
Diruang divisi keuangan tempat steffani bekerja, kepala divisi keuangan menyuruhnya untuk masuk ke ruangan nya.
Steffani masuk ke ruangan nya dan bertanya.
"Ada perlu apa pak," ucap steffani setelah masuk
"Kamu tolong anterin berkas ini ke ruangan CEO kita," ucap ketua divisi
"Baik, pak kalau begitu saya permisi." ucap steffani sopan.
Steffani pun naik lift untuk sampai diruangan CEO nya, setelah sampai dilantai yang dituju dia meminta ijin kepada asisten nya robert untuk menyerahkan berkas dari divisinya.
Robert menyuruh steffani langsung masuk saja, steffani mengetuk pintu dua kali dan langsung masuk.
Maxime yang dari tadi menunggu kedatangan steffani senang sebenarnya itu hanya alasan alasan nya saja untuk membuat steffani masuk ruangannya.
"Pak ini berkas keuangan yang bapak minta" ucap steffani sopan
"Iya,taruh saja disitu" ucap max dingin dan matanya yang terus memandangi steffani dari atas sampai bawah.
Steffani yang memakai blouse putih panjang selengan dan rok cream selutut rambut yang di kuncir di atas yang memperlihatkan leher putih jenjangnya sepatu hak tinggi yang berwarna cream tampak cantik walau hanya memakai riasan natural.
Steffani yang risih dipandang seperti itu ingin cepat cepat pergi dari ruangan CEO nya itu.
"Namamu siapa" tanya Maxime yang tidak melepas pandangannya pada steffani.
"Nama saya steffani putri pak," ucap steffani sopan
"Kamu bisa buat kopi?
"Bisa pak,"
"Tolong buatkan kopi untuk saya kamu mau kan." ucap Maxime
"Iya,baik pak"
Steffani melangkahkan kaki nya untuk keluar untuk membuat kan kopi untuk bosnya padahal itu hanya alasan alasannya saja agar steffania ada didekat nya.
Setelah beberapa menit Steffani kembali membawa kopi pesenan bosnya.
"Ini,pak" ucap steffani meletakan kopinya dimeja kerja max
"Sama sama pak,Kalau begitu saya permisi pak."
"Iya" ucap max singkat
Max melihat steffani dari belakang yang melangkahkan kakinya untuk pergi.
"Bukan hanya cantik ternyata bodynya bagus juga." gumam max
Setelah masuk lift steffani menggerutu kesal kenapa bosnya itu main nyuruh nyuruh aja dia padahal jika ingin kopi kenapa tidak minta di buatkan OB saja kenapa harus menyuruhnya.
"Dingin banget sih tuh muka," ucap steffani kesal
Sampai di ruangan divisinya Stefani langsung dihampiri nana.
"Ya ampun beruntung banget sih kamu bisa masuk ke ruangan nya CEO baru kita," ucap nana antusias
"Beruntung apaansih orang cuma ngasih berkas doang."
"Ya tetep aja coba aja gue yang disuruh"
"Yaudah kalau mau masuk ke ruangan nya CEO baru kita tinggal masuk aja kali"
"Ya kali yang ada gue diusir oleh penjaga disitu."
"Dasar tukang gosip," ucap salah satu karyawan di divisi itu
"Apaansih loeh." ucap nana kesal
"Dasar cewek cewek kecentilan." ucap rani
Nana yang akan menyahut dilarang oleh Stefani karena hanya akan menambah keributan.
Rani memang tidak suka dengan Stefani karena menurutnya Stefani selalu unggul dalam hal apapun.
Bukan hanya cantik banyak laki laki yang menyukainya tapi juga dalam hal pekerjaan dia cektan dan apalagi sekarang dia yang akan memikat CEO nya itu sudah didahului oleh Stefani.
Stefani juga bingung kenapa rani tidak menyukainya tapi dia tidak mau ambil pusing lebih baik mengerjakan pekerjaannya saja daripada mengurus hal hal yang tidak penting karena menurutnya dia sudah biasa dengan orang orang yang selalu membencinya tanpa sebab.