
Butuh waktu empat hari penuh demi sampai ke Pengungsian menggunakan Kereta Kuda yang Azar beli. Di perjalanan tidak ada sedikit pun halangan yang mengganggu perjalanan mereka. Semua nya berjalan lancar.
Tidak ada seorang pun yang mencoba untuk membegal mereka, karena Azar selalu menggunakan aura nya untuk memprovokasi orang dalam radius 1km.
Sebuah Kota besar nan megah adalah Pengungsian yang akan mereka datangi. Sofya, itulah nama Kota nya.
Kota Sofya memang sengaja White Eagle bangun untuk tempat orang-orang yang tinggal di Eivasha mengungsi.
Di Kota Sofya, para Pengungsi akan tinggal pada sebuah lingkungan yang damai. Mereka di berikan makanan, minuman dan sandangan secara gratis.
Dengan begitu luka fisik maupun batin para Pengungsi, dapat sembuh lebih cepat.
Setelah itu, para Pengungsi di berikan dua pilihan, ingin tetap tinggal di Kota Sofya, atau pindah ke tempat lain, alias meninggalkan Kota ini.
Tentu saja, banyak yang lebih memilih untuk tetap tinggal di Kota Sofya, karena jauh lebih aman. Penjagaan di Kota ini sangatlah ketat dan juga kuat.
<----<>---->
Setelah para korban dari Kota itu di amankan, Azar dan rombongan nya pun pergi beristirahat di sebuah Penginapan.
Di depan kaca, Viole membasuh wajah nya. Kulit nya yang tadi kotor karena debu, sekarang sudah terlihat lebih baik.
“Kau... Itu sebenarnya siapa?” Viole menatap pantulan wajah nya sendiri, mata nya terlihat kosong.
Sejak kecil sampai sekarang, Viole terus mempertanyakan siapa diri nya sendiri. Dulu dia hanya ingin tau siapa identitas orang tua nya demi mengetahui siapa diri nya.
Tapi saat ini bertambah, dia sangat penasaran dengan siapa diri nya sendiri. Bukan identitas nya sebagai keturunan seseorang. “Masa lalu yang menyebalkan...” Viole memijit kening sendiri.
“Yah... Setidak nya aku telah mencapai tujuan ku untuk menjadi seorang yang ternama. Tapi aku tidak pernah mengira menjadi terkenal akan se'merepotkan ini.”
Sesudah berkata demikian, Viole pun membalikan badan nya. Dia melangkahkan kaki di atas lantai kayu yang sangat halus.
Kemudian membaringkan tubuh nya di ranjang empuk yang tersedia. Langit-langit kamar menjadi sesuatu yang Viole tetap.
Mata nya berkedip beberapa kali. “Hmm... Dia ada di sana tidak ya? Semoga saja tidak, jika ada aku pasti akan menghajar nya.” Viole bergumam.
‘Bocah, ku'ingatkan. Kekuatan mu itu hanyalah kesepian tanpa akhir.’ Suara Kaira terdengar.
Mendengar perkataan itu, Viole mendengus pelan. “Tidak perlu kau beri tau pun akan sudah tau, sudah lah diam! Aku sedang beristirahat.”
‘Heh! Kalau begitu harus nya kau tau yang harus kau lakukan bukan?’
“Ya ya ya, aku tau. Karena itu sekarang ini aku tengah memantapkan hati ku untuk tujuan baru, meskipun terasa sangat sulit, aku tetap akan melakukan nya. Menghapus- kesepian dalam hati ku...”
<----<>---->
Keesokan hari nya Azar mengumpulkan semua pada satu tempat, di sana dia mengatakan akan menggunakan Teleportation Ring tingkat tinggi untuk menuju White Eagle.
Umum nya, satu Teleportation Ring hanya bisa memindahkan satu orang saja, tapi ada yang bisa membuat cincin itu dapat memindahkan lebih dari satu orang.
Harga dari Teleportation Ring jenis itu sangatlah mahal, bahkan anggota Seven Great Nobles pun tidak akan sembarangan membeli barang ini.
Bisa memiliki harga mahal, karena cincin ini akan sangat berguna apabila di gunakan dalam situasi perang. Menggunakan Teleportation Ring tingkat tinggi, memindahkan sebuah pasukan bukan lagi masalah.
Sedangkan White Eagle, mereka adalah produsen nya, jadi menggunakan Teleportation Ring tingkat tinggi seperti ini bukan masalah.
WUNG!
Tubuh segerombolan orang itu pun mulai hancur secara perlahan, lalu menghilang di telan oleh cahaya biru dari Teleportation Ring yang Azar pegang.
Sensasi tersedot ke sebuah tempat dapat Viole rasakan, jujur perasaan ini membuat nya merasa mual. Namun tidak sampai mengeluarkan isi perut nya.
Di depan sebuah gerbang mereka semua mendarat, diikuti dengan terjangan angin pelan. Gerbang tersebut berwarna merah dan ukuran nya sangat besar.
Tapi sesungguh nya, bukan gerbang itu yang menyambut kedatangan mereka, melainkan sebuah Kota yang terlihat seperti benteng.
Tembok setinggi tiga puluh meter berdiri mengelilingi Kota ini, tidak terlihat di mana ujung dinding tersebut, bahkan jika kau terbang sekalipun.
Menandakan bahwa Kota itu sangatlah luas, seluas samudra. Dan dinding itu terlihat seperti perisai terkuat yang pernah ada.
Sebuah menara setinggi lima puluh meter, nampak terpasang setiap seratus meter di dinding ini, menara-menara tersebut memiliki ukiran unik.
Ada yang seperti burung, macan, gorila dan masih banyak lagi. Asal kau tau saja, menara-menara itu adalah serangan terkuat Kota ini, Zatvoren.
Tidak hanya itu, hampir di seluruh sisi dinding berdiri pasukan khusus yang berjaga hampir 24 jam. Pemandangan seperti ini jika bukan benteng apa lagi? Ya! Tempat yang sangat luar biasa itu adalah White Eagle.
<----<>---->
Seorang Pria berambut putih terlihat sedang berjalan menyusuri sebuah lorong panjang, dia tidak di dampingi oleh siapa pun.
Langkah dari Pria itu nampak sangat terburu-buru, ekspresi wajah nya sangat serius serta pucat, dan nafas nya memburu. Seakan-akan sedang memendam sesuatu.
Semua orang yang berada di lorong itu langsung menunjukan rasa hormat mereka pada sosok Pria berambut putih itu, saat dia melintas.
Si Pria tidak menggubris, dia hanya terus melangkah ke depan. Hingga tiba lah dia di depan sebuah pintu masuk.
BRAK!
“Sam!” Pria itu berteriak setelah mendobrak pintu begitu saja.
Pria lain yang sedang bersantai di meja kerja nya, langsung melirik ke arah Pria berambut putih itu. “Ada apa Azar? Wajah mu terlihat puca-”
“Balft! Seperti nya dia telah tertangkap! Aku memiliki bukti nya!”
Sam pun menunjuk ke sebuah kursi. “Tenang kawan, duduk lah dan jelaskan semua nya secara merinci.”
Azar menghela nafas pendek, lantas duduk di kursi yang ada di dekat meja kerja Sam. Kemudian dia menjelaskan semua nya, mulai dari surat yang dia dapat dari Viole, sampai Viole, Tyhas dan Raven yang ingin menjadi Murid White Eagle.
Sam mengangguk-angguk setelah mendengar ucapan Azar. “Kau tidak membaca penuh isi surat itukan? Bisa saja ada tulisan yang menegaskan bahwa tiga bocah itu bukan lah musuh yang berusaha menyusup.”
“Tapi Sam! Ini tetap sangat mencurigakan!”
Ya, Azar masih menyimpan kecurigaan pada Viole dan yang lain nya. Selama ini, dia hanya berlagak percaya pada mereka bertiga.
“Kalau begitu kau kirim saja Pasukan Pengintai untuk memata-matai mereka, simpel kan?” Sam menarik ujung bibir nya.
BRAK!
“CK! Kau terlalu santai!” Setelah menggebrak meja, Azar pun berbalik, kemudian pergi meninggalkan ruangan Sam.
Sam hanya tersenyum menanggapi perilaku Azar. “Kau tidak perlu terlalu panik. Aku yakin tiga bocah itu tidak berbahaya sama sekali... Aku juga punya firasat, bahwa salah satu dari mereka bertiga akan menyebabkan tercipta nya gejolak...,” gumam Sam.
Will Continue In Chapter 75 >>>
[Arc 3 – Sinner's Adventure – End]
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
okee... Arc 3 selesai, dan arc 4 akan segera mulai. di arc empat ini akan berfokus pada White Eagle dan sedikit masa lalu Viole atau Kaira.
mungkin akan ada romance nya, entahlah hanya asisten pribadi Hulk yang tau. oke sip gitu aja. (jangan lupa like + share)
bye-bye beb