My Little Bride

My Little Bride
Belanja Perlengkapan Bayi



Hari ini mama Vero mengajak Alin dan Keenan membeli perlengkapan bayi. Merekapun pergi ke salah satu Mall terbesar di Ibukota tak ketinggalan Papa Wira ikut serta menemani. Alin sebenarnya sudah mengajak Nenek Ida untuk ikut tapi karena asam uratnya sedang kambuh jadi Nenek tidak bisa ikut.


Sampailah mereka di sebuah toko perlengkapan ibu dan bayi yang paling lengkap di Mall itu. Alin menatap kagum isi toko dia begitu antusias melihat barang-barang lucu dan menggemaskan.


Karena Alin bingung ia pun bertanya pada Mama Vero barang-barang apa saja yang paling di perlukan untuk bayi ketika baru lahir.


Dengan senang hati Mama Vero menjelaskan panjang lebar. Bahkan hubungan mereka kini sudah terlihat seperti ibu dan anak bukan lagi mertua dan menantu.


Alin dan Mama Vero berkeliling memutari toko sambil mengambil barang-barang yang di anggap lucu. Sedangkan Keenan dan Papa Wira hanya mengikuti dari belakang sudah mirip seperti bodyguard mereka berdua.


Tersadar sedari tadi Keenan hanya diam karena di acuhkan, Alin segera menggandeng lengan suaminya. "Ayo Mas! kita cari bareng," Alin tersenyum memasang wajah seimut mungkin agar Keenan tak kesal lagi padanya.


Keenan hanya menurut mengikuti kemanapun istrinya itu menggandengnya. Memang wanita jika sudah berbelanja akan lupa segalanya termasuk pada suaminya sendiri.


Langkah Alin terhenti di sebuah deretan kaos kaki mungil. Tangannya menyentuh sebuah kaos kaki yang menarik perhatiannya. "Lucu ya Mas?" Alin mengangkat kaos kaki tersebut dari tempatnya.


Keenan mendengus hampir seluruh isi toko lucu menurut Alin. "Sayang dari ujung sana, sampai ujung sini kamu bilang semua lucu," ucap Keenan dengan penekanan.


Alin terkekeh ia tahu kalau Keenan masih kesal padanya. "Kan memang lucu Mas... Bayangin deh nanti bayi kita pakai kaos kaki ini,"


Seketika Keenan membayangkan dirinya sedang menimang bayi yang sedang menangis kemudian menjemurnya setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, "Mas jadi nggak sabar nunggu baby K lahir,"


Alin sedikit lama mencerna perkataan Keenan "Ha.. baby K?"


Keenan tersenyum tersadar dari Lamunannya. "Inisial nama anak kita," Keenan mencubit gemas hidung Alin.


"Mas sudah siapkan nama? siapa namanya?" Tanya Alin begitu penasaran.


"Nanti juga tahu," Keenan tersenyum menggoda.


Sudah hampir empat jam Mama Vero dan Alin berbelanja, lebih tepatnya memindahkan isi toko kedalam rumah. Bahkan mereka sampai menyewa sebuah mobil box untuk membawa barang belanjaannya.


Setelah lelah belanja mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu dan lagi Alin yang sudah mengeluh lapar sejak tadi.


"Nanti kalau lahiran di rumah Mama dulu ya Ken.. Kasihan Alin kalau urus bayi sendirian," ucap Mama Vero di tengah obrolan keluarga tersebut.


Keenan tersenyum ternyata bukan hanya dia dan Alin yang bersemangat menyambut kelahiran baby K mamanya tak kalah bersemangat. "Iya Ma.. tapi kan masih lama tiga bulanan lagi kan sayang kata dokter? Keenan melempar pandangannya pada Alin.


Alin hanya menjawab dengan anggukan tangan dan mulutnya masih sibuk pada eskrim yang sedang di nikmati nya.


"Tetap saja kamu harus siaga Ken mulai dari sekarang, sering-sering kamu tanya keadaannya luangkan banyak waktu buat istrimu jangan terlalu sibuk pada pekerjaan," Nasehat Mama Vero.


"Keenan juga maunya seperti itu Ma.. Tapi Pak presdir selalu memberikan banyak pekerjaan," Keenan melirik Pak Wira yang tengah menyesap kopinya.


Uhuk... uhuk...


Pak Wira terbatuk pintar sekali putranya itu mengadu pikirnya. "Justru dia harus bekerja keras untuk biaya persalinannya nanti," Pak Wira membela diri.


Keenan tersenyum puas melihat raut muka Papanya. Saat ini adalah momen yang sangat Keenan rindukan. Rasanya sudah lama sekali kelurganya tidak bercanda tawa seperti ini. Dahulu sebelum ia menikah Papanya selalu sibuk bekerja, Mamanya sibuk mengurus usaha sampai arisan, juga dirinya sibuk bekerja dan juga sibuk menghabiskan waktu bersama Laura.


Tapi semenjak Keenan menikah keluarga nya mulai sering berkomunikasi walau pada awalnya pertemuan terjadi karena adanya konflik bahkan hanya untuk berdebat dan berselisih paham. Tapi semenjak kehamilan Alin semuanya berubah, calon bayi itu benar-benar membawa berkah untuk keluarganya.


***


Begitu sampai rumah Alin baru menyadari seberapa banyak tadi ia dan Mama Vero berbelanja. "Mas ini kita mau buka baby shop ya? Alin tercengang melihat belanjaannya sendiri yang hampir memenuhi kamar yang telah di siapkan untuk bayi nya.


Keenan menatap gemas ke arah Alin. " Dari tadi kemana saja?"Kemudian ia mengacak rambut Alin.


Tidak mau ambil pusing dengan barang belanjaan yang sudah terlanjur di beli Alin memutuskan untuk mandi dan berendam di air hangat untuk merilekskan tubuhnya yang pegal akibat terlalu lama berjalan.


Setengah jam kemudian Alin keluar dari kamar mandi. Tubuhnya terasa lebih segar setelah berendam air hangat di temani wangi lilin aroma terapi. Alin mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar namun tak menemukan sosok Keenan di sana. "Kemana dia?" gumam Alin kemudian dia mendengar sayup-sayup suara Keenan dari arah balkon. Alin pun mengikuti sumber suara.


Ternyata Keenan sedang menelpon. "Besok kita temui lagi gadis itu, jangan biarkan dia lolos" ucap Keenan pada seseorang di sebrang telpon.


Alin menajamkan telinganya dengan sengaja ia menguping pembicaraan Keenan. Alin tercengang ketika mendengar Keenan menyebutkan seorang gadis.


Keenan menyadari keberadaan Alin dengan raut wajah yang cemberut "Nanti gue telpon lagi," Ia segera mengakhiri panggilannya. "Sayang," panggilnya kemudian menghampiri Alin yang sedang bersandar di pintu sambil melipat kedua tangan di depan dada.


"Cari gadis yang mana lagi Mas?" tanya Alin dengan nada sindiran.


Keenan segera memeluk Alin yang sedang cemburu itu. "Jangan salah paham dulu.. Mas cuma lagi cari peretas website hotel dan kata Randy dia seorang gadis SMA,"


Akhir-akhir ini Alin memang sensitif dan cemburuan. "Bener?" tanya Alin penuh selidik.


"Iya tentu saja."


***


Mobil Keenan telah terparkir di depan salah satu SMA elite di Ibukota. Keenan dan Randy terlihat memantau kondisi sekitar sekolah. "Beneran sekolah di sini tuh anak?" tanya Keenan pada Randy yang duduk di sebelahnya.


"Tentu saja," jawab Randy yakin. Tak berselang lama gerbang sekolah terbuka dan para siswa berhamburan keluar. Keenan dan Randy memperhatikan Satu-persatu wajah siswi yang melintas di depan mobil mereka. "Gila! udah kaya pedofil ngincar mangsa ini kita," Randy bergumam dengan santainya.


"Itu anaknya," ucap Randy menunjuk seorang siswi yang berjalan sendirian. Dengan segera ia turun kemudian menarik paksa gadis itu masuk kedalam mobil.


-


-


-


Jangan lupa Like dan komen....