
Pemeriksaan bersama dokter kandungan telah selesai. Alin hanya di resepkan beberapa vitamin karena kandungnya yang masih muda dan rentan ia di sarankan untuk lebih banyak istirahat.
"Mas kita langsung ke rumah Mama ya," pinta Alin tak sabar, Ia yakin Mama Vero pasti tak kalah bahagia mendengar kabar baik ini. Apalagi kini usia Mama Vero tak lagi muda dan juga sering sakit-sakitan.
Keenan mengangguk mengiyakan permintaan Alin.
Hening tak ada percakapan di antara mereka di sepanjang perjalanan, mereka terlarut dalam pikiran masing-masing. hingga dering ponsel Keenan memecah keheningan itu.
Keenan hanya melirik sekilas tanpa berniat untuk menjawabnya.
"Mas ponselnya bunyi," tegur Alin.
"Biarin aja sayang, gak penting," Dering ponsel pun terhenti pertanda panggilan telah terputus.
"Siapa sih Mas?" tanya Alin penasaran karena melihat Keenan terlihat gusar memandangi layar ponselnya.
"Mas juga gak tahu sayang, nomer baru," Keenan berkilah. Sebenarnya ia tahu siapa pemilik nomer itu.
Tak lama ponselnya kembali berdering. Alin yang merasa risi segera mengambil paksa ponsel Keenan dan segera menjawab panggilannya.
"Hallo Ken? Mantan suamiku meminta bertemu, apa kamu bisa temani aku mengambil kembali anakku? jujur aku sangat takut dia akan macam-macam," Ujar Laura saat pangilan terhubung.
"Aku juga takut kamu macam-macam sama suamiku, Aku kira kamu telah berubah nyatanya tidak. jangan pernah lagi hubungi suamiku. Sana minta bantuan polisi saja," Alin segera menutup telponnya dengan emosi, walaupun dia tak tahu permasalahannya tetap saja ia tak suka jika Laura selalu melibatkan Keenan.
"Mas masih berhubungan dengan wanita itu?" Tanya Alin penuh selidik dengan tatapan tajamnya.
"Enggak sayang.. Mas juga gak tahu kalau itu nomer dia,"
Karena penasaran akhirnya Alin memeriksa ponsel Keenan "Mas bohong! Ini buktinya semalam dia juga telpon. Apa Mas terlambat pulang karena ketemu dia dulu?" Alin memperlihatkan layar ponsel ke hadapan Keenan.
"Semalam memang dia telpon tapi Mas sama sekali gak bantu dia, Mas langsung pulang kerumah setelah pekerjaan selesai dan jalanan macet parah karena kecelakaan," Keenan menjelaskan secara detail.
"Aku gak suka dia hubungi Mas terus," Alin memberikan ponsel Keenan kembali setelah memblokir nomor Laura.
Akhirnya mereka sudah sampai di rumah Mama Vero dan Pak Wira. Terlihat pasangan suami istri itu sedang berkebun di halaman belakang rumah. Mereka mencari kesibukan agar tak merasa jenuh saat berada di rumah.
"Mama," Alin memanggil mama Vero dengan bahagia rasa kesal terhadap keenan barusan hilang begitu saja.
"Sayang jangan lari," ucap Keenan lembut.
"Tumben kalian ke sini pagi-pagi," Ledek Mama Vero dengan semyuman yang mengembang, Sebenarnya ia sangat senang kedatangan anak dan menantunya tersebut.
"Tidak kerja kamu Ken?" Timpal Pak Wira dari belakang.
"Tidak apa-apa dong sesekali Keenan tidak masuk kerja. Dia juga kan harus punya banyak waktu buat istrinya. jangan tahu nya kerja aja. Iya kan Ken?" Mama Vero seolah menyindir Pak Wira yang menghabiskan masa muda dengan bekerja.
Pak Wira menyadari jika istrinya itu sedang menyindir dirinya. "Mama nyindir Papa?"
"Mama enggak nyindir Pa, tapi kalau papa merasa ya bagus," Mama Vero tertawa.
"Sudah Ma, Pa kami ke sini buka mau mendengar kalian berdebat. Kami ke sini mau menyampaikan sesuatu," Ucap Keenan melerai perdebatan kedua orangtua nya.
"Apa itu Ken?" Tanya Mama Vero penasaran.
Keenan memberikan sebuah amplop pada Mama Vero.
"Apa ini?"
Perlahan tangan Mama Vero membuka amplop, kemudian tangannya meraih selembar kertas di dalamnya.
"Ken ini...?" tanya Mama Vero dengan suara ya g bergetar.
"Mama sama Papa bakal punya cucu," ujar Alin haru.
"Apa maksudnya ini Ken?" Papa Wira melihat hasil foto USG Alin dan melihat ada dua objek yang di lingkari oleh dokter.
"Mama sama Papa bakal punya dua cucu," jelas Keenan.
Mama Vero masih terpaku di tempatnya ia tak bisa berkata-kata mendengar kabar bahagia itu. Tangis haru pun pecah, Mama Vero memeluk Alin tak henti mengucapkan terimakasih kepada menantunya itu.
Tak lupa Alin juga memberitahukan Ayahnya lewat telpon karena kebetulan ayahnya sedang ada urusan di luar kota.
***
"Ken! kamu harus bisa belajar dari pengalaman. Jaga Alin sebaik mungkin," Pesan Mama Vero sebelum Alin dan Keenan pulang.
"Iya Ma, Kali ini Keenan tidak akan melakukan kesalahan," Ucap Keenan yakin. Ia tak ingin kejadian masa lalu terulang lagi.
Kini tatapan mama Vero beralih pada Alin. "Sayang.. Kalau kamu mau sesuatu segera minta sama Keenan ya, atau sama Mama. pokoknya kamu jangan sungkan. Kami pasti usahakan apapun yang kamu mau,"
Alin mengangguk. "Iya Ma,"
Tak terasa hari sudah sore mereka memutuskan untuk pulang ke rumah.
"Sayang kamu gak mau sesuatu?" Tanya Keenan saat perjalanan pulang.
"Enggak Mas, Aku mau langsung pulang saja," pinta Alin.
"Baiklah kalau begitu," Keenan melajukan mobilnya menuju rumah.
Badan Alin terasa lelah sekali hari ini padahal sedari tadi ia tak melakukan aktifitas apapun, Alin merebahkan badannya di atas kasur. Namun rasa lelah seketika hilang ketika mengingat ada dua nyawa yang Tuhan titipkan dalam rahimnya.
Alin berjanji pada diri sendiri akan menjaga diri dengan baik. Dia akan melakukan apapun untuk calon buah hatinya.
"Capek ya? Mau Mas pijitin?" tanya Keenan yang ikut duduk di samping Alin.
"Enggak kok Mas, Aku gak capek malah aku merasa bahagia banget" jawab Alin dengan dengan mata yang berbinar.
"Terimakasih ya sayang," Keenan mengelus rambut Alin.
"Aku juga berterimakasih sama Mas karena tidak pernah meninggalkan aku," Alin mulai terisak, mungkin jika bukan Keenan yang menjadi suaminya entah apa bisa Alin bertahan sejauh ini dengan begitu banyak ujian dalam rumah tangganya.
"Itu tidak akan pernah terjadi," ucap Keenan yakin.
"Semua yang telah terjadi adalah pembelajaran hidup yang berharga. Jangan pernah menyalahkan takdir apalagi menyesalinya,"
"Iya Mas," Alin kemudiannya bangkit dan memeluk Suaminya.
Sejak kehamilannya kedua istrinya Keenan lebih banyak bekerja dari rumah, ia hanya berangkat ke kantor jika memang ada pekerjaan penting dan memang tak bisa di wakilkan. Kini ia menjadi suami yang siaga. Bukan hanya siaga tapi Keenan juga menjadi suami yang over protective pada Alin.
Terkadang Alin menjadi kesal sendiri dengan perlakuan Keenan yang berlebihan.