
"Lepaskan aku brengsek" teriak larissa, larissa sudah ada disebuah bangunan kotor dan kumuh bahkan sangat bau.
Dari siang sampai hari beranjak sore, larissa tidak berhenti terus berteriak minta dilepaskan, tapi teriakan nya tidak dihiraukan sama sekali oleh orang orang yang ada disitu.
"Apa kalian tidak mendengarkan ku brengsek" teriak larissa saat melihat bodyguard max hanya diam saja tidak merspon apapun, mereka masih mempertahankan wajah datar mereka.
"Aku berjanji jika aku menjadi nyonya Stefano aku akan langsung memecatmu" ucap larissa yang tak mau berhenti berteriak dan mengumpat, tapi lagi dan lagi teriakan larissa tak digubris oleh mereka.
Sampai akhirnya, robert datang dengan tatapan membunuh yang kentara, "Berhenti berteriak dan menghayal menjadi nyonya Stefano, kau jelas tau khayalanmu tak akan terwujud," ucap robert dingin dan tajam, membuat larissa merinding dibuatnya, tapi larissa mencoba menutupi nya dengan wajah tenang, tapi ternyata robert mengetahui dan menyadarinya.
"Kau takut padaku?" tanya robert pada larissa, larissa menatap robert yang menjulang tinggi di depan nya, "Kenapa aku harus takut padamu,sialan" ucap larissa bersungut sungut karena kesal, "Oh yah benarkah kau tidak takut padaku" robert bicara dengan nada merendahkan pada larissa.
Wajah larissa merah padam karena menahan kesal pada robert, rumor tentang berapa kejam dan tak tersentuhnya robert ternyata benar, robert benar benar menakutkan apalagi jika max yang sedang marah pasti lebih parah dari max, larissa tak bisa membayangkan itu.
"Bawa semua barang yang saya perintahkan tadi," suruh max pada salah satu bodyguard yang mengikutinya, bodyguard itu pun mengangguk, setelah beberapa menit bodyguard itu kembali lagi membawa beberapa piala dan sertifikat yang larisa pun tak tau,sampai akhirnya larissa terkejut bukan main saat melihat robert membawa barang barang penting milik nya.
"Apa yang kau lakukan dengan barang barangku, hah" ucap larissa marah,tapi larisa tak bisa berbuat apa apa karena tangan dan kaki nya diikat, "Aku tidak melakukan apa apa, hanya ingin membakar kertas tak berharga ini," ucap robert yang sudah menyalakan korek dan membakar sertifikat penting milik larissa yang membuat larissa menjerit tak rela, "Jangan lakukan itu brengsek," tapi robert tak mengindahkan rengekan larissa, "Kumohon" pinta larissa, "Oh wow, ini penghargaan model internasional" ucap robert yang membuat larissa pucat, barang berharganya, "Jangan lakukan itu, kumohon", pinta larissa memohon dengan tangisan yang tak kunjung berhenti.
"Bagaimana rasanya jika milik kita dirusak oleh orang lain?" tanya robert saat sudah membakar semua barang milik larissa, larissa pun menatap robert didepannya, "Jangan sesekali mengganggu apa yang sudah jadi milik orang lain larissa" peringat robert,sekarang larissa benar benar menyesal telah melakukan itu, seharusnya larissa mundur saat tau jika max sudah menikah, tapi dengan angkuhnya larissa malah mengusik kehidupan max, larissa sangat menyesal.
Sangat menyesal.
Pagi yang cerah, stefani sedang sibuk memilih pakaian apa yang harus dia pakai karena sejak tadi stefani kebingungan memilih baju mana yang harus dia pakai, "Apa belum selesai?" tanya max saat melihat stefani masih mondar mandir diwalk in closet untuk memilih pakaian apa yang harus dia kenakan.
"Aku bingung daddy aku harus pakai baju mana" ucap stefani yang tidak mengalihkan pandangannya dari baju baju yang tersusun rapi dilemari didepannya, "Aku akan menelpon robert agar membelikan pakaian baru untukmu," max sudah akan menelepon robert tapi stefani langsung menghentikannya, "Apa kau gila daddy, baju segini saja sudah membuatku bingung harus menggunakan baju mana, karena saking banyaknya baju di lemari", ucap stefani, "Apa kau benar benar kaya daddy, aku bingung uangmu tidak pernah berkurang walau kau membeli apapun" ucap stefani lagi dengan wajah polos nya.
"Aku sangat kaya, jadi jangan mengirit, aku kerja untuk membahagiakan mu, dan agar kau tidak kekurangan," ucap max sungguh sungguh, stefani pun menoleh "Aku tau, aku hanya belum terbiasa," ucap stefani menatap max, "Dan jika aku sudah terbiasa, kau harus lebih giat lagi bekerja, karena aku tak ingin hidup serba kekurangan, karena sudah terbiasa dengan gaya hidup yang mewah," ucap stefani yang disusul tawa oleh keduanya.
"Baiklah ma'am," ucap max masih dengan kekehan yang tersisa, "Sekarang segera lah memakai pakaian jika tidak aku akan melepaskan handuk yang melilit tubuhmu dan aku akan memakan mu," ucap max, stefani pun mengangguk, stefani tak ingin jika harus berakhir di ranjang karena hari ini mereka akan memeriksa kandungan nya.
10 menit pun berlalu, stefani keluar dari walk in closet dengan memakai gaun santai berwarna biru Nafi, "Istriku terlihat bersinar" ucap max saat melihat stefani keluar dari walk in closet, stefani pun tersipu mendengar pujian dari max.
"Kau sudah siap? kita akan melihat anak kita", max merangkul stefani dan mengusap perut stefani yang masih datar, "Aku gugup, dan senang secara bersamaan" ucap stefani, max pun mencium bibir stefani, "Sekarang kau tidak akan gugup karena aku sudah mencium mu dan memberikan kekuatan bagimu" ucap max yang membuat stefani tersipu lagi, "Kau memang obat bagiku daddy" kata stefani, max pun terkekeh mendengar ucapan stefani.
Didalam mobil max terus menggenggam tangan stefani, "Apa tidak sulit mengemudi sambil memegang tanganku" tanya stefani, max menggeleng, "Tidak, aku senang menggenggam tanganmu seperti ini," max mencium tangan stefani, stefani bahagia sangat bahagia memiliki max dalam hidupnya.
TBC guys jgn lupa like comen and vote..
Sorry karena lambat up author lagi sakit guys do'ain cepet sembuh, terimakasih karena selalu menunggu up pan nya.