
Sudah tiga hari sejak kepulangannya dari Bali tapi Alin masih bersikap dingin terhadap suaminya. Segala cara telah Keenan lakukan untuk membujuk istrinya tapi selalu gagal.
"Sayang Mas ke kantor sebentar boleh?" Keenan meminta ijin pada Alin untuk pergi ke kantor.
Alin hanya mengangguk.
"Kalau ada apa-apa telpon saja ya sayang?!" Keenan mengecup kening Alin kemudian meninggalkan rumah.
Alin diam-diam mengintip dari jendela melihat kepergian Keenan.
"Istrinya lagi ngambek bukannya di bujuk malah pergi," gumam Alin kesal.
Hari sudah mulai sore. Sedari tadi Alin memperhatikan layar ponselnya dan belum ada panggilan maupun pesan masuk dari Keenan. ia menjadi sedikit khawatir, sebenarnya ingin sekali ia menelpon dan menanyakan keadaan Keenan tapi gengsinya masih terlalu tinggi.
Malam hari Keenan pulang tanpa basa-basi sedikitpun pada Alin. Ia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Kok Mas Keenan nggak cium aku dulu," gumam Alin memperhatikan pintu kamar mandi yang tertutup.
Ceklek...
Pintu kamar mandi terbuka, Alin segera berpura-pura tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut. Cukup lama Alin menunggu tapi Keenan tak juga datang padanya.
Alin membuka matanya untuk melihat apa yang sedang suaminya itu lakukan. Dan ternyata Keenan tengah fokus pada layar monitor di hadapannya.
Alin segera bangun kemudian duduk di samping Keenan dengan melipat kedua tangan di atas dadanya.
"Mas sudah makan?" tanya Alin basa-basi walaupun dengan nada yang kurang ramah di dengar.
"Sudah tadi di kantor," jawab Keenan, tangannya sibuk mengetikkan sesuatu di keyboard laptopnya.
"Lagi ngapain sih?" kesal Alin melihat Keenan yang acuh padanya.
"Oh ini sisa kerjaan tadi di kantor, Karena belum selesai makanya di bawa pulang," mata Keenan masih sibuk mengecek berkas-berkas dan juga layar monitor.
"Yang ngomong di sini Mas, kok lihatnya ke situ terus," sindir Alin, karena sedari tadi Keenan hanya fokus pada pekerjaannya.
"Sebentar ya.. Mas lagi sibuk," Lagi-lagi Keenan tak sedikitpun menoleh ke arah Alin.
Alin menatap sebal ke arah Keenan.
Tiba-tiba Keenan mencium bibir Alin yang sedang cemberut. "Gemesin deh kalau lagi ngambek," Keenan mencubit pipi Alin.
Alin balas mencubit lengan Keenan "Nyebelin," ia mengusap air matanya yang tiba-tiba terjatuh.
Keenan segera memeluk dan menghujani wajah istrinya dengan ciuman. "Sudah ya jangan marah lagi," Keenan menangkup kedua pipi Alin.
Alin mengangguk.
Keenan tersenyum kemudian kembali mencium bibir istrinya. Kecupan-kecupan lembut berubah menjadi hisapan, gigitan yang kian menuntut. Alin mengalungkan lengannya di leher Keenan. sedangkan tangan Keenan sudah menelusup di balik kaos yang di kenakan Alin. Namun, tiba-tiba...
Kruk, kruk...
Perut Alin berbunyi, ia segera melepaskan ciuman Keenan. Alin menundukkan wajahnya karena malu, kenapa perutnya harus bunyi di saat seperti ini.
"Sayang belum makan?" tanya Keenan kemudian, ia bersikap seperti biasa untuk menjaga perasaan Alin.
Alin mengangguk. "Aku nungguin Mas... Tapi ternyata Mas nya udah makan di kantor," Alin tersenyum simpul.
Keenan menggandeng dan mengajak Alin untuk makan terlebih dahulu. "Ya sudah ayo kita makan lagi... Kamu harus mengisi tenaga untuk... "
"Untuk apa?" Alin melayangkan tatapan tajam pada Keenan.
"Ehh.. Nggak kok sayang," dengan cepat Keenan menjawab. Hatinya begitu lega karena bisa berbaikan dengan istrinya.
Tidak sia-sia dia mengikuti saran konyol Randy seharian ini. Sebenarnya hari ini Keenan tidak benar-benar pergi ke kantor. Namun, ia pergi menemui Randy di apartemen nya.
**Flashback**
"Siyalan! Siapa sih pagi-pagi ganggu aja?!" umpat Randy kesal. Dengan mata yang masih mengantuk ia meraba-raba handle pintu karena suara bell yang tak henti-henti. "Sabar napa!," Kesal Randy sambil membuka pintu.
Ketika pintu terbuka Keenan langsung masuk ke dalam tanpa permisi.
"Ngapain sih lo?" Randy melangkah malas mengikuti Keenan kemudian ikut duduk di atas sofa.
"Lo harus bantuin gue,"
"Cara bujuk cewek paling mujarab pake apaan?"
"Hahaha lo pikir obat mujarab," Randy tertawa meledek. "Apa nggak salah minta pendapat sama gue? gue aja masih jomblo,"
"Lo memang jomblo, tapi pengalaman lo jauh lebih banyak dari gue,"
"Lo pikir gue cowok apaan?" Randy menirukan gaya kemayu.
"Jadi gimana solusinya?" Keenan nampak tak sabaran.
"Yaudah biarin aja, lo cuekin balik," jawab Randy dengan santainya.
"Nanti kalau tambah marah gimana?" Keenan memasang raut wajah panik.
"Ya kalau gagal berarti... Anda kurang beruntung hahaha... " Randy tertawa puas meledek Keenan. "Udah mending lo kerja sana cari duit yang banyak buat bulan madu ulang," usir Randy secara halus.
"Lo pikir gue mau lama-lama di sini?!" Keenan segera bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju pintu keluar.
"Eh Ken... Kalau ketemu bocil di luar bilang lo abis jengukin gue.. Gue sakit gitu ya," teriak Randy pada Keenan yang tengah membuka pintu.
"Ogah gue harus bohong," ucap Keenan kemudian membanting pintu cukup kencang.
"Awas aja lo!" kesal Randy.
Akhirnya Keenan pergi ke kantor, sebenarnya tidak terlalu banyak pekerjaan. Tiap detik ia memantau ponsel karena menunggu kabar dari Alin.
**Flashback off**
Setelah Kenyang mengisi perut Alin dan Keenan kembali ke kamar. Keenan menyudahi drama nya, ia segera membereskan laptop dan alat kerja lainnya.
"Nggak jadi sibuk ya Mas?" tanya Alin dengan polosnya.
Keenan menyusun rapi alat kerja di atas meja "Nggak jadi.. Mas lebih suka kamu yang sibuk!"
Alin menunjuk dirinya sendiri. "Kok jadi aku? mana ngerti aku sama kerjaan kantor," ia sedikit bingung mencerna perkataan suaminya.
"Bukan sibuk kerja... Tapi sibuk melayani suami mu," Keenan mencolek dagu Alin.
"Ya Ampun! Sebentar ya Mas.. Aku bikinin kopi," Alin hendak keluar dari kamar, dengan cepat Keenan menahannya.
"Sudahlah! lupakan saja," ucap Keenan lemas kemudian langsung menghempaskan dirinya sendiri ke atas kasur.
"Aneh!" gumam Alin.
***
Tak terasa waktu bulan madu yang terbuang percuma telah habis dan kini Keenan harus benar-benar kembali ke kantor.
Saat memasuki ruangannya Keenan di sambut dengan surat pengunduran diri dari Rissa sekertaris nya. Entah alasan apa yang membuat Rissa mengundurkan diri secara mendadak. Seingat nya kemarin Rissa masih bekerja seperti biasanya.
Tak ingin pusing dengan alasan pengunduran diri Rissa. Keenan meminta HR Manager untuk mencari sekertaris pengganti secepatnya. Karena bagaimana pun juga sekertaris berperan penting untuk kelangsungan pekerjaannya.
Suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasi Keenan, Terlihat Mama Vero dari balik pintu.
"Mama?!" Keenan kaget dengan kedatangan ibunya yang tiba-tiba. Kemudian ia segera berdiri dan mencium tangan ibunya.
Mama Vero tersenyum ramah mengelus lembut rambut putranya. Sesaat kemudian... "Jangan kira Mama nggak tahu ya Ken?!" Kesal Mama Vero menarik telinga Keenan.
"Ampun Ma... " Keenan meringis kesakitan. Sudah lama sekali mama Vero tidak menjewer telinganya. Mungkin kalau tidak salah ingat, terkahir kali Mama Vero menjewer telinganya saat Keenan berusia 7 tahun.
-
-
-
Jangan lupa like dan komen...
Yang kangen sama babang Randy author kasih bonus visualnya...
Muka-muka ngantuk tapi masih ganteng ya chingu!