Magic War

Magic War
Ch 94 – Musuh Yang Masih Musuh



Magi merupakan energi alam yang tidak terbatas, hampir di semua tempat, pasti ada Magi nya. Dengan memanfaatkan energi ini, seseorang dapat menggunakan tiga kekuatan utama.


Yaitu Sihir, Teknik dan Jurus. Tiga kekuatan utama ini hanya dapat di gunakan jika ada Magi, tapi ada beberapa Teknik yang tidak memerlukan Magi.


Magi sendiri dapat di peroleh dengan cara di serap. Cara menyerap nya pun sangat mudah, hanya perlu berkonsentrasi pada aliran Magi di sekitar, lalu memasukkan nya ke pembuluh darah.


Namun, meski terkesan sangat mudah, tidak semua orang bisa menyerap Magi. Karena memerlukan 2 syarat penting untuk menggunakan energi ini.


Pertama, kekuatan fisik. Tentu saja karena Magi akan di masukan ke pembuluh darah, jadi jika fisik mu lemah dan masih berusah untuk menyerap Magi, maka kau habya bunuh diri.


Lalu yang kedua adalah mental. Syarat yang kedua ini bisa di bilang ambigu, karena tidak semua orang memerlukan mental yang kuat untuk memperoleh Magi.


Sudah banyak kasus di mana orang lemah bisa menggunakan Magi, jadi syarat kedua ini tergantung siapa yang akan menyerap Magi.


“Magi?” Tyhas sedikit bingung dengan maksud latihan hari ini.


Sam menengok kebelakang. “Ya, Magi. Aku tau kalian pasti sudah bisa mengendalikan Magi dengan cukup baik, tapi, apa kalian bisa melakukan ini?”


Kemudian Sam mengangkat tangan kanan nya, lalu dengan menggunakan Magi, diri nya membuat sebuah Pedang, yang murni hanya dari Magi.


Tanpa bantuan Jurus atau Sihir apapun.


Apa yang Sam lakukan bukan hal langka sama sekali, jadi Viole, Tyhas dan Raven tidak terpukau sedikit pun. Tapi walau begitu, mereka bertiga tetap tidak bisa melakukan nya.


“Jadi hari ini kita akan berlatih untuk mengontrol Magi?” Viole mencoba untuk memastikan.


Sam memberi anggukan kecil. “Benar, latihlah lagi kontrol Magi kalian di Menara Armand. Tempat yang sudah ku tentukan ini, hanya sebagai tempat untuk kita bertemu.


Lalu untuk cara melakukan nya, kalian pikirkan saja sendiri. Toh Magi itu adalah bagian dari tubuh kalian. Semoga beruntung anak-anak!”


Tanpa menunggu jawaban dari mereka bertiga, Sam langsung melesat pergi. Meninggalkan hembusan angin yang menyibak rambut tiga Pemuda itu.


‘Bagus! Dux Magna mampu berakting dengan sangat baik, tidak sia-sia aku menyelipkan perintah itu pada nya di surat kemarin.’ Viole membatin.


Tyhas memandangi arah di mana Sam pergi. “Apa itu adalah pelatih?”


“Tentu dia adalah pelatih, pelatih yang sangat keren!” Raven membuat pose aneh. “Mendorong Murid nya untuk mencari jawaban sendiri, adalah cara yang paling keren.” Pose nya tambah aneh.


Tapi dia di abaikan begitu saja, Viole dan Tyhas cuma melirik nya sebentar. Sebelum melesat pergi dari situ, dengan tujuan Menara Armand.


Melihat teman-teman nya pergi, Raven segera mengikuti. “Heh! Dasar kalian tidak paham soal gaya.” Sambil melesat pun, pose nya tetap aneh.


“Berisik! Rambut abu-abu!” Viole menengok ke belakang sambil menunjuk Raven.


Apa yang Viole katakan, langsung membuat Raven berteriak. “Rambut mu juga abu-abu! Sialan!”


“Huh?! Rambut ku itu putih! Dasar orang buta!”


Sementara kedua teman nya sedang sibuk bertengkar, Tyhas malah bicara sendiri. “Rasa nya strawberry yang campur dengan sup daging itu seperti apa ya?”


<----<>---->


Sebuah Menara yang sangat besar, sekarang ini tengah mereka bertiga pandangi. Menara itu di dominasi oleh warna hitam, dengan aura biru yang menyelimuti nya, dialah Armand.


Untuk memasuki Menara Armand, mereka harus menaiki sebuah tangga terlebih dahulu, tangga tersebut mengarahkan mereka pada semacam platform, yang di depan nya berdiri pintu masuk ke Menara Armand.


Platform itu terbuat dari baja super kuat, yang memiliki diameter cukup luas, jadi bisa menampung banyak orang.


Di atas platform ini, terlihat ada banyak sekali orang yang sedang mengantri untuk masuk ke Menara, tapi antrian nya tidak teratur.


Jadi, mereka bertiga bisa langsung maju ke depan, untuk di cek identitas nya dan membayar biaya 5 keping Platinum per' orang nya.


Viole pun menyerahkan 15 keping Platinum yang harus di bayar, tapi saat akan menyerahkan nya, tiba-tiba Viole menyadari sesuatu.


‘Panggil aku dengan nama Viole, brengsek!‘ Viole melakukan telepati dengan seseorang.


Tyhas dan Raven melirik ke belakang sebentar, lalu kompak mengangguk untuk pergi. “Bodoh sekali orang itu...” Tyhas tersenyum mengejek.


Para Penjaga juga menyadari hal yang sama, tapi mereka hanya diam saja, sebab hal seperti ini sudah biasa terjadi.


TAP! TAP! TAP! TAP!


BAKH!!


Seorang Pemuda yang tadi berlari dari belakang, mengarahkan sebuah tendangan kepada Viole. Hanya dengan menggunakan satu tangan, Viole bisa menahan nya.


“Sudah setahun lebih yaa... Kita tidak bertemu, Ka- maksud ku, Viole.” Dia tersenyum menyeringai.


Dengan sorot mata tajam, Viole melirik ke belakang. “Siapa yang peduli dengan itu? Khun...”


BUAGH!!


Langsung saja, Viole balas memukul Pemuda bernama Khun itu. Pukulan Viole dapat di tahan oleh nya, tapi dia harus mundur beberapa meter.


Apa yang dua Pemuda itu lakukan, segera menarik perhatian seluruh orang yang sedang berada di situ. Beberapa bahkan ada yang sampai bersorak.


“Seperti nya, kau sudah bertambah kuat... Bocah ingusan.” Khun meregangkan badan nya.


Sedangkan Viole, memasang kuda-kuda. “Sekarang, yang jadi bocah ingusan itu diri mu... Lihat saja sebentar lagi.”


WUSH!!


Dengan cepat Viole menerjang ke arah Khun, bersiap bersama tangan nya yang di lapisi oleh aura biru pekat.


Sedangkan Khun, dia menendang udara, hingga menyebabkan gelombang kejut yang dapat menghentikan gerakan Viole saat sedang berlari.


Namun...


DUAS!


“Blue Dragon Punch...”


Secara mengejutkan, Viole melempar Teknik nya. Aura biru pekat itu bergerak cepat, tanpa bisa Khun hindari. Jadi dia harus menerima pukulan yang keras.


Dan hal itu malah membuat Khun semakin bersemangat.


Cepat-cepat diri nya bergerak maju sebelum Viole, lalu beradu serangan dengan nya.


Viole melapasi tangan nya menggunakan Elemen Es, sedangkan Khun memakai Elemen Petir pada kaki dan tangan nya.


Mereka berdua pun bertukar serangan dengan begitu intens. Tidak terlihat dari kedua nya yang unggul, pertarungan berjalan seimbang.


DUAKH!! TAK! BAGH!!


Hal itu membuat orang-orang yang menonton, jadi bersemangat. Mereka bersorak mendukung kubu yang mereka yakin akan menang.


Namun kenyataan nya tidak ada yang menang, karena mendadak muncul seorang Penjaga di tengah-tengah pertarungan mereka berdua.


Lalu, melerai pertarungan tanpa alasan yang jelas ini.


Pertarungan terpaksa berhenti, padahal Viole dan Khun sudah bersiap untuk menggunakan Jurus dan Sibir yang lebih hebat lagi.


Penjaga itu menunjuk ke arah Menara. “Kalian akan mendapatkan hukuman jika bertarung di sini, pergi ke dalam! Selesaikan semua nya di sana, maka kalian tidak akan mendapatkan kerugian dari pihak ke tiga.”


Will Continue In Chapter 95 >>>