
Keenan berlari menyusuri lorong rumah sakit, dia sangat cemas ketika mendapat kabar kalau Laura masuk rumah sakit.
Ceklek... keenan membuka pintu ruangan yang tadi di sebutkan oleh sang penelpon yaitu Mike sahabat sekaligus dokter pribadi Laura. Keenan berjalan menuju ranjang rumah sakit tapi tidak ada seorangpun di sana.
"Aku tahu kamu pasti datang Ken," ucap Laura tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Kamu berbohong?" Tanya Keenan kecewa melepaskan pelukan Laura.
"Kalau tidak begini kamu tidak akan datang kan? Kamu bahkan mengacuhkan ku seharian ini," Laura membelai lembut pipi Keenan. "Kamu masih mencemaskan ku itu artinya kamu masih perduli dan cinta sama aku iya kan?" Tanya Laura menatap mata Keenan dalam.
"Mari kita akhiri semua ini Laura," ucap Keenan tegas.
"Maksud kamu apa Ken?"
"Aku sudah anggap hubungan kita berakhir saat kamu pergi di hari pernikahan kita,"
"Kamu tidak bisa seenaknya begini Ken, Aku pergi juga berjuang untuk tetap hidup agar bisa terus bersama kamu. Kamu pikir mudah mengambil keputusan ini? Kamu pikir mudah jadi aku?" Laura mulai menangis.
"Untuk apa membangun sebuah hubungan jika tidak ada kepercayaan di dalamnya? Untuk itu hiduplah dengan baik, jangan pernah sia-siakan orang yang benar-benar tulus kepadamu kelak," Keenan benar-benar pergi meninggalkan Laura.
"Tidak semudah itu Ken, aku tidak akan melepaskan mu," teriak Laura di tengah tangisnya.
***
Alin berjalan gontai menyusuri jalan. Cuaca sore itu cukup dingin. Dia harus kembali merasakan kecewa karena Keenan lebih memilih menemui Laura. Alin pikir saat dia pergi Keenan akan menyusulnya. Alin sengaja pergi ingin tahu reaksi Keenan tapi ternyata tidak sesuai dengan ekspetasinya. Ah iya kehidupan memang tak seindah di drama korea yang selalu di tonton nya.
Kemudian Alin memutuskan untuk pulang kerumah ayahnya. Dia ingin menenangkan diri dan tidak ingin bertemu Keenan untuk sementara waktu sampai dirinya benar-benar siap.
"Nenek," sapa Alin memeluk sang nenek. seperti biasa Alin tampak ceria. Dia rela menahan semua luka yang di rasakan nya.
"Alin," sang nenek membalas pelukan Alin.
"Alin sendiri?" tanya sang nenek celingukan mencari sosok Keenan.
"Mas Ken sedang ada acara di luar kota, jadi Alin bosen di rumah makanya Alin kesini tapi Alin sudah ijin kok," Alin terpaksa berbohong agar sang nenek tidak khawatir. Dan lagi dia ingin menjaga harga diri Keenan tidak mungkin kalau dia bilang Keenan sedang pergi dengan wanita lain. "Nenek masak Apa hari ini? Alin kangen masakan nenek," Alin mengalihkan perhatian agar sang nenek tidak banyak bertanya.
"Nenek masak sup ayam, Kebetulan baru mateng. Sekalian panggil ayah kita makan bersama,"
"Yaudah Alin panggil ayah ya," Alin bergegas menuju kamar Ayahnya.
Dengan ragu Alin mengetuk pintu kamar Ayahnya. "Ayah," panggil Alin di balik pintu.
"Masuk Nak, pintunya tidak di kunci,"
Alin perlahan masuk ke kamar ayahnya. terlihat sang ayah sedang duduk termenung memegangi foto almarhumah sang Bunda.
"Ayah," Alin menghambur kedalam pelukan ayahnya.
"Ayah tidak bisa nepatin janji ayah sama bunda kamu, Ayah sudah gagal jadi ayah yang baik buat Alin," ucap Adi dengan suara yang bergetar memeluk erat sang putri.
"Ayah jangan bicara seperti itu," Alin mengusap air mata ayahnya.
"Maafin ayah yang egois, Maaf ayah tidak pernah mikirin perasaan Alin, ayah belum bisa membuat Alin bahagia,"
"Jadi putri ayah adalah hal yang paling membahagiakan dalam hidup Alin, ayah jangan bicara seperti itu lagi."
"Ayah sudah berjanji sama bunda akan terus menjaga dan melindungi Alin, ayah akan selalu membahagiakan Alin tapi nyatanya Ayah mengantarkan Alin dalam sebuah penderitaan, Maafkan Ayah,"
Alin tak kuasa menahan tangis, Ini pertama kalinya melihat sang Ayah menangis. "Ayah Alin bahagia kok, Ayah jangan sedih lagi ya," Alin memaksakan senyumannya.
"Alin jangan bohong lagi, Ayah sudah tahu semuanya, Alin berhak marah sama ayah. Seandainya Ayah tidak pernah memaksa Alin untuk menikah, mungkin Alin tidak akan pernah merasakan sakit"
Alin menggeleng, "Ini bukan salah Ayah, Alin yang bersedia. tolong jangan salahkan diri sendiri seperti ini,"
"Alin berhak bahagia, jika memang Alin sudah tidak sanggup lebih baik akhiri saja, Jangan merasa tidak enak karena ayah. sekarang kita sudah tidak bergantung lagi pada Keluarga pak Wira, ayah sudah resign." tutur sang Ayah.
"Kenapa yah? Alin baik-baik saja ayah tidak perlu melakukan itu semua,"
"Alin jamin semua akan baik-baik saja, Tapi ayah harus janji rahasiakan semua ini dari nenek,"
"Iya ayah janji, ayah juga tidak mau terjadi sesuatu kepada nenek,"
"Yaudah kita makan dulu ya Ayah, Alin capek abis nangis. Nanti nenek ngomel kalau kita kelamaan," ucap Alin tertawa mengusap air matanya.
***
Setelah dari rumah sakit Keenan segera pulang kerumah untuk menemui Alin. Tapi menurut penuturan kedua ART Alin belum pulang semenjak tadi siang. Lalu Keenan memutuskan untuk pergi kerumah mertuanya dia yakin kalau Alin sedang berada di sana.
"Nak ken? Alin bilang sedang keluar kota?" tanya Nenek saat membuka pintu.
"Iya Nek, baru saja pulang," jawab Keenan sedikit ragu karena harus berbohong.
"Ya sudah masuk Nak, Alin ada di kamar mungkin sudah tidur," Ajak Nenek Ida.
"Selamat malam yah?" sapa Keenan saat melihat mertuanya.
"Kalau begitu Nenek ke kamar duluan yak nak Ken, Adi ibu tidur duluan" Pamit Nenek setelah membuatkan Keenan minuman.
"Nak Ken bisa Ayah bicara sebentar?"
"Bisa, Silahkan," ucap Keenan sopan.
"Mari kita bicara di taman saja sekalian cari angin," Ajak Adi.
Mereka pun berjalan menuju taman belakang.
"Sebelumnya Ayah minta maaf, Ayah memang tidak berhak ikut campur dalam rumah tangga kalian. Tapi ada sesuatu yang mengganjal dan ingin ayah tanyakan langsung kepada Nak Ken,"
Keenan menghela nafas. Dia yakin kedatangan Laura ke kantor tempo hari sudah di ketahui oleh mertuanya. "Iya tidak apa-apa Ken paham,"
"Bagaimana keadaan rumah tangga kalian?" tanya
Keenan bingung harus menjawab apa. tidak mungkin dia mengatakan kalau semua baik-baik saja bukan?.
"Di sini ayah tidak menyalahkan Nak Ken maupun Alin. Ayah sadar kami lah sebagai orangtua yang egois memaksakan kehendak agar kalian menikah. Ayah tidak menyalahkan Nak Ken kalau memang belum bisa menerima Alin sepenuhnya itu hal yang wajar. Sedari kecil ayah sudah berusaha keras membuat Alin bahagia, sebisa mungkin agar tidak ada orang yang menyakitinya untuk itu saat pertama kali melihat Alin menangis saat di taman Hotel hati Ayah begitu hancur, dunia ayah terasa runtuh. Ayah menjadi orang yang paling sakit saat melihat Alin menangis,"
"Maaf, Ken benar-benar tidak pernah berniat menyakiti Alin."
"Iya Ayah tau, Ayah bukan baru mengenal Nak Ken kita bahkan susah 18 tahun saling mengenal, untuk itu jika memang Nak Ken tidak bisa menerima Alin dan tetap ingin menjalani hubungan dengan Laura lebih baik Lepaskan Alin. dia terlalu kecil untuk bisa menerima semua ini, Bahkan ayah belum pernah melihat dia pacaran," Adi tersenyum kecil.
Keenan kaget mendengar pernyataan ayah mertuanya. "Ken tahu Ken memang salah, Tapi diantara Ken dan Laura sudah tidak apa-apa lagi dan saat Laura datang ke kantor Ken juga tidak menyangka. Untuk itu tolong kasih Ken kesempatan untuk menebus semua kesalah Ken kepada Alin, Ken tidak ingin melepaskan Alin." Ucap Ken sedikit memohon.
"Semua keputusan ada di tangan Alin , dia sudah dewasa dan berhak menentukan yang terbaik. ayah tidak bisa melarang ataupun menyuruhnya agar tetap bertahan itu bukan hak ayah,"
"Kemln minta maaf, Ken belum bisa membahagiakan Alin selama ini Ken hanya menyakiti Alin,"
"Jangan menyalahkan diri sendiri,"
"Apa Ken masih boleh menemui Alin?"
Adi tersemyum. "Tentu saja boleh, Kamu suaminya. Alin ada di kamar," Adi menepuk pundak Keenan.
"Terimakasih sudah kasih Ken kesempatan,"
"Jangan berterimakasih dulu, tetap semua keputusan ada di tangan Alin," Ledek Adi mencairkan suasan tang tadi sempat menegang.
"Keenan akan berusaha meyakinkan Alin," kudian Keenan pamit untuk menemui Alin.
Keenan membuka pintu kamar Alin beruntungnya tidak di kunci. Keenan merasa bersalah saat melihat wajah polos Alin yang sedang tertidur pulas, gadis ini yang selalu menangis karenanya, gadis yang selalu tersakiti olehnya. Dia tidak tahu sedalam apa gadis ini terluka, sebanyak apa gadis ini merasa kecewa. Keenan menyibakan rambut yang menutupi wajah Alin, dia mengusap lembut pipi Alin. "Maaf aku selalu menyakiti dan mengecewakanmu, Kau janji akan memperbaiki semuanya" Keenan mecium Kening Alin. Tidak ada respon dari gadis itu memandakan dia sudah tertidur pulas.
Jangan lupa like, dan komen....