My Little Bride

My Little Bride
Kencan Kedua



Satu Jam sudah Alin menunggu suaminya datang menjemput bahkan teman-temannya sudah pulang sedari tadi. Terkadang ia masih tak percaya dengan kehidupan yang di jalaninnya saat ini. Ada kalanya ia bersedih tapi setelah itu ada kebahagiaan yang tak pernah terduga.


Keenan yang dulu galak, ketus, dan dingin terhadapnya kini malah bersikap lembut, hangat dan pengertian andai saja ia menyerah lebih awal pasti Alin tak akan merasakan kebahagiaan seperti saat ini, anggap saja ini buah dari kesabarannya, meskipun kehidupan selanjutnya pun pasti tidak selalu berjalan mulus.


Dari kejauhan terlihat mobil Keenan memasuki area kampus. "Maaf mas telat," Keenan turun dari mobil menghampiri Alin yang sedang duduk di depan pos satpam.


"Enggak apa-apa kok, mas pasti lagi sibuk ya? Alin kan bisa pulang di jemput mang Didi aja,"


"Mas mau tiap hari antar jemput kamu, kalau emang bener-bener gak bisa baru minta mang Didi yang jemput," Keenan membuka pintu mobil untuk Alin "Kita makan siang dulu ya,"


"Iya," jawab Alin singkat.


***


Alin melirik jam tangan di pergelangan tangannya. "Mas gak ke kantor lagi?"


"Enggak, Kerjaan mas udah beres semua sengaja di kerjain cepat biar bisa pulang lebih awal, " Sebenarnya Keenan sudah tidak mood bekerja semenjak kedatangan Julia tadi.


Alin tersenyum meledek, "Iya deh boss mah bebas,"


Keenan mengacak rambut Alin, "Gak gitu juga. kadang boss malah paling bekerja keras, oh iya abis ini mau kemana?"


Alin terkekeh "Terserah Alin ikut aja, asal jangan bawa ke jurang,"


"Ngapain bawa ke jurang, mending bawa ke kamar ya kan?" Keenan mengedipkan sebelah matanya.


Seketika pipinya merona. "Ih apaan sih mas," Alin tertunduk malu.


Akhirnya mereka memutuskan untuk nonton tapi kali ini mereka sepakat Keenan yang memilih film mengulang Kencan yang kemarin sempat gagal.


Sampai lah mereka di gedung bioskop Keenan sengaja memilih bangku pojok paling belakang. Film pun di mulai, Keenan sengaja memilih Film romantis tak berselang lama muncul adegan yang membuat Keenan mulai kehilangan fokus beberapa kali ia melirik Alin yang tampak serius menonton sambil makan popcorn.


Perlahan Keenan mengelus tangan Alin dengan lembut, Alin menoleh. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Keenan langsung mencium bibir Alin. Ia menarik wanita itu dalam pelukannya. Ciuman yang terasa hangat di dalam dinginnya studio. Ciuman yang tidak sekedar ciuman Keenan mengambil kesempatan memijat dada Alin di balik kemeja yang di membungkus tubuhnya.


"Langsung pulang? gak makan dulu? " Tanya Keenan saat film sudah selesai.


"Iya pulang aja mas, makan di rumah,"


Mereka pun berjalan keluar dari studio. "Tunggu di sini sebentar, jangan ke mana-mana?" Keenan terlihat terburu-buru menuju ke suatu tempat.


Alin di buat penasaran "Mau kemana?" Alin bertanya setengah teriak tapi laki-laki itu tidak menjawabnya dan mempercepat langkahnya.


15 menit kemudian Keenan datang membawa sebuah boneka sapi berukuran jumbo. Mata Alin berkaca-kaca saat Keenan memberikan boneka itu untuknya bahkan ukuran boneka itu melebihi ukuran tubuhnya. "Makasih ya mas," Alin memeluk gemas boneka tersebut.


***


Alin merebahkan tubuhnya di atas kasur bersamaan dengan boneka yang di bawanya. Ia memejamkan matanya memeluk boneka tersebut. Ini pertama kalinya ia mendapatkan sebuah hadiah selain dari ayah dan neneknya. "Ternyata begini rasanya jatuh cinta, dan di cintai," Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan.


"Ada apa mas?" tanya Alin membuka matanya dan melihat Keenan masuk kedalam kamarnya.


Keenan ikut merebahkan badannya si samping Alin "Apa gak sebaiknya pindah kamar aja?"


Alin membuang muka "Dulu aja gak mau satu kamar, " ketus Alin.


Alin menirukan gaya bahasa Keenan saat itu. "Ingat ya! Jangan masuk kamar tanpa seijin saya," Alin ingat betul Keenan yang galak dan selalu menjaga jarak darinya saat awal mereka tinggal satu atap.


Ternyata benar kata orang-orang wanita itu mahluk yang paling jago mengingat. Mungkin Alin sudah memaafkan perbuatan Keenan di masa lalu tapi tidak untuk melupakannya.


"Masih mau bahas yang dulu-dulu?" tangan Keenan menggelitik pinggang Alin.


Alin tertawa terbahak-bahak badannya menggelinjang menahan geli karena Keenan menggelitik nya tanpa ampun.


Alin mencoba menangkis tangan Keenan tapi tenaganya tak cukup kuat untuk melawan tangan kekar suaminya. "Aduh.. Ampun mas Alin nyerah,"


Keenan menghentikan tangannya saat Alin sudah beberapa kali minta ampun. "Yaudah ayo!" Keenan bangkit mengulurkan tangannya.


Alin menerima uluran tangan Keenan karena masih lemas setelah menghabiskan tenaganya untuk melawan Keenan tadi. "Sekarang? Yaudah Alin beres-beres dulu" melangkahkan kakinya menuju barang-barang yang hendak di bereskan.


Keenan menahan tangannya "Biar bibi aja yang beres-beres," Kemudian Keenan menggendong Alin ala bridal style.


"Mas turunin, malu nanti kelihatan sama bibi," Alin memukul-mukul dada Keenan.


Keenan tak menghiraukan perkataan Alin. "Biarin aja," Kemudian Alin membenamkan wajahnya di dada Keenan, Alin merasa nyaman saat bersandar di sana ia dapat dengan jelas mendengar setiap detak jantung Keenan.


Mata Alin tertuju pada sebuah bingkai yang terpajang di dinding kamar Keenan "Sejak kapan mas pajang foto itu?" Alin menunjuk bingkai foto pernikahannya dengan Keenan walau di foto itu wajah Keenan terlihat datar tanpa ekspresi sedangkan Alin tersenyum manis ke arah kamera. Seingatnya terakhir dia masuk kamar itu Keenan masih memajang foto prewedding nya bersama Laura.


"Udah lama, Kamu aja yang gak peka" jawab Keenan singkat kemudian membaringkan Alin di atas kasur. "Gimana suka?" ia balik bertanya.


Alin mengangguk."Suka mas," bahkan ia saja tidak ingat untuk memajang foto pernikahan di kamarnya.


"Mas juga suka,"ucapnya meneliti setiap detail tubuh Alin.


Alin menjadi salah tingkah padahal bukan kali pertama Keenan menatap tubuhnya dengan tatapan penuh damba. " Alin mau mandi dulu," Ia beringsut namun dengan cepat Keenan menindihnya.


"Nanti aja kita mandi bareng," bisik Keenan di telinga Alin. Serasa sengatan listrik tubuh Alin merasakan panas saat Keenan mulai mengecup bibirnya dengan lembut. Ciuman-ciuman kecil yang lembut berubah menjadi ciuman panas yang menuntut.


Alin mengalungkan tangannya di leher Keenan. Dengan mata setengah terpejam karena hanyut akan kecupan suaminya ia mencengkram rambut Keenan.


Tangan Keenan perlahan membuka satu persatu kancing kemeja yang di kenakan Alin. Tiap hembusan nafas Keenan terasa hangat menghembus dari puncak dada kemudian turun mendarat di perutnya. begitu lembut dan ringan membuat Alin gelisah.


Mereka hanyut dalam nikmatnya bercinta, bertukar peluh, dan memulai malam yang panjang.



.


.


.


.


jangan lupa like dan komen nya ya...