
Malam ini Keenan pulang hingga larut karena banyak sekali pekerjaan yang harus selesai hari ini juga. Walau tubuhnya terasa lelah namun, ia begitu bersemangat untuk pulang ke rumah.
Kondisi jalan ibu kota nampak lenggang meski begitu Keenan hanya memacu kendaraan dengan kecepatan sedang. Sesekali ia melihat ke arah kaca spion keningnya mengernyit saat melihat sebuah mobil yang nampak terlihat mirip dengan mobil yang tadi pagi mengikutinya. Namun, Keenan tak mau ambil pusing karena memang warna dan jenis mobil tersebut sudah sangat umum di pasaran.
Keenan menambah kecepatan untuk memastikan apakah mobil itu mengikutinya atau tidak. Dan benar saja mobil itupun mencoba menyalipnya. Perasaan Keenan menjadi tak enak lantas ia menancap gas menambah kecepatan, tak mau kalah mobil belakang terus mengejar kemudian dengan sengaja mepet mobil Keenan dari arah kanan. Keenan segera menginjak rem dan membanting stir untuk menghindari tabrakan.
Setelah melihat mobil Keenan berhenti mobil yang mengikuti nya tadi langsung pergi. Beruntung tidak terjadi sesuatu pada Keenan hanya saja ia menyerempet pembatas jalan hingga membuat mobilnya sedikit penyok dan tergores bagian depan. "Sialan!" umpat Keenan kehilangan jejak namun, ia berhasil melihat plat mobil tersebut.
***
Alin memang mengantuk namun matanya tak dapat terpejam. Pikirannya tiba-tiba kalut dan teringat Keenan yang belum pulang hingga hampir tengah malam. Sebelum pulang Keenan memang mengirimnya pesan meminta Alin untuk segera tidur dan tidak menunggunya.
Dengan setia Bi Inah menemani Alin mengobrol agar tak merasa bosan. "Kok Mas Keenan belum pulang juga ya Bi? perasaan Alin enggak enak dari tadi," Alin menatap gusar jam dinding yang tergantung di ruang TV. Setelah Bi Inah cerita soal mobil putih tadi pagi pikiran menjadi tak tenang.
"Mungkin macet Neng," Bi Inah mencoba menenangkan Alin dah juga merasa bersalah telah cerita pada Alin.
Suara mobil Keenan terdengar memasuki halaman rumah. Alin segera bangun dari duduknya kemudian segera berjalan menuju pintu depan.
"Kok belum tidur?" tanya Keenan saat melihat Alin berdiri di depan pintu menunggunya.
Alin meraih tangan suaminya kemudian menciumnya tak lupa Keenan mendaratkan kecupan di Kening Alin. "Beluk ngantuk.. Oh iya Mas enggak kenapa-kenapa kan?" tanya Alin memandangi tubuh Keenan memastikan suaminya itu baik-baik saja.
Sejenak Keenan terdiam, ia heran mengapa Alin tiba-tiba bertanya demikian. "Seperti yang kamu lihat, Mas baik-baik saja," Keenan merentangkan lengannya. Ia tak mungkin cerita pada Alin tentang tragedi yang di alaminya barusan karena itu hanya akan membuat Alin kepikiran.
Sedikit merasa lega kemudian Alin memeluk Keenan. "Syukur lah Mas.. perasaan Alin tidak enak sejak tadi takut terjadi sesuatu sama Mas," melihat Keenan tampak kelelahan membuat Alin mengurungkan niatnya menceritakan soal mobil putih di ujung jalan.
"Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat buat cerita," batin Alin.
***
Keenan meminta Randy untuk melacak plat nomor mobil yang mengejarnya semalam. Meskipun sebenarnya gengsi namun nyatanya Keenan membutuhkan orang yang pintar seperti Randy, dengan senang hati Randy menerima ajakan kerja sama Keenan namun dengan syarat meminta gaji yang besar.
Mata Randy fokus pada layar monitor di depannya."Tidak terdaftar.. Sepertinya pakai plat nomor palsu buat menghilangkan jejak," jari-jarinya bergerak mengetikan sesuatu di papan keyboard.
Tidak salah lagi pasti ada yang ingin mencelakakan nya. Namun, yang membuatnya khawatir saat ini adalah keselamatan Alin dan calon anaknya. Keenan memang sudah terbiasa menghadapi orang-orang jahat dari saingan bisnisnya.
"Enggak salah ingat kan lo semalam?" tanya Randy kemudian.
Keenan menggeleng dirinya yakin sekali dengan nomor tersebut. "Udah bener.. Gue yakin," Keenan mengingat-ingat kembali.
"Oh iya untuk informasi tentang PT. MT Karya sudah menemui titik terang," Randy menggeser letak laptop menghadap Keenan.
Keenan membaca dengan teliti informasi mengenai perusahaan tersebut. "Anak perusahaan dari PT. FJA Karya?" Keenan teringat kalau perusahaan itu adalah milik keluarga Julia.
"Kenal? Tapi perusahaan ini sedang ada masalah internal dengan perusahaan induknya," Lanjut Randy.
"Pokoknya kumpulan informasi sebanyak-banyaknya mengenai PT. MT juga PT. FJA. Gue mau meeting dulu. Jangan makan gaji buta lo," Keenan menepuk bahu Randy sebelum dirinya pergi.
"Gue hampir lupa kalau sekarang lo bos nya," kesal Randy.
***
Karena penasaran setelah Keenan berangkat ke kantor Alin memastikan apakah mobil putih yang di ceritakan Bi Inah terparkir di sana. Akhirnya dia bisa bernafas sedikit lega karena tak ada apapun di sana. Berawal dari kecurigaan Bi Inah yang berujung ketakutan sehingga dia selalu berfikiran yang tidak-tidak.
"Mobilnya udah enggak ada ya Bi hari ini?" tanya Alin menutup pagar.
"Iya enggak ada Neng.. Tiap lihat itu mobil Bibi jadi takut. Mungkin cuman perasaan Bibi aja kali ya?"
"Udah Bi enggak usah takut, Ada Alin yang sabuk hitam taekwondo," ucap Alin sombong.
"Jangan lupa Neng Alin lagi hamil," celetuk Bi Inah.
Alin tertawa menanggapi celetukan Bi Inah"Kira-kira anak Alin laki-laki apa perempuan ya Bi? mengelus perutnya perlahan.
"Kan Neng Alin sering USG, Bibi bukan dukun beranak enggak bisa prediksi,"
"Biasanya kalau ibunya galak anaknya laki-laki," ledek Bi Inah.
"Tuh kan!" kemudian Alin pergi meninggalkan Bi Inah.
"Mas.. Boleh enggak Della sama yang lain main ke rumah? Alin bosen banget," rengek Alin di telpon.
"Iya boleh asalkan mereka yang ke rumah,"
"Makasih ya Mas.. Alin tutup dulu," suara Alin berubah menjadi bersemangat.
"Eh sebentar sayang ada yang kamu lupain," ucap Keenan kemudian.
Alin berpikir sejenak. "Apa?"
"Kamu lupa password,"
"Astaga Mas.. Kaya ABG labil tahu gak?" Alin tertawa.
"Gak boleh tutup kalau belum sebut password,"
"Iya Mas ku sayang... Alin tutup dulu ya, love you muacchh!" Alin jadi geli sendiri, permintaan Keenan semakin aneh dan kenakan akhir-akhir ini. Dan Keenan selalu berasalan itu bawaan bayi.
"Yuhu! Alin... " panggil Della di depan pagar rumah Alin.
"Kok cepet banget udah pada nyampe aja?" Alin segera membuka pagar.
"Lupa ya kalau mereka itu di jalanan udah kaya valentino rossi sama marc marquez, gak ada yang mau ngalah serasa lagi nge prank malaikat maut di bonceng mereka tuh" kesal Della.
"Yaudah yuk masuk.. motornya di masukin gratis parkir kok,"
Merekapun akhirnya masuk.
"Sorry ya kita kesini gak bawa apa-apa," Della menyerahkan sebuah bungkusan yang berisi makanan kesukaan Alin.
"Iya kita ke sini mau numpang makan sebenarnya," canda Reno.
"Wah.. Makasih banget ya.. Tapi gue gak di minta patungan kan kali ini?" selidik Alin penuh curiga.
"Haha trauma ya lo?" Rizal mengingatkan pada masa putih abu di mana Alin dirawat di Rumah Sakit dan mereka menjenguk membawa buah-buahan namun, ketika mereka pulang Alin di minta patungan untuk buah yang di bawanya.
"Masih inget aja lo," Reno tertawa terbahak-bahak.
"Mana mungkin gue lupa.. Justru hal itu yang membuat gue selalu kangen sama kalian," ucap Alin sendu.
Reno memasang wajah sedih. "Oh so sweet... Gue jadi laper,"
Farrel menyikut perut Reno. "Gak tahu malu dasar,"
"Tenaga aja No gue udah siapin beling buat elo, dan rumput buat lo Zal," Alin mengajak mereka menuju ke ruang makan.
"Emangnya gue kuda lumping," cibir Reno.
Setelah beberapa bulan tak bertemu akhirnya mereka bisa temu kangen sambil melempar ledekan satu sama lain. Tidak ada yang berubah dari mereka dan itu yang membuat Alin merasa beruntung mempunyai sahabat seperti mereka walau terkadang kelakuannya di luar nalar manusia normal.
-
-
-
Jangan lupa like dan komen ya....