"


Belum sampai 20 meter perjalanan tiba-tiba ponsel Keenan berdering, terlihat di layar panggilan dari Lyra sekretaris nya.


Kemudian Keenan meminta ijin untuk menjawab panggilan tersebut. "Mas angkat dulu ya," Keenan menepikan mobilnya.


Alin hanya diam tidak mengiyakan maupun melarang.


Dan ternyata panggilan itu cukup penting yang mengharuskan Keenan kembali ke kantor. "Kita ke kantor sebentar tidak apa-apa kan sayang?"


"Aku langsung pulang saja," Alin meraih handle pintu mobil.


Dengan segera Keenan menahannya. "Ya sudah Mas antar dulu pulang nanti Mas balik ke kantor," bujuk Keenan.


"Nggak usah Mas.. Aku bisa pulang sendiri. Jarak rumah dan kantor itu berlawanan arah jadi pasti makan waktu yang lama. Mas kan lagi di tungguin tuh sama mbak Lyra" tolak Alin.


Keenan tidak menerima penolakan Alin. Ia bersikukuh mengantar Alin pulang. Tidak ada percakapan sepanjang perjalanan. Sesekali Keenan melirik Alin yang ternyata sudah tertidur.


"Sayang sudah sampai," Keenan mengelus lembut pipi Alin.


Perlahan Alin membuka matanya. "Ya sudah aku masuk dulu," Alin mengucek matanya yang masih mengantuk kemudian membuka pintu mobil.


"Mas antar sampai kamar ya," Keenan segera keluar dan memapah Alin khawatir Alin terjatuh karena masih mengantuk.


"Nggak usah Mas... Itu ada bi Inah kok," Alin menunjuk Bi Inah yang baru saja keluar dari pintu.


"Ya sudah Mas pergi dulu ya?" Pamit Keenan kemudian tak lupa mengecup kening Alin.


"Neng sakit yah?" tanya Bi Inah khawatir.


"Enggak Bi.. Aku cuman ngantuk," jawab Alin kemudian masuk ke dalam dan segera merebahkan tubuhnya di atas sofa.


"Udah makan neng?" tanya Bi Inah kemudian.


"Nanti aja nunggu Mas Keenan bi," Alin kemudian memejamkan matanya.


***


Malam ini Keenan pulang hingga larut malam. Dan saat sampai di rumah ia melihat Alin yang tertidur di atas sofa. Keenan membuka sepatu yang masih melekat di kaki Alin.


"Den Keenan sudah pulang? Neng Alin dari tadi tidur di situ. Bibi nggak tega mau bangunin kelihatan capek banget," Jelas bi Inah.


Bi Inah menggeleng. "Belum Den, katanya nunggu Den Keenan saja."


Dan lagi-lagi Keenan membuat Alin menunggu. Ia merasa bersalah karena hari ini telah mengecewakan Alin untuk yang kedua kalinya.


"Mas baru pulang?" tanya Alin dengan suara serak.


Keenan mengangguk.


Alin melirik jam dinding. "Aku tidur apa pingsan sih?" Alin memegang kepala nya yang pusing karena terlalu lama tidur.


"Kata Bibi belum makan?"


Alin menundukkan kepala nya, ia tahu Keenan akan marah jika dirinya telat makan terlebih Alin punya riwayat penyakit asam lambung "Aku nungguin Mas.. aku kira nggak akan pulang selarut ini," Alin memberikan alasan.


Keenan mengelus kepala Alin ia merasa bersalah karena terlalu sibuk akhir-akhir ini. "Maafin Mas ya? Pekerjaan ini sudah deadline nggak bisa di tunda lagi,"


Alin hanya tersenyum tanpa menjawab. Akhir-akhir ini mereka memang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


***


Keenan yang sudah berencana bolos hari ini harus gagal total karena mendapat panggilan mendadak dari papa Wira. Padahal rencananya hari ini ia ingin menghabiskan waktu berdua bersama Alin seharian.


Alin membantu merapihkan kemeja yang pakai suaminya.


"Maafin mas ya? Kita belum bisa kencan hari ini,"


"Minta maaf terus," Alin cemberut. Bahkan ia sudah sengaja membolos agar bisa menghabiskan waktu bersama suaminya.


"Mas pulang cepat hari ini janji," ucap Keenan yakin.


"Nggak usah menjanjikan sesuatu yang belum pasti," Alin kemudian meninggalkan Keenan, ia lebih memilih membantu Bi Inah menyiapkan sarapan.


"Oh iya Bi.. Nanti siang kita belanja bulanan ya sekalian jalan-jalan," Ajak Alin tak ingin menyia-nyiakan bolosnya hanya dengan berdiam diri di rumah.


"Memang neng Alin nggak kuliah?"


"Libur bi," Jawab Alin kencang sengaja agar di dengar Keenan yang baru saja menuruni tangga.


"Oke lah kalau begitu neng,"


Dengan cepat Keenan menghampiri Alin. "Nggak bareng Mas aja?"


"Kapan? Nunggu stok habis sampai kita kelaparan?" sewot Alin.


"Ya ampun sayang," Keenan hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban Alin. ia tahu betul Alin sedang sensitif terlebih istrinya itu sedang datang bulan.


***


"Udah nggak ada yang kelupaan kan Bi?" tanya Alin memastikan sebelum membayar ke kasir.


Bi Inah mengecek dua troli penuh barang belanjaan mereka. "Sepertinya sudah Neng," Jawab Bi Inah yakin.


Tak lupa mang Didi pun ikut serta ke dalam Mall karena membawa barang belanjaan mereka yang cukup banyak.


Setelah selesai berbelanja Alin mengajak Bi Inah dan mang Didi makan di sebuah restoran mewah.


Meski awalnya mang Didi dan Bi Inah menolak karena merasa tidak enak pada Alin namun, pada akhirnya mereka mau makan di tempat itu.


Saat di parkiran restoran tak sengaja Alin melihat Keenan keluar dari restoran dengan posisi sedang memapah Lyra bahkan Keenan terlihat membawakan tas Lyra.


"Mang Didi sama Bi Inah pulang duluan saja ya.. Aku ada urusan sebentar," pinta Alin kemudian segera turun dari mobil.


Segera ia merogoh ponsel dari tas nya dan menelpon Keenan. "Mas ladi di mana?" tanya Alin begitu panggilan terhubung.


"Iya sayang? sebentar ya.. Mas ada urusan sebentar. Mas tutup dulu," Keenan terburu-buru mematikan panggilan kemudian segera melaju kan mobilnya.


Alin segera berlari mengejar mobil Keenan sampai di luar parkiran.


"Ojek!" panggil Alin pada motor yang lewat. Tanpa pikir panjang Alin langsung naik dan meminta ojek itu menyusul mobil Keenan.


Mobil yang Keenan tumpangi melaju kencang hingga Alin tak bisa menyusul nya. Entahlah akhir-akhir ini Alin selalu berprasangka buruk terhadap Keenan dan juga sekretaris nya.