
Seorang gadis berseragam SMA lengkap dengan ransel di punggungnya berjalan keluar dari gerbang sekolah. Di berjalan melewati deretan mobil jemputan tidak ada yang mencurigakan semua berjalan normal seperti biasa. Saat ia melintasi sebuah mobil berwarna hitam di sampingnya tiba-tiba saja pintunya terbuka kemudian seorang pria menariknya secara paksa masuk ke dalam mobil.
Gadis itu tampak kaget dan mencoba berontak tapi sia-sia saja karena tenaganya tak cukup kuat untuk melawan seorang pria dewasa.
"Jalan bro," pinta Randy setelah berhasil menarik gadis itu kemudian segera menutup pintu agar gadis itu tak bisa kabur lagi.
Gadis itu terus mencoba berontak, sesekali dia berteriak meminta bantuan walaupun sebenarnya itu hal yang sia-sia. "Mau apa sebenarnya kalian?" Tanya gadis itu dengan wajah menantang. sebenarnya ia merasa takut tapi dia tak ingin menunjukkan kelemahan nya di hadapan kedua pria itu.
"Siapa yang suruh lo retas server dan website KAY hotel?" tanya Randy.
"Bukan aku.. Aku nggak tahu apa-apa," jawab gadis itu memalingkan muka menghindari tatapan tajam Randy.
"Yuna Fariza, umur 17 tahun, Alamat perumahan Griya Pesona, nama Ayah Fariz Afrizal, nama ibu Zahira. Kalau gitu kita langsung bawa ke kantor polisi saja bro," pinta Randy pada Keenan.
Yuna tercengang mendengar biodata tentang dirinya. Kini ia merasa takut kalau mereka benar-benar membawanya ke kantor polisi. "Tolong jangan bawa aku ke kantor polisi," mohon Yuna dengan wajah yang memelas.
"Sekarang katakan! siapa yang nyuruh lo?" tanya randy sekali lagi.
Yuna tertunduk dia pun sebelumnya sudah mendapat ancaman dari orang yang menyuruhnya.
"Jawab!" Randy meninggikan suaranya sepertinya ia mulai kehilangan kesabaran.
"Kak...kak Julia," jawab gadis itu lirih.
Tiba-tiba Keenan menghentikan mobilnya. "Julia?" tanya Keenan sekali lagi takut-takut dia salah dengar.
Yuna mengangguk ia membenarkan kalau memang Julia yang menyuruhnya.
"Beg*! lo tahu kan resikonya. Kenapa lo mau?" Emosi Randy meluap-luap sedangkan anehnya Keenan malah terlihat lebih santai.
Yuna memilin ujung roknya ia tak berani menatap wajah Keenan maupun Randy. "Aku terpaksa... Kak Julia ngancam akan pecat Papa kalau aku nggak mau. Sedangkan waktu itu mama sedang di rumah sakit, Aku cuman takut Papa di pecat dan mama gak bisa lanjutin pengobatan," Yuna mulai menitikkan air mata.
"Gak usah akting nangis lo," Sindir Randy.
"Lagi pula aku gak curi ataupun bocorin data, aku cuma mengacaukan sistem saja," Yuna membela diri.
Randy dan Keenan sedang berdiskusi ini adalah kesempatan untuk Yuna Kabur. Ia mencoba meraih handle pintu namun sayangnya Randy cepat mengetahuinya dengan segera Randy menarik ransel Yuna hingga Yuna terjungkal ke belakang dan membuat roknya tersingkap memamerkan paha mulusnya.
"****!" Randy mengumpat kemudian ia melempar blazer yang sebelumnya ia buka untuk menutupi paha Yuna.
Sementara Keenan mencoba menahan tawa melihat raut wajah Randy.
Setelah cukup lama berdiskusi akhirnya mereka membuat perjanjian.
***
Mereka pun memutuskan untuk kembali ke kantor setelah urusan dengan gadis itu selesai. "Gila tuh paha bocil mulus juga," Randy terkekeh membayangkan apa yang di lihatnya tadi.
"Biasa aja.. Tadi aja sok galak lo," sindir Keenan yang masih fokus pada kemudi nya.
"Berarti lo lihat juga kan?" ledek Randy.
"Gak sengaja," Ucap Keenan penuh dengan penekanan.
"Gue bilangin sama bini lo nanti,"
"Awas aja kalau berani.. Gue potong gaji lo," ancam Keenan.
***
Keenan pulang lebih awal hari ini karena ia sudah kangen dengan istrinya dan ia menyuruh Randy p untuk lembur menyelesaikan kekacauan di kantor.
Alin menyambut kepulangan Keenan dengan raut wajah bahagia tak lupa ia mencium tangan dan juga memeluk suaminya. "Tumben Mas udah pulang?" Alin juga mengambil Alih tas kerja Keenan.
Keenan merangkul Alin masuk ke dalam rumah. "Sengaja pulang cepat.. udah kangen sama mami nya Baby K,"
Malam pun tiba. Karena perutnya yang semakin membesar membuat Alin merasa sesak dan kesulitan untuk tidur. Beberapa kali ia mengubah letak bantal dan guling mencari posisi yang nyaman.
"Kenapa belum tidur?" tanya Keenan terbangun karena gerakan Alin kemudian ia mengusap-usap punggung istrinya. Sudah menjadi kebiasaan semenjak hamil Alin tak bisa tidur jika Keenan tak mengelus punggungnya.
"Gak bisa tidur mas.. sesak jadinya serba salah" keluh Alin.
"Mau mas ambilkan makanan?"
"No! Nggak boleh," tolak Keenan tegas.
Alin mengatupkan kedua tangannya seolah sedang memohon di barengi dengan raut wajah yang memelas. "Please! sekali aja mas.. boleh ya.. " bujuk Alin.
Karena tak tega melihat raut muka Alin akhirnya ia luluh juga. "Yasudah tapi sekali saja ya," Keenan bangun dari tidurnya hendak berjalan menuju dapur.
"Ikut Mas.." Alin menyusul.
Alin menatap semangkuk mie instan di hadapannya dengan mata yang berbinar membuat Keenan teringat sesuatu.
Alih heran melihat suaminya yang tiba-tiba senyum-senyum sendiri. "Kenapa?.. mau?" tanya Alin bingung.
Keenan menggeleng. "Enggak... Habiskan saja,"
"Terus kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Alin curiga.
"Enggak ada apa-apa,"
"Aku nggak mau habisin kalau mas gak mau kasih tau," kesal Alin.
"Mas jadi teringat awal kita nikah.. malam-malam begini kamu juga mie instan lalu..."
"Astaga! Stop mas," Ali memotong pembicaraan Keenan sambil menutup wajah menggunakan kedua tangannya. Kejadian itu membuat ia malu seumur hidup di hadapan suaminya.
"Kok bisa mie nya menggantung di..."
"Mas ih... " rengek Alin dengan wajah yang cemberut.
****
Hari ini hari pertama Alin mengikuti kelas yoga untuk ibu hamil tak lupa ia di temani sang suami. Alin memilih tempat yang telah di rekomendasikan oleh mama Vero karena menurut mama Vero instruktur nya merupakan instruktur terbaik di ibu kota.
Alin dan Keenan memasuki ruangan dan sudah terlihat beberapa pasangan suami istri lainnya. namun, tak banyak mungkin hanya sekitar empat pasang pasutri karena Alin mengambil kelas khusus.
"Hai.. Kamu Keenan kan?" tanya seseorang yang di yakini sebagai instruktur karena perutnya nampak rata sendiri di ruangan itu.
Keenan memicingkan matanya mengingat-ingat kembali wanita di hadapannya.
"Aku Claudia teman SMA kamu," ucap wanita itu.
"Oh ia Claudia," Sebenarnya Keenan tak benar-benar mengingat wanita itu, Keenan jarang sekali bergaul sewaktu SMA dia hanya berteman dengan Sean dan Randy sampai saat ini.
"Apa kabar kamu? oh kamu lagi nganter ponakan kamu ya?" tanya wanita itu kemudian.
"Dia istriku, kenalkan namanya Alin," Keenan meminta Alin untuk berkenalan dengan teman semasa SMA nya itu.
"Oh maaf aku pikir keponakan kamu.. Ini istri ke berapa Keenan?" tanya Claudia kemudian sambil tertawa.
Seketika Keenan ingat dia Claudia teman sekelas paling menyebalkan bermulut ember dan hobi bergosip. "Istri satu-satunya, pertama dan terkahir," Jawab Keenan berubah menjadi ketus.
"Hahaha ya ampun jadi kamu baru menikah?" Claudia terlihat tertawa meledek padahal seingatnya Keenan termasuk pria yang jadi incaran para gadis di kelasnya. ia tak menyangka Keenan terlambat menikah menurutnya.
"Kita cari tempat lain," Keenan menggandeng Alin keluar ruangan.
"Hey mau kemanan?" tanya Claudia heran.
Keenan tidak menganggap, ia terus saja berjalan keluar. Alin tidak banyak tanya ia hanya menurut karena sudah terlihat jelas dari wajah Keenan kalau dia sedang kesal.
-
-
-
Jangan lupa like, komen dan vote yaa.....
Yang penasaran sama Yuna nih author kasih bonus visualnya.