Magic War

Magic War
Ch 36 – Kembalikan Tanganku



“Iblis dan Malaikat seharus nya saling bermusuhan, tapi entah kenapa dia malah memilih untuk tidak membunuh Iblis Perempuan itu.


Dia melakukan nya diam-diam, jadi tidak ada yang mengetahui tindakan nya, dan karena tindakan nya itu, si Iblis Perempuan mulai menyukai nya.


Tentu saja Iblis Perempuan itu memendam rasa nya, tapi lama kelamaan dia sudah tidak bisa menahan nya lagi.


Hingga si Iblis Perempuan nekat untuk secara diam-diam menemui sang Jenderal Malaikat Agung.


Dan dari pertemuan itu, hubungan terlarang mereka berdua dimulai tanpa ada seorang pun yang mengetahui nya.


Namun hanya sementara saja, sampai seseorang yang entah siapa mengetahui hubungan terlarang mereka berdua, lalu langsung melaporkan nya pada Dewata Tertinggi.


Dewata Tertinggi tentu sangat murka ketika mendengar nya. Dia pun memberi tahukan informasi ini kepada Raja Iblis, untuk memintai keterangan dari nya.


Sebab Dewata Tertinggi mengira bahwa Raja Iblis mengetahui tentang semua ini, tapi kenyataan nya Raja Iblis tidak mengetahui apapun, dan tentu Raja Iblis sangat marah saat mengetahui bahwa yang terlibat dalam hubungan terlarang itu adalah keturunan langsung nya.


Karena sudah terlanjur terbawa amarah, Raja Iblis dan Dewata Tertinggi tanpa pikir panjang langsung menghukum mereka berdua dengan sebuah kutukan.



*Note: Gambar di atas adalah sosok mengerikan Raja Iblis.


Kutukan tersebut akan membuat mereka berdua abadi alias tidak bisa mati, namun harus terus menderita selama nya.


Tapi seperti kata-kata orang bijak, cinta akan membutakan siapa pun. Membuat mereka berdua tidak memperdulikan kutukan tersebut.


Setelah mendapatkan kutukan, pasangan terkutuk itupun di usir dari peradaban. Seperti yang sudah di perkirakan, mereka berdua menghilang selama ribuan tahun.


Tapi pada akhirnya mereka berdua tetap kembali muncul dengan membawa dua orang anak yang kedua nya laki-laki.


Mereka berdua kembali muncul bukan tanpa alasan, munculnya kembali dua orang terkutuk itu karena ingin menantang Raja Iblis dan Dewata Tertinggi.


Tantangan yang mereka berdua katakan langsung menjadi bahan tertawaan, bahkan Dewata Tertinggi dan Raja Iblis yang dikenal sangat dingin sampai tertawa.


‘Kami sudah terbebas dari kutukan yang kalian berikan dan kedatangan kami kemari adalah untuk menantang kalian berdua, Dua Great God!’


Itulah yang mereka berdua katakan di tengah-tengah badai petir bersama kedua anak mereka yang masih kecil.


Tantangan mereka berdua di terima oleh Raja Iblis dan Dewata Tertinggi. Pertarungan pun di adakan di sebuah gunung yang luasnya tidak bisa diukur.


Dan tentu, sudah bisa di tebak hasil nya bahwa Raja Iblis dan Dewata Tertinggi lah yang menjadi pemenang pertarungan itu.


Tapi ada sesuatu yang aneh, kedua pasangan terkutuk itu mati dalam keadaan tersenyum sambil berpelukan! Seakan-akan tidak memperdulikan kedua anak mereka yang menjadi bahan caci maki 'an!”


Pria itu terlihat sangat marah, entah apa yang menjadi penyebab kemarahan nya.


Sementara Itu Di Dunia Nyata.


Vii yang berada di dalam lorong bisa mendengar ledakan keras dari luar, namun dia tidak memperdulikan nya.


Karena orang yang sedari tadi ingin sekali dia bunuh sudah berdiri di depan nya saat ini. “Bagus, aku tidak perlu repot-repot mencari mu.” Vii tersenyum menyeringai.


Acsa, Divan dan Tyhas nampak sangat kebingungan dengan yang Vii katakan, tidak hanya itu mereka bertiga juga bingung dengan situasi saat ini.


Terbaring di ruang medis dalam keadaan yang tidak sadar dan baru saja bangun membuat mereka bertiga tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Vii menunjuk mata kiri nya. “Kau tau siapa yang menyebabkan luka yang sangat menjengkelkan ini?” tanya nya sambil menatap dingin Tyhas.


Pada bagian mata kiri Vii ada sebuah topeng, topeng itu merupakan benda yang sangat merendahkan harga diri nya.


Tyhas hanya menggeleng pelan. Dia masih di buat bingung sekaligus takut karena Vii memegang tangan yang sudah terpisah dari tubuh pemilik nya.


Dan juga bau darah yang sangat menyengat semakin menambah kebingungan Tyhas.


Masih dengan wajah dingin nya, Vii berkata. “Redoist Manami si Moonlight Archer!”



Tyhas terkejut bukan main saat nama Redoist Manami keluar dari mulut Vii. Acsa dan Divan juga menunjukkan reaksi yang sama. “Kau... Apa maksud mu?!”


Vii tersenyum menyeringai, tapi masih berwajah dingin. “Kau pasti sangat kebingungan bukan ketika Ibu mu itu menghilang begitu saja tanpa ada kabar apapun 17 tahun yang lalu?”


Ekspresi wajah Tyhas memburuk, namun dia masih tetap diam mendengarkan Vii berbicara. Dia mengepalkan tangan.


“Itu karena dia sudah lancang menyerang persinggahan sementara pasukan ku sendirian! Karena penyerangan nya dia menyebabkan luka ini! Dan akibatnya... Dia ku bunuh!”


Vii adalah orang yang dikenal sangat berwibawa, namun wibawa nya itu akan hilang jika sudah menyangkut tentang penampilan nya.


Tubuh Tyhas tiba-tiba menjadi lemas ketika mendengar apa yang Vii katakan. Tanpa sadar dirinya sudah dalam posisi berlutut dengan ekspresi wajah kosong.


Tentu sebelum ada bukti akan sulit untuk mempercayai perkataan Vii, namun dari kekuatan yang dia pancarkan nya saja sudah cukup menjadi bukti bagi Tyhas.


Tyhas menegangkan kepala nya sendiri. ”Ibu mati karena dia? Ini tidak mungkin kan? Pasti bohong kan?” gumam nya.


Senyuman senang menghiasi wajah Vii saat diri nya melihat ekspresi wajah Tyhas yang begitu menyedihkan.


Vii pun berjalan maju masih dengan senyuman lebar nya dan tangan kanan Kaira yang dia bawa layak nya senjata.


Divan dan Acsa mencoba untuk menyadarkan Tyhas, namun Tyhas tidak bergeming sedikit pun.


Tanpa pikir panjang, mereka berdua pun memutuskan untuk melindungi Tyhas walaupun tidak berguna, karena kabur juga tidak akan ada guna nya.


Jadi lebih baik mati, dalam keadaan yang terhormat, dari pada mati ketika menjadi seorang pengecut.


“Pergi sana, dasar serangga.”


DAKH!! BRAK!!! DUAK!! DRAK!!!


Dengan menggunakan lengan kanan Kaira, Vii memukul Divan dan Acsa hingga membuat mereka berdua terpental, dan berakhir tidak berdaya di dinding lorong.


Serangan tersebut begitu cepat, bahkan sebelum Divan dan Acsa dapat bereaksi, mereka sudah terkena serangan.


Sama seperti yang terjadi pada Raven dan Kaira, mereka berdua sama-sama mengalami patah beberapa tulang dan pendarahan, namun kali ini lebih parah.


Setelah menghabisi dua pengganggu tadi, pandangan Vii kembali berfokus pada Tyhas yang saat ini sedang dalam kesedihan yang berlarut-larut.


“Sama seperti Ibu mu, kau akan mati dalam keadaan menangis...”


Vii menatap Tyhas sejenak, lantas mengangkat tangan Kaira tinggi-tinggi untuk mengakhiri kehidupan Tyhas dalam sekali serangan.


“Mati sana-!”


SREK!


Namun serangan Vii harus terhenti karena tiba-tiba ada semacam Sihir Gelap yang mengikat tangan Kaira. Sihir itu begitu kuat, sampai bisa menahan gerakan Vii.


Di saat yang sama, terdengar suara pelan yang sangat menusuk di telinga Vii.


“Kembalikan tangan ku...”


Will Continue In Chapter 37 >>>