Magic War

Magic War
Ch 97 – Anak Yang Terbuang



Izura Kaira merupakan anak normal pada umum nya, tidak ada hal yang spesial dari diri nya.


Dia tinggal pada sebuah Kota kecil yang sedikit kumuh. Walaupun begitu z masyarakat nya tetap makmur.


Bisa di bilang, anak ini yatim-piatu, karena kedua orang tua nya menghilang dengan kondisi yang tidak di ketahui, sudah sejak dia lahir. Tapi dia masih mempunyai seorang Kakek.


Namun, karena Kakek nya sudah terlalu tua. Jadi, Kaira harus rela di tinggal kan oleh Kakek kesayangan nya pada umur 6 tahun.


Sekarang, Kaira benar-benar sendirian, tanpa seorang pun yang dekat dengan diri nya. Itulah pikiran Kaira, tanpa mengetahui bahwa ada satu orang yang selalu menemani diri nya.



Orang-orang Kota yang menghidupi dia, hanya seorang, tapi orang itu juga tidak dekat dengan Kaira.


Karena tidak ada yang menemani diri nya, membuat hari-hari yang Kaira jalani terasa begitu membosankan. Sangat-sangat membosankan.


“Mungkin berkelana seperti yang Kakek katakan, akan menyenangkan.”


Di Dalam Rumah.


Kaira baru saja kembali selepas membeli daging kambing asap. Dia duduk pada lantai rumah, di hadapan nya sudah siap daging kambing asap itu untuk di makan.


Tapi sebelum itu, Kaira mengeluarkan sebuah kantung kulit yang dia sembunyikan di bawah lemari. Saat di buka, terlihat ada tumpukan garam dalam kantung kulit tersebut.


Kaira mencomot sedikit garam di situ, kemudian menaburkan nya ke daging kambing yang akan dia makan.


Meski makanan ini sangat sederhana, tapi raut wajah yang sangat gembira, nampak jelas terukir pada muka Kaira. “Hihi... Selamat makan...,” ucap Kaira pelan.


Dengan lahap, Kaira memakan daging kambing itu. Tapi dia tidak menghabiskan semua nya, ada beberapa potong yang sengaja Kaira sisakan untuk di makan lain waktu.


Dia menyimpan daging kambing itu pada sebuah kotak, yang di dalam nya berisi tumpukan es.


Setelah makan, biasa nya Kaira akan pergi bermain di pinggir Kota sendirian, atau pergi memancing untuk mengisi stok makanan.


Tapi kali berbeda, karena akan datang seorang Tuan Muda dari Keluarga Utama Izura. Semua penduduk Kota Sera harus berkumpul di depan gerbang masuk.


Saat Kaira sampai di sana, kebanyakan sudah berkumpul duluan. Jadi dia harus berada pada posisi belakang kerumunan.


KLETAK! KLETAK! KLETAK!


Suara langkah kaki kuda yang tangkas, terdengar. Langsung mereka semua yang tadi berbincang-bincang, diam. Sambil menunjukkan rasa hormat kepada sebuah Kereta Kuda yang tengah melintas.


Melihat apa yang mereka semua lakukan, Kaira hanya mengikuti saja, tapi tidak hormat.


Kereta Kuda itu di buat dari bahan aluminium yang kuat, juga di hiasi oleh banyak emas. Tidak hanya itu, ada juga pasukan berkuda yang menjaga nya.


Dalam sekali lihat saja, sudah dapat di pastikan bahwa yang berada di dalam sana bukan orang sembarangan.


Tepat di depan gerbang, Kereta Kuda itu berhenti...


TAP... TAP...


Tidak lama kemudian, turun seorang bocah yang berumur sekitar 9 tahun, dia di temani oleh pelayan. “Tuan Muda, di sini lah tempat nya.”


“Huh?! Tempat macam apa ini?! Apa ayah bercanda?! Apakah tidak ada tempat yang lebih bagus untuk hukuman payah ini?!”


Seperti biasa nya, Tuan Muda dari Keluarga Bangsawan selalu bersikap manja.


“Tidak ada, Tuan Muda Khun. Lagi pula, kami sudah menyiapkan sebuah rumah yang cukup bagus untuk anda tinggali, selama masa hukuman.” Si pelayan membujuk Tuan Mudah.


Tuan Muda Khun itu, hanya bisa mendengus kesal, keputusan Ayah nya sudah pasti tidak dapat diubah. Kemudian dia berjalan dengan begitu angkuh nya melewati warga Kota Sera.


Ketika melangkah, pandangan nya sempat terpaku ke arah seorang bocah yang kelihatan nya agak lebih muda dari diri nya.


Berbeda dengan yang lain nya, bocah itu tidak tidak menunjukkan rasa hormat sedikit pun saat diri nya lewat. Bahkan bisa di bilang bersikap biasa saja.


Tapi karena tidak ada yang menyadari nya selain Khun, jadi si bocah tidak di tegur oleh siapa pun. ‘Cih! Tunggu saja kau nanti.’


<----<>---->


DAK!


“Hoi, sialan! Apa kau sedang menantang ku?”


“Jawab! Apa maksud sikap mu yang tidak menunjukkan rasa hormat pada ku?!” Khun menarik kerah baju Kaira, untuk memaksa nya menjawab.


Kaira tentu langsung menyingkirkan tangan Khun. “Untuk apa aku menghormati mu? Kau berkonstribusi dalam hidup ku saja belum!”


“Huh?” Mendengar jawaban Kaira, Khun jadi semakin kesal. “Bangsawan rendahan... Apa kau tidak bisa berpikir?”


“Harus nya aku yang berkata begitu. Orang yang ku hormati hanyalah orang yang menurutku layak, tidak seperti di-”


BUAKH!!


Karena sudah terlalu kesal, Khun refleks memukul perut Kaira, hingga membuat bocah itu tersungkur. “Ku' beri peringatan. Segera ubah pikiran mu, atau kau akan menyesali nya!”


“Tidak akan pernah...”


Ya, benar-benar tidak akan pernah, sampai kapan dan di mana pun.


Tapi, Kaira harus rela menanggung akibat nya. yang mana, Khun terus-menerus mengganggu diri nya, bahkan Khun sampai mengajak anak-anak lain untuk ikut mem-bully Kaira.


Bahkan ketika mereka sama-sama menginjak usia remaja, masih saja Khun melakukan perbuatan nya itu.


<----<>---->


Masa Sekarang.


Viole membuka mata nya yang terasa begitu berat, pemandangan pertama yang dia lihat adalah sebuah langit-langit yang terbuat dari bahan baru, yaitu semen.


Setelah menggerakkan kedua mata nya selama beberapa detik, dia mendapati seorang gadis tengah tertidur di pinggir kaki nya, yang berada di sebuah ranjang.


Gadis itu duduk pada sebuah kursi.


Viole pun kembali menggerakkan mata nya.


Melihat barang-barang yang ada di sekitar, Viole dapat menyimpulkan bahwa dia sedang berada di ruang medis.


“Ugh...”


Rasa haus yang amat sangat, tiba-tiba Viole rasakan. Langsung saja dia mengambil air yang berada di meja samping, namun tangan nya tidak bisa meraih gelas di sana.


Karena itu, Viole pun memposisikan tubuh nya untuk duduk, walau harus mengeluarkan usaha ekstra. Dengan begitu dia dapat mengambil gelas air tersebut...


“Eh? Viole?”


Tapi di saat yang sama, Viole juga membuat gadis yang telah merawat nya itu, terbangun.


DEK...


Viole menaruh gelas itu kembali ke tempat nya. “Em... Maaf Neku, aku tidak sengaja membangun kan mu-”


BUKH!


Belum sempat Viole selesai berbicara, Neku sudah terlebih dahulu kembali membaringkan Pemuda itu. “Jangan terlalu banyak bergerak dulu.”


“A-aa... Baiklah.” Cepat-cepat Viole membuang pandangan nya dari Neku.


Sedangkan Neku malah sampai membuang muka dengan menghadap ke belakang. Dia juga menepuk-nepuk pipi nya sendiri. ‘Neku! Neku! Kenapa kau malah membuat situasi nya menjadi canggung begini?!’


Seperti yang Neku pikirkan, suasana nya benar menjadi tanggung hingga beberapa menit kemudian. Sampai Viole tiba-tiba bertanya. “Khun... Di mana? Aku tidak melihat nya berada di sini.”


Will Continue In Chapter 98 >>>


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


njir, sedih gua nulis ini chapter :v


btw, buat yang kepikiran, kenapa bocah yang nge-bully Kaira baru sampe, padahal di scene nightmare ring dia udh muncul pas kakek Kaira baru meninggoy?


gua lupa udh pernah nyampein ini apa belum, tapi inti nya, nightmare ring cuma menampilkan masa lalu yang nyata, namun dilebih-lebihkan.


atau bahasa gampangnya, ada hal yang di tambahin, biar kesan mimpi buruk nya semakin bertambah.


dah, bye-bye :3