
Rena terkejut melihat laki laki paruh baya didepannya sedangkan raya hanya menatap laki laki didepannya dengan tatapan bingung.
"Sudah puas kau menghancurkan hidup anakku. hah" emosinya sudah sampai ubun ubun ingin rasanya dia menghukum rena dengan sangat kejam tapi dia harus menahannya dulu.
"Dia memang pantas menderita," ucap rena tertawa sinis "Kau yang pantas menderita bukan anakku" ucap amar tak kalah sengit.
"Sekarang dia tak akan kembali karena dia sudah pergi untuk selamanya" ucap rena tertawa terbahak bahak.
Rasanya amar ingin sekali memukul mulut wanita yang ada didepannya ini "Jangan asal bicara nyonya" suara bariton terdengar dari belakang amar dan robert dia adalah max berjalan dengan angkuh menuju raya dan rena.
Max terpaksa meninggalkan stefani karena urusan ini menyangkut stefani dia sudah tak bisa sabar sekarang hatinya sudah sangat terluka saat melihat stefani terluka didepannya dan kehilangan anaknya.
Amar, dia mencari tau keberadaan stefani cucu nya dia tak menyangka jika cucu nya akan menjadi istri seorang laki laki keturunan stefano yang sangat kaya raya itu.
Stefani masih belum tau tentang kakek dan nenek nya max menyuruh mereka untuk diam saja dulu karena sekarang stefani masih dalam keadaan yang tak baik baik saja.
"Jadi kau yang merencanakan penculikan ini" ucap raya marah dan menatap tajam max sedangkan max dia hanya diam tak menanggapi ucapan raya barusan.
"Siapa yang lebih tega mencelakai istriku,apa kau ingin bermain main denganku" ucap max tertawa miring yang membuat bulu kuduk raya merinding.
"Kau yang tega tak membalas cintaku kau lebih memilih wanita sialan itu apa kurangnya aku.hah" ucap raya.
"Kau kekurangan segala galanya dan kau harusnya sadar siapa wanita sialan itu" max menatap rena dengan tatapan merendahkan rena jadi menjadi sangat kesal sekarang.
"Kau harus tau raya kau anak yang tak punya ayah, kau harus ingat itu" max berucap dengan kekehan yang sangat menakutkan.
Rena sudah sangat kesal dan marah sekarang ingin rasanya dia memukul max.
"Urus mereka buat mereka tersiksa sebelum masuk ke penjara," ucap max tegas dan berlalu pergi diikuti oleh amar.
"Max" panggil amar pada max yang berjalan lebih dulu, max menoleh "Ada apa grandpa" ucap max.
"Apa stefani baik baik saja" ucap amar khawatir pada cucu nya dia sangat terharu dan menyesal secara bersamaan saat tau jika dia mempunyai cucu walau kekecewaan harus dia telan bulat bulat jika anaknya stela sudah meninggal.
"Dia sudah agak baikan jika ingin menengok datanglah akan ku jelas kan nanti padanya" max tersenyum dan pergi meninggalkan amar yang berdiri dengan perasaan kalut yang dia rasakan.
****
Stefani sudah menangis sekarang karena mendapati max tak tidur disisinya apa mungkin max meninggalkannya.
Pintu pun terbuka stefani menengok ternyata max berdiri dengan tatapan khawatirnya.
"kenapa menangis" ucap max menghampiri stefani dan menangkup pipi stefani sangat kentara jika dia habis menangis matanya merah dan ada beberapa bulir airmata yang tersisa.
"Kenapa kau meninggalkan ku" stefani sudah menangis sekarang max langsung memeluknya dan menciumi rambut stefani "Maaf ada urusan penting barusan jangan menangis lagi oke"ucap max.
Stefani mengangguk sungguh sangat takut jika ia harus kehilangan max membayangkannya saja stefani tak sanggup.
Jgn lupa like comen and vote...