My Little Bride

My Little Bride
1



Sabtu ini aku tidak ada kuliah,jadi sekarang yang aku lakukan dirumah hanya nonton tv saja. Momyku sedang sibuk di dapur memasak. Aku heran juga kenapa Momy sibuk Sekali. Biasanya juga Momy Tidak pernak masak sebanyak ini.


"Mom,sibuk banget ya masaknya?" Aku bertanya ke Momy sambil tetap nonton tv. Gak sopan sih sambil teriak nanya ke Momy.


"Lumayan sayang,dari pada teriak-teriak mending kamu bantu Momy aja yuk"


Waduh,nyesel banget dah teriak nanya Momy tadi yang ada malah disuruh bantuin. Aku kan gak senang banget berada di dapur. Padahal Momy udah sering banget nyuruh aku belajar masak biar jadi istri yang baik kelak. Yaelah si Momy nih,ngapain juga ya nyuruh aku belajar jadi istri yang baik segala,umur aku aja baru 20 tahun.Dan aku Masih lama kali aku baru nikah. Kepikiran aja belum,ya masih ada waktu buat belajar kelak tapi gak sekarang.


Biarpun malas ke dapur,tetap aja aku beranjak dari depan tv menuju ke dapur,karena kalau dah Momy ngomong seperti itu,dia pasti gak mau dibantah.


"Masak kok banyak banget Mom?mau ada acara apa sih?"


"Sahabat mama waktu kecil mau datang sama anaknya"


"Ohhhh"


"Eh jangan ohhh aja,cepat potong wortelnya. Oh ya Ntar malam jangan kemana-mana ya,Momy mau kamu ketemu teman mama dan anaknya"


"Ishhhh,sih Momy ngapain sih aku harus ketemu,aku kan mau jalan mom. Ini kan Malam minggu Mom" aku protes ke Momy


"Udah jangan manyun bibirnya,jelek tau. Lagian kamu mau Momy bilangan ke Papi mua biar papa cabut semua fasilitas kamu karena kamu ngelawan dan gak mau nurut sama Momya ?"


"Momy kok sadis benar sih ancamannya. Iya deh,Melan gak akan kemana-mana ntar malam" aku hanya bisa nuruti kata Momy,mana mungkin aku bisa berpisah dari iphone,mobil dan kartu-kartu plastik yang membuat perasaanku bahagia. Dunia emang kejam bung.


##


Malam harinya


"Mel...,cepat turun ke bawah"


Melan yang mendengar suara Momy nya itu langsung keluar kamar dengan malas. Dia gak suka kalau harus disuruh ikut kumpul bareng teman Momynya. Maklumlah kalau emak-emak kalau dah ngumpul bikin pusing banget,berisik menurut Melan.


"Aduh anak Momy sayang jangan manyun dong bibirnya,Momy gak suka kan jadi jelek mukanya. Coba aja tanya Papi,Papi pasti bilang jelek juga tuh"


Melan yang dibilang seperti itu langsung melihat papinya yang sedang duduk dan papinya itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Ih kesel banget gak tuh,gak ada yang bela dia.


"Lagian kamu jangan manyun aja kenapa sih ,sekali -kali malam minggu gak keluar rumah kan gak apa-apa"


"Iya Mom..." malas banget mau berdebat dengan Momy ,pasti Momy dan kecerewetannya yang menang.


Ting...tong


Momy membuka pintu setelah dia mendengar suara bel di pintu. Kok kayak nya Momy semangat banget mau ketemu temannya ini. Siapa sih teman Momy ini,Melan jadi penasaran.


Tak lama,tampaklah seorang wanita yang kelihatan lebih tua dari Momy dan anaknya.


"Pi,ini mbak Dinar udah datang dengan anaknya" Momy tampak menggandeng ibu itu sambil memberitahu papi. Dan Papi juga kelihatan kenal baik dengan ibu itu,tampak dari sikap papi yang langsung tersenyum dan menyalami ibu itu sambil bertanya kabar suami ibu itu.


Momy melihat aku cuma diam langsung menarik tanganku untuk mendekati ibu itu dan anaknya.


"Mel,beri salam sama tante Dinar" aku pun langsung menyalaminya. Dia tersenyum melihatku dan aku suka senyumnya,manis banget.


Setelah itu kami semua duduk di ruang keluarga. Momy,papi dan tante Dinar mulai ngobrol santai dan akrab bahkan sampai lupa kayaknya kalau ada aku dan.si pria tua ini yang terus menatapku penuh arti. Emang sih wajahnya tampan,manis,dan mempunyai tubuh idela banget untuk seorang cowok. Gak tua sih sebenarnya apalagi kalau dilihat dari wajahnya tapi tetap aja aku anggap tua secara umur.


"Loh kok diam aja Melan,Andranya diajak ngobrol kan Andra itu calon suami kamu"


Deg...


Apa kata Momy,calon suami. Wah udah gak benar ini pasti ada yang salah. Kenal aja baru malam ini masa udah jadi calon suami sih kan gak banget tuh.


"Maksud Momy apaan sih"


"Gini loh Melan sayang,Momy dan tante Dinar sepakat untuk menjodohkan kamu dengan Andra. Andra kan udah mapan dan dewasa pasti bisa membimbing kamu"


Membimbing,emangnya mau ujian pakai bimbingan segala. Momy nih apa sih maksudnya,pokoknya aku harus menolak.


"Melan gak mau Mom"


"Gak bisa Melan ,kamu harus nurut sama Momy sayang . Karna Kami udah sepakat. Kalau gak nurut,semua fasilitas kamu ditarik papi biar kamu bisa belajar nurut sama orang tua"


Air mataku udah mulai berjatuhan. Momy kalau ngancam keterlaluan banget sih. Tapi aku gak perduli sekarang,urusan fasilitas belakangan yang penting sekarang urusan hidup.


"Aku gak perduli Mom. Aku gak mau dijodohkan sama lelaki tua ini. Ini bukan jaman Siti Nurbaya mom dan Aku juga bukan siti nurbaya ma"


"Yang bilang kamu siti nurbaya siapa. Kamu kan anak Momy. Ya udah,pokoknya kamu tetap dijodohkan sama Andra. Dan Minggu depan kalian tunangan dulu"


Melan hanya bisa diam tak bisa berkata apa-apa. Tapi dia akan tetap berusaha mengagalkan perjodohan ini. Melan memalingkan wajahnya ke arah Andra,tampak ada senyum penuh arti disana dan jujur aja Melan takut senyum seperti itu. Tante Dinar juga tenang aja waktu aku menolak perjodohan ini. Ada apa sih ini semua. Melan harus cari tau.


Aku pulang kerja lebih awal hari ini,karena Momyku yang mengajak aku untuk menemaninya ke rumah tante Rina dan om hars. Aku yang sangat menyanyangi Momyku tentu saja langsung aku setuju untuk menemaninya. Berhubung Dadyk sedang keluar negeri jadi aku yang harus menjaga Momyku selama beliau tidak ada. Walaupun kerjaan di kantor sedang menggunung tapi Momy tetap harus nomor satu. Aku bangga dengan Momyku ini ,beliau wanita mandiri tapi karena sikap papi yang over posesif jadilah Momy seperti orang manja yang kemana-mana harus dikawal. Tapi Momy tak pernah mengeluhkan akan semua itu. Aku berharap suatu hari nanti dapat mempunyai istri yang seperti mama. Jadi ibu rumah tangga yang baik dan nurut sama suami. Tapi sepertinya semua itu harus aku tunda dulu karena aku belum menemukan yang tepat. Di usiaku yang sudah 30 tahun ini,aku belum menentukan pilihan. Jujur,banyak wanita yang mendekatiku tapi aku belum merasa mereka cocok denganku. Karena itu Momyku jadi bawel akhir-akhir ini sama aku. Momy bilang akan menjodohkan aku dengan anak sahabatnya. Awalnya aku menolak,jelas aja aku gak mau. Nampak banget sih aku gak laku kalau sampai harus dijodohkan tapi aku tak mau melawan ibuku. Jadi aku terima saja perjodohan ini. Mungkin seiring berjalannya waktu,aku bisa mencintainya dan kami bisa hidup bahagia.


Pertama kali kulihat wajahnya,aku langsung menyukainya. Dia cantik,imut,menggemaskan dan matanya yang bulat itu telah membuat aku tersipu. Ya ampun,aku sudah dewasa,umurku sudah 30 tapi kenapa aku seperti anak abg yang sedang kasmaran. Bahkan Aku gugup waktu menyambut uluran tangannya ketika dia mau memberi salam padaku. Bodohnya,sikapku ini hanya bisa membuatku memandangnya saja.


Tapi semua itu tiba-tiba buyar ketika dia dengan sedikit berteriak bilang tidak mau dijodohkan sama aku yang menurut pandangan dia kalau aku ini lelaki tua.


What,lelaki tua,seburuk itukah aku dimatanya. Bahkan dia sampai bilang kalau dia bukan siti nurbaya,dan jangan-jangan dia menganggap aku datuk maringgih. Oh tidak,aku tak setua itu. Awas saja gadis kecil,aku akan membuat kau menjadi milikku selamanya dan tak akan kulepas. Aku tersenyum mendengar kemantapan hatiku sendiri.


Aku lihat wajahnya,dia menyiratkan aura permusuhan padaku dan aku balas dengan senyum devilku. Aku tau senyum ini akan menjadi senjata ampuh terlihat dari tatapannya yang tidak setajam tadi dan dia mulai menunduk.


"Ehmmm,tante..."aku menyela perdebatan gadis kecilku dengan Momynya.


"Ada apa nak And" kata tante Rina


"Bole Andra bicara berdua dengan Melan anak tante,Andra ingin lebih mengenal calon istri Andra ini dan Andra setuju kalau minggu depan tunangan"


"Tentu saja nak,di taman belakang saja ngobrolnya"


Aku melirik ke arah gadis kecil,tampak sekali dia tidak terima dengan permintaanku. Dia memanyunkan bibirnya dan menghentakkan kakinya tapi dia tak bisa melawan karena sekarang papinya ikut bicara dan menyuruh dia mengajak aku ketaman belakang.


##