Magic War

Magic War
Ch 66 – Pribadi Baru



“Hiks! Hiks! Lagi-lagi... Lagi-lagi...! Kenapa-? Ini terjadi lagi...” Kaira di tempat yang semua nya putih itu, sedang bertekuk lutut.


Dia menjambak rambut nya sendiri, di ikuti dengan butiran-butiran kristal cair yang mulai menetes dari sudut mata nya.


“Kenapa?! Orang yang mulai dekat dengan ku... Selalu pergi?!” teriak Kaira.


Dyroth diam sejenak, sebelum perlahan tangan nya menyentuh kepala Kaira, kemudian dia mengelus nya. “Ini adalah Dunia yang tidak adil, jadi biasa'kan diri mu.”


PLAK!


Apa yang Dyroth katakan tidak bisa Kaira terima, karena itu dia langsung menyingkirkan tangan Dyroth dari kepala nya.


“Kalau begitu, kenapa kau malah bunuh diri?!”


Mendengar itu, Dyroth tersenyum pahit. “Aku terlanjur jatuh ke jurang kemalangan dan aku sudah tidak memiliki tujuan hidup lagi. Awal nya aku berpikir untuk tetap diam saja di sini, tapi setelah ku pikir ulang, lebih baik aku mati saja.”


Mata ungu Dyroth melihat ke arah Kaira, dengan mata nya itu, dia bisa melihat Kaira terduduk diam. Wajah Pemuda itu pucat, seperti orang mati. “Apa kau di sini?” tanya Dyroth.


“Ya... Aku di sini,” jawab Kaira, dia masih menundukkan kepala. Meskipun begitu, sudah tidak ada lagi isakan yang terdengar.


Dyroth pun berdiri, kemudian memutar tubuh nya. “Semua tugas ku sudah selesai, tidak ada penyesalan sama sekali di hati ku.


Sekarang aku akan pergi. ‘Aku menyayangi mu’ sampaikan itu pada Balft, saat kau bertemu dengan nya. Tidak kau sampai kan juga tidak apa-apa.”


“....”


Hening, tidak terdengar jawaban dari Kaira. Dyroth menggeleng pelan, lantas melangkah menjauhi Kaira.


BEKH!


Tapi belum satu langkah Dyroth lakukan, dia harus berhenti karena pergelangan tangan nya di cengkraman oleh Kaira.


Dyroth menengok kebelakang. “Ada apa?”


“Setidak nya... Beritahu aku nama mu...”


“Elye Dyroth... Itu adalah nama ku... Kau, kenapa kau menganggap ku begitu berharga? Padahal baru dua hari kita saling mengenal.” Dyroth penasaran.


Kaira melepaskan cengkraman tangan nya, baru menjawab. “Sejak kecil sampai sekarang, teman yang ku miliki bisa di hitung dengan jari.


Karena itu, setiap orang yang mulai dekat dengan diri ku, adalah sosok yang sangat berharga bagi ku. Diri mu adalah salah satu nya.”


Dyroth menggaruk kepala nya yang tidak gatal, dia merasa ada yang aneh dengan jalan pikiran Kaira. ‘Bocah ini, dia memang telah menjadi lebih dewasa, tapi... Dia tetap saja anak-anak.’


Karena merasa bertanggung jawab, Dyroth pun membalik badan nya, kemudian duduk sambil menepuk pundak Kaira.


“Ingat pesan ku ini, buang semua ke'naifan mu. Jadilah lebih dewasa, jangan terlalu mudah mempercayai orang lain dan yang terpenting, bantu lah orang yang ingin kau bantu, pikirkan juga diri mu sendiri.”


Mendengar nasehat Dyroth, membuat Kaira mengangkat dagu nya. Dia menatap Dyroth dengan tatapan nanar.


Tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut Kaira, dia hanya diam, seperti seorang bayi yang baru saja di ajari berbicara.


Menyadari hal itu, Dyroth langsung melanjutkan perkataan nya. “Inti nya, jangan menjadi orang yang terlalu baik, di Dunia kejam ini.


Menurut ku, kau ini adalah orang yang humoris, tapi juga sangat serius di beberapa situasi. Hal itu wajar, tapi dalam diri mu sedikit berbeda.”


Kaira memiringkan kepala nya. “Berbeda?”


“Ya, kau berbeda. Entah kenapa kecerdasan mu akan naik berkali-kali lipat saat situasi nya benar-benar serius.”


“Apa hubungan nya diri ku yang berbeda, dengan prinsip mu tadi?” tanya Kaira penasaran.


Dyroth menyentuh dada kiri Kaira. “Tentu ada! Apa yang barusan ku katakan menandakan bahwa kau itu berbakat.”


“Jadi?”


“Jadi, orang berbakat seperti mu akan sangat di sayangkan jika gugur pada usia muda. Oleh karena itu, pegang prinsip ku tadi dan jangan menolong orang demi berteman dengan nya.”


“Eh?!” Kiara terkejut bukan main dengan kalimat terakhir yang Dyroth ucapkan. ‘Apa dia bisa membaca pikiran ku?’


Dyroth mengetahui nya, berarti rahasia nya telah di ketahui oleh orang lain.


Berdiri, kemudian berjalan menjauh menuju sebuah cahaya, itulah yang sedang Dyroth lakukan saat ini.


Berbeda dengan sebelum nya, sekarang Kaira tidak menghentikan langkah Dyroth. Dia bersama hati nya yang sudah terasa lebih baik, hanya diam menatap punggung Pria itu semakin menjauh.


Beberapa menit kemudian, akhirnya Dyroth tiba di dekat cahaya itu. Dyroth berhenti tepat di depan cahaya tersebut, sambil menengok ke belakang, menatap Kaira.


Kaira hanya membalas tatapan Dyroth dengan sebuah senyuman, yang sedikit di paksakan. Padahal sebenarnya, dia ingin sekali berkata terima kasih.


Senyuman Kaira, Dyroth balas dengan senyuman. “Sama-sama,” gumam nya. Kemudian, dia berjalan memasuki cahaya tersebut.


WUNG!


<----<>---->


Masih di dapur, lebih tepat nya di meja makan, Kaira terbangun. Hal yang pertama kali dia lihat adalah mayat Dyroth yang sudah di tutupi oleh kain [Bagian Kepala]


“Kaira! Kau tidak apa-apa?” Raven yang sedari tadi berada di samping Kaira, langsung bereaksi ketika Pemuda itu terbangun.


“Aku baik-baik saja... Dan kenapa aku, lalu kau masih berada di sini?”


Pertanyaan itu membuat Raven menghela nafas berat. “Aku dan Tyhas tidak bisa melakukan apapun pada mu, bahkan kursi yang sedang kau tempati tidak bisa kami gerakan. Apa kau terbawa ke Ranah Jiwa Pria keren itu?”


“Begitulah, tapi seharus nya tubuh asli ku tidak akan seperti tadi.”


“Yah, ini Dimensi ciptaan Raja Iblis, apapun bisa terjadi di sini.” Raven menebak-nebak.


Kaira terdiam, beberapa kemudian dia menyadari sesuatu. “Ngomong-ngomong, Tyhas kemana?”


Raven menunjuk ke belakang Istana. “Dia sedang menggali lubang di dekat taman bunga belakang Istana, dia menemukan nya kemarin lusa. Kemungkinan besar sekarang sudah selesai.”


Mengetahui itu, Kaira menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan nya secara perlahan. “Kalau begitu ayo, kita bawa mayat ini.”


“Semoga saja kepala nya tidak terputus.”


<----<>---->


Angin pagi berhembus lembut, menerpa tiga orang Pemuda yang sedang berdiri di taman bunga belakang Istana, menghadap sebuah makam.


Salah satu dari tiga Pemuda itu menggenggam sebuah Pedang Pendek yang berlumuran darah. Pedang tersebut pun dia tancapkan ke tanah, tepat di samping makam itu.


“Mulai sekarang kau akan terus menancap di sini dan aku tidak akan pernah menggunakan mu lagi, Four Crystals.”


“Apa kau yakin Kaira? Walau menyimpan kenangan buruk, Pedang itu tetap Soul Weapon Level 4.” Pemuda lain bertanya.


“Aku seratus persen yakin, Tyhas.” Kaira menjawab sambil menatap makam Dyroth. Tidak ada perasaan sedih maupun senang dari tatapan nya, seakan-akan dia sedang memikirkan sesuatu.


“Kaira, Tyhas. Kita keluar dari Dimensi ini sekarang? Mumpung masih di beri kesempatan oleh Raja Iblis. Tapi aku tidak yakin kalau dia benar-benar Raja Iblis,” kata Raven.


“Ayo, kita sudah membuang banyak waktu.” Tyhas langsung melangkah.


Kaira diam, dia memejamkan mata nya sejenak, sebelum kembali membuka nya bersama dengan sebuah cahaya baru, yaitu cahaya perubahan.


Sekarang, Kaira telah memutuskan untuk diri nya mengikuti nasehat atau prinsip yang Dyroth berikan pada diri nya. Tapi dia tidak tau, itu akan berdampak baik atau buruk.


“Baiklah, saat nya memulai kembali perjalanan yang tertunda ini!”


Will Continue In Chapter 67 >>>


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Road to 69 boyyy!!!


BTW buat lu yang masih belum ngerti beberapa hal di Chapter sebelumnya, bisa ngulang baca, biar ngerti.


Dan kalo lu nemu plot hole, bisa kasih tau gua ye ;)