
TAK! TAK...! TAK...
Tyhas terdiam di atas sebuah atap bangunan, dia tidak menunjukkan ekspresi apapun. Mata hijau nya, tak bergerak karena fokus pada satu hal.
Yaitu satu hal yang sudah dia perkirakan sejak tadi. “Dia, mau membunuh nya... Ya?” gumam Tyhas.
<----<>---->
Perlahan, gadis itu berjalan mendekati Yoshi, senyuman yang begitu mengganggu itu, masih tetap terpasang di wajah nya.
Dia melangkah dengan begitu santai nya, seakan-akan darah yang mengalir di tanah dan tumpukan mayat itu, tidak pernah ada.
Sedangkan Yoshi, dia masih saja berjalan mundur, tubuh nya bergetar hebat. Dia tidak mau percaya dengan apa yang sedang terjadi saat ini.
Dia melangkah dengan pelan...
Karena langkah Yoshi yang begitu pendek dan juga pelan, membuat jarak nya dengan perempuan psikopat itu semakin memendek.
Sampai pada akhirnya...
BREK...
“H-heh...” Punggung Yoshi menyentuh sesuatu, yaitu dinding. Tanpa diri nya sadari, tepat di belakang nya, berdiri satu lagi bangunan yang terbengkalai.
“Muehehehe... Mau kabur kemana kau, Mura?” Gadis itu mengangkat kedua tangan nya sampai sebahu, sambil terus mendekati Yoshi.
Sebenarnya, Yoshi bisa saja kabur ke samping atau ke atas, tapi dia begitu syok sampai tidak bisa berpikir jernih.
Mengakibatkan, si gadis bisa berdiri tepat di depan diri nya. Dia masih tersenyum, kedua pupil mata nya yang membesar, menatap mata Yoshi.
PRANG! PRANG...! PRANG...! PRANG...
“Apa-?”
“Hehehe...”
Secara mengejutkan, gadis itu menjatuhkan pisau milik nya. Setelah itu memeluk Yoshi dengan begitu agresif, dia bahkan sampai menggesekkan wajah ke dada Yoshi.
Lemas... Seketika tubuh Yoshi melemas. Pemuda itu seperti sudah tidak memiliki tenaga. Untuk sekali lagi, dia menatap ke arah mayat-mayat itu.
Hati nya terasa begitu sakit, di sertai dengan air mata yang mengalir. Yoshi tidak pernah menduga, kalau semua perbuatan keji ini, adalah ulah perempuan yang diri nya... ****
“Niren... Kenapa?” Yoshi menutup kedua mata nya, sambil merapatkan gigi.
“Karena aku menyukai mu! Kau tau? Dulu ada yang mengejek mu, mereka bilang kalau kau itu hanya beruntung. Padahal mereka saja yang tidak tau kalau diri mu sudah berkerja keras! Jadi... Aku membunuh mereka, haha!”
Dia tertawa...
Ya, tertawa, dengan begitu senang nya.
Sebelah tangan Yoshi yang tadi cuma diam, sekarang terangkat, untuk menutup mata kiri nya. Dan saat ini, mata kanan terbuka, menatap langit.
“Jadi... Tiga orang itu... Kau...” Yoshi untuk kesulitan menyusun kata-kata.
Niren mengangguk. “He'em... Tapi cerita nya tidak berhenti sampai di situ. Kau pasti belum pernah merasakan nya, menyiksa orang itu... Terasa, sangat nikmat~” Dia tersenyum menyeringai.
Sekali lagi, kalimat yang Niren lontarkan. Membuat diri Yoshi serasa seperti di cabik-cabik, membuat air mata nya, semakin deras mengalir.
Pada masa lalu, Niren selalu menunjukan perilaku gadis normal pada umum nya. Dia sangat ceria, murah senyum dan sering membantu orang lain.
Di tambah dengan paras nya yang cantik, dia menjadi sosok pasangan yang begitu ideal. Banyak lelaki yang melirik nya, bahkan Bangsawan sekali pun.
Tapi selalu dia tolak, dengan alasan yang selalu sama, yaitu sudah memiliki pasangan. Padahal belum.
Sangat tidak terpikirkan di benak Yoshi, kalau perempuan yang begitu di cintai ini. Adalah sosok pembunuh berdarah dingin.
“Hei! Hei! Mura, apa kau tau pasangan yang selalu ku sebutkan? Yaa! Itu adalah diri mu!” Niren semakin erat memeluk Yoshi. “Apapun akan aku lakukan demi diri mu, bahkan, membunuh sekali-”
PLAK!!!
“Aku sudah tidak tahan...!” Tamparan yang begitu keras, melayang tepat di wajah Niren.
“Eeh...?” Niren memegangi sisi kiri wajah nya yang barusan tertampar. Mata nya berkedut, tanda bahwa dia benar-benar terkejut.
Niren mengangkat dagu nya, berusaha untuk menangkap mata Yoshi, yang sekarang ini terlihat begitu garang. “Mura... Kenapa...”
Yoshi menarik kerah baju Niren, tanpa memberi gadis itu kesempatan untuk berbicara. “Aku malah jadi membenci mu!!”
“Sial...” Lutut Yoshi tiba-tiba melemas, sekarang dia terlihat sedang berlutut dengan kepala yang menunduk. Isakan pelan, mengiringi nya.
Sedangkan Niren, pandangan nya kosong, berubah menjadi kosong begitu saja. Namun tidak bertahan lama, sampai dia...
“Hehe... Huahahaha! Aku tidak peduli, jika kau membenci ku, akan ku paksa kau mencintaiku! Apapun akan aku lakukan!”
Niren pun ikut berlutut, lantas mendekat kan mulut nya ke telinga Yoshi. “Kau itu milik ku, dari dulu... Sampai... Selama nya...”
CEKH! BRAK!!
Entah apa yang Yoshi pikirkan, mendadak dia mencekik leher Niren, kemudian membentur kan gadis itu ke tembok, hingga menciptakan retakan.
Tidak berhenti sampai di situ, Yoshi masih terus mencekik leher Niren dengan begitu kuat, sampai membuat nya susah untuk bernafas.
Niren tentu berontak, dia meronta-ronta, juga menggunakan kedua tangan nya untuk melepaskan cekikan Yoshi.
Namun tidak berbuah hasil sama sekali. Niren hanyalah gadis lemah di hadapan Yoshi, jadi kekuatan nya tidak berarti sama sekali.
Psikopat itu, sekarang benar-benar berubah. Dia jadi terlihat seperti Harimau, yang kehilangan taring nya.
“Kekh!” Mata Niren menatap tajam ke arah kepala Yoshi. Tapi yang dapat dia lihat hanyalah rambut Pemuda itu, karena kepala nya menunduk.
Di sisi lain, lebih tepat nya di atap sebuah bangunan. Berdiri tiga orang Pemuda. Mereka bertiga nampak tidak senang dengan apa yang sedang terjadi.
Itu dapat di lihat dari wajah mereka yang begitu suram. Serta diri mereka yang hanya diam meski sedang melihat kejadian seperti ini.
“Tanpa di beri tau pun, aku tau apa yang sebenarnya terjadi.”
<----<>---->
Karena cekikan Yoshi begitu parah, membuat Niren yang memberontak juga ikut semakin parah. Dia yang tadi nya hanya menyingkirkan tangan Yoshi, kini beralih jadi mencakar punggung telapak tangan nya Pemuda itu.
Niren mencakar dengan begitu membabi-buta. Dia sudah terlalu lama tidak bernafas, juga cekikan Yoshi secara perlahan merusak tulang leher nya.
Air liur mengalir di tepi bibir Niren, nyawa nya semakin di ujung tanduk. Sedangkan Yoshi, hanya diam menunduk, seakan menunggu Niren untuk mati.
Wajah nya memang tidak dapat di lihat, namun bisa di tebak kalau dia tidak tega melakukan hal ini. Sebab air mata milik nya, terus menetes dari tadi.
“Akh-”
Kuku Niren masih terus menggores telapak tangan Yoshi, tapi bekas yang di tinggalkan tidak lebih dari hanya bekas merah.
‘Aku...’
Entah karena takut mati, atau karena apa, dari ujung kelopak mata Niren, air mata mengalir. Mengalir dengan begitu deras, sampai membasahi tangan Yoshi.
KREEEK...!
‘Aku...’
TAK!
Jarum jam bergerak.
‘Aku... Hanya ingin melihat... Bahagia...’ Niren, berhenti memberontak.
“Egh!”
TAK... TAK... TAK...
KRAK!!
Suara yang begitu nyaring, menggema. Tepat saat jarum jam menyentuh pukul 6 pagi, bunyi tulang patah, menghiasi udara.
Will Continue In Chapter 88 >>>
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
ini gua belum selesai ngedit, kalo jelek ya nikmati aja, dah dadah