
Max menghentakan lengan larissa dengan kasar sampai larissa terhuyung kebelakang, "Kau sudah menyalakan api larissa" geram max penuh dengan rasa jijik dan benci yang kentara.
"Max.. ini tidak seperti yang kau fikirkan" larissa berucap dengan terbata bata karena takut melihat max yang ada didepannya sangat terlihat jelas jika max sedang marah bukan sangat marah.
"Lalu jika kau memegang pisau dan ingin menusukan pada istriku apa yang harus aku fikirkan," tanya max dengan bentakan yang membuat larissa bergetar karena ketakutan.
"Aku bisa menjelaskannya," ucap larissa membela diri tapi tak digubris oleh max, "Masuk" seru max dengan nada memerintah, dan masuklah 10 orang laki laki berperawakan besar mereka adalah para body guard yang mengikuti max tadi mereka langsung meninggalkan kegiatan mereka karena mendapat pesan singkat dari max.
Dan sebenarnya max tau dan menyadari jika sedari dia keluar dari mansion, max merasa ada yang menguntit nya, dan benar dugaannya, larissa laah yang berani menguntitnya bahkan dengan sengaja ingin membunuh stefani, istri nya.
"Kau fikir aku bodoh larissa?" tanya max melihat larissa yang sudah berdiri menyandar pada dinding karena takut dan lemas, "Kau mungkin merasa bahwa aku tidak menyadari kau yang selalu mengikutiku, tapi kau salah besar, aku sudah tau dan aku membiarkanmu berada di awang awang dan menjatuhkan mu sampai kau memilih untuk bunuh diri saja, karena saking tidak kuatnya kau dengan siksaanku" ucap max dengan nada merendahkan dan jijik sekaligus" ucap max
Larissa tak bisa berkata kata lagi dia saat max memojokannya, dia salah besar karena masih mengusik kehidupan max, tapi dendam dan rasa cintanya mengalihkan perhatiannya, dia hanya ingin max menjadi miliknya.
"Aku mencintai mu max, kumohon, kenapa kau tega melakukan ini padaku cintaku padamu tulus max, aku bersumpah," ucap larissa yang sudah bersujud didepan kaki max, tapi max seolah tak perduli, dia bahkan merasa sangat jijik sekarang.
"Kau bukan mencintaiku, tapi kau terobsesi padaku, cinta tak akan menyakiti" ucap max tegas, kemudian max membawa stefani kedalam pelukannya, "Bawa larissa, dan telepon robert untuk mengurus wanita sialan ini, robert tau apa yang harus dia lakukan," perintah max yang diangguki oleh para bodyguard nya kemudian membawa larisa pergi, larissa meronta ronta meminta dilepaskan tapi pwemintaanya, tak dianggap oleh max.
"Kumohon max ampuni aku," ucap larissa tapi lagi dan lagi tak dihiraukan oleh max, larissa terus meronta minta dilepaskan.
Setelah larissa dibawa oleh para bodyguard, max langsung melonggarkan pelukan nya dan menatap stefani khawatir, "Apa kau tidak apa apa?" max bertanya sambil melihat lihat mungkin saja ada yang terluka atau apa, "Aku tidak papa max" ucap stefani tersenyum mencoba menenangkan.
"Sekarang kita pulang oke," max merengkuh tubuh stefani kedalam pelukannya, stefani pun mengangguk mengiyakan, jujur stefani masih syok dengan kejadian tadi stefani terbayang jika larissa berhasil menusukan pisau itu pada perut nya, mungkin stefani akan kehilangan bayi nya lagi, tapi syukurlah itu tidak terjadi stefani bernafas legah.
***
Saat sampai penthouse ponsel stefani berbunyi tanda ada yang menghubunginya, stefani pun mengangkat telepon nya, "Yah, grandma" ucap stefani, max pun menoleh kearah sumber stefani, "Apa kau baik baik saja, tadi orang orang grandpa menelpon memberi kabar jika kau dalam bahaya, kenapa tidak berhati hati" ucap wilna beruntun karena khawatir, stefani pun merasa senang dan terharu secara bersamaan saat nenek nya menghawatirkan dirinya, dulu dia sering berkhayal ingin bertemu dengan grandma atau pun grandpa nya, dan sekarang semua nya terwujud.
"Aku baik baik saja grand ma, jangan khawatir," ucap stefani menenangkan, "Bagaimana grand ma tidak khawatir apalagi sekarang kau sedang mengandung grand ma benar benar khawatir," ucap wilna menghela nafas.
"Ceh," bisa saja cucu grand ma menggombal, ucap wilna, stefani pun terkekeh mendengar ucapan wilna grandma nya, "Baiklah cucu gramdma harus istirahat, jaga kesehatan yah sayang, grandma menyayangimu" ucap wilna dengan tulus, "Yah grandma aku juga menyayangi oma," ucap stefani, setelah itu wilna mematikan teleponnya.
"Sekarang istirahat oke, aku akan menyuruh maid untuk membuatkan makanan untukmu tadi kau tidak menghabiskan makananmu," ucap max yang langsung menggendong stefani ala bride style, stefani pun sampai tersipu dengan perlakuan romantis max.
"Kau masih saja tersipu," ucap max terkekeh, stefani pun mencium bibir max, "Aku senang diperlakukan manis seperti ini," ucap stefani kemudian disusul tawa oleh mereka berdua.
***
"Apa stefa baik baik saja?" tanya amar khawatir begitupun maria dan Jayden, yah mereka sedang berkumpul di mansion milik Jayden, mereka awalnya hanya ingin berkumpul saja, tapi tanpa disengaja orang yang ditugaskan oleh amar dan Jayden, memberitahu, jika stefani hampir saja dicelakai oleh mantan max, larissa.
"Aku benar benar khawatir" ucap maria khawatir dia sangat khawatir saat mendengar kabar itu, stefani sudah seperti putri nya.
"Tenanglah max pasti akan menyelesaikan semuanya" Jayden memegang tangan maria yang duduk disebelahnya, maria pun menoleh dan mengangguk, putra nya pasti bisa menyelesaikan semuanya dia sangat bisa diandalkan.
"Iya, aku yakin max akan menyelesaikan semuanya jadi kita harus tenang" ucap amar lalu wilna, maria dan Jayden pun mengangguk mengiyakan.
***
"Kau melamunkan apa hm?" tanya max yang melihat stefani memeluk dirinya sendiri dan melihat keluar jendela, max baru saja menyelesaikan ritual mandi nya, hari memang sudah beranjak sore, max dan stefani memilih diam dirumah saja, jujur max sangat khawatir pada stefani, max tak bisa membayangkan jika sampai stefani kenapa napa, terlambat satu detik saja,stefani pasti sudah celaka, ah max tak akan membiarkan itu semua.
"Pakai baju dulu, daddy" titah stefani saat merasakan dada telanjang milik max menempel pada punggung miliknya, "Kau selalu mengalihkan pembicaraan" ucap max, stefani pun memutar tubuhnya agar menghadap pada max, "Aku tidak mengalihkan pembicaraan daddy, aku takut kau akan masuk angin," ucap stefani mengalungkan tangannya pada leher milik max, kini stefani menempel pada tubuh max.
"Jangan fikirkan apapun, aku takut kau kenpa napa, oke" max mencium dahi stefani dengan lembut penuh kasih sayang, "Aku hanya takut, jika saja tadi kau tidak datang mungkin aku akan kehilangan bayi ku lagi," ucap stefani yang kini sudah menangis, max pun membawa stefani kedalam pelukannya, "Tenanglah baby, kau tidak akan kenapa napa begitupun dengan anak yang kau kandung, kita akan menjadi keluarga bahagia oke," max mengusap punggung stefani agar stefani merasa tenang.
"Kau memang selalu mampu membuatku tenang dan merasa terlindungi," ucap stefani kemudian mencium bibir max sekilas.
TBC jgn lupa like comen and vote...