My Little Bride

My Little Bride
Mengalah



Alin memikirkan langkah apa selanjutnya yang akan dia ambil. Bagaimanapun juga pikirannya tetap tertuju pada Keenan.


Alin membuka selembar kertas yang berisi nomer ponsel Bi Marni. Semalam sebelum masuk ke dalam hotel Alin meminta nomer Bi Marni terlebih dahulu.


Alin mulai mengetikkan nomer tersebut di ponsel barunya, kemudian memulai panggilan. "Hallo Bi... Ini Alin, Mas Keenan ada di villa?" tanya Alin begitu panggilan terhubung.


"Iya Non... Den Keenan belum pulang dari pagi, katanya mau cari Non Alin," jawab Bi Marni.


Alin melirik jam ternyata sudah pukul 9 malam. "Belum pulang?"


"Iya Non.. tadi pagi Den Keenan langsung pergi bahkan belum sarapan dan belum ganti pakaian," tutur Bi Marni.


Seketika pikirannya menjadi gelisah. "Ya sudah Bi, aku tutup dulu.. Tapi jangan dulu bilang sama Mas Keenan kalau aku hubungi Bibi ya,"


"Baik Non," jawab Bi Marni.


Panggilan pun terputus.


***


Sudah lewat tengah malam Keenan terpaksa pulang ke villa tanpa Alin. Tubuhnya sudah terasa lelah tak bertenaga. Keenan juga belum berani menghubungi pihak keluarga perihal kepergian Alin.


Setelah selesai mandi Keenan merebahkan tubuhnya di atas kasur, Bi Marni mengetuk pintu mengantarkan makan malam untuknya.


"Masuk saja Bi..." saut Keenan dari dalam kamar.


"Makan dulu Den," Bi Marni membawa nampan berisi makanan.


"Simpan saja di meja Bi, Nanti saya makan, " jawab Keenan lirih.


"Den Keenan sakit? tanya Bi Marni khawatir melihat wajah Keenan yang pucat.


" Saya tidak apa-apa Bi, cuman butuh istirahat saja,"


"Ya sudah Bibi tinggal dulu ya Den," pamit Bi Marni.


Bi Marni kembali ke dapur, kemudian segera menghubungi Alin memberitahukan tentang keadaan Keenan saat ini.


***


Saat Alin masuk kedalam kamar Keenan sudah tertidur dan bahkan ia sama sekali belum menyentuh makanan yang di bawa Bi Marni tadi.


Alin menyentuh kening Keenan yang terasa panas. Kemudian meminta Bi Marni untuk mengambil air dan handuk kecil untuk mengompres.


Alin memperhatikan wajah Keenan yang terlihat lelah dan pucat.


Dengan cekatan Alin membahasi handuk, kemudian memerasnya, dan menempelkan nya pada kening Keenan. "Cepat sembuh Mas... Aku juga nggak tega lihat kamu sakit gini, tapi seandainya kamu bisa lihat sedalam apa luka di hatiku. Luka di hati memang tak terlihat tapi sakitnya itu nyata terasa. Mungkin bagimu itu hanya hal sepele tapi bagiku tidak," Tak terasa Alin meneteskan air matanya.


"Sayang.. " panggil Keenan lirih.


Alin segera mengusap air matanya. "Iya Mas," ia kira Keenan tak akan terbangun.


"Jangan pergi lagi... Mas sayang, cinta sama kamu, Maaf mas buat kesalahan yang menyakiti hatimu, Kamu boleh marah.Tapi jangan pernah tinggalkan Mas. Mas benar-benar nggak bisa hidup tanpa kamu," Keenan terisak sambil menggenggam kedua tangan Alin.


Alin mengangguk. "Ya sudah sekarang lebih baik Mas istirahat," Alin menyimpan kompresan kedalam wadah.


Keenan menggeser posisi tidurnya. "Temani Mas tidur," Keenan menepuk lengannya meminta Alin agar menemaninya tidur.


Alin hanya menurut, Tidak dapat di pungkiri lengan Keenan memang tempat ternyaman untuknya tidur.


"Mas sayang kamu," bisiknya lirih kemudian mencium kening Alin dan kembali tertidur memeluk istrinya.


Pagi hari Keenan terbangun. Namun, tidak ada sosok Alin di sampingnya. Padahal ia yakin sekali semalam Alin pulang menemuinya.


"Apa semalam hanya mimpi? atau aku hanya berhalusinasi? Tapi semua ia tampak nyata," gumam Keenan mengingat kembali saat semalam ia memeluk tubuh Alin. Bahkan wangi parfum istrinya itu masih menempel di bajunya.


Keenan melirik ke arah meja, benar saja kompresan itu masih berada di sana. besar harapan kalau semalam itu nyata bukan hanya halusinasinya semata.


Keenan segera bangun dan mencari keberadaan Alin.


"Sudah bangun Den? Ini bubur Non Alin yang buat. Nona berpesan agar Den Keenan menghabiskannya," Bi Marni menunjukkan bubur di atas meja.


"Lalu Alin di mana sekarang?" tanyanya begitu tak sabaran.


"Maaf Bibi juga kurang tahu, Tapi kata Nona dia akan segera kembali," tutur Bi Marni.


Keenan mengacak rambutnya frustasi. Ia menghabiskan sarapannya dengan susah payah walau perutnya terasa mual karena asal lambungnya naik, ia tak ingin mengecewakan Alin yang telah susah payah memasak untuknya.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Keenan segera menerima panggilan tersebut.


"Bro... Di Grand View Hotel kamar no 156, Bini lo lagi di sana sekarang," Ucap Randy tanpa basa-basi.


"Serius?" tanya Keenan seolah tak percaya.


"Lo pikir gue becanda di saat begini, udah sana susul jangan lupa mandi dulu," Randy meledek.


"Ok.. thanks," Keenan segera berlari ke kamar, rasa lemas tiba-tiba hilang. Ia mengikuti saran Randy untuk mandi terlebih dahulu. Ia tak ingin Alin melihatnya dalam keadaan kacau seperti kemarin.


***


Alin sedang mengemasi barang-barangnya yang ia beli kemarin dan ternyata cukup banyak. menghitung jumlah uang yang di keluarkan untuk membeli barang tersebut membuatnya sedikit menyesal.


Andai nenek tahu, pasti dia sudah diceramahi tujuh hari, tujuh malam non stop.


Tiba-tiba bell berbunyi, seingatnya dia tidak memanggil maupun memesan sesuatu. "Mungkin pegawai hotel," gumam Alin kemudian membuka pintu.


"Sayang?" Panggil Keenan kemudian segera memeluk istrinya.


"Masuk dulu Mas," Alin mengajak Keenan untuk masuk kemudian menutup pintu, ia merasa tak nyaman saat di lihat dan di perhatian oleh orang-orang yang kebetulan lewat.


"Mas harusnya istirahat, jangan ke mana-mana dulu," Alin mengomel kemudian menuntun Keenan untuk duduk di atas sofa.


Keenan menggenggam tangan Alin sambil berjongkok "Maaf... Mas yang salah.. Tapi jujur Mas sudah tidak ada perasaan apa-apa sama Laura,"


Alin hanya terdiam, dia tak mempercayai ucapan Keenan begitu saja. Mana mungkin sudah tak ada rasa sedangkan Keenan masih menyebut namanya.


"Kita kembali ke villa ya?!" ajak Keenan kemudian.


"Aku nggak mau," tolak Alin.


"Kenapa?"


"Karena tempat itu banyak kenangan Mas sama Laura," ucap Alin sambil memalingkan wajah. Alin ternyata banyak mencari tahu tentang Laura dan Keenan dari Bi Marni. Dan kata Bi Marni dulu Keenan dan Laura memang cukup sering berlibur dan menginap di villa itu, tapi walaupun begitu mereka tidak datang berdua karena selalu mengajak teman-teman bahkan berlibur bersama Mama Vero dan keluarga besarnya.


" Ya sudah kita kemas barang-barang, Kita nginap di hotel saja. Mau?" usul Keenan mengalah.


"Aku mau pulang," ucap Alin kemudian


"Tapi sayang... " belum sempat Keenan menyelesaikan ucapannya Alin sudah menyela terlebih dahulu.


"Ya sudah kalau Mas masih mau tetap di sini, Aku tetap mau pulang," ucap Alin tetap dengan keputusannya.


"Oke kita pulang," Akhirnya Keenan mengalah.


Dan rencana honey moon satu minggu, hanya berjalan tiga hari saja.


Akhirnya mereka kembali ke Ibu kota. Walaupun Keenan mengikuti kemauan Alin tapi hal itu tak membuat Alin memaafkan Keenan begitu saja. Bahkan wanita itu masih bersikap dingin pada Keenan.


-


-


-


Jangan lupa like dan komen...