Mr.CEO Ku

Mr.CEO Ku
48 Perempuan hebat



Pagi menjelang matahari sudah bersinar stefani masih betah memandang wajah damai kekasihnya yang tertidur pulas di depan nya bahkan saat tidur pun max masih memeluk nya dengan erat.


Stefani tak mau Meninggalkan max siapapun yang menyuruhnya bahkan ayahnya sendiri pun yang menyuruhnya.


Stefani tau ayahnya pasti membela raya adiknya tapi seberat apapun cobaan yang menghadang hubungannya dengan max stefa tak akan mundur itu janji nya.


Stefani menatap wajah itu dengan menggigit bibirnya mengapa max sangat sexy uh melihatnya saja membuat stefani basah.


Stefani membelai bibir sexy milik max dia ingin menciumnya tapi bagaimana jika max menertawakannya ah bodo amat dengan itu stefani ******* dan menggigit secara sensual.


Max yang merasa ada yang menciumnya terbangun dan mendapati stefani sedang menciumnya dengan brutal max tersenyum dan kemudian membalas apa yang stefani lakukan.


Setelah dirasa tak tahan untuk menahan diri lagi stefani bangun dan memposisikan miliknya dengan milik max, max terkejut dengan keberanian stefani tapi juga tersenyum menikmati apa yang stefani lakukan.


"Kau sungguh sexy baby" max berucap ditengah tengah kegiatan mereka, stefani sudah mendapatkan pelepasan nya dan bersandar di dada bidang max.


Max membalikkan stefani sekarang stefani ada di bawah nya sekarang max yang memegang kendali stefani menatap max yang seperti dewa keringat yang bercucur di badan nya "Uhh" stefani mendapatkan pelepasan lagi max memang selalu perkasa seperti biasanya.


Setelah melakukan percintaan panas tadi stefani dan max masih tiduran dengan saling berpelukan.


"Kau baik baik saja" pertanyaan dari max membuat stefani mendongak, "Aku baik baik saja" stefani tersenyum menutupi semuanya.


Max tak sebodoh itu dia tau stefani menyembunyikan kesedihannya dengan tersenyum.


"Aku tak akan meninggalkanmu stefa walaupun kau yang memintanya" stefani mendongak lagi dan mulai menangis.


"Kau tau saat ayahku memintaku untuk meninggalkanmu aku teringat dengan ibuku dulu hatiku sakit saat tau ayahku sendiri ingin aku merelakan kebahagiaanku untuk adikku, aku merasakan perasaan ibuku dulu mungkin dulu dia lebih sakit karena ayahku memintanya menggugurkan aku yang masih dalam kandungannya, betapa sulitnya dia bertahan sendirian dengan membesarkanku hikz hiks,,, mereka jahat max" stefani tak kuat lagi untuk menahan kesedihannya max memeluknya merasakan apa yang stefani rasakan.


"Ibumu perempuan hebat stefa jadi jangan menangis lagi nanti dia bersedih melihatmu bersedih seperti ini" ucap max menghibur.


"Dia memang hebat sangat hebat" ucap stefani mengusap air matanya max benar stefani tak boleh cengeng dia harus kuat seperti ibunya.


"Kenapa kau begitu nakal baby" max mendesah saat mendapatkan pelepasannya ayolah max kan perkasa mereka tak akan keluar dari kamar mandi dengan waktu satu jam.


Biarkan saja lah mereka menikmati permainannya.


___


"Kau mau kemana raya" ucap rena saat masuk kekamar anaknya dan didapati raya sedang membereskan pakaian nya kedalam koper berukuran besar.


"Aku akan pergi kebali mih" ucap raya "Mau apa kebali" rena mengernyit bingung.


"Menyusul stefa apalagi aku tak akan membiarkan max terjatuh lebih dalam kedalam pesona anak ****** sialan itu" ucap raya.


Rena tersenyum"Kau benar rebut max darinya anak itu tak pantas dengan max kau yang lebih pantas" ucap rena, raya tersenyum senang ibunya memang selalu mendukung nya.


"Kau memang yang terbaik mih" raya memeluk rena.


Saat sampai di bali raya menghampiri meja resepsionis hotel tempat max menginap dari mana dia tau itu dari anak buah ayahnya.


"Dimana kamar milik Maxime Stefano" nada arogan yang selalu raya pakai.


Resepsionist itu tersenyum "Ada perlu apa nona dengannya" resepsionis itu masih tersenyum manis.


"Aku ingin bertemu dengannya" raya berucap sinis "Tuan maxime sedang berada diluar dari kemarin belum kembali" ucap resepsionis.


Raya kesal kemana max pergi pasti bersama stefani dasar wanita itu.


"Awas saja dia akan jadi milikku" ucap raya tertawa sinis


TBC guys jgn lupa like comen and vote