Mr.CEO Ku

Mr.CEO Ku
27 Tatapan sinis



Setelah makan bersama max dan Stefani kembali lagi ke kantor, saat sampai semua mata para wanita melihat kearaha stefani dengan sinis.


Max memeluk pinggang Stefani posesife wajar jika banyak karyawan yang melihat Stefani dengan tatapan sinis dan merendahkan.


Stefani sempat ingin melepaskan pelukan max di pinggang nya tapi apalah daya dia tidak bisa melawan max pelukan max malah semakin erat di pinggang nya.


"max lepas mereka memperhatikan kita" ucap Stefani yang sudah tidak nyaman dengan tatapan orang orang.


"Kenapa Stefani biarkan saja mereka," max memang bukan tidak tau tapi dia ingin memperlihatkan bahwa Stefani adalah miliknya.


Stefani semakin risih saat Stefani sampai di ruangan nya dan max mencium nya banyak yng melihat.


Max memang mengantarkannya dan dia rela menggunakan lift umum bukan lift khusus dirinya.


Saat max sudah berpamitan untuk pergi keatas ke ruangan nya nana yang memang sudah melihat perlakuan max pada stefa tersentuh akhirnya stefa bisa mendapatkan laki laki baik seperti max.


"Ciee yang dianterin pacar," ucap nana menggoda


"Apasih, sorry ya tadi gue ninggalin loe di restoran," jelas Stefani tak enak karena waktu di restoran Stefani meninggalkan nana.


"it's okey stefa gue seneng saat loe ninggalin gue, loe tau gak tadi gue lihat wajah kecewanya johan gue pengen tertawa terbahak bahak tau gak," ucap nana yang menceritakan kejadian tadi di restoran dan wajah kecewanya johan.


"Terserah gue gak peduli" ucap stefani menyahut.


"Bagus kalo loe gak peduli," ucap nana


Saat nana sudah kembali fokus kerja Stefani merasa risih karena banyak pasang mata yang melihatnya.


"Na kok gue ngerasa jadi bahan tontonan yah," ucap stefani, nana pun mengedarkan pandangan nya memang benar mereka berdua jadi bahan bisik bisik termasuk stefani.


"Udah gak usah dipeduliin mending sekarang loe fokus aja sama pekerjaan loe," ucap nana dan stefani menurutinya memang mau apa lagi yang dia kerjakan walaupun banyak yang berbisik bisik dan ada yang menyindirnya terang terangan.


"Ehh wanita penggoda masih mau kerja ternyata, gak puas loe makan uang pak max dasar wanita sok baik tapi ternyata kelakuannya kaya *****," ucap rani


"Maksud loe apa hah, ngomong kayak gitu," ucap nana menggebrak meja, Stefani menenangkan nana agar tidak terlalu terbawa emosi karena ini kantor dan tak enak jika ada keributan disebabkan karena dirinya.


"Udahlah na biarin aja dia kan emang kaya gitu," ucap Stefani yang sudah berdiri didekat nana


"Maksud loe apa sih gak usah ikut campur deh loe gak tau apa apa," ucap Stefani santai


"Dasar ***** loe pasti godain pak max kan terus loe ancem dia biar dia terus deketin loe," ucap rani


"Berapapun yang pak max bayar ke gue,gue lebih unggul lagi dari loe, loe selalu nyari gara gara sama gue karena gue selalu unggul dalam hal apapun kan," ucap stefani


Rani yang mulai kesal pun menjambak rambut stefa," gue emang benci sama loe, loe selalu unggul dari gue denger yah loe ituh cuma anak yang gak diinginin sama ayah loe," ucap rani menjambak Stefani dan menamparnya.


Stefani tersungkur jatuh bibirnya kembali berdarah lagi sakit bukan sakit di bibirnya yang membuat dia sakit hati, tapi lagi lagi ucapan anak yang tak diinginkan yang membuat dia sakit hati lagi.


Nana yang kesal pun kembali menjambak rambut rani dan mencakar pipinya,rani meringis kesakitan.


"Jangan ganggu stefa ****** loe pikir gue gak tau skandal loe sama atasan kita, loe rela tidur dengan pria perut buncit asalkan kebutuhan loe terpenuhi kan, gue tau semua rahasia loe, loe itu cuma anak miskin yang mau nyamain level loe sama mereka yang punya uang banyak, dan satu hal loe ****** yang rendahan tau gak," nana mendorong rani hingga jatuh.


Semua para karyawan yang ada dia situ dan yang lewat menonton pertunjukan perkelahian antara nana Stefani dan rani.


Tak lama kemudian suara bariton membuat mereka menoleh sekaligus terkejut.


"Ada apa ini," max berbicara dengan nada yang sangat tinggi.


Max memang akan keluar karena ada meeting diluar kantor mengharuskan dia pergi keluar dan tak sengaja dia mendengar keributan max melihatnya dan ternyata Stefani sudah duduk dengan sudut bibir berdarah dan mata yang menangis, max marah lagi lagi Stefani terluka.


"Apa yang telah kalian lakukan apa kantor ini ajang membully kalian seenaknya saja bekerja sesuka kalian, bubar sekarang" para karyawan pun keluar karena takut melihat max sangat marah.


"Kau tidak papa," max jongkok dan menggendong Stefani ala bride style max membawanya ke ruangan nya.


"Batalkan rapat hari ini," ucap max pada Robert " dan urus masalah ini," ucap max lagi berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.


Stefani menangis di dada max menenggelamkan wajahnya max memang selalu berhasil membuatnya nyaman dan terlindungi seperti sekarang.


Sedangkan rani berdiri dibantu oleh teman teman centilnya, kalau nana jangan ditanya dia langsung duduk dan mengerjakan pekerjaan nya tadi seolah tidak pernah terjadi apa apa.


"Awas kau," ucap rani pada nana, nana hanya mengedikan bahunya acuh.


To Be Continue