My Husband Lecturer

My Husband Lecturer
Bab 59. Faktor Usia



...Jangan Lupa Vote Dan Comment Yaa...


...Happy Reading...


..........❣..........


.......


Nesya memarkirkan mobilnya di parkir pasar , terlihat pasar masih cukup ramai walaupun sudah lumayan siang.


Mami dan anak gadisnya itupun keluar dari mobil dan berjalan memasuki area pasar.


" Mi, beli mie dulu ya, takut kehabisan ."


" Iya iya, baru juga masuk pasar, udah nyari jajan ."


" Yakan tujuannya ikut Mami kepasar buat cari makanan ." jawab Nesya dengan santai nya.


Mereka pun berjalan ketempat penjua mie goreng favorit Nesya. walaupun jualan di dalam pasar, tapi soal rasa tidak diragukan.


" Mbah, tumbas mie ne sak porsi, karo bakwan ne limo yo ." ucap Nesya dengan bahawa jawa, karena rata - rata penjual dipasar ini orang jawa. karena daerah tempat tinggal Nesya mayoritas orang jawa.


" Iyo, di enteni dilut yo ndok ." ucap Mbah penjual mie tersebut.


" Iyo mbah ."


Tak berapa lama pesanan mie Nesya pun selesai dibungkus, Mami lalu membayar pesanan tersebut.


" Matur nuwun yo ndok ."


" Iyo sami mawon mbah ."


" Beli pukisnya sekarang atau nanti ? ." tanya Mami.


" Nanti aja gpp, pukis biasanya sampai siang masih ada kok ."


" Yaudah kalau gitu, temenin Mami beli cumi sama jengkol dulu ."


" Oh iya pete juga ."


Nesya pun mengikuti langkah Mami menuju tempat penjual seafood .


" Bang, beli cumi nya sekilo ." ucap Mami.


" Iya, sebentar ya Bu ."


Disaat Mami sedang berbelanja, Nesya hanya mengikuti dibelakang Mami, ikut seperti anak ayam dan induknya.


πŸ’šπŸ’šπŸ’š


Di ujung penjuru sana Nesya sedang menemani Mami belanja di pasar.


Sedangkan di apartemen Rafa keempat orang sedang duduk di meja makan menikmati makanan yang tadi sudah dipesan oleh Dimas.


" Aishh..." ringis Kevin sembari memijit keningnya yang pusing.


Biasanya ketika habis kobam pastinya ketika pagi kepala terasa pusing, efek alkohol.


Disaat Kevin meringis karena pusing, disaat itu pula ada Keenan yang diam saja sembari memijat kepalanya.


" Battle lagi besok, gue bandarin ." ucap Dimas sarkas.


Mami Dimas sedang mengulti mereka.


Sedangkan Rafa hanya menjadi penonton sembari menikmati sarapannya. ia tidak terlalu pusing, hanya pusing ringan saja, kan ia hanya minum di bawah toleransi alkoholnya.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Rafa segera belanjak dari meja makan. ia menuju kamar.


Clek


Masuk ke kamar dan langsung menyambar tas kantornya beserta handphone dan kunci mobil.


Lalu menghampiri ketiga orang yang masih berada di meja makan.


" Gue duluan ." ucap Rafa pada ketiga orang itu.


" Hm ." Angguk ketiganya bersamaan.


Rafa pun berlalu dan menuju pintu unitnya.


" Raf gue nebeng ."


" Baru inget gue kalau mobil gue masih di club ." ucap Dimas.


" Yaudah buruan ." ucap Rafa yang tangannya sudah memegang handle pintu.


Dimas pun segera beranjak dari meja makan, dengan cepat menuju kamar untuk mengambil kunci mobilnya, padahal kan mobilnya ada di club sekarang, dia meninggalkan mobil tanpa kunci, ya masak iya ninggalin mobil sama kuncinya, itu adalah salah satu cara memudahkan maling beraksi.


Lalu keluar dari kamar dan mengikuti langkah Rafa keluar apartemen untuk ke kantor bersama, padahal kantornya beda, tapikan masih satu arah.


Mereka berdua meninggalkan kedua orang yang masih menikmati sisa kobam semalam di apartemen.


πŸ’šπŸ’šπŸ’š


Nesya yang sedari tadi mengikuti Mami belanja tampak lumayan lelah, maklum la ya, ngikutin Mami belanja itu sama dengan jogging, satu pasar dikelilingi lebih dari dua kali.


Kebiasaan emak - emak emang gitu. iya kan...


" Cumi udah, pete udah, jengkol udah, jajanan kamu juga udah semua dek, ada yang bel kebeli ngak Dek ? ." ucap Mami sembari bertanya.


" Kayaknya udah deh Mi ."


" Emmmm....." Mami tampak berfikir.


" Eh beli kerupuk jengkol dek, mumpung kepasar ."


Mami lalu berjalan menuju penjual kerupuk dengan Nesya yang masih senantiasa mengikutinya sedari tadi .


Mami pun membeli krupuk jengkol dan kerupuk lainnya, biasa la ya, niat beli satu, eh yang lain menggoda, jadinya kan dibeli juga.


" Udah semua Dek, yuk pulang ."


Mami hanya jalan sembari membawa badan serta dompetnya, sedangkan Nesya membawa semua barang belanjaan.


Mereka berjalan menuju parkir, Mami langsung masuk ke mobil, sedangkan Nesya menaruh barang - barang ke bagasi. setelahnya ia pun masuk dan duduk di kursi kemudi.


Dan segera menghidupkan mobilnya kemudian melajukannya ke jalanan untuk pulang kerumah.


πŸ’šπŸ’šπŸ’š


Sesampainya dirumah, Nesya langsung menaiki tangga menuju kamarnya.


Cklek


Nesya masuk ke tempat ternyamannya, yaitu kamar.


Ia langsung melemparkan handphone nya ke ranjang dan merebahkan diri di ranjang itu.


" Ehmm....pegal banget kaki ku ." Nesya mengeluhkan kakinya yang pegal karena tadi digunakan untuk mengikuti Mami berkeliling pasar.


" Ngantuk lagi ."


" Bobok cantik dulu la ."


Namun tiba - tiba ia teringat akan sesuatu, matanya kembali terbuka dengan cepat.


" Bimbingan ."


" Handphone mana handphone ." ucapnya sembari mencari handphone yang tadi ia lempar keatas ranjang.


Setelah menemukan handphone ya, ia segera mengecek, apakah ada pesan atau panggilan dari Rafa.


Namun nyatanya nihil, tidak ada sama sekali pesan maupun panggilan dari Rafa.


" Ni orang ngak liat handphone atau gimana ." ucap Nesya.


" Padahal kan kalau dia liat handphone, pasti lihat panggilan ngak terjawab dari gue ."


" Apa gue telfon lagi aja ."


" Tapi nanti ganggu kalau misalkan dia lagi sibuk ."


" Trus gue harus gimana ? ."


" Kalau ngak bimbingan nanti lama lulus nya dong ."


" Nanti jadi mahasiswa abadi gimana ."


Ini fikiran Nesya sungguh sangat terlalu jauh, sampai ke mahasiswa abadi pula.


" Telfon ."


" Enggak ."


" Telfon ."


" Enggak ."


"Telfon ." akhirnya adalah telfon.


Dan kalian tahu, Nesya menghitung antara telfon dan tidak menggunakan jari tangan kanannya.


" Yaudah telfon ajalah ya. "


Lalu Nesya mencari kontak Rafa, kemudian memanggilnya.


" Hallo sayang ." ucap Rafa ketika telfon sudah tersambung.


Langsung dugun dugun hati Nesya dipanggil sayang dengan suara deep voice Rafa. lemah emang ini hati.


" Hallo Mas ."


" Iya kenapa Yang ? ." tanya Rafa dari ujung telfon sana.


" Mas lupa ya kalau hari ini bimbingan sama aku ? ." tanya Nesya pada akhirnya.


" Bimbingan ? ."


" Ish kan , dua hari yang lalu aku udah janjian sama Mas tau buat bimbingan ."


Rafa terdiam di ujung sana, berusaha mengingat apakah ia ada janjian bimbingan dengan Nesya.


" Ah iya maaf yang baru ingat ."


" Mas beneran lupa ini kalau kamu ngak ngingetin ." ucap Rafa.


" Kann...trus gimana bimbingan aku ? ."


" Mas pakai acara lupa ."


" Faktor usia atau gimana ."


" Mana ada faktor usia, Masih muda gini dibilang tua ."


" Tadi pagi aku tu udah nelfon Mas mau tanyain soal bimbingan."


" Tapi ngak diangkat ."


" Mas aja baru lihat handphone sayang ."


" Ini aja pegang handphone karena mau pesan makan siang ."


" Maaf ya sayang ."


" Kamu bisa ke kantor Mas ngak ? biar kita bimbingannya dikantor aja ."


" Jadi kan Mas bisa sekalian kerja ."


" Soalnya nanti juga ada meeting , selesai meeting busa langsung bimbingan sama kamu sebentar ."


" Trus ada meeting lagi juga setelah itu ." Rafa.


" Yaudah aku ke kantor Mas aja ."


" Daripada ngak bimbingan ."


" Nanti jadi lama lulus nya ."


" Kamu hati - hati ke sini nya ."


" Iya Mas ."


" Yaudah bentar lagi aku berangkat ."


" Assalamualaikum ."


" Waalaikumsalam ."


Nesya pun beranjak dari ranjang, berjalan menuju meja rias, sedikit memoles wajahnya dengan polesan natural.


Lalu segera berjalan keluar kamar dengan hanya membawa handphone, karena tasnya yang berisi skripsi ia taruh di meja ruang keluarga.


..........❣..........


.......


...Jangan Lupa Like, Vote Dan Comment Yaa...


...See You Next Chapter...


...Bye Byeee...


.......


Rengat Barat


Rabu, 28 Desember 2022


Pukul 20.14 Wib


.......


...Salam Sayang Dari Namja Chingu...


...Lee Haechan ❀...