
Setelah tangisan tadi stefani masih enggan berbicara rasa kecewa nya masih terasa bilang saja jika stefani egois tapi itu lah yang stefani rasakan wilna dan amar masih tetap duduk disofa dekat brankar stefani wilna dan amar masih enggan untuk memulai pembicaraan.
Setelah tadi wilna menangis memeluk stefani, stefani tak berbicara sepatah katapun bahkan membalas pelukannya pun tidak wilna sadar seharusnya dulu dia lebih ikut dengan anaknya bukan membiarkan amarengusirnya sungguh penyesalan tak ada gunanya sekarang.
"Kalau begitu grandma dan grandpa akan pulang dulu cepat sembuh stefa," wilna menghampiri stefani dan mencium puncak kepala stefani begitupun juga amar "cepat sembuh cucuku" Amar dan wilna meninggalkan stefani untuk pulang lebih dulu mungkin stefani butuh waktu untuk merimanya.
Setelah wilna dan Amar keluar dari rawat inap stefani max menghampiri stefani "stefa," stefani langsung memeluk max dan menangis pilu "hikz..hikz" stefani sudah tak bisa membendung lagi apa yang dia tahan sejak tadi max memeluk erat stefani max pun mengerti mungkin stefani masih belum terbiasa max pun tau hal yang dilalui stefani tak mudah apalagi ibunya harus menanggung beban sendirian dulu.
"Sudah jangan menangis lagi" ucap max mengelus punggung stefani dengan sayang.
Setelah tangisan nya tadi stefani sudah tertidur pulas max mengusap ngusap kepala stefani mata nya bengkak karena kelamaan menangis.
Disisi lain wilna dan amar sudah pulang menuju rumah nya "Apa dia akan menerima kita" ucap wilna khawatir dia berfikir stefani pasti masih kecewa dengan sikapnya dulu pada ibunya.
Amar yang mendengar ucapan dari wilna istrinya pun menoleh "Dia pasti akan memaafkan kita dia hanya butuh waktu" Amar meyakinkan walau hatinya pun sama khawatirnya dengan istrinya.
Wilna pun menangguk amar benar stefani memang butuh waktu untuk menerimanya.
****
"Mommy bawain salad sayur buat kamu" ucap maria pada stefani yang sudah bangun dari tidurnya sekarang hari sudah sore.
"Kenapa repot repot sih mom" ucap stefani tak enak pada mertuanya karena harus membawa salad buah untuk nya.
"Gak ada yang ngerepotin buat anaknya mommy" ucap maria "kamu kenapa stefa" maria baru sadar kalau mata stefani bengkak habis menangis khawatir pasti.
"Enggak kok mom" ucap stefani cepat max dan jayden memang sedang keluar katanya sedang ada urusan jadi sekarang mereka hanya berdua dikamar rawat inap milik stefani.
"Yasudah nanti kalau udah siap cerita, cerita aja sama mommy oke jangan pendem sendiri" ucap maria memegang tangan stefani, stefani pun hanya mengangguk.
Maria menyeduh teh untuk stefani dan dirinya "Ini baik buat pemulihan tubuh kamu" maria menyodorkan secangkir teh buat stefani, stefani pun mengambilnya dan mulai menghirup aroma nya.
Hening maria dan stefani sibuk menikmati aroma teh yang mereka pegang.
"Mom" panggil stefani maria pun menoleh "ada apa stefa" tanya maria.
"Apa aku sangat jahat" ucap stefani menunduk melihat cangkir yang dia pegang dengan pandangan kosong pikirannya menerawang pada pagi tadi saat grandma dan grandpa nya datang.
"Kau sangat baik" ucap maria tersenyum meneduhkan stefani pun tersenyum "Apa aku akan punya anak " tanya stefani tiba tiba maria pun tersenyum lagi "kenapa bertanya begitu" ucap maria.
"Aku hanya takut tidak bisa memberikan keturunan untuk max" ucap stefani lagi kejadian yang menimpanya sungguh membuat stefani berfikir yang tidak tidak.
"Pernikahan bukan hanya untuk mendapatkan keturunan stefa ada atau tidak ada nya keturunan itu tidak lah penting yang penting kalian saling melengkapi itu saja" ucap maria lagi.
Stefani pun tersenyum mendengar mertuanya berbicara seperti itu stefani tak terlalu takut lagi sekarang.
TBC jgn lupa like comen and vote😊