
Setelah keluar dari cafe max diam Stefani jadi tak enak hati entahlah rasanya seperti ketahuan selingkuh oleh pacar sendiri.
Terlihat max seperti sedang marah terlihat dari tangan yang dilipat didepan dada dan mata yang menyala merah.
"Kok jadi takut gini yah," ucap Stefani menunduk sambil memilin milin ujung rok selututnya.
Max yang melihat Stefani menunduk pun merasa kesal sendiri seharusnya dia tidak marah pada stefani karena Stefani tidak mungkin menemui mantan kekasihnya max membaca dari berkas tentang data stefani yang diberikan robert tadi malam.
"Kau tidak papa," ucap max sembari melihat kearah stefani, stefanipun melihat kearah max dan mereka berpandangan beberapa detik kemudian dia sadar dan menjawab.
"Aku tidak papa," ucap stefani kembali menunduk setelah itu dia berucap "Terimakasih"
Max mengernyitkan dahinya bingung kenapa perempuan ini banyak terimakasih padanya.
"Untuk apa," ucap max tanpa mengalihkan pandangannya dari Stefani yang kini menunduk.
"Tadi kau menyelamatkan ku dari laki laki tadi," ucap Stefani
"Apa dia mantan kekasihmu," tanya max
Stefani kembali menatap max kenapa bosnya ini bisa tau bahwa Johan adalah mantannya.
Max yang melihat tatapan penasaran itu pun langsung bilang " Aku seorang Maxime stefano jadi aku bisa tau apapun apalagi tentang dirimu," ucap max sombong
Stefani mendengus kesal " Dasar sombong," ucap Stefani tanpa sadar dan membuang pandangannya dari max keluar jendela mobil.
Max hanya terkekeh " Aku sombong dan memang benar kenyataannya begitu," ucap max lagi
"Ya ya ya terserah bapak Maxime stefano saja" ucap Stefani kesal.
Max terkekeh lagi dia sangat senang menggoda Stefani entahlah dia selalu senang melihat tawanya cemberutnya marahnya tapi satu yang Maxime tak suka yaitu tangisannya.
Max tak tau perasaan apa ini yang dia rasakan sekedar obsesi atau dia benar jatuh cinta tak tau tapi dia hanya ingin Stefani disisinya menjadi miliknya hanya itu.
"Bapak bisa turunkan saya didepan sana saja," ucap Stefani
"Saya tidak mau jadi bahan gosip para karyawan wanita dikantor," ucap Stefani lagi
"Baiklah tapi ada syaratnya," ucap Maxime
Stefani pun melongo tak percaya kenapa bosnya ini banyak minta syarat tadi saja yang tadi pagi belum bilang lalu ini lagi.
"Nanti saja,sekarang turunlah jika kau ingin turun disini," ucap max karena memang mobil yang ditumpangi oleh mereka sudah berhenti.
Stefani pun turun dari mobil setelah mengucapkan terimakasih pada max.
Max pun menyuruh sopir untuk melajukan mobilnya kembali dia hanya melihat Stefani dari kaca spion luar.
Stefani pun berjalan untuk sampai dikantor, dia sampai dikantor memang suasananya masih agak sepi karena ini memang masih agak pagi.
Stefani mendudukan pantatnya di kursi kebesarannya dia mengingat lagi kejadian tadi pagi saat bersama max entah dia jadi mengingat saat max memangku tubuhnya dan mencium nya ah membayangkannya saja membuat pipi nya bersemu merah.
Stefani memegang pipinya yang terasa panas "ada apa denganku," ucap Stefani tersenyum malu
Darrr
Nana mengagetkan Stefani yang tersenyum malu dan memegang pipinya jadi nana berinisiatif untuk mengagetkan Stefani saja sekalian.
"Ihh nana ngeselin banget sih," ucap Stefani kesal
Nana hanya tertawa melihat Stefani yang mengembungkan pipinya dan mengerucutkan bibirnya karena kesal.
"Iya iya maaf deh lagian senyum senyum sendiri kaya orang gak waras pagi pagi lagih," ucap nana
''Terserah aku ajalah wlee," ucap Stefani
Nana pun hanya mengedikan bahunya acuh dia senang melihat Stefani bahagia dia sudah menganggap Stefani seperti saudaranya.
Tbc