
Hari berganti hari namun setiap momen yang di lalui setiap hari selalu menjadi kenangan manis bagi Alin yang kini sedang mengandung. Bahkan ia selalu mencurahkan isi hatinya melalui goresan pena. Rasanya Alin tak sabar bertemu dengan buah hatinya.
"Mas Bangun! Katanya mau ngajak jalan-jalan pagi," Alin menarik selimut yang masih membungkus tubuh suaminya.
"Lima menit lagi ya sayang," pinta Keenan seraya menarik kembali selimutnya.
"Keburu siang Mas... Nanti panas, anakmu kepanasan nanti jadi hitam"
"Iya ini bangun," walau matanya masih mengantuk tetap ia menepati janjinya mengajak Alin jalan-jalan pagi di sekitar taman komplek dekat rumah.
Taman komplek saat akhir pekan memang selalu ramai pengunjung. Taman yang sejuk dan asri untuk daerah perkotaan yang pada penduduk. Pohon-pohon rindang, bunga-bunga bermekaran juga stand penjual makanan pun tertata rapi. Banyak orang datang untuk berolahraga atau sekedar berburu kuliner.
Mereka berjalan bergandengan di bawah hangatnya sinar mentari pagi di barengi dengan canda tawa bahkan bujuk rayu. Hal yang sederhana namun penuh makna.
Keenan menghentikan langkahnya di depan hamparan bunga krisan yang tengah bermekaran. "Cantik ya?"
Alin memandang kagum pada hamparan bunga tersebut. "Iya cantik banget bunganya,"
"Bukan bunganya... Tapi kamu," Lanjut Keenan kemudian.
Seketika pipinya merona, "Semenjak Mas kerja bareng Om Randy jadi pintar gombal gini," Alin mencubit lengan Keenan.
Benar juga, padahal dulu jangankan gombal bahkan untuk memuji saja terasa berat untuk di ucapkan.
"Tapi sayang enggak boleh di petik," Alin membaca papan peringatan samping hamparan bunga tersebut.
"Bunga di tepi jalan memang cantik tapi tidak untuk di petik... Tapi menurut Mas yang paling cantik itu..."
"Stop Mas! Mual Alin dengernya," potong Alin.
"Di romantisin kok enggak mau,"
"Romantis sama gombal beda ya Mas,"
"Sama aja,"
"Mas... Kaya nya dari tadi ada yang ngikutin kita deh," Alin setengah berbisik.
"Masa sih?" Keenan celingukan mencari seseorang yang mencurigakan.
"Mas lihat deh orang yang pakai topi dan masker hitam yang berdiri di depan pohon besar, Perasaan itu orang yang tadi ketemu depan rumah kita deh,"
Kemudian Keenan memperhatikan orang yang di sebutkan Alin.
"Jangan gitu lihatnya.. Nanti dia curiga,"
"Mungkin cuma kebetulan, bisa jadi dia memang mau ke sini. Udah enggak usah mikir yang macem-macem ya," Keenan mencoba menenangkan Alin.
"Alin cuman takut Mas... Zaman sekarang orang itu pinter banget berkamuflase ."
"Pasti kebanyakan nonton drakor nih," ledek Keenan.
"Jangan salah Mas.. Intel aja banyak yang nyamar jadi kang cimol,"
***
Matahari perlahan mulai naik ke permukaan bumi hangat sinarnya telah berganti kian memanas.
Keenan memapah Alin duduk si sebuah bangku "Duduk dulu sayang,"
kaki Alin terasa keram setelah cukup lama berkeliling di sekitar taman. Sebenarnya sedari tadi Keenan meminta Alin untuk berhenti dan beristirahat namun istrinya itu begitu bersemangat.
"Minum dulu," Keenan membukakan tutup botol dan memberikannya pada Alin.
"Makasih Mas..," Alin menerimanya kemudian meminumnya dalam beberapa tegukan saja.
"Pelan-pelan," nasehat Keenan kemudian mengusap sisa-sisa cairan di sudut bibir Alin.
"Kita pulang aja Mas... Udah panas juga," Alin hendak berdiri.
Keenan segera menahannya. "Istirahat dulu saja, kakinya masih sakit?" Kemudian ia berjongkok dan memijat kaki Alin.
"Udah enggak kok..," ucap Alin sungkan.
"Jalan pelan-pelan aja ya..," Keenan menggandeng tangan Alin menuju pintu keluar taman.
"Tunggu di sini sebentar, Mas ambil mobil dulu," Keenan sengaja meminta Alin untuk menunggu di depan pintu masuk saja karena jarak parkiran yang lumayan jauh.
Alin terdiam dia begitu shock dengan kejadian yang alaminya barusan dan hampir saja dirinya celaka.
"Enggak apa-apa kan?" tanya orang tersebut.
Alin menggeleng "Enggak... Makasih udah nolong saya," saat Alin hendak melihat wajah si penolong ternyata dia sudah pergi namun ia masih bisa melihat punggung orang tersebut. "Itukan orang yang dari tadi ngikutin aku? tapi kok...?"
"Sayang kenapa?" tanya Keenan yang baru saja tiba ia melihat Alin seperti orang kebingungan.
"Enggak apa-apa Mas.. Ayo pulang," Alin menggandeng tangan Keenan menuju mobil.
***
Semenjak pulang dari taman tadi Alin menjadi lebih banyak diam.
"Kok diem terus dari tadi? Ada apa?" tanya Keenan lembut.
"Mas, sebenarnya tadi... " Alin pun menceritakan detail soal kejadian tadi pagi.
Keenan tercengang. "Kenapa baru bilang? Enggak ada yang luka kan?"
"Enggak ada Mas.. Maaf baru bilang Alin hanya terlalu kaget,"
"Maafin Mas tadi ninggalin kamu," Keenan memeluk Alin ia merasa bersalah telah meninggalkan istrinya. Ternyata penguntit itu tidak hanya mengincar dirinya namun juga Alin dan calon bayinya. Kini Keenan harus lebih waspada.
"Mas ingat pria dengan topi dan masker hitam yang ngikutin kita tadi?"
Keenan mengangguk. " Iya ingat... Memangnya kenapa?"
"Orang itu yang menyelamatkan Alin tadi,"
"Sayang.. pokoknya kalau ada apa-apa harus langsung kasih tahu Mas.. kalau ada yang mencurigakan langsung bilang jangan di simpan sendiri.. Janji?" Keenan mengusap pipi Alin lembut.
"Iya.. Mas juga," pinta Alin.
Kini kecemasan Keenan semakin mendera, Pikirkannya benar-benar terbagi antara keluarga dan pekerjaan yang di mana dua-duanya sedang menghadapi masalah yang cukup serius.
***
"Bro ada masalah cukup serius," kedatangan Keenan pagi itu sudah di sambut dengan masalah baru.
Keenan menghela napas. "Apa lagi?"
"Semalam ada yang mencoba meretas server perusahaan," ucap Randy dengan santainya.
"Ada peretas dan lo se santai itu," Keenan geleng-geleng kelapa.
"Tiga hari lalu gue udah tingkatkan sistem keamanan jadi kali ini mereka gagal. Tapi bisa aja tar mereka coba lagi udah kaya undian berhadiah," Randy terkekeh.
"Masalah kemarin aja belum selesai, ini sekarang nambah lagi," Keenan memijat pangkal hidungnya.
"Lo tenang aja.. Mereka masih amatiran nekat pula, gue udah dapat IP adress nya. Pokonya aman asal gaji gue di naikin dua kali lipat buat modal married," Randy bersemangat.
"Cari calonnya dulu," sindir Keenan. "Gue jadi penasaran sebenarnya siapa yang neror.. Hari itu hampir aja Alin di celakai orang," Keenan tak bisa membayangkan jika tidak ada yang menolong Alin saat itu.
"Makanya mulai sekarang jangan teledor, jangan tinggalin istri lo sendirian kalau di luar rumah," nasehat Randy.
"Lo tau?" tanya Keenan penuh selidik.
"Lain kali gue lepas masker biar ketampanan gue enggak ketutup," ucap Randy lemas.
Keenan melotot. "Jadi elo penguntit nya?"
"Bukannya berterimakasih lo.." ketus Randy. "Gue lagi cari info se valid mungkin buat laporan. Dan jangan khawatir gue udah kirim orang kepercayaan gue buat jaga-jaga di sekitar rumah lo,"
"Gue suka cara kerja lo," Keenan menepuk pundak Randy tidak perlu di ragukan lagi sahabatnya itu memang pintar dan selalu totalitas saat bekerja.
-
-
-
Jangan lupa like dan komen