
Setelah acara pemakaman Yoshi selesai, Viole langsung pulang, tanpa pergi kemana pun. Dia hanya sendirian saja saat perjalanan pulang.
Jalanan District Occupancy terlihat begitu sepi sore hari ini. Langit berwarna jingga dan udara terasa begitu dingin karena angin kecil yang berhembus, membuat suasana nya terasa mencekam.
TAP... TAP... TAP...
Ketika memasuki area sekitar rumah nya, Viole dapat melihat kalau sudah tidak ada satupun orang lagi yang keluar rumah.
Mereka semua, mengurung diri di dalam rumah masing-masing.
Kejadian seperti ini bukan lah hal aneh, setiap ada orang yang mati karena suatu peristiwa yang tidak biasa, setidak nya satu malam, orang-orang akan mengurung diri.
Jadi sekarang Viole benar-benar sendiri, berjalan di jalanan sepi ini, hanya suara daun kering yang ter' terpa angin yang menemani diri nya.
Di Kota Sera yang sedikit penduduk nya, suasana seperti ini sudah menjadi bagian dari hari-hari Viole.
Tapi entah kenapa, Viole merasakan perasaan yang tidak enak atas situasi ini. Dia yang sudah cukup terbiasa dengan suasana seperti ini, hampir mustahil merasa kawathir.
Oleh karena itu, diri nya mencoba untuk memasang indra baik-baik. Mau pendengaran, atau pun pengelihatan.
Pupil mata biru milik Viole, bergerak dengan begitu cepat, namun kepala nya masih menghadap lurus ke depan, tanpa bergerak sama sekali.
SHAH...
Samar-samar, Viole dapat mendengar suara yang entah suara apa itu, inti nya suara ini hampir sama pelan nya dengan suara langkah kaki Pasukan Pengintai.
Namun lebih keras.
‘Begitu ya, dia mau apa?’ Setelah mendapatkan sedikit gambaran, Viole pun menghentikan pencarian nya, sekarang dia hanya fokus berjalan menuju rumah.
Dedaunan kering melewati, juga menjatuhi diri Viole saat dia sedang berjalan. Lima menit kemudian, akhirnya dia sampai di depan rumah.
Tangan kanan nya yang memegang kunci, bergerak. Perlahan Viole membuka kunci yang mengunci rumah nya, namun di tengah-tengah, dia berhenti.
Viole melepaskan tangan nya dari kunci itu.
Lalu menengok ke atas, lebih tepat nya ke arah atap rumah.
“Keluar kau... Atau aku yang mengeluarkan mu?”
Tidak ada reaksi...
PRAK!
... Yang terdengar malah genting tetangga yang jatuh, lalu pecah.
“Ku bilang keluar... Aku tidak akan mengulangi nya lagi.” Viole segera mengalirkan Magi ke tangan serta kaki nya.
Dan, sampai 5 detik berikut nya, masih tidak ada tanda-tanda yang di munculkan.
“Kau yang memaksa!”
WUSH!!
Karena tidak mendapat jawaban, Viole langsung melesat ke atas, mengakibatkan hembusan angin yang cukup kencang. “Cih!” Dia merasa sedikit kesal saat melihat, tidak ada siapa-siapa di atas rumah.
Ketika mendarat di atap, Viole cepat-cepat mencari keberadaan orang itu, namun dia tidak menemukan apa-apa. Tempat ini masih saja kosong.
‘Sial! Dimana dia?!’ Viole celingukan mencari keberadaan orang tadi.
SHA...!
Lagi-lagi suara itu terdengar, tapi kali ini jauh lebih keras dari sebelum nya. Menandakan kalau orang misterius itu masih di dekat sini.
‘Lanngkah kaki? Tidak mirip sama sekali! Lalu itu apa?!’ Viole diam di atap, sambil terus berpikir tentang suara itu, tentu dia masih mengedarkan pandangan nya.
SHAH...!
Suara itu terdengar lagi.
‘Dari arah kiri ya.’ Mata Viole menyipit. ‘Tapi tidak ada apapun di sana... Tunggu, jangan bilang, dia...’
“Kheh!” Tanpa pikir panjang, Viole langsung bergerak ke arah kiri dengan cara melompat, dia tidak peduli dengan beberapa genting yang harus rusak.
Viole melakukan nya dengan sangat cepat, sampai membuat orang misterius itu tidak sempat berpikir. Jadi diri nya harus rela di timpa oleh tubuh Viole.
BUKH!!
Mereka berdua jatuh secara bersamaan dengan Viole yang harus menjadi alas, karena saat di udara, orang itu mampu membalikkan keadaan.
Namun itu tidak berarti apa-apa. Dengan segera, Viole mendobrak pintu samping rumah nya, lalu melempar orang yang menimpa nya itu ke dalam.
Setelah itu, Viole pun masuk, kemudian langsung mengunci pergerakan orang tersebut dengan memojokkan nya ke tembok.
Viole mencona untuk mengatur nafas. “Heh! Kau kira dengan terbang dan bersembunyi di bawah atap, kau bisa mengelebaui ku? Tidak akan pernah.”
Mata Viole menatap tajam orang itu. Dia adalah perempuan bertubuh ramping, sebuah jubah menutupi hampir seluruh tubuh nya, termasuk kepala.
Jadi dia tidak dapat melihat rupa dari gadis asing ini.
Viole kemudian mendekatkan wajah nya dengan gadis itu. “Beri tau aku, kenapa kau mengikuti ku?”
‘Aku bisa merasakan nafas nya! Nafas nya!’ Entahlah gadis ini kenapa.
Viole tidak mendapatkan jawaban, mulut perempuan itu hanya komat-kamit, seperti nya dia sedang bergumam, dengan suara yang begitu pelan.
“Hah...” Tiba-tiba, Viole melepaskan gadis itu.
Tentu saja apa yang Viole lakukan membuat si gadis kebingungan, tapi kebingungan nya itu tidak bertahan lama, sampai mendadak...
WRUK!
Viole menyingkirkan kerudung yang menutupi kelapa gadis tersebut. Wajah cantik yang di bungkus oleh rambut hitam panjang yang terurai, dapat Viole lihat.
Gadis itu tidak terlihat marah atau takut sedikit pun, dia tersipu, wajah nya menjadi merah, semerah tomat. Menggunakan kedua telapak tangan, dia menutupi wajah nya sendiri.
“Oi, kau itu siapa? Bukankah kau gadis yang sama dengan yang di ujian masuk waktu itu?” Sekarang Viole menjadi lebih santai.
“Sudah ku duga, penampilan ku terlalu berubah!” gumam nya.
“Haah? Kau ini bicara apa? Aku bertanya soal nama mu, bukan penampilan mu.” Viole merasa bahwa gadis ini memiliki sedikit gangguan.
Dia masih menutupi wajah nya, namun dia menggerakan sedikit jari, demi memberikan celah pada mata nya untuk melihat.
“Nama... Ku?” Dia bertanya, suara nya terdengar bergitu lembut.
Viole menghela nafas. “Yaa... Nama mu.” Dia berusaha untuk tidak kesal.
Gadis itu tidak langsung menjawab, dia sempat berpikir sejenak. Meskipun sebentar, tapi terasa begitu lama bagi nya.
Ada banyak sekali sekenario yang tergambar di kelapa gadis itu jika diri nya menyebutkan nama. Tapi untuk mengetahui nya, dia harus berani mengambil risiko.
Jadi dia menghembuskan nafas untuk memantapkan hati. “Ne-Neku...” Namun suara nya masih saja pelan.
“Neku, ya...” Viole mengelus dagu, bola mata nya menilik gadis bernama Neku itu dari atas sampai bawah. “Jauh berbeda dari orang yang bernama sama.”
“Apa lagi di bagian dua aset penting ini.” Tanpa sadar, Viole mendekatkan wajah nya ke dua buah aset penting milik Wanita.
Apa yang Viole lakukan, membuat wajah Neku yang sudah merah, jadi tambah merah, jantung nya jadi berdegup kencang. Suara. “Wawawawa...” Bersamaan dia keluarkan.
Ketika memperhatikan ‘sesuatu itu’ Viole tidak sengaja mengetahui nama lengkap Neku. “Oh ternyata benar, kau itu Neku. Kau sudah banyak berubah rupa nya...” Mata Viole menatap suatu benda bundar yang berwarna perak.
Setelah nya, Viole memutar tubuh. Lalu berjalan untuk menutup pintu samping rumah nya.
“Eh? Kau tidak terkejut dengan kehadiran ku di sini?” Nemu menyinkirkan telapak tangan nya dari wajah, tidak ada perubahan di wajah nya, masih saja kikuk.
“Tidak, kau kan Bangsawan, tapi masih bisa latihan sendiri tanpa perlu kemari sih. Justru yang membuat ku terkejut adalah, diri mu yang terkesan memata-matai ku. Apa kau bagian dari Pasukan Pengintai?”
Viole menatap tangan kiri nya yang masih memegang gagang pintu, di sana mengalir Magi yang cukup besar.
“Tentu bukan!” Neku kebingungan untuk menyusun kata-kata. Sekarang saja diri nya merasa ragu untuk memberikan alasan yang sebenar nya.
“Lalu?” Magi di tangan kiri Viole makin banyak.
“Aku...” Neku menundukkan kepala. “Aku...” Sekarang mata nya terpejam. “Aku hanya... Hanya ingin melihat mu!”
“... Untuk... Apa?” Dahi Viole mengerut.
Neku menggigit bibir bagian bawah nya sendiri, jantung nya jadi terpacu lebih cepat dari sebelumnya, keringat dingin mendadak membasahi wajah nya. “Aku... Menyukai mu...”
Will Continue In Chapter 91 >>>
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
it's bucin timeeee!!!!