My Husband Lecturer

My Husband Lecturer
Bab 97 . Junior



...Jangan Lupa Like Dan Comment Yaa...


...Happy Reading...


..........❣..........


.......


Cklek


Rafa membuka ruang rawat sang istri , melangkah masuk .


Mendengar suara pintu dibuka, Nesya menoleh ke arah pintu .


" Mas Rafa, kirapin siapa ." Nesya berkata dalam hati .


Melihat sang istri yang sedang menonton televisi .


Rafa menghampirinya .


Ia duduk di kursi yang berada di samping ranjang .


" Yang ." panggilnya .


" Heem ."


" Kenapa Mas ? ." jawab Nesya tanpa menoleh, ia asik memandang layar televisi di depan sana .


" Gpp ."


"Cuma pengen manggil istri aja ." ntah apa maksud Rafa, ngak penting banget emang cuma manggil doang .


" Yaudah panggil aja terus ."


" Sayang sayang. "


" Jangan ngambek dong ."


" Mau apa biar ngak ngambek ? ."


" Mas turutin deh ." rayu Rafa . ia menggunakan sifat buaya rawa, yang merupakan sifat sahabat buayanya yang tak lain dan tak bukan adalah Kevin .


" Yaudah kalau gitu ."


" Beliin donat keju ."


" Thai tea ."


" Batagor juga ."


" Udah itu aja ." Nesya memberitahukan pesanannya . ngak banyak kok .


" Oiya mie ayam jangan lupa ." Nesya mengingatkan .


" Banyak banget yang ."


" Sanggup ngabisinnya ? ."


" Trus memang boleh kamu makan makanan dari luar sana dokter , udah tanya ? ." tanya Rafa . karena kan biasanya pasien dipersiapkan makanan khusus dari rumah sakit .


Ntah itu harus makanan yang teksturnya lembut, tanpa garam, atau tanpa gula .


" Ya ya belum ."


" Mas tanyain ke dokternya sekarang ."


" Kan katanya mau turutin apa yang aku mau "


" Mana tau kan ini yang namanya nyidam ."


" Kalau nanti anak Mas ileran gimana ? ."


" Mau ? ." tanya Nesya balik .


" Yaudah iya ."


" Mas tanyain ke dokternya dulu sebentar ." Jawab Rafa yang kemudian beranjak dari duduknya dan melangkah keluar ruangan menuju ruang dokter yang menangani sang istri .


" Untung sayang ." gerutu Rafa sembari melangkahkan kakinya .


πŸ’šπŸ’šπŸ’š


Cklek


Rafa kembali membuka pintu ruangan Nesya setelah sebelumnya ia menemui dokter untuk menanyakan tentang apakah boleh sang istri memakan makanan dari luar .


Tak lupa iya juga memberitahukan kepada dokter makanan yang diminta sang istri, takutnya tidak diperbolehkan oleh dokter dan berakibat tidak baik .


" Kata dokter boleh yang ."


" Aku keluar dulu ya beliin pesanan kamu "


" Bentar lagi Mama, Papa sama Fisya kesini ." beritahu Rafa .


" Iya Mas ."


" Mami sama Papi juga katanya mau kesini, bang Rui juga ." Nesya memberitahukan kepada sang suami .


" Yaudah kalau gitu ."


" Mas keluar dulu." pamit Rafa .


" Hati - hati ."


" Iya sayang." Rafa pun keluar ruang rawat Nesya untuk membeli makanan- makanan request sang istri tercinta .


πŸ’šπŸ’šπŸ’š


Rafa keluar dari mobil sembari membawa beberapa plastik berisi pesanan dang istri .


Melangkah menuju lift dan masuk kesana .


Ting


Lift sampai di lantai tempat Nesya dirawat .


Ia membuka pintu kamar .


" Assalamualaikum ." salamnya .


Di ruangan itu sudah berkumpul beberapa orang, termasuk orang tua keduanya dan Abang sang istri beserta Fisya sang adik .


Tak lupa ada bestie Nesya , yaitu Zura dan Vina yang sedang asik mengobrol dengan pasien yang sepertinya sudah terlihat baik .


" Kamu darimana Bang ? ." tanya Mama kepada putranya yang baru saja memasuki ruangan dengan beberapa kantung plastik ditangannya .


" Dari beli pesanan menantu Mama ."


"Nih ." Rafa menjunjung tinggi beberapa plastik ditangannya .


" Nak Mami yang cerewet itu pesan apa Raf ? ." tanya Mami .


" Mie ayam, donat, thai tea, batagor ." jawab Rafa menyebutkan pesanan sang istri ."


" Emang udah boleh makan makanan dari luar ? ." giliran Rui yang bertanya .


" Udah Bang ."


" Tadi udah tanya ke dokternya ."


" Tapi harus beli ditempat yang higienis ." beritahu Rafa .


" Oooo ." suara serempak dari beberapa orang disana .


Sudah seperti sedang paduan suara .


" Rafa beli banyak ini ."


" Yuk makan bareng - bareng ." tawar Rafa kepada semuanya . ia sengaja membeli banyak karena ia tahu bahwa ada beberapa orang yang akan menjenguk sang istri .


Dan mereka pun makan bersama sama, ruang inap rasa tempat camping keluarga .


Detik demi detik berlalu, melangkah menuju menit dan kemudian jam pun berlalu dengan cepat.


Ruang rawat Nesya juga sudah kembali sunyi, hanya dirinya dan sang suami .


Rafa yang sibuk memandangi laptop di hadapannya, ia harus menghandle pekerjaan kantor beserta kampus selagi ia tidak bisa hadir disana .


Saat ini pun Rafa sedang mengajar melalui aplikasi ZxxM .


" Baik, ada yang ingin ditanyakan ? ."


" Soalnya yang saya lihat seperti ruang inap dirumah sakit XXX ." tanya salah satu mahasiswi kepada Rafa .


" Bukan saya yang sakit ."


" Tapi istri saya ." jawab Rafa dengan perkataan formal .


" Semoga istrinya cepat sembuh ya Pak ." ucap beberapa mahasiswa yang wajahnya terpampang nyata di layar laptop Rafa .


" Iya, aamiin ."


" Makasih doanya ." ucap Rafa membalas mahasiswanya .


" Sakit apa kalau boleh tau Pak ? ."


" Kami boleh jenguk ngak Pak ? ." tanya seorang cewek yang kemungkinan besar ia penasaran seperti apa seorang istri dosennya itu .


" Sakit bawaan debay ."


" Istri saya orangnya tertutup ."


" Tidak terlalu suka keramaian ."


" Apalagi dalam kondisi saat ini yang diharuskan untuk istirahat penuh ." jawab Rafa menolak secara halus .


" Baik Pak ." jawab beberapa orang kompak .


Kenapa ya mahasiswa selalu dengan refleks menjawab " Iya Pak ." Baik Pak ." Terimakasih Pak ."


Seperti tidak ada kosakata lain, namun itulah fakta yang terjadi di lapangan, paham banget Author tu .


Tak lama kelas pun selesai . Rafa melanjutkan pekerjaan nya sebagai CEO .


Mengecek beberapa berkas yang sudah dikirimkan sekretarisnya ke rumah sakit sembari mengamati saham di layar laptopnya .


Kerjanya double, capeknya sudah pasti double .


Tapi itu bukan masalah untuk Rafa, demi anak istri ia rela .


Beberapa jam beralu, Rafa baru saja mematikan laptop di hadapannya .


Ia melihat ke arah ranjang, terlihat disana sang istri tertidur lelap .


Sepertinya Nesya sedang tidur siang .


Rafa mengambil remote AC yang berada di dekatnya, ia menyesuaikan suhu agar sang istri tidur dengan nyaman .


Menaruh kembali remote tersebut, Rafa kemudian membaringkan tubuhnya berbantal pinggiran sofa .


Matanya mulai terpejam untuk tidur sejenak setelah bekerja . walaupun pekerjaannya masih belum selesai, ia akan melanjutkannya nanti setelah tubuhnya terasa lebih baik .


Tak lama Rafa pun mengarungi alam mimpi .


πŸ’šπŸ’šπŸ’š


" Asalamulaikum ."


" Babang Kevin yang tampan seperti Mark Lee dateng nih ." ucap Kevin sedikit keras setelah membuka pintu rawat inap Nesya dan melangkah masuk .


" Tak ."


" Inget woy ."


" Lo lagi di rumah sakit ."


" Bukan di hutan ."


" Toa lo tolong dikondisikan ." ucap Dimas setelah baru saja menjitak kening Kevin dengan keras .


" Punya sahabat bentukannya gini amat ." Dimas


" Nyampung urat malu dimana ya ." batin Dimas berkata .


" Untung gue lagi sabar ."


" Kalau ngak , udah gue lempar lo keluar jendela ."


" Lumayan tuh lima lantai ." ucap Rafa kesal . ini sahabatnya hobi banget teriak dengan nada tinggi .


Nesya sebagai manusia sabar dan ramah tamah pun menyuruh kedua manusia yang sayangnya bukan manusia jadi jadian untuk duduk .


Dimas meletakkan keranjang berisi buah buahan di meja depan Rafa .


Kemudian tiga sahabat itupun sudah duduk berdekatan . udah cocok banget jadi pengibar bendera, secara tinggi mereka sama, ntah bagaimana bisa sama . mungkin takdir .


" Mahasiswa gue sakit apaan Raf ? ." tanya Kevin membuka suara .


" Sakit bawaan junior gue ." jawab Rafa .


" Hah ...maksud lo junior ini ? ." tanya Dimas menunjuk junior yang berada di antara dua himpitan batu . ngak perlu dijelasin lah ya, readers sekalian pasti tahu .


Ngak perlu bilang kalau polos, pembaca novel pasti paham . paham banget malah .


" Yoi ."


" Gara - gara junior yang menanamkan bibit unggul nya setiap hari ."


" Sekarang bibirnya tumbuh subur ."


" Sekitar delapan bulan lagi gue panen ." jawab Rafa nyeleneh .


Yakali bilangnya panen, Ngadi Ngadi memang .


" Bentar - bentar ." Sela Dimas .


" Junior ." tunjuk Dimas ke junior miliknya sendiri . yang ia beri nama Mex . agak - agak emang, pakai segala diberi nama .


Namun hanya mereka berempat termasuk Keenan yang tahu akan hal itu .


Oiya Keenan saat ini tidak bisa hadir menjenguk istri sahabatnya itu, karena sedang dilur kota .


" Bibit ."


" Panen ."


" Delapan bulan ."


" Loo hamil ? ." tanya Kevin kepada Rafa dengan pelan, ia pelan banget, seperti high note nya Haechan .


" Istri gue yang hamil ."


" Yakali gue ."


" Lo kira gue punya burung sekalian sangkarnya apa ." ucap Rafa kesal, kok jadi kesal gini .


" Lo kira Rafa punya bibit sekalian sawahnya ." ucap Dimas . masih dengan bahasa ngadi - Ngadi mereka . anggap aja bahasa planet Mark, eh Mars .


" Sana lo ke lantai dua ."


" Dokter jiwa masih ada kalau - kalau lo mau upgrade otak ." ucap Dimas . sepertinya ia perlu mendaftarkan Kevin masuk ke RSJ terdekat .


Percakapan ketiganya dengan bahasa planet pun berlanjutx sedangkan Nesya hanya melihat sekilas - sekilas sedari tadi sembari membaca novel online .


Ia tidak mau ambil pusing melihat dan mendengarkan percakapan ketiganya . bikin tambah pusing .


Yang ada bukannya sembuh, malah tambah sakit , iya sakit, sakit jiwa .


..........❣..........


...Jangan Lupa Like, Vote, Dan Comment Yaa...


...See You Next Chapter...


...Bye Byee...


.......


Rengat Barat


Jum'at, 31 Maret 2023


Pukul 23.08 Wib .


.......


...Salam Sayang Dari Namja Chingu...


...Lee Haechan ❀...