
Ferbian menggeleng. “Bicara apa kalian berdua ini? Memang nya ada sesuatu yang membuat kami marah dan kecewa pada kalian berdua?”
Ucapan Ferbian jelas tidak bisa Kaira terima begitu saja. “Waktu itu kalian bertiga berusaha untuk melindungi ku... Karena itu kalian...”
Kaira tidak bisa menyelesaikan perkataan nya. Wajah nya terlihat pucat dan di penuhi rasa bersalah, bahkan keringat dingin mulai membasahi wajah nya. Tangan nya juga mengepal kuat.
Tyhas juga demikian, dia terlalu malu untuk mengatakan isi hati nya. Sebagai yang terkuat di Guild, tidak bisa membantu karena terpeleset ke jurang adalah hal yang sangat memalukan.
Dan karena kecerobohan nya itu, tiga dari empat anggota Guild harus mati. Kata maaf jelas tidak akan cukup.
“Sudahlah kalian berdua, jangan menyalah kan diri sendiri. Ini semua mungkin sudah takdir-” Liana yang ingin menjelaskan, malah di potong oleh Kaira.
“Takdir apanya?! Apa mati karena melindungi orang lemah seperti ku adalah takdir?! Jangan bercanda!! Hah... Hah... Jangan...”
“Oi sialan, setelah kami bertiga mati bukankah perkembangan mu menjadi sangat pesat?” Lion yang dari tadi hanya diam, kini buka suara karena Kaira.
Perkataan Lion tidak bisa Kaira bantah, sebab semua itu adalah kebenaran. Diri nya terus-terusan berlatih agar menjadi Sraye ternama.
Namun di balik semua itu, Kaira memiliki niatan lain, yaitu tidak ingin menjadi orang lemah yang selalu merepotkan orang-orang disekitar nya.
“Oleh karena itu, anggap lah kematian kami sebagai dorongan untuk diri mu menjadi lebih kuat lagi!” Lion melanjutkan.
“Dan kau kepala abu-abu, apa kau kira memiliki takdir untuk tetap hidup adalah sesuatu yang memalukan? Heh! Dasar bodoh!”
“Hey sudahlah Lion-”
“Diam Liana...!” Setelah itu Lion kembali menatap Tyhas yang sedang menundukkan kepala nya. “Jika kau masih berpikir seperti itu, lebih baik kau juga ikut mati saja!”
‘Hah... Dia ini blak-blakan sekali...,’ batin Ferbian. Sedangkan Liana, Tyhas dan Kaira hanya diam saja.
“Kau di berikan takdir untuk tetap hidup karena kau masih memiliki tanggung jawab! Kau masih harus menyelesaikan banyak hal! Melindungi orang-orang terdekat mu! Dan melihat masa depan!! Ini juga berlaku pada mu! Rambut putih!”
Mata Kaira dan Tyhas membelak karena perkataan Lion. Mereka berdua yang tadi nya hanya diam sambil menundukkan kepala, kini menatap wajah tiga teman mereka itu.
Tanpa sadar dari kelopak mata nya, menetes air mata, dan secara refleks, Kaira langsung bersujud, sambil berkata. “Maaf! Maaf! Maaf! Maafkan aku yang lemah ini...! Hiks... Maaf...”
Ferbian hanya memasang senyum tipis atas tindakan Kaira, berbeda dengan Liana yang segera memeluk Kaira untuk menenangkan nya. Sedangkan Lion malah membuang muka.
Lalu untuk Tyhas, tidak ada ekspresi apapun yang dia tunjukkan. Dia malah langsung memeluk Lion dan Ferbian.
“Ugh... Padahal aku sudah mati, tapi malah harus repot-repot menasehati mu.” Lion berbisik di telinga Tyhas.
“Aku hanya bisa bilang... Terima kasih atas semua nya.”
“Kita ini teman, kau tidak perlu berterima kasih,” ujar Ferbian.
Beberapa detik kemudian, mereka bertiga pun melepas pelukan. Begitu pula dengan Kaira yang sudah di tenangkan oleh Liana.
Meskipun sudah tenang, tidak menjamin Kaira akan kembali seperti semula, yang ada Kaira malah terlihat sangat lesu.
“Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih.”
Lion mundur beberapa langkah. “Sama-sama kalau begitu.”
Kaira, Ferbian, Liana dan Lion menyadari akan terjadi sesuatu, jadi mereka segera menjauh dari tempat mereka berdiri. Kaira yang masih lesu, menjauh dengan cara berjalan.
Tyhas jelas sangat kebingungan dengan apa yang terjadi, tapi kebingungan nya tidak bertahan lama, ketika suara keibuan terdengar. “Ah... Ternyata Tyhas sudah besar ya...”
<----<>---->
“Raven, kenapa kau malah membangunkan beliau?” tanya Kaira yang sudah berada cukup jauh dari tepi Danau Ordan.
“Aku hanya ingin memberi nya kejutan.”
Dua Minggu yang lalu, lebih tepat nya saat Tyhas mendapati fakta bahwa Ibu nya merupakan kenalan Raja Elc, Raven sempat menguping pembicaraan mereka berdua.
Di sana Raven mendapatkan informasi bahwa mayat dari Manami di kuburkan di sebuah Danau yang bernama Ordan. Raven tentu merahasiakan nya, dan hanya menceritakan hal itu pada Kaira.
Ada beberapa alasan mengapa Manami di kuburkan di Danau Ordan, salah satu nya agar Jiwa Manami tidak di gunakan oleh seseorang yang menguasai Soul Magic.
“Aku tidak pernah menduga akan pergi ke sini, tapi mumpung ada kesempatan, tidak ada salah nya bukan?” ucap Raven.
“Ya... Kau benar, entah akan se 'canggung apa situasi nya jika Tyhas sendiri yang membangunkan Ibu nya.”
Sementara itu, di tepi Danau Ordan, Tyhas yang tadi nya memasang ekspresi bahagia, seketika menjadi murung.
Manami yang menyadari nya, segera mendekati Tyhas. “Apa si kecil ini tidak senang jika bertemu dengan Ibu nya setelah belasan tahun berpisah?”
“Tidak, bukan itu, dan jangan panggil aku dengan sebutan aneh, aku sudah tumbuh.” Tyhas tidak menatap mata Ibu nya, melainkan menutup mata nya dengan menggunakan telapak tangan.
“Baiklah baiklah... Lalu apa yang membuat wajah si tampan ini murung?” Lagi-lagi Manami memanggil Tyhas dengan sebutan aneh.
Tyhas menjawab dengan keadaan mata yang masih ditutupi oleh telapak tangan. “Kenapa waktu itu Ibu terbangun, kemudian memberikan kekuatan pada ku?” Namun di jawab dengan pertanyaan lain.
“Ah! Kamu menyadari nya ya? Apakah salah jika seorang Ibu ingin menyelamatkan ana-”
“Jelas aneh...! Seorang Roh tidak akan bisa berinteraksi dengan Dunia nyata, kecuali ada seseorang yang mencoba untuk berinteraksi dengan Roh tersebut... Dengan kata lain, pasti makam Ibu sudah di ketahui.”
Yang sedang Tyhas bicarakan adalah cahaya biru pada waktu itu. Tyhas sebagai anak dari Manami, jelas dia mengetahui bahwa cahaya itu adalah Ibu nya sendiri.
Dan dua Minggu yang lalu, saat Tyhas menunjuk diri nya sendiri ketika di tanyai oleh Raja Elc, memiliki makna bahwa cahaya biru tersebut adalah orang yang sedarah dengan Tyhas.
Raja Elc langsung bisa mengetahui makna dari tindakan Tyhas, jadi dia dapat menyimpulkan kalau orang yang Tyhas maksud adalah Manami, karena hanya dia yang sedarah dengan Tyhas. Tentu sang ayah juga.
“Hmm... Apa kamu kawathir jika Ibu mu ini dimanfaatkan oleh seorang pengguna Soul Magic?”
“Sudah jelas bukan?” kata Tyhas, mata nya masih dia tutupi dengan telapak tangan.
Manami tersenyum sambil mengibaskan tangan nya. “Tidak akan, tidak akan. Yang datang membangunkan ku hanyalah seorang Pria berambut biru, oh ya! Dia juga membawa tongkat.”
“Apa aku bisa percaya?”
“Tentu bisa.” Setelah berkata demikian, Manami langsung memeluk Tyhas.
Tyhas jelas terkejut, sampai-sampai telapak tangan yang dari tadi menutupi mata nya, terjatuh lemas.
“Jangan ditahan lagi...”
“Apa-apaan? Ibu kira aku akan menangis? Tidak akan... Jelas, tidak akan... Ugh...!” Meskipun tidak terdengar suara isakan, tapi terlihat dengan jelas bahwa air mata mengalir deras di pipi Tyhas.
Di saat yang sama, kenangan demi kenangan terlintas di kepala Tyhas. Tentu semua nya sangat menyenangkan, tapi tidak selama nya.
“Eeh... Ternyata kamu bisa menangis, um... Berapa umur mu sekarang?” Sambil mengelus kepala Tyhas, Manami bertanya.
“Dua... Puluh- satu.”
“Hmm... Kamu sudah besar ternyata...” Manami pun memeluk Tyhas dengan lebih erat lagi.
Sementara itu, di tempat lain, lebih tepat nya tempat Liana, Lion dan Ferbian berdiri. “Kita sudah tidak punya urusan lain?”
“Suuudah.” Lion menjawab.
“Kalau begitu, mau pergi?” Liana segera berbalik badan menghadap ke Danau, tanpa menunggu respon dua teman nya.
“Baiklah, ayo!”
“Hoaaam...”
Mereka bertiga pun mulai melangkah menuju tengah Danau, tentu mereka bisa berjalan di atas air, jika tidak mereka tidak akan melakukan nya.
Setelah beberapa saat berlalu, mereka bertiga akhirnya sudah tiba di tengah Danau. Mereka sempat menengok kebelakang selama sedetik, sebelum...
WYUUNG...!
Sebelum mereka bertiga lenyap menjadi cahaya yang tetap bersinar terang di waktu siang hari seperti ini.
Kaira dan Raven di kejauhan, segera berdiri saat melihat pemandangan indah tersebut. Yang mana, Tyhas dan Ibu nya di sinari oleh cahaya terang ketika sedang berpelukan.
“Kita kesana?”
Kiara mengangguk. “Yap, kita kesana.”
WUSH!! WUSH!!
Meskipun masih merasa lesu, Kaira tetap kesana, karena tidak mungkin dia hanya diam saja.
<----<>---->
“Tidak ada lagi yang ingin kamu tanyakan?”
Pertanyaan itu Tyhas tanggapi dengan menggeleng pelan, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia juga sudah berhenti menangis.
CUP!
Manami mendadak mengecup kening Tyhas. “Kalau begitu Ibu pergi dulu. Sampai jumpa!”
WYUUS...!
“E-Eh...?!”
Sama seperti Ferbian, Liana dan Lion, Manami menghilang, lalu berubah menjadi cahaya yang sangat terang. Namun tidak menyilaukan.
“I-bu...” Ekspresi wajah Tyhas memburuk, seakan-akan dia baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Tubuh nya lemas dan tangan nya gemetaran.
PUK!
“Kau pasti sangat marah, sedih dan kecewa bukan? Kalau benar ku peringatkan, jangan pernah termakan oleh emosi mu! Tapi ubahlah emosi itu menjadi kekuatan!”
“Kau... ini bicara apa...?” Tyhas yang hampir saja berlutut, menengok ke arah Raven.
“Haah... Bilang saja kau ingin terlihat keren.” Kaira menunjuk Raven dengan ekspresi wajah yang datar.
Ekspresi wajah Raven tidak kalah datar nya karena perkataan Kaira. “Bisa kah kau tidak menggangu debut ku?”
Kaira menghela nafas, lagi. “Ada yang lebih penting dari pada itu.” Kaira pun mendekati Tyhas. “Apa kau baik-baik saja?”
Tyhas mengangkat sebelah tangan, untuk memijat kening nya yang terasa sakit. “Entahlah, aku tidak yakin.”
Tanpa bertanya lebih jauh lagi, Kaira segera membantu Tyhas untuk berdiri tegak. Begitu pula dengan Raven, dia juga ikut membantu.
Dengan disinari oleh cahaya dari para Roh, Kaira, Tyhas dan Raven mulai berjalan menjauhi Danau Ordan. Sebab urusan mereka di sini sudah selesai.
“Hoy, aku bisa-”
“Mental mu masih terlalu lemah, jadi jangan banyak bicara!” Kaira membentak Tyhas.
“Kalau begitu, kemana tujuan kita setelah ini?” celetuk Raven.
Tyhas pun melirik Raven. “White Eagle bukan?”
Raven menggelengkan kepala nya. “Memang benar tapi bukan itu.”
“Kita akan mencari Penginapan dulu, walaupun hanya berbicara saja, tapi tubuh ku terasa seperti akan remuk,” ujar Kaira.
“Ya kau benar, kita harus ke Penginapan dulu... Baru ke White Eagle.”
Senyuman lebar nampak menghiasi wajah Raven setelah Tyhas menyelesaikan perkataan nya. “Yey!! Kita akan ke White Eagle!” Seperti biasa nya, Raven selalu bersemangat dengan hal baru.
“Jangan berisik ata-”
Raven yang menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya, segera membela diri. “Iya iya aku akan diam.”
Dari situ obrolan mereka bertiga terus berlanjut, sampai mereka tidak sadar sudah berjalan cukup jauh dari Danau Ordan.
“Hari ini benar-benar terasa berat bagiku, meskipun semua yang ku 'terima adalah kabar baik, menggembirakan dan menyenangkan. Tapi tetap saja, semua nya terasa begitu berat.
Ini barulah awal, jadi sedikit aneh jika aku mengeluh. Banyak rintangan yang jauh, jauh! Lebih sulit untuk di lalui dari pada yang sekarang. Tapi tetap saja, mengeluh adalah hal yang wajar.
Namun akan sangat tidak wajar jika aku terus mengeluh, semua orang pasti akan menganggap ku sampah. Oleh karena itu, aku akan menerjang ribuan badai demi memperkuat diri ku agar tidak mengeluh sedikitpun!
Kakek, cucu mu ini akan menjadi sosok yang sangat hebat, bahkan akan jauh lebih hebat dari mu, aku bersumpah! Saksikanlah semua nya dari alam sana, Kakek, saksikanlah cucu mu ini mewujudkan harapan mu.”
Will Continue In Chapter 52 >>>
[Arc 2 – Adamantine Peak – End]
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Gk jadi dua ch, tapi bodo amat yg penting ch ini agak panjang.
udh sih cuma mau bilang itu aja, BTW vote bor jangan cuma baca, ngga maksa sih. tapi kalo lu ngga vote... 🔪