
Tak terasa trimester pertama kehamilan Alin sudah berhasil ia lewati walau di bumbui dengan berbagai macam drama. Kini masuk trimester kedua perut Alin sudah terlihat sedikit membesar, begitu juga dengan tubuhnya semakin berisi, pipinya semakin chubby dan porsi makannya semakin bertambah.
Membuat susu dan sarapan untuk Alin kini sudah menjadi rutinitas bagi Keenan sebelum berangkat kerja. Ia selalu memastikan semua kebutuhan Alin tidak ada yang kurang dan terlewatkan. Terkadang Alin selalu melarangnya melakukan hal yang berlebihan karena dirinya juga masih bisa melakukan berbagai macam aktifitas.
Pagi ini Alin bangun lebih awal ia segera ke dapur membantu Bi Inah membuat sarapan. "Biar Bibi aja Neng," Bi Inah selalu teringat pesan Keenan kalau Alin tak boleh mengerjakan apapun.
"Gak apa-apa Bi lagian tiap hari Alin jenuh tiduran lagi, makan lagi, nonton lagi gitu aja terus," Alin menghela nafas membayangkan betapa membosankan hari-harinya selama tiga bulan terakhir ini.
"Tapi hati-hati ya Neng, jangan sampai tergores sedikitpun nanti Bibi di marahin Den Keenan," ledek Bi Inah.
"Iya Bibi tenang aja," ucap Alin dengan santainya.
"Bibi pamit keluar sebentar ya Neng, ada yang lupa di beli tadi," Bi Inah segera keluar terburu-buru.
"Hati- hati Bi," Teriak Alin.
"Ini udah bener belum sih?" Alin mengaduk-aduk adonan pancake yang baru saja ia buat. Padahal adonan yang ia pakai terbuat dari pancake instan ia hanya perlu menambahkan susu cair namun begitu tak percaya diri dengan hasilnya.
Tiba-tiba Keenan memeluknya dari belakang. "Tadi Mas cariin taunya lagi di sini,"
"Mas ngagetin aja... Iya lagi pengen bikin pancake," Tangannya sibuk menuangkan adonan kedalam teflon.
"Biar Bi Inah aja yang bikin,"
"Lagi pengen makan bikinan sendiri,"
"Emang bisa?" ledek Keenan.
Alin cemberut "Bisa dong," Keenan memang sering menggoda Alin sampai membuatnya ngambek, apalagi semenjak hamil Alin menjadi lebih sensitif.
"Gitu aja ngambek," Keenan menggigit bahu Alin sesekali ia menyesap leher jenjang Alin sampai meninggalkan bekas kemerahan di sana.
"Mas nanti di lihat Bi Inah... malu,"
"Biarin aja," Keenan nampak cuek ia malah semakin gencar menggoda Alin.
Hingga akhirnya Alin menyerah, Ia membalik badannya kemudian mengalungkan lengannya di leher Keenan. Berawal dari kecupan lembut lama kelamaan berubah menjadi sebuah hisapan dan ******* yang semakin menuntut. Dua orang insan hanyut dalam ciuman pagi yang panas sepanas kompor yang ada di depan mereka, dan berbicara soal kompor....
"Astaga! Mas.. pancake nya gosong," pekik Alin mengakhiri ciuman panas itu.
Dengan sigap Keenan mematikan kompor dengan wajan yang sudah mengepulkan asap hitam.
"Gara-gara Mas nih... " Alin menatap kecewa pancake gosongnya.
Keenan malah tertawa melihat ekspresi Alin "Kok nyalahin Mas... kamu juga mau kan?" goda Keenan.
"Gimana dong ini?" Alin mengangkat pancake gosong itu dengan spatula.
"Biarin aja nanti Bi Inah bikin lagi," Keenan menyimpan spatula yang di pegang oleh Alin. "Kita lanjutin yang belum selesai," bisik Keenan di telinga Alin.
Alin hanya menurut saat Keenan merangkulnya untuk meninggalkan dapur. Tak lama setelah Alin dan Keenan meninggalkan dapur Bi Inah datang membawa belanjaan. Dia kaget melihat dapur dalam keadaan berantakan.
Bi Inah menepuk jidat. "Kok bisa sampai begini?" Ia melongok ke arah tangga dan melihat Keenan dan Alin yang baru saja meninggalkan dapur. "untung aja enggak pulang cepat tadi," Bi Inah terkekeh.
***
"Mas.. Enggak kerja?" tanya Alin dengan suara lirih karena lelah setelah bertempur.
Keenan begitu enggan membuka mata. "Kerja sayang.. Nanti aja berangkat siang," ia semakin mengeratkan pelukannya.
"Ini sudah jam 10 Mas... Nanti di marahin Papa lagi" Alin menakut-nakuti.
"Biarin aja... Papa doang Mas gak takut," ucapnya penuh percaya diri.
Tiba-tiba ponselnya berdering.
"Mas Papa telpon," Alin memberikan ponsel yang baru saja ia ambil dari atas meja.
"Iya Pa.. Keenan lagi di jalan sebentar lagi sampai," Ucap Keenan panik segera ia bangun dan mencari handuk.
"Katanya enggak takut," sindir Alin.
***
"Neng.. udah beberapa hari ini Bibi selalu lihat mobil putih di ujung jalan sana dan kayaknya orangnya lagi memperhatikan sekitar sini deh," ucap Bi Inah cemas.
"Kebetulan aja kali Bi, atau orang yang sedang numpang parkir," Alin tidak mau berburuk sangka.
"Iya kali ya Neng.. Perasaan Bibi jadi gak enak aja gitu Neng," Bi Inah pun mencoba menepis fikiran negatif nya tapi tetap saja tak bisa di bohongi perasaannya selalu tak enak jika melihat mobil itu.
"Bibi kebanyakan nonton sinetron," ledek Alin.
"Lagian Neng Alin ngajakin Bibi nonton film si kupat mulu,"
"Psikopat Bi," ralat Alin.
"Iya itu Neng maksudnya.. Kan Bibi jadi porno," ucap Bi Inah polos.
"Astaga! parno Bi parno,"
"Hehehe salah lagi ya?" tanya Bi Inah cengengesan.
"Banget bi... artinya jadi beda jauh," Alin tertawa.
Alin bangun dari duduknya. "Coba Alin mau lihat ke depan ya Bi,"
"Jam segini biasanya udah enggak ada Neng.. Tapi coba kita lihat lagi sama-sama," Bi Inah pun mengikuti Alin.
Alin membuka sedikit pagar rumahnya kemudian melongok ke ujung jalan yang Bi Inah maksudkan. Dan benar saja tidak ada apa-apa di sana.
"Mungkin mobil yang punya rumah ujung bi," Kemudian Alin menutup kembali pagar.
"Iya bisa jadi Neng.. Orang kaya kan suka gonta-ganti mobil," ceplos Bi Inah.
***
"Mau punya anak bukannya makin rajin kerja malah makin malas-malasan," omel Pak Wira saat melihat Keenan baru saja datang tepat pukul 10.45.
"Iya tadi soalnya..." belum selesain berbicara Pak Wira sudah memotong perkataan Keenan.
"Selalu saja anak istri di jadikan alasan padahal emang kamu nya aja yang malas," sindir Pak Wira.
Keenan tak bisa berkutik mungkin Papanya sudah bosan mendengar alasan yang sama setiap hari.
Pak Wira memberikan sebuah berkas pada Keenan. "Kamu tahu perusahaan ini?" Pak Wira menunjuk logo perusahaan di berkas tersebut.
Keenan mengamati logo tersebut. "PT. MT Karya," sejenak ia berfikir. "Ken belum pernah dengar Pa, kenapa memangnya?"
"Justru itu Papa juga baru dengar. Perusahaan ini tiba-tiba ngajuin kerja sama di saat perusaan lain menolak kita," lanjut Pak Wira.
"Jangan terburu-buru Pa.. sebaiknya kita cari tahu dulu latar belakang perusahaannya," lanjut Keenan.
"Tentu saja Ken.. Dan itu sekarang menjadi tugas kamu," Pak Wira berkata dengan entengnya.
Menunjuk wajahnya sendiri. "Kenapa harus Ken?"
"Kamu itu calon pemilik hotel ini sudah sepatutnya hal-hal penting yang menyangkut masa depan hotel jadi tanggung jawab kamu,"
Keenan menghela nafas tidak mungkin ia menolak perintah Papanya. "Baik Pa.. Tapi Keenan tidak bisa sendiri setidaknya ada satu orang yang jadi tangan kanan Keenan," usulnya kemudian.
"Silahkan.. pilih orang yang benar-benar bisa kamu percaya dan bisa jaga rahasia perusahaan," tutur Pak Wira kemudian meninggalkan ruangan.
Keenan menimbang-nimbang kira-kira siapa yang akan menjadi tangan kanan nya. "Randy?" gumamnya. "Yang ada dia ngebully terus enggak kerja-kerja," namun, dalam soal lacak melacak Randy memang ahlinya tidak salah selama ini dia menjadi hacker dan lagi Randy bekerja freelance.
"Gengsi dong kalau ngajakin di kampret kerja sama," Umpat Keenan kemudian.
-
-
Jangan lupa like dan komen....