
Tepat setelah itu, Viole langsung terbangun. Wajah terlihat begitu pucat, di tambah dengan keringat dingin yang membasahi tubuh nya.
Nafas Viole terengah-engah dan badan nya terasa begitu lemas, membuat nya menelan ludah. Viole memegangi kepala nya sendiri. “Ugh... Tadi itu apa?”
‘Ingatan mu, harus nya kau tidak perlu terkejut. Karena ini bukan pertama kali nya kau mendapatkan ini,’ celetuk Kaira.
Viole menghela nafas panjang, untuk menenangkan diri. ‘Maksud mu pada saat di Archimedes Kingdom dulu?’
‘Begitulah. Perlahan-lahan kau akan mendapatkan ingatan mu di masa lalu. Tidak perlu terlalu memikirkan nya, kau nanti pasti tau sendiri.’
‘... Kenapa... Kau tidak memberitahu kan semua nya pada ku? Mulai dari Seven Deadly Sins sampai alasan mu ingin menghancurkan Dunia.’
Selepas berkata demikian, Viole pun mencoba untuk duduk, walaupun tubuh nya masih lemas, tapi dia tetap berhasil.
‘Itu tidak bisa di lakukan. Jika aku melakukan nya, yang ada diri mu malah akan mati karena tidak kuat menahan beban.’
“Heh... Bisa begitu ya...,” ucap Viole, sebelum dia mengambil segelas air yang berada di meja, lalu meminum nya.
‘Oh ya, apa kau mendapatkan ingatan tentang dia? Maksud ku, apa semua nya kau dapat kan?’
Selesai minum, Viole menaruh kembali gelas itu pada tempat nya. ‘Ya... Semua nya, dari awal sampai akhir. Haha... Jujur, aku sangat ingin menangis dan berteriak seperti yang kau lakukan dulu.
Tapi jika melakukan nya, aku pasti di kira orang gila dan di marahi tetangga.’ Viole tersenyum tipis.
‘Tanpa perlu melakukan nya pun, kau sudah menjadi orang gila.’
‘Itu tidak penting. Yang lebih penting adalah, kenapa aku bisa berada di sini? Bukankah sebelum nya aku...’ Viole menggaruk kepala nya yang tidak gatal. ‘Bagaimana ya mengatakan nya.’
‘Kau pingsan.’
Viole mengerutkan kening. ‘Kenapa bisa begitu?’
‘Aku mengambil tenaga mu, hehe.’
‘Alasan nya se' konyol itu? Memang nya tenaga ku untuk apa?’
‘Hanya untuk bersenang-senang.’ Kaira berkata jujur, meskipun dia menggaruk kepala.
Untuk sekali lagi, Viole menghela nafas. ‘Ya sudah, aku tidak peduli.’ Lantas dia berdiri, kemudian membuka jendela kamar nya.
Matahari pagi yang menyilaukan, menyambut mata Viole, membuat nya sedikit menyipitkan mata. “Haah! Sudah pagi saja ternyata.
Sekarang ini, Viole sedang memandang ke arah Matahari, otomatis diri nya menatap ke atas. “Ternyata kerusakan yang ku timbulkan jauh lebih parah.”
Genting-genting di rumah Viole, banyak yang rusak.
<----<>---->
“Eh?” Karena mendengar suara dari lantai bawah, Viole segera menuju ke tempat itu, dan saat ini diri nya mendapati seorang gadis yang sedang memasak.
Gadis itu berambut hitam panjang, mengenakan pakaian biasa yang di balut oleh celemek.
Dia masih belum menyadari keberadaan Viole, jadi dia tetap fokus pada berbagai bahan masakan yang berada di hadapan nya.
“Oi, Neku. Apa yang kau lakukan pada dapur ku?” tanya Viole sambil berjalan mendekat.
Seketika, karena pertanyaan mendadak itu, Neku yang sedang memasak terhenti. Dia langsung berbalik dengan muka yang merah padam.
“A- Aiya ini... Aku-”
Viole melewati Neku begitu saja, soalah gadis itu tidak berada di sana.
Lalu mencomot sedikit bumbu masakan yang Neku buat. Sangat tidak sopan sekali.
“Mmm... Ini enak, kau belajar memasak dari mana?” Viole memiringkan kepala nya.
“Eh- eh?! Enak?!” Neku tersipu.
“Hm. Lanjutkan saja, aku akan menunggu di meja makan.” Kemudian, Viole melangkah menuju meja makan yang tidak jauh dari dapur.
Sedangkan Neku, jadi semakin bersemangat untuk memasak, tentu saja kalau bukan karena Viole siapa lagi?
Ketika sampai di meja makan, Viole langsung duduk, dengan sebelah tangan yang menyangga kepala. Ekspresi wajah nya terlihat biasa saja.
Tapi...
‘Bodooh!! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau malah bertingkah sok keren seperti itu dasar bodoooh!!!’
... Di dalam hati nya, dia tidak biasa sama sekali.
Viole menghela nafas berat, di ikuti dengan senyuman aneh di wajah nya. “Hah...! Semoga saja dia tidak berpikiran seperti itu.”
“UAAAAH!!!” Viole yang sedang melamun, terkejut bukan main dengan suara Neku yang tiba-tiba berada di dekat telinga nya.
Sedangkan Neku sendiri malah tertawa kecil. Entah kenapa dia sudah tidak kikuk lagi, seperti nya...
“Haish! Kau hampir saja membunuh ku.” Viole mengelus dada.
“Hihi, sudah sudah. I-ini, makanan nya sudah siap.” Neku pun menaruh beberapa piring ke atas meja. Lalu duduk pada kursi sebelah Viole.
Langsung saja diri nya menyiapkan sarapan untuk Viole, mulai dari mengambil nasi, sampai lauk yang baru saja selesai dia masak.
Saat sudah siap, Neku segera menyerahkan piring yang telah di isi oleh makanan itu, kepada Viole.
Viole sendiri hanya menerima nya begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Dia mengambil sendok, mengisi sendok itu dengan nasi serta lauk, lalu memasukkan nya kedalam mulut.
Belum satu gigitan pun Viole lakukan, air mata sudah terlebih dahulu mengalir di pipi nya, rasa makanan yang sangat asing bagi diri nya itu, malah membuat Viole merasa bahagia.
“He? Eh?!” Melihat Viole yang tiba-tiba menangis, membuat Neku panik. Dia kawathir makanan yang diri nya buat terasa sangat tidak enak, sampai Viole menangis.
Tapi, ketika di tanyai, jawaban yang Neku dapatkan sangatlah tidak terduga.
Viole menelan makanan itu terlebih dahulu. “Kau mungkin tidak pernah merasakan nya, tapi bagi ku... Makanan ini sangat lah spesial, masakan rumah yang di masak oleh seorang Wanita.”
“Ka-kaira... Memang nya apa yang terjadi pada mu?” Neku benar-benar tidak mengerti.
“Tidak ada.” Viole mengusap air mata nya, kemudian tersenyum ke arah Neku. “Aku hanya ingin bilang. Terima kasih, karena telah membuat ku merasakan kehangatan rumah.”
<----<>---->
Di pagi hari yang sedikit berkabut ini, Viole dan Neku sarapan bersama sambil membicarakan beberapa hal.
Salah satu nya adalah Viole yang sudah mengubah nama nya, dia juga memberikan alasan mengapa diri nya mengubah nama.
Neku sendiri tidak keberatan dengan permintaan Viole, yang menyuruh nya untuk tidak menggunakan nama itu lagi.
Jadi sekarang Neku sudah tidak memanggil Viole menggunakan nama lama nya.
“Dari kemarin sore kau terus menjaga ku, sekali lagi aku hanya bisa bilang terima kasih,’ ujar Viole bersama senyuman senang.
Pipi Neku kembali memerah karena senyuman Viole. “Tidak apa-apa, aku tulus melakukan nya.”
“Haha, benar juga.” Viole menaruh sendok nya di atas meja, sebelum menanyakan sesuatu yang sudah diri nya pikiran sejak tadi.
“Oh ya, bagaimana bisa kau menyukai ku? Pasti ada alasan di balik ini kan?”
Mendengar pertanyaan Viole, Neku jadi ikut menaruh sendok makan. Detak jantung nya yang tadi normal, sekarang menguat secara perlahan.
“Wa-waktu itu, saat kita berbicara di sebuah Rumah Makan.... Waktu itu, perlakuan mu pada ku sangatlah buruk, tidak mencerminkan seorang lelaki, pengecut dan tentu saja menyakiti hati ku.”
‘Pfffft!’ Kaira mencoba untuk menahan tawa.
‘Jangan membuat ku kesal!’
Serangkaian kalimat terakhir yang Neku ucapkan, terasa begitu menusuk bagi Viole. Apa lagi yang mengatakan nya adalah seorang gadis.
“Tapi justru karena itu, aku jadi menyukai mu. Kau berbeda dengan para lelaki yang pernah ku temui.” Neku sedikit mendekatkan wajah nya pada Viole.
“Ha?”
Dia semakin mendekatkan muka nya ke arah Viole. “Sejak dulu, selalu saja, setiap Tuan Muda dari kalangan Bangsawan, mengucapkan kata-kata manis saat menemuiku, memuji kecantikan ku, dan melakukan serangkaian hal menjijikkan lain nya!”
“Apa yang mereka lakukan membuat ku muak! Tapi... Kau berbeda, kau memperlakukan ku dengan spesial.” Mata Neku berbinar.
Dari awal sampai akhir kalimat Neku, reaksi yang Viole tunjukan selalu sama. Memasang ekspresi datar yang terlihat agak ketakutan.
Viole tersenyum canggung. “Ahaha, tidak perlu di bahas lagi... Ah... Emm... Neku.”
“Ya?” Wajah Neku masih saja berdekatan dengan wajah Viole.
“Kau... Tidak akan meninggalkan ku, kan?”
Will Continue In Chapter 93 >>>
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
sebenarnya chapter ini bisa aja sih ku ringkas, tapi ya demi memperdalam karakter Viole dan Neku, terpaksa harus panjang anjir!
apa? nggak suka? gelud aja kita! udh lama juga gua kagak gelud!